[Hal.8] THERE'S A GOOD IN GOODBYE - Baca Cerpen Romantis Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Sejak hari itu semuanya berubah. Biasanya handphone-ku selalu bunyi. Sejak aku ninggalin rumah Ren dengan perasaan kesal, dia agak berubah. Mulai jarang menghubungiku. Kami juga nggak bisa ketemu lagi di kampus, karena… aku dilarang sama Mama dan Papa pergi kuliah. Karena… keadaanku mulai memburuk. Sampai-sampai Dona setiap hari main ke rumah untuk memastikan kalau aku nggak apa-apa.

“Ini nih yang bikin gue takut…”, Dona mengeluh, “Sekali lo berhubungan sama cowok, mental lo jadi nggak sehat. Lo nggak kapok-kapok sih, begitu kenal langsung jatuh cinta…”

“Gue nggak nyesel, Don…”, kataku, berusaha membuat senyum di wajahku yang nggak lagi dihiasi make up. Dan inilah yang selalu aku sembunyikan. Sakit yang nggak pernah sembuh dan hari ke hari makin parah.

“Cowok itu nggak pernah nanya atau apa kek gitu?”

Aku menggeleng, “Gue cuma bilang sakit dan harus libur seminggu”,

“Terus?”

“Ya gitu deh…”

Kali ini beda. Aku nggak berharap kita bisa bersatu selamanya. Berharap hubungan ini bertahan lama. Nggak ada lagi yang bisa aku harapkan. Aku hanya memikirkan perasaan bahagia ketika kita masih bisa bersama. Hal-hal kecil yang kita lakukan sama-sama. Wajahnya masih bisa aku ingat dengan jelas dan menjadi mimpi paling indah dalam tidurku. Aku masih bisa memeluk bayangannya hanya supaya bisa tidur dan ngilangin  rasa sakit ini. Kenangan terakhir yang bisa aku buat sebelum aku pergi.

Tengah malam, handphone-ku bunyi. Bukan BBM tapi panggilan masuk.

“Ren?”, aku nggak sabar mengangkat telponnya. Aku pikir semuanya selesai. Karena kemungkinan Ren ninggalin aku lebih besar dari kemungkinan dia mutusin ceweknya.

“Kamu lagi ngapain?”, tanya dia, tenang seperti biasanya.

“Nggak ada. Lagi tidur …”, jawabku setelah menarik nafas lega.

“Hm… kenapa kamu nggak masuk-masuk lagi?”, tanya dia.

“Aku sakit, harus istirahat…”

“Oh, aku cariin nggak pernah ketemu…besok aku samperin ke rumah ya...? Ada sesuatu yang mau aku omongin…penting”

“Kenapa nggak ngomong sekarang aja?”

“Farra, aku maunya ketemu. Udah lama kan kita nggak ketemu?”

Aku terdiam beberapa saat, “Kamu mau kasih kabar baik atau jelek?”

Ren kedengaran ketawa, “Pokoknya besok ya. Rumah kamu di mana?”

“Besok aku udah masuk kuliah kok. Kita ketemu di kampus aja…”, kataku.

---

“Lho, Farra?”, Mama mengernyit melihatku keluar dari kamar, begitu juga dengan Mas Farhan dan Kak Sani yang memelototiku, memandangiku dari ujung kaki ke ujung kepala.

“Kamu mau ke mana?”, tanya Kak Sani yang juga sudah siap dengan setelan kerjanya.

“Kampus”, jawabku sambil tersenyum dan melangkah. Nggak singgah ke dapur untuk sarapan dan justru bergegas keluar sebelum dilarang.

“Kamu harus istirahat…gimana kalau…”, Mama menyusulku begitu juga dengan kedua kakakku yang berwajah cemas.

“Aku nggak apa-apa!”, kataku, tanpa kusadari tingginya nada suaraku hingga mereka membelalak terkejut.

“Tapi, Farra…”, Kak Sani mencoba meyakinkanku dan dia semakin cemas saja, nggak pernah aku melihat sikapnya yang seperti itu. Setelah yang aku tahu selama ini dia hanya peduli sama Blackberry-nya, pacar-pacarnya atau dandanannya melebihi ia peduli padaku, adiknya sendiri.

Begitu juga dengan Mas Farhan, dia mulai jarang duduk di depan TV dan komentar nggak pentingnya mulai langka terdengar. Hawa rumah ini berubah. Nggak lagi semenyenangkan dulu yang bikin aku betah.

