[Hal. 12] [Ch. 2] NAME OF YESTERDAY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

lembar 11

Ubud, 04 Maret  2008…

Uni punya dua anak yang manis. Safira dan Alisa. Made, suami Uni orangnya juga baik dan ramah. Bertanggung jawab, sayang istri dan anak-anak. Dia hanya punya satu kekurangan –beragama Hindu. Tapi, aku juga berdosa jika menyebut itu sebuah kekurangan. Ya begitulah adanya. Tapi, aku selalu ingin tahu, bagaimana perasaan Uni seorang muslim membiarkan anak-anaknya ikut beribadah dengan bapaknya di pura? Menyembah dewa-dewa, dengan meninggikan bunga kemboja di atas kepala dengan ujung jari sebagai persembahan sujudnya?

Budaya Bali dan Sumatera Barat sangatlah berbeda. Dua hari saja aku mulai jemu. Meskipun pemandangan sawah di Ubud tiada tandingannya dan tak heran begitu terkenal. Seperti lukisan dengan gradasi warna hijau yang detail sekali. Orang asing berada di mana-mana.. Aku hampir tak pernah mendengar suara adzan di sini. Terlebih perbedaan waktu dengan di Padang berselisih satu jam, Indonesia Tengah-lah namanya. Waktu shalat pun rancu. Berpatokan pada matahari yang terbit dan terbenam dengan indahnya di pulau dewata ini.

Aku tak bisa tinggal lebih lama karena kebohonganku kepada orang tuaku terus menghantui sehingga tidak benar-benar menikmati keindahanya. Namun perjalanan jauh ini membuat aku berpikir, karena Han yang mengantar ke sini sampai-sampai Uni terkejut sekali menemukan aku sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Ia melihat Han dengan khawatir, dari parasnya, seorang Cina.

Sebelum pergi, dia berpesan kepadaku ‘Jangan melakukan kesalahan yang sama seperti yang Uni lakukan’. Aku mulai takut, bukan pada Han. Tapi, pada perasaan, bila mana jatuh padanya, aku tidak bisa membayangkan.

Tapi, aku tak bisa menolak uluran tangan Han,  walau sebenarnya takut sekali saat meraih tangan yang dilingkari gelang salib itu. Aku sudah tahu, sejak hari ia tiba-tiba membelikan tiket pesawat, dia tidak sedang merasa bahwa dia adalah Liong yang harus memenuhi janji-janjinya. Dia melakukannya sebagai Han.

Apakah ini sebuah kesalahan?

***

“Apa yang namanya Kemah Bakti Sosial?" suara ayah lantang, mengejutkan dan membuat takut Ibu  yang berdiri di belakangnya. "Kamu menghilang berhari-hari dengan alasan kuliah tapi ternyata kamu pergi ke tempat antah berantah itu?!”

Ibu tampak berusaha meredakan kemarahannya, namun ia sendiri juga tampak tak ingin terkena amuk. Sehingga seakan aku sudah salah sekali pergi menemui kakakku sendiri –pecahan dari diriku sendiri, yang juga putri dari ayah yang pernah ia banggakan.

“Kamu pergi ke sana sendiri menemui dia yang bahkan tak pernah pulang? Entah masih ingatkah dia punya ibu bapak dan keluarga? Begitu keras kepalanya sampai dia pikir restu orang tua tak akan menjadikan hidupnya bahagia? Orang seperti itu yang kamu kejar jauh-jauh?!” teriak ayah lagi.

Aku tertunduk, tak mengakui semua itu benar. “Tapi, tak ada yang namanya mantan anak, mantan ibu, mantan bapak, atau mantan saudara," jawabu. Tak disangka itu membuat bapakku semakin naik pitam.

“Sebentar kamu bertemu dia, kamu sudah ikut keras kepala seperti dia?! Seolah apa yang Ayah ajarkan itu salah, benar begitu?!” tanya Ayah, belum redam emosinya.

“Tak ada yang salah, Ayah…," kataku, akhirnya menatap dengan yakin. "Tapi dengan Uni berbeda, dia adalah aku, putri Ayah juga. Jika saja Ayah memberi ia pilihan, ia tidak akan pergi. Ibu tak akan kehilangan putri yang ia lahirkan dengan susah payah, aku juga tak akan kehilangan kakak yang harusnya bisa tumbuh bersama denganku…”

“Zuri…," tegur Ibu yang semakin khawatir karena amarah sang ayah sudah tak dapat dibendung. Sebelum ayah semakin naik darah, ia mengisyaratkanku untuk masuk ke kamar.

Dengan patuh aku meninggalkan ayah yang masih terbakar amarah.  Kembali mengurung diri beberapa jam di dalam dan hanya keluar pada waktunya, ketika harus kuliah.

***

Aku ingin menghindari ayah yang duduk di ruang tengah membaca koran. Biasanya aku akan menghampirinya untuk salaman, tapi aku ragu, apakah masih mau tangannya digamit oleh anak yang semalam melawannya?

Tapi, sudahlah. Itulah kebiasaan, aku pun menghampiri untuk pamitan. Tak ingin lebih terlihat kurang ajar lagi dari kemarin.

“Ayah, aku pegi kuliah dulu," kataku, dan ayah pun menyingkirkan koran itu dari hadapannya untuk memberikan tangannya padaku dan aku seketika lega.

Ayah sudah tak marah padaku. Namun, belum usai yang ia ucapkan kemarin.

“Nazia itu bukan tak punya pilihan. Tapi, orang sekolah dan berpendidikan, harus tahu mana yang boleh dan tidak dia lakukan. Kamu sudah tahu sekarang, kenapa ayah tak restu dengan Made yang agamanya Hindu? Karena pasti anak-anaknya akan ikut dengan ayahnya. Tak bisa diingkari, Nazia pun tersisih dalam keluarga yang ia bina sendiri karena keyakinannya.  Kamu paham, Zuri?" kata dia, dan itu membuat ia tertegun. “Jangan sampai menyesal, begitu orang tua sudah tak ada, baru anak sadar kehilangan. Selagi hidup lakukan sesukanya. Ayah tak ingin kamu pun seperti Nazia. Kebahagiaan itu dari Allah yang Maha Kuasa, Zuri. Tak bisa dipaksakan untuk dimiliki”

Kata-kata terakhirnya terngiang sampai aku tak bisa tenang. Sampai aku menangis sendiri dan tidak sadar ada Han di sampingku lalu menyandarkan kepalaku ke bahunya sambil menepuk-nepuk punggungku. Ia menggenggam tanganku yang gemetaran dengan tangannya. Aku melihat salib itu masih melingkar di sana dan sadar mungkin orang tuaku akan mendapatkan kehilangan seperti yang pernah Nazia berikan  dengan luka yang lebih pedih.

Akan tetapi, aku tidak bisa melepaskan tangan yang selalu menyokongku saat ini. Kami berdua, sama-sama sadar telah jatuh hati satu sama lain di hadapan hamparan sawah Ubud yang indah. Seperti mimpi saja. Seperti kisah roman yang bertemu di satu tempat yang menjadi kenangan terindah. Lalu berjanji akan kembali ke sana satu hari nanti. Suatu hari nanti…

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments