[Hal. 13] [Ch. 2] NAME OF YESTERDAY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 

lembar 12

Padang, 21 September 2008…

‘Jangan sampai terlintas dalam hatimu bahwa ada pula bahagia selain bahagia cinta. Kalau kau percaya ada pula satu kebahagiaan selain kebahagiaan cinta, celaka diri kau, Dik! Kau menjatuhkan ponis kematian ke atas diri kau sendiri!’, kata Zainudin dalam satu suratnya kepada Hayati.

Bahagia seperti apa yang datang dari Tuhan? Sekiranya kita berusaha pun, tak bisa dimiliki. Jika Tuhan itu maha kasih, apalah rumitnya memberi kebahagiaan pada kami, yang sama-sama adalah umat-Nya? Sekalipun memanggil-Nya saja sudah dengan nama yang berbeda. Adakah jalan lain di antara salib dan tasbih atas nama cinta?

***

Ramadhan, 1427 Hijriyah…

“Aku tidak menyangka akhir ceritanya begitu menyedihkan," kataku pada Han,  setelah selesai membaca buku pemberian itu. "Tapi, aku selalu membacaya lagi karena bahasanya indah sekali. Novel ini yang kuat sekali nuansa Minang-nya, kata-kata dan gaya bahasanya.Berbeda dengan novel-novel yang pernah kubaca dengan Liong. Kami terlalu banyak mengkhayal. Kalau aku tahu aku sejak lama, aku pasti berusaha membelinya dengan uang sendiri”

Han  hanya tersenyum. "Aku tidak mengerti sastra," katanya. "Tidak juga mengerti orang Minang, Zuri. Karena aku masih kecil sekali sewaktu tinggal di sini”

“Aku juga baru tahu kalau jaman dulu itu tidak boleh menikah dengan orang tak bersuku," sambungku, masih ingin membicarakan tentang buku itu. "Tak adil bukan? Kasihan sekali mereka yang tak bersuku”

“Tapi itu hanya kisah," Han berujar, agar aku menutup buku itu, tidak terus-terusan memikirkan ceritanya.

Aku pun tertunduk. Han benar, hanya sebuah kisah fiksi tentang dua orang yang berbeda di mata adat, tidak dapat bersatu dan berakhir tragis pula. Dan yang nyata sekarang di hadapannya adalah perbedaan keyakinan antara aku dan Han,  yang terasa lebih menakutkan. Setiap detik yang bergerak maju malah serasa menghitung waktu mundur masa yang kami punya untuk bisa tetap seperti ini.

Lalu adzan Dzuhur berkumandang. Aku kemudian minta diantarkan ke masjid untuk menunaikan kewajibanku sebagai muslim. Dengan senang hati, kami pun pergi menuju masjid terdekat. Saat aku harus masuk, Han hanya menunggu di luar sampai selesai. Sebelum pulang, aku ingin membeli makanan penganan berbuka di pasar. Biasanya ada banyak makanan yang dijual pedagang musiman. Rata-rata berkuah santan dan rasanya manis seperti kolak, bubur sumsum, dan cendol. Demi menghormati muslim yang puasa, Han pun tidak makan apa-apa, bahkan minum juga tidak. Begitu ia menghargaiku, tak pernah memaksaku untuk percaya pada apa yang ia percayai.

“Tuhan mencintai kita," ujarnya setiap aku resah, memikirkan ujung jalan yang belum tampak dari sini, tempat kami melangkah bersama. "Dia yang pertemukan kita. Dia yang berikan kita cinta. Bukan manusia. Jika benar kebahagiaan itu datangnya dari Tuhan pasti akan ada. Percayalah, cinta kita ini adalah rencana-Nya”

Benar, rencana-Nya yang konon katanya lebih indah dari rencana manusia mana pun.

“Asalkan tidak pernah berubah, memegang janji satu sama lain, Tuhan… di atas sana, tidak akan memberikan lebih dari yang bisa kita tanggung," ujarnya lagi.

“Kamu punya rencana apa?” aku menjadi tidak sabar terhadap Han yang selalu berkata semua akan baik-baik saja. “Kamu tahu jalan kita tidak mudah. Ada banyak orang yang akan menentang kita”

“Ini bukan jaman Hayati dan Zainuddin lagi, Zuri," Han berkata sambil tertawa. "Tak ada yang sulit jika kita mau. Dunia ini luas. Tak bisa di negeri yang banyak pantangan ini, masih ada negeri lain di mana perbedaan itu tidak jadi persoalan. Seperti di tempatku misalnya. Apa yang tidak ada di sana? Eks-patriat yang datang berbagai dari bermacam bangsa. Adat dan tabiat yang berbeda, agama juga”

“Singapura?”

Han  tersenyum. "Tapi, tidak sekarang. Aku masih punya kewajiban. Begitu juga kamu," jelasnya sambil membelai rambutku dari puncak kepala dengan lembut. Tampak sebuah jalan dalam pandangan bola matanya yang tenang, tak beriak. 

“Berapa lama?" tanyaku, penuh harap.

“Tidak lama. Aku punya ujian profesi yang berat sekali," jawabnya. "Mungkin setelah hari raya aku harus pergi dan pulang saat Natal”

Aku sedih. Artinya, untuk sementara harus berpisah. Walau tidak akan terlalu lama, aku merasa begitu khawatir. Karena begitu Han pergi, aku akan sendirian lagi. Menjalani hari-hari yang sepi. “Apa tidak ada sesuatu yang bisa kamu tinggalkan saat kamu pergi?" tanya dia. "Sebagai janji kamu akan kembali?”

Han  tampak bingung. "Sesuatu?" dia pun heran. Tentu dia tak punya apa-apa untuk diberikan, jika itu seperti cendera mata maka… hanya gelang salib itu yang ia punya di tangannya. Tapi, apa mungkin memberikannya padaku?

“Ini hanya symbol, tak berarti lebih,” ujarnya lalu ia menyerahkan gelangnya padaku. “Hanya ini yang aku punya," kata Han,  “Simpanlah sampai aku kembali untuk mengambilnya. Supaya kamu percaya  bahwa aku pasti datang. Bagiku, benda ini sama berharganya sepertimu”

 ***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments