๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Paketnya habis…”, kataku nyengir, sambil bangkit perlahan dan duduk dengan hati-hati sambil memegangi perutku. Lalu meraih hp-ku yang dari kemarin cuma tergeletak ‘nggak bernyawa’ di atas meja.
“Aktifin lagi dong”, dia masih mengeluh sambil duduk di sisi tempat tidur dan meraihnya.
“Gue mau BBM-an sama siapa lagi sih?”, balasku, “Tiap hari lo datang ke sini buat nengokin gue, udah lebih dari sekedar BBM-an. Lagian BBM-an terus bikin jari gue jadi keriting”
“Arendias Putra misalnya…”, dia membelalak dengan gaya yang nyebelin plus dengan suara centil yang bikin aku geli, “Cowok keren nemu di kelas Hukum Tata Negara-nya pak Wagian”
Aku tertawa dan perutku jadi sakit. Aku meringis, Dona kelihatan parno lagi.
“Far?”, tegurnya mendekat tapi tiba-tiba aku menyodorkan hp-ku.
“Nih BB gue buat lo aja”, kataku.
Dona mengernyit.
“Iya, itu buat lo! Gue nggak perlu BBM-an lagi”, jelasku, “Lagian gue kasihan sama lo, udah bertahun-tahun masih aja pakai Blackberry keluaran lama. Punya gue model baru, tau? Mahal lagi”
“Kenapa tiba-tiba lo jadi nyebelin gitu sih?”, cetusnya, merengut dan aku cuma ketawa.
Sambil mencak-mencak, ia mengambil handphone itu dari tanganku, “Lo bikin gue merinding…”, gumamnya, “Jangan-jangan setelah lo nggak ada, lo bakalan menghantui handphone ini… ogah gue!”
“Sialan lo! Lo kira gue bakal jadi kuntilanak apa?!”, balasku sebal dan dia ketawa nyengir.
Dona menghela nafas, “Gue nggak bisa terima”, katanya sedih, dan tertunduk.
“Yah, kalau nggak mau pakai ya dijual aja, lumayan kan bisa buat nambahin biaya nikah lo”, aku masih ketawa lagi dan dia cemberut.
“Lo kelewatan ah!”, Dona ngambek dan bikin aku jadi sedikit merasa bersalah, “Tapi, emang sih, lumayan harganya kalau dijual lagi, itung-itung ini warisan dari Miss Farra Arundati…”
Aku ikut ketawa dan Dona kelihatan berusaha untuk tetap tertawa. Rasanya cukup deh, aku membuat orang-orang di sekitarku jadi menahan perasaan. Aku merasa bersalah sama mereka yang kadang-kadang harus menangis karena melihatku tapi harus sembunyi dari aku, supaya aku nggak down.
Farra nggak pernah down. Padahal yang bikin Farra down cuma patah hati, lain dari itu sih hanya dramatisasi. Dan sekarang, Farra nggak sedang patah hati. Jadi nggak ada istilah down. Farra bahagia kok. Aku ingin menunjukan itu sama Mama, Papa, Mas Farhan, Kak Sani dan Dona.
“Ini foto kapan?”, tanya Dona padaku sambil memperlihatkan sebuah foto yang ia temukan di hp-ku. foto yang iseng-iseng kuambil saat Ren lagi ketiduran dan aku bahkan sempat lupa pernah ngambil foto itu. Habisnya beda dari foto-foto selfie mesra kebanyakan, cowoknya lagi tidur dan ceweknya sibuk pasang duck face yang konyol abis. Sampai Dona ketawa sendiri.
“Parah banget lo”, ia terkekeh, memandangi satu persatu gambar-gambar itu, “Kalau ada yang nemu foto beginian bisa mampus lo. Ketahuan banget kalian habis ngapain”
“Biasa aja”, balasku ikut tertawa, “Malahan gue jadiin display picture BBM!”
Matanya melotot lagi sebelum dia mastiin sendiri, “Lo sinting ya”, dia terkekeh lagi, “Ya iyalah, lo berani masang foto begituan jadi display picture, orang BBM lo nggak aktif! Siapa lagi yang bakal lihat kalau bukan lo sendiri!”
“Gue emang sinting, tapi nggak sinting-sinting amat kali!”
“Eh, tapi ngomong-ngomong, lo nggak ketemu dia lagi?”
Aku ketawa satu kali, “Ren udah ada di Bandung”, kataku.
“Balikan sama ceweknya itu?”, Dona mendongak dengan ekspresi mendadak prihatin, sama sekali ngggak lucu.
Aku angkat bahu.
“Terus lo gimana?”, tanya dia, mulai sedih lagi.
“Gue nggak kenapa-napa”, jawabku tersenyum.
“Farra…”, Dona kembali menatapku dengan tatapan menyesal, seolah dia lupa kalau aku pernah marah-marah karena dia belum berhenti nyalahin dirinya sendiri. Tapi, mana bisa aku memaksa orang-orang di sekitarku berpikir kalau aku sehat-sehat aja, “Sampai detik ini gue masih berharap… berharap kalau semuanya terulang lagi… berharap kalau saat itu gue bisa lebih tenang dan nggak nerobos lampu merah, lo nggak akan begini…”
“Dona!”, suaraku meninggi, “Nggak ada yang perlu disesalin lagi. Ini udah takdir…”
Dona menggeleng, meneteskan air mata itu lagi, ia kelihatan nggak mau dengar omonganku, “Maafin gue…”, rengeknya tertunduk, “Lo harus menanggung akibat perbuatan gue. Harusnya bukan lo yang luka parah, tapi gue… gue yang pantas nerima itu, Farra…karena itu salah gue, tapi…”
“Lo punya kesempatan untuk bahagia…”, kataku, menatapnya lekat-lekat, “Untuk perbaikin hidup lo. Nggak ada lagi hura-hura atau nyia-nyian hidup lo…gue nggak mau lo kayak dulu lagi…”
Dona mengangguk, “Gue… gue nggak bisa bayangin pesta pernikahan gue nggak ada lo…”, katanya, meringis terisak di bahuku, “Gue maunya selama seminggu, lo ada di rumah gue, sampai pestanya selesai…”
“Lo lebih dari sekedar teman atau sahabat buat gue, Don… bahkan gue lebih sayang sama lo ketimbang pacar gue sendiri…”, ujarku, “Bukan berarti kalau gue nggak ada di hari bahagia lo, gue nggak lihat. Gue bakal tahu semuanya nanti…asal lo nggak lupa sama gue”
Dona menggeleng, “Gimana mungkin gue lupa sama lo, Far…”, isaknya, merangkulku dengan kedua lengannya yang gemetaran. Dan aku bersandar ke pundaknya, dan terus mendengar isakan dan tangisan Dona. “Gue sayang sama lo…”
Dona melepasku, untuk menatapku, “Terus cowok itu…apa dia tau?”, tanya dia.
Aku menggeleng.
“Kenapa?”, Dona kelihatan kecewa, “Harusnya lo bilang supaya dia nggak pergi ke Bandung…”
“Bukan pilihan yang bagus juga, kalau dia tau terus nemenin gue dan harus bilang selamat tinggal dengan cara yang nyakitin”, jelasku, “Gue pernah minta sekali, tapi dia nggak mau. Gue nggak akan berharap lebih selain jangan pernah ngelupain gue, permintaan yang sama yang pernah gue minta ke semua orang yang dekat sama gue. Cuma itu yang bisa bikin gue tenang…”
Dona diam lagi.
“Gue nggak menderita sakit yang menahun, yang menunggu setiap bagian dari diri gue ini lumpuh…”, ujarku, “Bisa nanti atau besok, tiba-tiba gue nggak bernafas karena nggak bisa nahan sakit, gue selalu ingin tersenyum, menunjukan ke semua orang kalau gue bahagia. Gue bukan lagi cewek gila yang sering patah hati…dan lagian…semua ini udah direncanakan. Kalau kecelakaan itu nggak terjadi, gue nggak akan pernah ngerasain kebahagiaan yang seperti ini. Sadar apa yang gue punya sebelum semuanya hilang…keluarga, teman dan cinta…”
“Tapi, Far…”
“Kadang-kadang sesuatu harus terjadi untuk menunjukan apa yang pantas kita miliki dan nggak, Dona. Kecelakaan itu mengubah lo dan gue jadi lebih baik. Lihat sekarang, lo punya kerjaan yang bagus juga calon suami yang menerima lo apa adanya. Sedangkan gue…gue ketemu Ren dan ngerasain apa yang sebelumnya nggak pernah gue rasain. Meski pun cinta gue mungkin bertepuk sebelah tangan tapi yang pasti perjuangan buat ngedapetin apa yang gue mau itu luar biasa. Gue bahagia, Don…”
Dona mengangguk, dan mempererat pelukannya. Hingga aku kesakitan. Samar-samar, suara truk yang melesat itu terdengar lagi. kian keras dan rupanya ia tengah berada di depanku. Aku nggak lagi berharap bahwa waktu akan membeku di sana, memberi sedikit ruang bagiku, menghindarinya, berlari kembali ke belakang, melewati truk itu, dan melakukan apa yang belum aku lakukan. Meski aku tahu di belakang truk itu, aku seolah dapat melihat Ren berdiri di sana dan menunggu.
