[Hal.7] THERE'S A GOOD IN GOODBYE - Baca Cerpen Romantis Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
“Kamu dengarin lagu apa?”, Ren menegurku, masih malas-malasan di bawah selimut dia kelihatan menguap selagi aku tengkurap depan laptopku dan menutup telingaku dengan headphone.

Dia suka sekali nemplok-nemplok di bahu, seperti kucing manja yang maunya dibelai-belai. Aku menjatuhkan kepalaku ke dekatnya, karena aku sendiri juga capek. Dan dia masih di dekatku, memelukku dan nggak pernah melepaskanku sampai aku terbangun.

Sore udah menjelang. Lagu yang kuputar berulang-ulang masih terdengar melalui headphone. Aku bangkit pelan-pelan sambil melepaskan tangan Ren yang masih mendekapku. Dia ketiduran dan setiap melihatnya, aku selalu netesin air mata. Ditambah lagu Leaving on a Jet Plane yang memilukan ini, aku nggak bisa berhenti nangis walaupun aku berusaha sekuat tenaga menahannya.

Tapi, tetap aja nggak bisa. Aku takut. Aku terlalu takut melepaskan Ren di saat aku masih bisa menyentuhnya dengan tanganku. Jadi, aku berdoa, adakah keajaiban untukku?

Perutku sakit lagi. Belakangan ini mulai datang lebih sering. Ketika memandang wajahku di cermin, aku terkejut. Entah sejak kapan jadi pucat begini. Oh aku cuma lupa. Wajahku memang selalu pucat. Tapi, karena make up total yang selalu aku pakai, nggak ada yang tahu kalau ini cuma topeng. Aku tertunduk di depan wastafel karena nggak bisa menghentikan tangisku. Sejauh ini aku udah berusaha. Aku bisa bertahan walaupun rasa sakit ini bisa membunuhku sekarang. Aku terlalu sedih. Sedih membayangkan di mana semua ini berakhir.

Jadi, aku melangkah pelan-pelan keluar dari kamar mandi tanpa membangunkan Ren. Lalu tiba-tiba aku mendengar sesuatu. Bunyi pendek yang pasaran yang hanya dimiliki handphone bernama Blackberry. Yang jelas bukan milikku dan udah pasti juga itu punya Ren.

Dia menyimpannya dalam saku celana yang bertumpuk di lantai bersama kaosnya. Aku selalu punya firasat ini. Ketika aku lagi nonton atau sibuk sendiri, Ren pasti sibuk dengan Blackberry-nya. Memang selalu terbesit pikiran kalau dia masih komunikasi sama pacarnya tapi aku nggak pernah jadiin itu masalah besar, walapun tetap merasa cemburu. Tapi, sekarang aku punya kesempatan untuk tahu, beneran Ren mau mutusin pacarnya demi aku?

Harusnya Ren mulai cari-cari alasan atau bikin ulah supaya ceweknya marah. Tapi, sepertinya dia nggak ada niatan untuk itu. Komunikasi mereka ternyata masih seperti biasanya. Lewat BBM atau SMS yang record-nya masih tersimpan dan nama Tirana di call register yang daftarnya lumayan banyak. Kalau gini, gimana dia mau punya alasan mutusin cewek itu? Foto-foto mereka juga masih ada. Aku bahkan nggak punya satu pun.

Terus apa artinya aku di sini?

Aku berusaha menahan tangis, saat memandangi wajahnya lagi. Dia nggak akan pernah jadi milikku, aku tahu. Tapi, saat ini adalah nyata. Apa yang kami lakukan itu nyata. Kenapa dia nggak ngerti juga? Aku harus gimana supaya dia mengakui aku?

---

“Ren”, panggilku.

“Hm…”, Ren menyahut dengan suara serak dan malas. Matanya masih terpejam.

Aku melirik ke belakang di mana dia masih memeluk bantal dengan nyaman. Sama sekali nggak sadar, kalau aku nangis dan bodohnya aku berusaha supaya dia tahu. Ternyata dia nggak sesayang itu sama aku. Kalau dia sayang, tentu dia bertanya atau yang paling logis, seorang cowok nggak akan menyakiti cewek yang dia sayang kan?

Entah Ren sadar atau nggak, sikapnya kadang-kadang menyakiti aku. Seolah, dia mengharapkan aku di sini hanya untuk pelampiasan hasrat.

“Kayaknya kita nggak usah lanjut deh”, kataku, pelan. Berharap terdengar meyakinkan atau tanpa perasaan.

