๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Aku cengengesan, sambil tiduran di lantai yang dialasi karpet di bawah kipas angin. Walaupun malam menjelang tetap aja panas. “Lo emang nggak bisa hidup tanpa gue ya…”, godaku.
“Sialan lo”, celetuk Dona makin gusar, “Gue Cuma khawatir lo tuh kenapa-napa…”
“Gue baru sampai di rumah nih. Capek, panas…”, kataku, memandang langit-langit kamar yang putih seolah ada lukisan paling indah di sana.
“Habis dari mana jam segini baru pulang? Pasti lo jual nama gue lagi sama nyokap lo”, Dona masih aja menggerutu.
“Enggak lah!”, cibirku, “Gue habis dari rumahnya Ren”
“What?!”, Dona kedengarannya kaget dan aku nggak bisa menahan tawaku. Seolah aku baru ngelapor kalau aku ini hamil. “Seharian?”
“Yah…”, jawabku mulai menerawang soal kejadian siang ini, saat aku ketemu Ren dan kita kabur dari kampus dari jam sebelas, “Gue bolos dua mata kuliah”
Dona malah ketawa-tawa sekarang, “Ngapain lo di rumah cowok itu seharian malamnya baru pulang?”, suaranya mulai curiga dan sahabatku ini feeling-nya memang kuat.
Aku nggak jawab.
“Lo bilang nggak mau pacaran lagi”, katanya, “Omongan lo nggak bisa dipercaya ah!”
Aku masih diam. Aku pun nggak menyangka bakal seperti ini. Sampai sekarang juga aku masih bingung. Kenapa dalam sesaat aku bisa berubah pikiran? Hanya karena mandangin wajah Ren kelamaan, pikiran-pikiran negatif itu jadi hilang. Semua hal sepele yang aku inginkan seperti status pacaran di Facebook atau foto berdua, jadi nggak ada artinya. Seperti sebuah rahasia yang orang lain nggak boleh tau, aku dan Ren berbagi sesuatu yang nggak bisa diungkapkan ke sembarang orang.
Pertama kali dia cium aku rasanya seperti baru pertama ada yang menyentuh aku seperti itu. Aku mungkin nggak mengerti cinta. Yang aku tahu dari apa yang kulihat di sekitarku adalah jika seorang cowok yang benar-benar sayang sama seorang cewek, dia akan melakukan apapun. Nggak peduli sama orang lain. Sekalipun diusir dia tetap akan datang. Aku sadar hal-hal seperti itu cuma ada di buku atau film. Kenyataannya cinta itu harus datang dari kedua belah pihak, dengan begitu mereka bisa bertahan dari godaan macam apapun.
Aku jadi sadar, selama ini aku hanya menuntut tanpa pernah memberi.
“Far?”, panggil Dona, “Lo kok diam sih?”
Cinta yang datangnya terlambat itu, membuat dadaku sakit. Karena nggak bisa teriak keras-keras, rasa sakit itu meluap dari mata lewat tetesan hangat di sudut mataku.
“Far, ada apa?”, tegur Dona lagi.
Aku menarik nafas, “Gue nggak kenapa-napa kok”, jawabku, memutar tubuhku, memandangi dinding biru yang dihiasi bintang-bintang yang bersinar dalam gelap.
“Lo nangis?”, tanya dia.
“Enggak. Ngapain juga harus nangis?”, balasku, menyeka air mata itu.
“Terus cowok itu gimana? Lo jadian sama dia?”, tanya Dona.
Aku menggeleng, “Itu udah nggak penting lagi kayaknya”, jawabku, “Yang penting…gue bahagia…”
Sakit itu kambuh lagi. Aku nggak tahu apa yang aku tangisin. Sakit ini atau hari esok yang terancam. Tapi, mengingat bahwa aku udah berusaha sejauh ini, aku nggak boleh bersedih. Positive thinking.
---
“Kamu kerja apa sampai cutinya dua tahun?”, tanya Ren padaku dan aku sempat nggak dengar karena keasikan nonton film di laptop.
“Nyanyi di cafรฉ”, jawabku, menoleh sebentar sebelum kembali lagi ke layar laptopku, “Kadang-kadang jadi model kalau ada yang nawarin”
“Model apaan?’, ledek dia, tertawa ngejek, “Emang kamu bisa jadi model?”
Aku cuma menatapnya cemberut sebelum tenggelam lagi oleh dalam Film A Walk to Remember. Memang sih film lama dan aku juga udah nonton puluhan kali, tapi berapa kali pun ditonton tetap aja bikin nangis. Sampai Ren geleng-geleng kepala dan tiba-tiba menutup laptop-ku.
“Ren!”, jeritku kesal.
Ren memeriksa laptopku, “Nontonnya film melankolis terus. Kamu nggak punya film lain?”, tanya dia.
“Yang jelas aku nggak punya film bokep!”, cetusku, sambil merampas laptopku dari pangkuannya, “Balikin! Lagi seru tau?!”
“Seru apaan?! Adegannya mewek mulu!”, Ren tertawa, “Kenapa sih cewek-cewek suka film orang sakit yang ending-nya menyedihkan?”
“Itu karena cewek lebih berperasaan dari cowok”, balasku, kembali memutar filmnya sambil tengkurap lagi di depan laptop, “Tidur sana, katanya kamu capek”
“Kalau ada kamu di sini mana bisa tidur…”, tiba-tiba dia ada di sampingku, menatapku dengan sedikit ragu-ragu, “Memangnya kita ke sini cuma..buat tidur?
Aku hanya menyikutnya, tersenyum sebelum nonton lagi. karena udah mulai memasuki ending dan aku baru mulai nangis saat adegan Jamie terbaring di rumah sakit. Tiba-tiba Ren nemplok ke bahuku dan bikin aku geli. Begitu kami berdua, Ren mendadak jadi manja. Dia seperti anak kecil yang ingin selalu dipeluk dan dicium. Dia memang beda dari cowok-cowok yang pernah aku kenal sebelumnya.
Nggak pernah ada cowok yang berkata dengan lugunya soal pribadinya. Memang juga bukan pertama kali dengar cowok ngomong sesuatu yang nyeleneh, tapi yang satu ini bikin aku jadi seperti cewek yang umurnya jauh lebih tua. Dan Ren seperti cowok SMA yang baru tahu kalau Making Love itu menyenangkan dan dia nggak bisa berhenti memikirkannya.
Sudah tiga hari kami bolos kuliah. Ren mengajakku ke rumahnya karena kebetulan tinggal sendirian. Aku baru tahu kalau ternyata kami berasal dari kota yang sama. Tapi, karena orang tua Ren bercerai, sejak SMP dia tinggal sama ibunya di Bandung. Sekarang, Ren kembali tinggal sama ayahnya setelah ibunya meninggal dunia. Dan rumah ini selalu sepi karena ayahnya yang nggak pernah menikah sering dinas keluar kota.
Rasanya benar-benar jadi anak nakal.
Tapi, aku cuma ketawa-tawa sampai Ren heran dan malu. Aku nggak ngerti, keadaannya jadi terbalik dari yang pernah aku inginkan begitu keluar dari rumah sakit.
“Kamu ngetawain aku ya?”, pipi Ren membulat dan ia menatapku gusar.
Aku menatap langit-langit kamar Ren yang dicat warna krem lembut. Beda sekali dari kamarku yang banyak bonekanya. Ren nggak punya apa-apa selain meja dan kursi serta lemari. Padahal kamarnya lumayan luas. Tapi, yang pasti kamarnya Ren lebih rapi dari kamarku. Bikin aku yang perempuan ini jadi malu sendiri. Ren memang cowok biasa. Dia cuma beruntung dikasih tampang yang lumayan keren. Selebihnya dia hanya seorang cowok yang hidupnya datar-datar aja. Pacaran hanya karena suka, terus jadian, ciuman dan… ML daripada kerja sendiri. Dia juga nggak mengerti cinta. Tapi, darinya aku mulai belajar, meski waktunya singkat.
Cinta itu adalah perasaan ingin memberikan semua yang kita punya –kalau nggak mau dibilang begok. Tapi, kebanyakan seperti itulah yang diketahui seorang cewek yang nggak ingin disakiti. Kali ini, aku merasa beda. Setiap aku pandang wajahnya, walaupun cuma di foto, aku merasa begitu senang. Sekalipun aku tahu bahwa aku nggak bisa memiliki dia seutuhnya –secara Ren belum putus dari ceweknya. Aku nggak pernah lagi meminta dia membuat keputusan karena Ren selalu menolak ngomongin soal pacarnya. Meski kadang-kadang aku cemburu karena dia masih suka memasang foto berdua di Blackberry-nya.
Aku hanya melempar Blackberry-ku jauh-jauh dan begitu aku memungutinya kembali Ren udah menukarnya. Hanya satu hal yang bisa membuatku tenang. Yaitu ketika bersamanya. Berdua saja, saat kami bolos lagi dan menghabiskan sepanjang hari di rumahnya yang sepi.
Aku selalu mengingat saat-saat itu dengan baik di kepalaku. Saat-saat ketika aku masih bisa mandangin wajahnya berlama-lama karena dia ketiduran seolah aku nggak akan pernah bisa melihatnya lagi. Atau ketika aku nyerah karena Ren belum juga putus dari pacarnya. Aku hanya punya saat-saat di mana ia nggak bisa menahan gejolaknya dan aku memberikan apa yang aku punya tanpa menuntut apa-apa. Dan memang nggak ada yang bisa aku harapkan dari hubungan ini. Selain dari menikmati saat-saat aku kehilangan diriku di dalam dirinya dan dia kehilangan dirinya di dalam diriku. Aku nggak pernah merasa sesenang ini sebelumnya.
Makanya, setiap dia ketiduran karena capek aku nggak membuang kesempatan sedetik pun untuk membelai rambut lurusnya. Menyimpan wajah tidurnya baik-baik dalam memori-ku. sambil berdoa, bahwa ini akan terulang lagi. Bahwa ini benar-benar cinta yang selama ini aku cari. Dan saat itu juga aku berani memastikan kalau Ren memang cinta terakhirku…
---
Komentar
0 comments