Tapi, tubuhku terjatuh. Truk itu menghilang dari pandanganku dan kulihat di ujung jembatan putus itu –di atas sana, Ren menjulurkan tangannya. Dan yang aku berikan padanya, hanya senyuman.
Selamat tinggal, Ren…
---
Aku melepas pelukan erat Dona, selepas dari rasa sakit di perutku yang terluka. Sahabatku yang cantik nggak bisa berhenti menangis, dan ia masih memeluk tubuhku yang lemah.
“Farra, jangan tinggalin gue…”, rengeknya, mengguncang-guncang tubuhku yang lemas, “Farra, jangan tinggalin gue…”
Aku hanya tersenyum, di sisi tempat tidur. Sebelum berdiri kembali dan memandangi sekitarku. Kamar tidur yang pasti akan sangat kurindukan. Foto-foto kenangan yang ditempel di setiap dinding, bersama teman-teman saat baru pertama masuk kuliah dan ketemu Dona lalu kita bersahabat. Ada wajah-wajah lain yang sekarang ini telah meraih sukses dan bahagia –mereka yang pernah datang ke sini juga ke rumah sakit enam bulan lalu sesaat setelah kecelakaan. Mereka yang memberiku semangat untuk melakukan apa yang aku inginkan. Serta keluarga yang selalu menjagaku dan sahabat yang nggak pernah melepaskan tanganku. Juga wajah Ren yang tertinggal selamanya di fikiranku.
Kita hidup di dunia dalam waktu yang udah ditentukan. Meski itu berakhir dengan cara yang tragis atau indah, semua yang memiliki awal pasti memiliki akhir. Aku nggak ingin ada orang yang menyesal atas kepergianku. Dan aku bersyukur untuk bulan-bulan yang singkat itu. Untuk satu hari di kelas yang membosankan, aku ketemu sama seseorang yang pada akhirnya memberi semua hal konyol yang pernah aku inginkan.
Pertemuan yang singkat dengan cowok yang hobinya BBM-an dengan pacarnya yang jauh dan ngomong nyeleneh sama cewek yang baru dikenal sampai dia ketemu lawan yang seimbang. Seorang cowok yang bikin aku jatuh cinta hanya karena dia keren –padahal juga nggak keren-keren amat. Dia punya dunia yang ngebosenin dan aku mengacaukannya dengan suara dan amarahku yang kekanakan. Akhirnya aku punya foto berdua dengan pacar tapi sayangnya nggak bisa dipamerin ke orang-orang karena itu foto yang ‘nyeleneh’ di atas tempat tidur. Aku harap Dona bisa jaga rahasia.
Walaupun nggak ada keterangan in relationship with atau engaged to ‘bla bla’ di laman About Me akun Facebook punyaku, paling nggak aku bisa masih bikin status di beranda ‘Married to Arendias Putra’. Bikin teman-teman heboh dan protes ‘Kenapa nggak ngundang-ngundang?”. Beneran, itu lelucon yang bikin mereka uring-uringan dan komen-komen nggak jelas di sana. Sayang, aku nggak sempat membalasnya satu persatu. Begitu Dona ‘datang’ dengan berita duka, komen marah-marah itu terabaikan disambut dengan komen bela sungkawa.
Saat kampus mulai heboh, Ren mungkin masih di Bandung. Lumayan lama. Tapi, aku senang, dia nggak melupakanku seperti yang pernah aku minta. Ren menepati janjinya. Dia kembali ke kampus nggak lama setelah itu.
Hp-ku berbunyi dan Dona masih duduk di sisi tempat tidurku. Ia lumayan kaget karena nama Ren muncul di sana.
“Halo?”, ia mengangkatnya.
“Farra?”, panggil Ren, terdengar lega di seberang sana.
“Maaf, ini Dona, temannya Farra”, jawab Dona, menyeka air matanya yang menetes tiba-tiba.
“Farra mana?”, tanya dia, begitu tenang.
Dona menghela nafas lelah, dan terlihat agak marah, “Kenapa baru sekarang lo telepon dia?”, balas Dona.
“Gue mau ngomong sama Farra”, kata Ren, mulai gusar.
“Farra nggak ada”, jawabnya, “Ini emang hp-nya Farra, tapi itu dulu. Dia udah kasih ke gue”
“Itu bukan urusan gue. Kasih ke Farra sebentar nggak bisa?”
“Lo mau bilang apa sama Farra? Lo udah balikan sama cewek lo gitu?”
Tiba-tiba dimatiin. Ren kayaknya kesal. Seseorang yang nggak dia kenal tiba-tiba ngata-ngatain dia dan belagak sok tahu soal kita.
Dona menghela nafas, sebelum dia menghubungi nomor itu lagi.
“Lo mau ketemu sama Farra?”, tanya Dona padanya.
Ren diam, kayaknya nggak percaya, dan pasti juga dia heran.
“Besok gue bakal ngantar ‘Farra’ ke kampus. Jam satu siang”, kata Dona.
---
Bodohnya, Ren percaya itu. Mungkin dia sama sekali nggak punya firasat tapi ia kelihatan nggak tenang begitu tahu ‘Farra’ yang dimaksud Dona. Itu sebuah benda yang selama ini selalu menghubungkan aku dengannya. Blackberry yang harusnya dijual Dona begitu aku nggak ada. Tapi, dia nggak melakukannya. Seakan sengaja menunggu Ren menelpon dan ia nggak menghapus satu pun bukti yang ada di sana bahwa aku selalu merindukan Ren di saat-saat terakhirku.
Ren mengernyit saat disodori handphone oleh Dona, “Itu buat lo”, kata Dona padanya sebelum ia pergi tanpa penjelasan apa-apa.
“Eh, tunggu!”, Ren menyusulnya, masih heran dan belum ngerti juga, bahwa Farra nggak akan datang lagi ke kampus.
“Apa?!”, celetuk Dona marah.
“Maksudnya apa sih?”, ia menyodorkan hp itu lagi, “Ini punya Farra kan?”
“Iya, itu punya Farra”, jelasnya dengan wajah sinis, “Berhenti deh jadi cowok lugu yang nggak tahu apa-apa! Ternyata lo emang kurang perasa ya sama apa yang terjadi di sekitar lo!”
Ren masih bingung.
“Apa sih yang lo harapin dari Farra sekarang setelah lo putus dari cewek lo itu?! Farra udah meninggal! Percuma lo cari dia kemana-mana juga nggak bakal ketemu!”, teriak Dona sebelum ia benar-benar pergi.
Ya, Ren nggak pernah tahu soal kecelakaan enam bulan lalu di mana mungkin harusnya aku udah mati. Tapi, karena Tuhan masih sayang sama aku, dia memberi aku kesempatan sebentar untuk memperbaiki semuanya. Hidupku yang lama dan segala hal yang aku sia-siakan ketika masih sehat. Meski, selama enam bulan ini aku terus-terusan menahan sakit dari luka dalam di perut yang kata dokter memang sudah sembuh. Tapi, menimbulkan efek lain : kerusakan fungsi hati, dan itu nggak bisa disembuhkan karena masih ada serpihan dari plat mobil yang menembus perutku tertinggal di sana menjadi infeksi yang parah. Ren nggak tahu wajahku memang selalu pucat dan selama ini aku memoles make-up dengan sempurna untuk menyembunyikannya.
Semua yang aku mau udah aku dapatkan.
Foto berdua jadi display picture BBM dan sebuah kalimat di sampingnya yang kuambil dari lagu Avril Lavigne, ‘All the words I need to hear to always get me trough the day and make it okay, I MISS YOU’ . Aku nggak nyangka Ren bakalan nangis –meski aku nggak mengharapkan bakal separah itu. Aku juga nggak tahu Ren bakal melihatnya sendiri –soalnya selama foto dan kalimat itu terpapang di sana, hp-ku dalam keadaan ‘nggak bernyawa’.
Dia boleh marah, kalau aku bikin foto konyol selama dia ketiduran dan bakalan jadi masalah besar kalau foto itu tersebar ke mana-mana. Yang malu seorang pasti Ren. Tapi, dia kelihatan nggak peduli.
Maaf ya, Ren…
Aku bersandar ke punggungnya yang gemetar, mengingat bahwa satu kali ketika kita di sini –kamar ini, aku pernah mengatakan sebuah hal yang konyol padanya.
“Kalau diperhatiin kamu tuh nggak ganteng-ganteng amat ya…”, kataku.
Ren mengernyit, agak kesal, “Kenapa ya kamu tuh nggak pernah muji aku? Bilang aku lemah lah, ‘kecil’-lah…”, gerutunya, “Tulisanku jelek…”
Aku cuma cekikikan, berguling ke samping dan dia menarikku lagi ke sisinya, “Aku nggak pernah pacaran sama cowok jelek sih…”, kataku lagi.
“Ya deh, aku cowok kamu yang paling jelek”, dia merajuk.
Aku terbahak, “Nggak kok. Kamu yang paling cakep”, ujarku memandang wajahnya dan menyentuh pipinya, “Suer…”
“Nggak percaya”, celetuknya.
“Ya udah, terus aja jadi cowok jelek!”, tandasku, sambil mencoba bangkit darinya tapi dia menarik tubuhku untuk kembali ke sisinya. Dan dia nggak melepasku sekali pun aku meronta, “Lepasin…”
“Nggak mau”, cetusnya, menahan tubuhku sama lengannya yang kuat –coba skill making love-nya sekuat itu, nggak tau juga deh…hahaha….
“Aku mau pulang”, kataku masih meronta.
“Pulang? Ini kan masih sore!”, protesnya belum mau melepasku.
Aku terdiam, mencoba menafas teratur karena sakit sekali dan cowok ini memang nggak tahu, kalau dia menekan tubuhku begini aku bisa mati!
“Kalau kita segini dekatnya, kenapa sih sampai sekarang kamu nggak mutusin dia?”, tanyaku, tiba-tiba dan dia melepaskan tangannya dariku seketika, “Padahal hampir setahun kan kamu nggak pernah begini sama dia?”
Ren kelihatan terganggu, “Jangan bahas itu lagi kenapa sih?”, celetuknya, ngambek.
“Ujung-ujungnya serem, tau? Sampai sekarang kamu belum mau ngelepasin dia. Apa jangan-jangan kamu lagi nunggu saat yang tepat buat ngelamar dia?”, balasku, “Terus aku gimana? Ngeratapin kamu karena akhirnya kamu nggak milih aku, gitu?”
“Farra, udah deh…”, air mukanya mulai gusar, memandangku.
“Sekarang, aku tanya, kamu anggap aku ini apa?”, tanyaku, kembali jadi cewek yang nggak sabaran di depannya.
Ren terdengar menarik nafas panjang, lalu menarikku lagi ke sisinya untuk menatap wajahku, “Kamu itu seorang teman yang sangat dekat sama aku dan suatu hari nanti mau aku jadiin pacar…”, jawabnya, “Kalau kamu mau tahu apa nanti aku bakal milih kamu atau nggak, sekarang juga pasti kamu tau jawabannya. Tanya hati kamu sendiri tentang aku. Aku sayang kamu dan aku nggak mau ngelepasin kamu…”
“Dasar cowok… kalau kamu ngelepasin aku, kamu yang rugi…”, candaku dan ia mulai menggelitik.
Aku sedikit merasa bersalah karena membuatnya menangis. Sumpah, ini pertama kalinya aku bikin seorang cowok nangis. Sekaligus tahu bahwa ternyata akhirnya ada juga cowok begitu merindukanku sampai memeluk hp-ku di mana foto-fotoku masih tersimpan sebagai kenangan yang jarang di dapat. Sayang, aku nggak bisa mendekapnya dan mengatakan bahwa aku akan selalu ada di hatinya selama dia nggak melupakanku. Dari semua hal yang bikin aku senang, hanya satu hal yang bikin aku lega, Ren udah menentukan pilihannya. Sayangnya itu aku, yang nggak akan pernah ia temui lagi. Sebuah jawaban yang aku tunggu, tapi sudah terlalu terlambat…
-fin-
Komentar
0 comments