“Hah?”, suara Ren kedengaran tegang.

Aku menoleh ke belakang sekali lagi, dan dia udah nggak memeluk bantal lagi, ia menatapku terkejut. “Iya. Kayaknya nggak mungkin dilanjutin…”

Ren beringsut ke dekatku, “Kenapa tiba-tiba bilang gitu sih?”, tanya dia, memeluk hingga kulitku bersentuhan dengan kulitnya yang masih terasa panas.

Aku menggeleng, “Aku kayak cewek begok, tau nggak?”, aku berusaha menahan tangis dengan tertawa, tapi malah kedengaran konyol jadinya.

“Kamu kenapa sih?”, tanya dia, memelukku semakin erat. Menyandarkan kepalanya ke bahuku, seakan nggak ingin melepasku.

Nafasku sesak.

“Aku nggak mau jadi pengacau”, kataku, “Kalau kamu nggak mau pergi, biar aku yang pergi. Sebelum semuanya terlambat, Ren”

“Aku nggak ngerti maksud kamu. Kita udah sejauh ini kan? Kenapa kamu masih ragu sama aku?”, tanya dia, semakin menusuk hati.

“Kamu itu masih pacar orang, Ren”, kataku, menepiskan kedua tangannya, tapi dia menarikku kembali, tetap menahanku.

“Kamu pikir aku bisa begini sama sembarang cewek?”, Ren mulai terlihat cemas, “Kamu masih ngerasa kalau aku suka mainin cewek?”

“Kalau kamu nggak ada maksud begitu, kenapa kamu bohong?”, tukasku, menarik diriku dan ia tetap mempertahankan aku dalam pelukannya, “Kamu nggak kelihatan mau mutusin dia! Kamu masih komunikasi sama dia kan?!”

“Kamu periksa handphone aku?”, tiba-tiba Ren melepaskanku. Matanya membelalak, “Kenapa kamu harus periksa handphone segala?”

“Aku nggak boleh gitu?”, protesku, “Atau aku memang nggak punya hak?”

Ren hanya memandangiku. Dia kelihatan kesal dan harusnya dia juga nggak boleh kesal.

“Oh, aku tahu, pacar kamu bukan aku, jadi aku nggak punya hak untuk cemburu atau ngerasa kamu nggak adil…”, kata-kataku mulai keluar tanpa kusadari.

“Nggak adil gimana maksudnya? Aku selalu sama kamu kan? Dan aku lebih sering komunikasi sama kamu… apa lagi sih...”, Ren menggeleng-geleng, mengelak dari kata-kataku dan sikapnya itu lebih mengecewakan lagi.

“Kita begini karena kamu nggak punya cewek lain yang bisa kamu bodohin supaya bisa tidur sama kamu!”, kataku.

“Farra!”, Ren membentakku, “Kenapa kamu selalu aja berpikir kalau aku ini cowok bajingan?!”

“Udahlah, Ren! Aku capek!”, teriakku, “Kamu nggak beneran sayang sama aku, tau nggak?! Aku Cuma ketipu sama kamu! Dan aku memang begok, makanya biar aku yang pergi!”

“Aku nggak ngerti harus ngomong apa lagi sama kamu…”, Ren tertunduk, “Kalau kamu begitu terus, lama-lama sayang aku ke kamu bisa hilang. Tiap kita ngomongin masalah ini, kamu selalu nuduh aku yang nggak-nggak…”

Aku hanya menatapnya menyesal. Saat ini, aku hanya mau nangis. Menangisi kebodohanku?

Apa lagi? Apa lagi yang harus aku lakukan supaya orang mengerti aku hanya butuh balasan yang tulus dari cinta yang aku berikan? Dan lagi-lagi aku salah mengartikan sikap dan kata-kata orang.

“Apa… begitu aku udah nggak ada kamu baru sadar kalau aku… aku sayang banget sama kamu, Ren? Supaya kamu sadar, bahwa selain aku nggak ada orang yang bisa menyayangi kamu seperti aku sayang kamu?”,

Ren menggeleng-geleng, “Aku sama sekali nggak ngerti cara kamu sayang sama aku, Far…”, katanya, “Aku sama sekali nggak ngerti…”

Aku hanya ingin bahagia. Hanya ingin bahagia di saat-saat terakhirku. Tapi, itu nggak bisa kukatakan karena dia pasti berpikir kalau aku bohong.

---

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments