๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
lembar 9
Padang, 01 November 2007…
Hujan lebat mengguyur Padang. Hebatnya, ini bukan musim hujan. Meski hanya sebentar tapi rasanya menyedihkan. Daun yang berguguran tak ingin terbang jauh bersama angin, lalu menjadi sampah. Liong, seperti itukah? Apakah ini maksud semuanya? Membuat Han menyesal seumur hidupnya karena membuangmu?
Kenapa kamu berikan aku kehilangan yang lebih menyakitkan? Kamu dan Han memang serupa, tapi tak sama. Dia tidak membuatku tertawa. Dia selalu membuatku menangis dengan membicarakanmu. Kenapa kamu bebankan penyesalan adikmu kepadaku?
***
Dia datang lagi. Di pinggir jalan tidak jauh dari tempat biasanya aku lewat menunggu angkutan umum untuk pulang. Tidak puaskah semua yang aku jelaskan tentang Liong? Aku benci menangis di depannya setiap membicarakan hari-hari yang telah kami lalui bersama di kampus ini. Terasing dari segala bentuk kehidupan yang nyata. Seakan di atap itu adalah dunia mimpi, di mana hal-hal yang ajaib bisa terjadi. Kami mengkhayal dan mengarang cerita, dengan membaca banyak buku fantasi lalu membicarakan isinya, berdebat lalu tertawa hingga waktu tak terasa. Karena itu sekarang bagiku semua terasa singkat. Hanya kenangan yang dapat menyambungkanku dengan sosoknya.
“Ada apa mencariku?" aku bertanya selagi Han tersenyum, mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya.
Sebuah buku.
“Liong janji akan membelikan sebuah buku, bukan?" dia mengingatkan bahwa aku pernah bercerita padanya bahwa Liong sering memberikan buku untuk dibaca.
Keseluruhan sampul buku itu berwarna biru. Seperti gambar lautan yang beriak, ada secercah biasan cahaya putih. Tertera tulisan yang menerangkan judulnya. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Sebuah karya klasik yang belum terpikir olehku untuk menjadikannya salah satu koleksi bukuku.
“Tidak tahu di negeri sendiri ada karya sebagus ini?" tanya Han padanya. Dan aku masih bingung. Tidak tahu apa harus menerimanya, karena bukan dari Liong.
“Terima kasih," ucapku padanya. Menerima buku itu, tidak sabar ingin menyobek bungkus plastiknya untuk segera membacanya. “Bagaimana kamu tahu aku akan menyukainya?”
“Karena aku tahu kamu bukan orang yang tidak akan menghargai pemberian orang lain," jawabnya.
“Terima kasih," ucapku sekali lagi.
Han ikut tersenyum. Memandangiku tanpa putus. Beberapa saat, aku tertunduk. Tidak pernah merasa sesalah ini berhadapan dengan seseorang. Liong tidak pernah membuatku merasa berdebar –padahal mereka punya wajah yang sama persis.
Bersama Liong, aku melakukan banyak hal yang tidak pernah terpikir sebelumnya. Ibarat seorang supir dengan mobilnya di mana Liong adalah si supir dan aku adalah mobil yang ia kendalikan. Ia telah mengajakku melakukan hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Dia membantuku menemukan apa yang selalu kucari. Lewat hal-hal gila yang dia katakan aku menyadari bahwa dunia ini luas. Karena itu, hampir setiap aku membicarakannya aku menangis dan merengek. Kenapa dia meninggalkanku juga?
Han berbicara dengan lebih sopan dan lunak. Mungkin inilah yang membuat perempuan mudah terpedaya olehnya. Namun tidak denganku, memandang salib yang telah berpindah tangan itu, kehadiran Han pun akan sama dengan kehadiran Liong sebelumnya. Teman. Perbedaan tak akan memisahkan, tapi juga tak bisa menyatukan. Hanya mengambang di tengah selamanya. Dan perlahan aku mulai takut, seolah berjalan bersamanya, kami akan memasuki hutan gelap yang terbentang di hadapan kami…
***
Lembar 10
Padang, 20 Februari 2008…
Adalah seorang gadis bernama Hayati yang seorang yatim piatu jatuh cinta kepada seorang pemuda Bugis keturunan Minang yang tak bersuku bernama Zainuddin. Takdir mempertemukan mereka untuk saling jatuh cinta. Tapi, adat dan agama memisahkan mereka sejauh-jauhnya. Namun cinta tidak pernah berpindah meskipun ia sering menyakitkan hati Zainuddin dan Hayati. Mereka bertemu kembali pun hanya untuk berpisah, hanya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat sebelum kematian Hayati yang tragis.
Berpisah karena kematian…
Setiap aku memejamkan mata, maka sosok Liong sesaat sebelum ia melompat kembali terngiang. Dia tampak tak ragu-ragu seperti saat pertama kali aku menangkap basah dia berdiri di pinggir atap. Entahlah. Aku tidak bisa menganggapnya seperti mimpi buruk. Liong bukanlah mimpi buruk. Kenyataan malah lebih terasa menakutkan, terlebih setelah Han hadir dan dia seakan menyuruhku berdiri di pinggir jurang untuk melompat. Itulah yang kurasakan setiap bertemu dengannya.
Aku bingung. Kenapa kami sering bertemu? Kenapa kami sering berbicara? Kenapa aku menyempatkan diri untuk mendengar ceritanya tentang orang yang sudah mati yang mana bukan sesiapaku? Perlahan, dia mulai membuatku gelisah. Terutama setiap dia tersenyum, itu membuatku tertunduk. Aku tahu Han menyadari bahwa tanganku berkeringat dan gemetaran. Sekali aku mendelik, menatap wajahnya, jantungku berdebar keras. Saking kerasnya, aku sampai takut kalau Han bisa mendengarnya.
Ya Allah, perasaan takut macam apa ini?
***
Liong pernah menanyakan tentang kehilanganku. “Dia tidak punya teman?"
“Ada beberapa teman yang pernah diajak main ke rumah," jawabku. "Memang kenapa?”
“Dia pasti punya teman dekat yang tahu keberadaannya," kata Liong lagi.
“Nazia punya banyak teman," kataku, sudah terdengar menyerah. "Aku tidak terlalu kenal dengan mereka…”
“Tapi, tahu nama salah satunya bukan?" tanya Liong, setengah memaksaku untuk mengingat satu nama saja.
Aku menghela nafas. "Ada satu teman yang biasanya main ke rumah, selalu di dalam kamar bercerita apa saja sampai berjam-jam. Mungkin sudah menikah. Tidak tahu tinggal di mana," jelasku. "Ke mana mau mencarinya? Kalaupun Padang ini kecil, mencari satu orang saja sama seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami”
“Teman satu tempat kerjakah?" Liong terlihat serius.
“Sepertinya begitu. Aku pernah dengar mereka membicarakan orang-orang di tempat kerja.”
“Itu mudah!" kata Liong, tampak bersemangat.
Mudah apanya?, gerutuku yang tak mengerti apa yang sebenarnya Liong pikirkan. Tapi, besoknya mereka mendatangi kantor travel agen tempat Nazia pernah bekerja, mencari seorang perempuan bernama Yani. Tapi, pemilik nama itu sudah lama berhenti dari pekerjaannya. Saat mereka menyebutkan nama Nazia, banyak yang tak mengenalnya karena mereka semua adalah karyawan baru. Bagaimana pun sudah hampir sepuluh tahun Nazia pergi dari rumah. Terkecuali seorang atasan yang sepertinya perlu tahu kenapa seorang adik bisa tidak tahu ke mana kakaknya pergi.
“Aku dengar dia sudah keluar dari Padang sini” kata perempuan Tionghwa separuh baya itu. "Begitu menikah. Tak pernah lagi terdengar kabarnya. Yani juga sudah merantau ke Pekanbaru”
Aku tertunduk, sedih. Sudah ia duga ini akan menjadi sangat sulit.
“Apa Nazia tidak punya teman lain?" tanya Liong pada wanita itu lagi.
“Dulu banyak. Ada sekitar enam karyawan di sini. Mereka cukup dekat. Tapi, sudah berpencar-pencar," jawabnya. Tak kunjung menyurutkan semangat Liong yang meminta diberikan nama dan alamat kalau itu masih memungkin untuk memeriksa satu per satu, memastikan adakah di antara mereka yang masih berhubungan dengan Nazia.
Aku berulang kali ingin menyerah. Saat tak seorang pun yang mengaku masih berkomunikasi dengan Nazia. Kami berjalan ke sana ke mari, tanpa ada keterangan yang pasti. Terlebih saat Liong tiba-tiba sakit dan masih memaksakan diri. Sedikit lagi, katanya, pasti bertemu. Tak bisa menolak semangatnya itu, aku pun mengikutinya, sembari menyokong Liong yang berwajah pucat untuk terus berjalan di tengah teriknya matahari siang.
Sampai akhirnya bertemu seseorang yang bisa menghubungi Yani. Tapi, sayangnya, Yani juga tidak pernah lagi mendengar kabarnya. Aku benar-benar hampir menyerah sampai akhirnya Liong datang padanya memberitahu Yani baru saja menghubunginya dan ia memberi sebuah alamat di Ubud, Bali. Mendengarnya saja, tulangku lemas, Bali itu jauh sekali. Bagaimana bisa bertemu di tempat sejauh itu? Aku tidak bisa ke sana. Dengan tiket dua kali naik pesawat yang harganya pasti mahal dan tak terbeli.
“Aku bisa belikan tiket pulang pergi," kata Liong padaku dengan senyum sumringah. Senyum itu selalu berkata padaku, bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Aku langsung menggelengkan kepala. Sudah cukup mengandalkan Liong yang terlalu bersemangat sampai mengabaikan dirinya sendiri. “Kamu punya uang?" tanyaku tidak langsung percaya padanya. "Tiket pulang pergi?”
Liong tertawa terbahak-bahak. “Itu cuma uang yang tak seberapa. Bukan pesawat jet. Apa susahnya?" balasnya dengan angkuh.
Tapi, aku masih berpikir. “Ubud itu jauh, Liong. Aku butuh beberapa hari untuk bisa sampai ke sana. Tidak mungkin, begitu sampai satu atau dua jam langsung pulang. Aku… takut ayah marah kalau tahu aku menemui Uni sampai ke Bali," katanya, sedih. “Lagipula aku tidak enak, sudah menyusahkan kamu terlalu banyak. Aku tidak mungkin mengandalkan kamu terus.”
“Kamu tahu, ini pertama kalinya dalam hidupku bisa diandalkan orang lain?" balasnya.
“Iya, tapi…," aku kembali tertunduk. ”Aku hanya perlu memastikan kalau Uni baik-baik saja di sana. Dengan begitu aku baru merasa tenang.”
Liong tampak mengangguk-angguk mengerti. Ia tidak pernah memaksakan keinginannya lagi. Tapi, semua usaha yang sudah kami lakukan menemukan Nazia, membuahkan satu pertanyaan di hatiku.
“Liong, kenapa kamu tidak pergi dan bertemu dengan Han ?" tanya Aku akhirnya. "Kamu membantuku, kenapa kamu tidak mau membantu diri sendiri?”
“Han itu tidak ke mana-mana," jawabnya, singkat untuk selanjutnya tak mau membicarakannya. “Dia tidak hilang. Aku tahu dia di mana, jadi tidak perlu dicari”
Justru dirinya sendiri lah yang hilang. Tersesat sampai jauh sekali.
***
Tidak lama kemudian telepon Liong berbunyi, rupanya nomor tak dikenal bersuara Nazia. Aku akhirnya bisa bicara dengan Uni walau tak bisa bertemu muka. Mendengar suaranya saja aku sudah begitu gembira.
“Main-mainlah ke Ubud, Dik," ajaknya. "Kalau kamu mau, nanti Uni belikan tiketnya”
“Iya, nanti. Liburan semester," janji Aku padanya. "Aku senang kalau Uni baik-baik saja di sana”
“Yang namanya hidup tidak pernah ada yang namanya senang terus. Banyak ranjau dan durinya. Tapi, kalau tidak seperti itu bukan hidup namanya," jelas Nazia. "Ayah bagaimana? Masih seperti itu juga?”
Aku hanya menghela nafas. Sangat sulit untuk membicarakan ayah saat ini.
“Pokoknya jangan seperti Uni. Jadilah anak yang baik. Jangan membantah kata-katanya”
“Iya, Ni…”
Lalu aku pun mengembalikan telepon genggam milik Liong. Ia kembali duduk di pinggir atap, di saat angin sedang tak bertiup. Setelah berhasil, entah mengapa Liong malah terlihat muram. Lalu kembali menjadi pendiam.
