๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Lembar 8
Padang, 27 Oktober 2007…
Apa gunanya nelayan menyimpan bajak sementara ia sendiri tak ke sawah? Lalu apa gunanya aku menyimpan salib sementara aku sendiri seorang muslim? Kepada siapakah aku akan berikan salib ini sementara yang punya sudah pergi? Tapi, hanya ini yang aku punya dari Liong. Ia telah dikremasi setelah tiga hari disemayamkan di samping ayah tercintanya. Meskipun aku tahu, hidup terus berjalan, telah banyak yang datang dan pergi, ada sesuatu yang tak bisa aku lepaskan. Semua kata-kata getirnya, dukanya, rasa sepinya dan juga senyumnya.
Bukan karena aku jatuh hati kepadanya, melainkan aku tak pernah memiliki teman yang memberi luka sedalam ini. Lagipula kata ‘jatuh hati’ itu terlalu berat bagi aku yang tak pernah mengerti cinta.
***
“Kenapa kamu tiba-tiba marah?” tanya Attar, tidak terima aku mengabaikannya sejak kelas pertama pagi ini. Tiada hujan, tiada badai, aku tak ingin bicara dengannya.
Attar mungkin bisa memahami bahwa sebuah kejadian mengerikan baru terjadi di hadapanku sampai aku tidak datang kuliah selama tiga hari. Hari ini, aku berangkat kuliah, membawa buku dan buku catatan. Main kucing-kucingan dengan Attar. Aku sengaja masuk kelas paling terakhir supaya tidak perlu harus bicara dengannya dan mengambil tempat duduk yang jauh darinya. Begitu kelasnya selesai, aku kembali pura-pura sibuk membaca buku. Itu lebih baik, walaupun sebenarnya aku lelah seperti ini. Aku harus membuat keputusan yang tegas, daripada terus menjadi pajangan di antara mereka. Aku lantas membereskan buku-bukuku begitu dosen meninggalkan kelas. Attar sudah ada di depan, menghadang saat Aku baru menyandang ransel dan bersiap untuk pergi.
“Aku khawatir denganmu sekarang," dia mengingatkan dan aku tidak suka karena kedengarannya sedikit menghakimi. "Kamu ke mana saja?”
“Kamu lebih sering bolos dariku entah karena kamu kesiangan atau cuma berselisih dengan Asha, dan aku tidak pernah bertanya dengan curiga," balasku, sambil menyeret langkah, keluar kelas setengah berlari.
“Aku bukan curiga…," bantahnya, sembari menyusul langkah Aku yang cepat “Aku heran, karena kamu tidak biasanya begitu… lagipula kamu tidak pernah marah kalau ditanya… ada apa?”
Aku menarik nafas. "Tidak ada apa-apa…," katanya merendahkan suara, berusaha terlihat tenang, dan setiap aku memandangnya seperti ini hanya membuatku sedih. Aku masih berusaha menyeret langkahku walaupun tanpa arah, namun yang pasti hanya untuk menghindarinya.
Dia benar-benar tidak sadar bahwa sikap yang peduli itu malah mempunyai efek sebaliknya –menyakitkan. Apa hanya dengan mengatakan yang sejujurnya Attar baru menyadarinya?
Rasanya aku jadi ingin berterus terang. Aku sudah tidak tahan lagi memendam seperti ini sehingga aku pun menghentikan langkahku, membalikan badan menghadap Attar yang kembali terheran-heran. Walaupun aku sudah sangat yakin, aku menelan ludah sementara Attar menunggu. “Attar , aku…," kata-kata itu sudah ada di ujung lidah untuh diucapkan.
Tapi, kata-kata itu tanpa sengaja tertelan saat melihat sosok kurus dan tinggi seorang lelaki yang tengah datang kemari. Menghampiri. Aku seketika terpana. Aku tidak mengenal orang itu tapi aku tahu dengan seseorang yang lain yang juga mempunyai paras lelaki itu.
Han namanya. Dari rupanya itu, ia tak berbeda jauh dengan Liong, bahkan cara berpakaiannya juga. Hanya dia lebih tinggi dan rapi sedikit. Tentu, orang yang sekolahnya betul dan hidup teratur, akan terlihat lebih segar dan sehat. Potongan rambut hitam legamnya rapi sekali. Ah, dia kan seorang calon dokter...
Sedang Attar masih menunggu, aku tak sadar bahwa aku sudah kehilangan kata-kataku sendiri ketika lelaki itu berbicara. “Apa kabar?" sapa dia, mengabaikan Attar yang ia lewati begitu saja hanya untuk mendapatkan perhatianku.
Aku bingung. Kami belum pernah bicara. Apalagi berkenalan. Namun sepertinya Liong telah mengenalkan kami lewat salib yang pada akhirnya kukembalikan pada orang ini beberapa hari lalu karena tak mungkin menyimpannya. Aku mendatangi rumahnya, tapi tak bertemu dengan Han, sehingga aku hanya menitipkan pada orang yang ada di rumah untuk diberikan kepada Han. Namun, lelaki itu sekarang mencarinya untuk salib itu –salib yang sudah dipakai Liong sejak mereka masih sangat kecil. Karena merupakan kepunyaan ayah mereka.
***
Apa yang Han lihat dariku? Aku hanya gadis biasa yang lebih banyak bermimpi daripada tidur. Penyendiri juga sama seperti Liong. Tak banyak bicara juga persis dengan Liong.
“Liong tak suka dengan perempuan," kata Han, “Setiap ada perempuan yang main ke rumah mencariku, pasti sudah langsung diusir di depan pintu”
“Tak suka perempuan?" aku mengernyit. Tak suka perempuan sama artinya dengan kelainan.
“Hm…maksudku, mungkin karena dia orang yang rumit. Belum bertemu dengan yang dia suka," Han segera meralatnya sebelum aku malah berpikir kakaknya tidak normal. “Tapi, jangankan suka pada perempuan, dia juga tidak mau berteman dengan lelaki”
“Kenapa?" tanyaku.
Han mengangkat bahunya. "Paranoid berlebihan. Tak bisa percaya pada orang. Seolah di dunia ini semua orang sama jahatnya," jelasnya.
“Kenapa?" aku masih bertanya dengan raut yang sama. Tak terbaca namun membingungkan Han yang terpaksa harus menjelaskan semuanya. Semua pengalaman buruk di masa lalu yang patut membuat Liong kehilangan kepercayaannya terhadap apapun, termasuk Tuhan Jesus mereka.
Ibu mereka pergi meninggalkan rumah karena berkhianat. Lalu ayah mereka yang tertekan, tiba-tiba ditemukan tergantung mati di kamar tidur. Liong orang pertama yang menemukan sang ayah melayang di udara dengan seutas tali. Ia tidak mengerti dengan yang namanya kematian, tidak paham kenapa ayahnya tidur di dalam peti dengan pakaian yang bagus dan rapi sekali dengan menggenggam Kristus di tangannya, dan tidak tahu dengan yang namanya pemakaman. Entah mengapa semua orang yang menyaksikannya menangis tersedu.
Esok hari, ketika ayah yang biasanya duduk termenung di depan jendela sudah tak terlihat. Beberapa hari berikutnya juga. Liong baru sadar bahwa itu adalah kehilangan. Begitu ia dibawa ke makam sang ayah, ia baru mengerti bahwa itu adalah kematian. Setelah tak ada yang mengurus, mereka dibawa oleh sang ibu yang sudah menikah lagi dengan seorang pria pengangguran yang setiap hari marah, berteriak dan memukul. Sampai hari kemudian ia ditangkap pihak berwajib karena terlibat peredaran obat candu, ibu yang mereka kira akan menggantikan peran yang tiada, ikut terseret. Mendekam di bui selama beberapa tahun.
Salah seorang kerabat mengambil mereka, membawa mereka keluar dari Padang. Tinggal di Jakarta dan berbaur dengan sepupu-sepupu yang usianya jauh lebih besar. Justru karena lebih besar mereka seenaknya menyuruh, mempermainkan dan mentertawakan; menyebut-nyebut ayah dan ibu Liong dan Han sebagai bencana dalam keluarga. Sebegitu bencinya Liong pada mereka karena hinaan dan cacian mereka. Karena siapapun juga tidak minta dilahirkan dari sepasang orang tua yang kacau. Kalaupun bisa memilih, mereka pasti ingin juga berada dalam keluarga yang utuh.
Liong selalu mempertanyakan, adakah Tuhan yang tidak adil atau sengaja memberi derita berkepanjangan?. Hingga kemudian ia berhenti percaya bahwa Tuhan ada di atas sana. Tak pernah lagi datang ke gereja. Tak pernah kebaktian. Tak pernah membuat pengakuan dosa. Tak pernah merayakan natal. Suka cita pun seolah tercabut sampai ke akar-akarnya dari hidupnya.
Han mulai merasa bersalah. Membuatnya pergi seperti itu. Ia tidak tahu ke mana lagi Liong bisa pergi. Ia tak punya teman atau seseorang untuk bicara. Hanya menyendiri. Merokok sembunyi-sembunyi tanpa peduli kesehatannya yang makin memburuk. Hingga akhirnya ia putuskan pulang ke Padang. Melanjutkan pendidikan yang tak kunjung selesai, karena terlalu banyak bolos untuk berobat, dirawat dan bermalas-malasan.
Sementara Han pun melanjutkan hidupnya di tempat lain. Membiarkan Liong dewasa dengan caranya sendiri. Tapi, Liong tak pernah lebih dewasa. Ia tak akan tumbuh menjadi seorang pria. Han hanya melihat seorang lelaki yang begitu mirip dengannya telah tiada, terbaring di dalam peti mati. Tidak lagi menjadi bagian dari hidupnya. Berharap salib itu menjadi perintang keraguan abangnya pada Tuhan mereka, tapi Liong melepaskannya.
Begitu Han tahu aku mencoba menolongnya, ia tampak hampir menangis. Dialah yang seharusnya ada di sana.
Komentar
0 comments