“Farra…”, tegur Papa, suaranya lemah lembut dan wajahnya tampak memohon, “Kamu jangan kemana-mana ya? Kamu lagi nggak sehat”

“Kenapa?”, tanyaku, dan air mataku menetes tanpa permisi, “Kenapa semuanya mandangin aku begitu…?”

Aku nggak tahan.

“Aku nggak apa-apa!”, kataku, setengah berteriak, “Aku ini nggak sakit! Kenapa kalian bikin aku seperti penderita sakit tahunan yang obatnya nggak bisa ditemukan! Ini cuma luka!!”

“Farra…”, Mama melangkah pelan kearahku, tampak berusaha membujukku dengan tatapan sayunya, agar aku menjauh dari pintu depan dan nggak membukanya. Aku menarik gagang pintu dan berlari keluar.

Sepanjang jalan, air mataku nggak bisa berhenti menetes. Pikiranku kembali ke saat-saat itu. Jika saja, kecelakaan itu nggak terjadi, aku nggak akan merasa setiap perjalanan yang aku tempuh dari rumah ke kampus dengan bus dan pemandangan yang terlihat dari sini adalah sesuatu yang berharga. Aku nggak akan merasa begitu merindukannya bahkan di saat aku masih bisa melihatnya. Aku membayangkan jembatan yang putus itu ada di depanku, dan aku nggak bisa menghentikan langkahku sendiri.

---

“Kamu pucat”, kata Ren padaku, memandang wajahku seakan dia bisa tahu kalau sakitku benar-benar parah, “Kamu sakit apa sih?”

Aku menggeleng, “Biasa…”, jawabku membalas tatapannya, merekamnya baik-baik di kepalaku tentang gimana ekspresinya saat ini, “Aku demam…”

Ren menghela nafas, lalu tersenyum, “Aku  nggak tahu kalau kamu sakit-sakitan juga…”, komentarnya dan aku hanya membalasnya dengan tawa pelan.

“Apa yang mau kamu omongin? Kayaknya serius banget…”, tanyaku masih belum melepaskan pandangan itu.

Aku menunggu beberapa saaat, dan mulai  nggak sabar karena kelihatannya Ren malah kebingungan. Aku mulai punya firasat yang nggak enak ketika dia hanya menatapku dan aku nggak cukup bodoh untuk sadar kalau dia sedikit cemas.

Tapi, Ren memelukku, “Aku cuma kangen…”, katanya dan itu bikin aku hampir nangis.

“Beneran?”, balasku, tertawa pelan di bahunya, “Nggak ada sesuatu yang lain yang mau kamu bilang?”

Ren melepasku, “Kamu nanyanya kayak mencurigai gitu…”, ia cemberut.

“Habis…kamu nggak pernah hubungin aku lagi sih…”, balasku, tersenyum lebar, menengadah ke langit-langit kamar krem lembut yang pasti akan sangat kurindukan. Bertumpu dengan kedua tangannku yang menekan seprai untuk menyangga tubuhku yang sakit, aku punya firasat kalau setelah ini aku bakal baik-baik aja. Meski yang mau kukatakan pasti menyakitkan hati, “Tiba-tiba bilang kangen kan aneh…”

“Bukannya gitu… aku…”, Ren tampak memikirkan jawabannya dan dia sama sekali nggak mahir berbohong.

Aku harus mengakui kalau dia memang cowok baik. Sayang, aku nggak bisa memilikinya…

Andai aku ketemu dia lebih cepat. Andai aku nggak sering bolos kuliah, pasti kami bakal ketemu lebih awal di kelas Hukum Tata Negara atau mungkin Hukum Internasional. Dan kecelakaan itu nggak akan merampas semuanya.

Aku meliriknya sekali, “Udah, Ren, bilang aja…”, ujarku.

Ren masih menatapku ragu-ragu, “Aku nggak mau kamu berpikiran negatif ya”, dia terdengar mengajukan syarat yang konyol.

Dasar, cowok lucu!

Aku tertawa lagi sambil menjatuhkan punggungku di atas kasurnya yang empuk. Tubuhku memantul ke depan oleh empuknya kasur itu seperti berada di atas awan tebal yang ada di film-film kartun, mengembalikan ingatan pertama kali Ren membawaku berada di sini, karena ini akan menjadi yang terakhir kalinya.