“Liburan semester nanti aku berencana ingin pergi ke Ubud. Karena itu aku perlu mencari alasan untuk bisa pergi dari rumah selama seminggu," kataku padanya, terdengar seperti ajakan untuk pergi bersama. Karena sejak tahu bahwa ternyata Nazia tinggal di Ubud, Liong berusaha memberitahuku bahwa pemandangan di Ubud bagus sekali dan sampai rela membelikan tiket untukku berangkat ke sana, bersamanya. Tapi, tampaknya Liong sudah tak tertarik. Dia hanya mengatakan sudah sering ke sana sejak kecil. Tak ada lagi yang menarik untuk dilihat.
Belakangan juga, sikapnya mulai aneh. Dia juga belum membelikan buku. Sudah hampir setiap hari, aku mendesaknya supaya kami pergi ke toko buku karena buku-buku sebelumnya sudah selesai dibaca. Tapi, tak pernah digubris. Sampai kemudian ia akhirnya terjun bebas juga dari tempat ia biasa duduk bersamaku.
Ada banyak pertanyaan tak terjawab, jangankan Han, aku yang berada di hari-hari terakhirnya saja tidak habis pikir, kenapa akhirnya dia bunuh diri juga saat rasanya ia sudah menemukan bahagianya, dan dewasanya.
***
Aku memasang dinding pertahanan yang amat tinggi di sekitarku. Rasanya ini lebih menakutkan daripada jatuh cinta kepada seorang sahabat yang sudah memiliki kekasih. Tidak tidak! Yang menakutkan itu adalah saat aku bisa menatap sahabat yang disuka setengah mati dengan biasa saja. Aku tidak pernah lagi fokus pada cerita-cerita menyenangkan Attar tentang Bukit Langkisau atau Lembah Harau atau yang terbaru Kawasan Mandeh. Bagiku, semua itu terdengar seperti omong kosong.
Untuk pertama, aku tidak ingin jatuh cinta –bila perasaan berdebar setiap bertemu dengan Han dikategorikan sebagai bentuk perasaan yang lebih dari sekedar suka. Dia membuatku serba salah. Aku tidak ingin bertemu, tapi tidak bisa menghindar apabila dia sudah menunggu di depan kampus selama berjam-jam. Ah, kenapa pula dia rela menunggu selama itu? Kami sudah selesai membicarakan Liong akhir-akhir ini dan pertemuan berikutnya dengan Han mulai seolah tanpa alasan –bila iseng terlalu berlebihan, bagi seorang lelaki calon dokter yang kehadirannya memancing perhatian gadis-gadis sebangsanya.
Orang-orang tidak melihat seberapa penting pertemuan kami yang tak penting. Mereka hanya melihat dua orang yang berbeda tampak sedang melawan arus. Mungkin itulah yang membuatku gelisah, karena aku tidak bisa menghentikan langkahku menuju kepadanya apabila aku melihatnya menunggu dan itu hanya untukku seorang.
Aku masih tidak tahu apa yang dia lihat dariku. Seberapa berarti baginya untuk melihatku. Memastikan bahwa aku tidak lagi bersedih. Aneh bukan? Liong adalah kakaknya. Sesedih apapun aku saat ini, pasti tidak akan sesedih dirinya. Atau barangkali karena terlalu bersedih dia melakukan ini kepadaku? Tapi kenapa harus aku? Apa alasan dari semua hal yang dia lakukan untukku?
Setelah buku-buku yang dia hadiahkan dan belum sempat terbaca semua, dia memberiku sebuah tiket.
Aku menatap tiket itu cukup lama, lalu wajahnya yang tersenyum. Tanganku memegang sebuah tiket penerbangan Padang – Jakarta – Denpasar dengan gemetaran. Aku memang sudah lama ingin pergi, tapi mungkin tidak seperti ini. Aku ingin menghubungi kakakku lebih dulu karena kupikir dia yang akan memesankannya.
“Aku akan menemanimu ke sana,” kata Han.
Aku membeku. Namun, perasaan senang sudah lebih dulu membuat hatiku melompat kegirangan. Namun mungkin yang terlihat di mata Han saat ini adalah aku yang kebingungan dan mencoba bernafas di saat sedang tertawa. Itu sulit sekali sampai aku membungkuk, menekan dadaku. Aku tidak pernah sesenang ini sejak Liong pergi….
***
Komentar
0 comments