“Aku mau pergi ke Bandung”, katanya.

“Oh ya?”, mataku masih memandangi langit-langit itu.

“Teman-teman SMA-ku bikin acara reunian”, dia menjelaskan, masih menatapku hati-hati.

Aku ketawa lagi, “Kenapa sih kamu harus bilang dengan cara seolah-olah aku nggak bakal ngizinin?”, balasku, memandangnya sambil bangkit, “Aku ini bukan pacar kamu. Aku nggak berhak ngelarang kamu”

“Farra…”, Ren terdengar mengeluh dan aku masih belum mengakhiri tawaku yang ganjil.

“Kamu pasti ketemu dia di sana kan?”, tanyaku, menatapnya tenang agar ia berhenti menatapku dengan rasa bersalahnya, karena itu… bikin aku jengah.

Aku kembali menjatuhkan punggungku di atas seprai, menatap langit-langit, tanpa ada tawa lagi. Karena itu nggak benar-benar bisa menyembunyikan rasa kecewaku pada keadaan ini. “Jujur…”, kataku, “Belakangan ini kamu nggak hubungin aku karena kamu sebenarnya nggak lagi nyari alasan buat mutusin pacar kamu, tapi buat mutusin aku kan? Karena kemungkinan kita bisa ngejalanin ini nggak lebih besar dari kemungkinan kamu mutusin dia hanya demi aku”

“Farra, semuanya nggak seperti yang kamu pikirin!”, Ren mulai nggak tenang, “Semuanya itu butuh proses”

“Kita udah menjalani proses itu dan aku udah menunggu selama yang kamu mau”, kataku, bangkit kembali untuk menatapnya, “Aku tersiksa… apa kamu nggak bisa lihat?”

“Terus aku harus gimana supaya kamu nggak tersiksa?”, Ren semakin terlihat merasa bersalah. Dan aku mengerti itu.

“Lepasin aku”, kataku, “Kamu boleh pergi ke sana, ketemu pacar kamu, dan terserah kamu mau ngapain habis itu. Tapi, sekarang, tolong  lepasin aku”

“Aku nggak bisa!”, suara Ren meninggi, “Kenapa harus seperti itu?”

“Sekarang, kamu mau aku gimana?”, balasku, menahan air mataku.

“Aku sama sekali nggak niat nyakitin kamu dari awal. Maafin aku, kalau kamu terlalu lama nunggu tapi… aku cuma nggak ingin menyakiti siapapun…”, Ren menatapku iba lalu tertunduk, “Aku juga sayang kamu, Farra…tapi juga nggak semudah itu ngelepasin dia…”

“Kamu pernah janji sama dia?”, tanyaku, menenangkan suaraku yang parau.

Ren mengangguk, “Dulu…kita udah lama pacaran…dan aku nggak pernah tahu ibuku bakalan meninggal dan aku harus pindah ke Surabaya…”, jelasnya.

Aku mengangguk, “Oke…”, kataku menelan ludah, menahan genangan air mata yang membuat pandanganku mengabur tapi tetesan yang pertama terasa begitu menyakitkan.

Ren melihatnya, “Aku mohon, jangan nangis…”, katanya, memelukku, “Aku nggak bisa lihat orang nangis, apalagi itu gara-gara aku…”

Aku mengizinkan tetesan pertamaku jatuh dan menyekanya segera. Aku melepaskan diri untuk memperlihatkan kalau aku nggak apa-apa. Aku udah berdiri di ujung jembatan yang putus itu sekarang. Ada sebuah truk besar yang sedang menuju ke arahku.

“Lepasin aku, Ren…”, pintaku, “Aku nggak ingin membebani kamu hanya karena kamu nggak bisa milih”

Ren menggeleng, “Tolong, jangan ngomong itu lagi…”

“Aku nggak bisa nunggu lebih lama lagi dan aku sama sekali nggak yakin kamu bakal milih aku… aku bukan pilihan buat kamu…”, ujarku.

Ren menarik nafas panjang, dan menatapku lekat-lekat, “Ya udah…”, katanya pelan, “Aku bakal ngelepasin kamu kalau kamu tersiksa gara-gara aku, tapi setelah ini kamu harus janji, nggak akan down dan kita tetap komunikasi. Kamu harus tetap angkat telepon aku atau balas SMS aku, ya?”

Aku tersenyum dan menggeleng, “Nggak”, jawabku dan dia lagi-lagi melotot padaku, “Semuanya selesai, Ren. Aku nggak pernah ingin berhubungan sama sesuatu atau seseorang yang udah jadi masa lalu. Begitu, aku jalan ke depan, aku nggak akan pernah noleh ke belakang lagi…”

Ren ikut menggeleng, “Aku nggak mau kalau seperti itu…”, katanya memelukku lagi, “Aku nggak mau mengingat aku sebagai kenangan yang buruk…kita mulai semuanya baik-baik, pisah juga baik-baik”

“Nggak ada perpisahan yang terasa baik, Ren…”, kataku, “Itu cuma lirik lagu…”

Ren terdiam dan hanya memandangku. Terpana padaku.

“Kamu salah cari cewek…”, kataku, “Aku bukan tipe yang bisa terima perpisahan lalu tersenyum bahagia seolah ada seseorang yang lebih baik menunggu. Aku nggak senaif itu…”

Ren tertunduk lagi dan nggak bisa menyembunyikan kebingungannya.

“Aku lebih memilih menghilang supaya masa lalu nggak menemukan aku. Kamu tahu, selama ini aku melangkah tanpa pernah melihat ke belakang, menganggap siapapun yang ada di masa lalu nggak pantas untuk masa depan aku. Aku menghapus jejak aku sendiri karena itu bikin aku ngerasa lebih baik daripada terus mengenangnya. Aku nggak ingin lagi berhubungan dengan siapapun yang pernah aku tinggalin atau ninggalin aku…”

Jadi inilah alasan sebenarnya Farra Arundati nggak pernah bikin foto berdua dengan pacarnya, apalagi sampai di upload di Facebook atau jejaring sosial lain. Akan repot menghapusnya karena terlalu banyak dan akan ada perasaan nggak rela ketika kita memandangnya sesaat sebelum foto-foto itu dihabus. Semua orang boleh bilang kalau aku lebay, tapi beginilah aku.

“Jangan…”, Ren menatapku sayu, “Kenapa harus begitu? Apa karena ini semua nggak ada artinya di mata kamu?”

“Terlalu berharga malahan, tapi terlalu nyakitin untuk diingat. Aku sayang kamu, lebih dari yang kamu tahu, tapi aku nggak bisa…”

“Nggak bisa apa?”, Ren menatapku, “Kalau kamu mau pergi, jangan kayak gini…”

Lalu harus gimana lagi?

Ren nggak bicara sesuatu lagi. dia hanya menatapku dan aku juga hanya menatapnya. Sebelum dia memelukku, erat sekali sampai aku nggak bisa nafas. Dan…perutku sakit. Sakit…

Aku akan mengingat ini sebagai perpisahan yang indah dalam hidupku, karena toh sekalipun dia pergi, aku masih akan terus mengenang, kalau dialah yang pertama kali bikin aku begitu bahagia di saat-saat terakhirku. Setelah dipikir lagi, memaksa dia untuk memilih aku sama sekali nggak ada gunanya. Aku nggak punya banyak waktu. Perpisahan yang mungkin lebih menyakitkan buat Ren adalah ketika ia harus kehilanganku nanti. Dan aku juga nggak ingin memberi perpisahan yang buruk seperti perpisahan Jamie dan Landon dalam A Walk to Remember.

Aku paham, aku mengerti cinta itu apa. Cinta adalah perasaan ketika kita nggak ingin orang lain menderita. Sama halnya seperti aku yang nggak ingin menahan Ren di sisiku dan semakin membuat ia terjebak dalam pilihan yang sulit.

Hari itu aku mendekapnya sangat erat. Menahan sakit di hatiku, dan di perutku yang tersayat dan lukanya nggak akan pernah bisa sembuh –karena aku tahu hari esok mulai pudar. Dari ujung depan jembatan putus itu, aku dapat  mendengar suara truk itu melesat, dan aku terpaku menunggunya.

“Jangan lupa sama aku ya?”, kataku padanya, tersenyum, dengan ekspresi terbaik yang aku miliki dan dia membalasku dengan senyuman yang seolah yakin bahwa aku akan terus seperti ini untuknya.

Ya, aku nggak akan pernah berubah. Perasaanku nggak akan pernah berubah. Karena dia cinta terakhirku…bukan dia adalah cinta yang sejati bagiku. Cinta yang akan aku bawa hingga akhir hayatku.

---

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments