[Hal.5] THERE'S A GOOD IN GOODBYE - Baca Cerpen Romantis Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

“Cowok?”, ekspresi Dona sama sekali nggak enak dilihat. Dahinya berkerut dan matanya melotot. Aku cuma bilang aku lagi dekat sama seorang cowok di kampus, bukan suami orang.

Aku sibuk dengan Blackberry-ku, mencari sesuatu untuk diperlihatkan ke Dona. Foto Ren yang aku dapat dari BBM-nya.

Dona nggak komentar. Dia lihat sebentar, sebelum kembali menatapku, “Lo nggak kapok apa?”, tanya dia.

“Kapok banget”, aku menggeleng, “Cuma hubungan yang nggak jelas. Emangnya kalau pacaran mau ngapain, nggak mungkin sampai nikah kan?”

Dona menatapku. Wajahnya yang tadi ngeselin sekarang berubah sedih. Kayaknya, aku salah ngomong deh…

Aku tertawa, “Cowok itu sama semua”, kataku, “Kalau diberi umur panjang, juga gue belom tentu mau nikah”

Dona masih diam. Pandangannya itu nusuk banget. Tapi, aku sadar, Dona pasti sedih lagi karena kata-kataku yang bikin dia ingat soal kecelakaan itu. Yang aku tahu, Dona masih merasa kalau kejadian itu gara-gara dia. Padahal bukan. Malam itu kami memang lagi sial. Siapa yang nyangka bakal ditabrak mobil?

Waktu itu kami jalan-jalan naik motor ngilangin suntuk gara-gara aku baru putus dari Adji. Seperti biasa kalau lampu merah, semua kendaraan berhenti tapi Dona tetap nerobos karena nanggung. Tau-tau dari samping muncul mobil sedan yang kencang banget dan langsung aja menabrak kami. Hanya Dona yang tahu kejadian setelahnya karena aku nggak sadarkan diri dan luka parah. Dari ceritanya sih, dia histeris melihat darah mengalir deras dari perutku yang tertusuk oleh plat mobil yang ringsek. Mengerikan sih, tapi untungnya aku selamat, sampai detik ini.

“Maaf ya…”, ucap Dona tiba-tiba, dia menatapku dengan mata yang hampir menangis, “Semuanya gara-gara gue…”

“Udahlah, itu bukan salah lo. Memang nasib mau diapain lagi”, ujarku, “Lo janji kan sama gue nggak bakal nyalahin diri lo sendiri…”

Dona mengangguk dan aku terdiam. Sebelum tiba-tiba Dona mendekat dan tiba-tiba memelukku, erat banget.

Semua udah terjadi kok. Nggak perlu disesali.

“Ngomong-ngomong soal cowok itu, lo yakin dia tuh ‘beres’?”, tanya Dona setelah kami sama-sama tenang.

Aku cekikikan, “Beres apanya?”, tanyaku.

“Lo ngerti maksud gue lah”, celetuknya, kembali pasang muka jutek.

“Cowok jaman sekarang, mana ada pikirannya yang beres”, aku masih ketawa dan Dona ikut ketawa.

Dia mengarahkan telunjuknya ke arahku, “Bener banget!”

Aku jadi teringat soal hari itu, “Belum apa-apa juga dia udah main peluk”, kataku, “Bikin gue syok aja”

“Terus? Minta lebih dari itu juga?”, Dona mulai penasaran. Dan biasanya dia nggak akan betah nunggu lebih lama.

“Belom”, jawabku santai, “Tapi, udah mulai kelihatan sih, sifat asli cowok”

Dona ketawa makin keras, “Lo mesti hati-hati tuh”, katanya.

Aku nggak tahu sama apa yang aku lakukan. Aku hanya mengikuti arus yang nggak tahu akan membawaku ke mana. Namun yang pasti, aku masih memiliki hari ini di tanganku. Tapi, ini susahnya jadi cewek yang gampang jatuh cinta. Pertama, mudah digombalin. Kedua, selalu berharap dari cowok yang bahkan baru pedekate. Ketiga, galaunya lebih sering. Keempat, selalu jatuh di lubang dan cara yang sama. Tapi, sisi positifnya gampang move on. Yah, untuk sementara ‘Kita Jalanin Aja Dulu’.

Soalnya tiba-tiba aku kaget. Sekali melihat ke layar Blackberry cuma untuk ngecek recent updates, ternyata Ren baru gantu diplay picture. Nggak masalah sih toh aku juga udah tahu statusnya masih punya cewek. Tapi, ternyata rasanya tetap aja nusuk dia pasang foto berdua sama ceweknya itu. Dengan santainya cowok itu tetap ngirim pesan seolah dia nggak melakukan sesuatu.

Aku tipe yang paling jago marah-marah. Sakit hati nggak sih ngelihat pesan yang kita kirim cuma di ‘R’?

‘Jgn marah dong…’, pintanya dan aku cuma mandangin layar handphone-ku dengan ekspresi kesal, ‘Dia yang nyuruh’ ditambah dengan emoticon nangis.

Kelewatan kan ini orang?

Gampang!, aku mulai seperti cewek gila yang frustasi.

‘Balikan aja sama dia’, kataku.

Semua pesan yang dia kirim malam itu cuma berakhir dengan huruf ‘R’ di handphone-nya. Gila nggak sih? Mau mainin aku terang-terangan. Atau dia anggap aku ini nggak punya perasaan apa? Atau dia mau jadiin aku pelarian dari rasa bosannya aja? Aku dianggap apa? Cewek gampangan yang mudah dipacarin terus ditinggalin begitu aja?

Ternyata cowok itu memang sama semua! Aaaaargh!

---

“Udah ya, Ren. Kasihan tuh cewek kamu”, kataku nggak bisa lagi menahan rasa kesalku. Dan sedikit mengeluh, kenapa tiba-tiba jadi terbawa perasaan begini. Padahal aku tahu, bahwa semua ini nggak serius, “Kalau kamu masih pikirin perasaannya dia, mendingan kamu setia aja sama dia. Aku nggak apa-apa kok”

Ren hanya main-main. Tapi, kenapa hatiku jadi sakit setiap kali lihat ke layar handphone sampai rasanya aku nggak menyentuh benda itu semalaman bahkan sampai hari ini.

“Aku kan udah bilang aku cuma butuh waktu! Sampai sekarang aku belum punya alasan buat mutusin dia!”, dia berjalan di belakangku, ngikutin langkahku yang cepat, “Kamu ngerti kan, bola panasnya ada di aku. Aku nggak sejahat itu sama cewek…”

“Makanya itu, kamu tetap aja sama dia. Mana tau jodoh”, kataku cuek, berusaha setenang mungkin walaupun rasanya mau teriak sekeras-kerasnya, ‘Apa nggak cukup setiap cowok yang aku kenal hanya berniat mainin aku? Aku capek! Aku nggak tahan lagi! Aku cuma mau hidup tenang, tanpa beban. Nggak butuh jatuh cinta, nggak butuh cowok. Aku hanya butuh diri aku sendiri sekarang!’

“Farra!”, Ren menarik tanganku, menahanku untuk nggak melangkah lagi. Menatap ke matanya untuk meyakinkanku bahwa dia nggak bohong.

Dia memang nggak bohong. Tapi, karena bohong itu rasanya jadi lebih nyakitin. Memangnya aku begok apa? Mana bisa terima pacar punya pacar lain. Mau jadi apa? Mau jadi pelepasan perasaan sesaat aja? Nggak!

“Aku lebih milih kamu daripada dia…Aku cuma mau menjaga hubungan baik dan nggak ingin ninggalin kesan buruk”, ujarnya, “Kenapa sih kamu selalu berpikiran negatif soal aku? Aku deketin kamu karena aku suka, itu wajar. Cuma itu yang aku tahu. Kalau kamu pikir aku cuma mainin kamu itu salah. Kalau buat main-main ada banyak cewek lain yang nggak mungkin nolak aku. Tolong, jangan berpikiran jelek terus soal aku…”

“Kenapa harus aku?”, tanyaku, setengah gusar, lalu menunjuk sekitarku, “Ada banyak cewek lain di sini, Ren!”

“Aku nggak tahu!”, jawabnya, setengah berteriak, “Aku cuma ingin menjalaninya sama kamu…”

Kalau ada orang lain yang ada di posisiku sekarang, kira-kira mereka bakal ngapain?

Aku terdiam, nggak percaya. Nggak percaya, aku masuk ‘perangkap’ cowok ini. Aku tahu, dia nggak akan jadi seperti yang aku mau. Aku punya firasat cowok ini nggak akan pernah memberikan apa yang aku mau. Tapi, aku bisa apa? Semua pikiran negatif soal orang-orang yang dulu pernah ada di dekatku nggak pernah pergi dan itu bikin aku selalu paranoid soal cowok.

“Aku cuma takut”, kataku, suaraku tercekat di tenggorokan, karena aku ragu-ragu akan berterus terang atau nggak, “Selama ini aku hanya dimanfaatin. Aku lebih sering diputusin daripada mutusin. Aku nggak ingin kecewa. Terlebih sama orang seperti kamu. Kamu bisa memilih siapapun yang kamu suka…”

“Kenapa sih selalu mikir begitu?”, Ren mulai protes, “Aku cowok biasa, Far. Aku nggak sehebat yang kamu kira. Aku cuma mahasiswa biasa yang tiap hari mikirin kuliah, pelajaran dan skripsi. Aku nggak sepintar dan seterkenal kamu di kampus ini. Aku bisa lihat, ada banyak orang yang jauh di atas aku yang suka sama kamu…”

Aku diam. Orang-orang selalu hanya melihat aku dari luar aja. Sesuatu yang indah hanya untuk sekedar dimiliki. Hanya untuk itu aja… tapi apa mereka bakal nangis jika aku sakit atau menghapus air mataku saat aku nangis? Apa mereka bakal memelukku di saat aku sedih?  Apa mereka bakal memandang fotoku penuh kerinduan saat aku nggak ada? Dan apakah mereka bakal menyesal jika aku mati?

“Aku nggak mau…”, katanya, mendekat selangkah dan aku terpana. Menatap ke dalam matanya. Baru kusadari bahwa dia punya mata yang indah. Tatapannya dalam yang kelihatan nggak menyembunyikan kebohongan sekecil apapun di sana, “Makanya…jangan cari cowok lain…”

Cowok itu memang egois. Mereka selalu ingin memiliki apa yang mereka suka dan nggak peduli semenyakitkan apapun itu bahkan buat orang yang mereka suka…

“Aku dan dia nggak mungkin ketemu lagi. Gimana bisa dilanjutin? Makanya aku milih kamu, Farra…”, itu kata-kata terakhir Ren yang aku pegang.

Meskipun, aku kapok jatuh cinta. Sekali ini, untuk yang terakhir, aku mencoba untuk percaya. Tanpa tahu apa-apa. Tanpa membayangkan gimana nanti. Jembatan pendek itu, ujungnya tetap putus dan suatu hari aku akan tetap jatuh ke dalamnya.

Ren mengecup dahiku. Aku terlalu tenang, namun hatiku sakit ketika dia tersenyum sebelum meninggalkanku karena harus balik ke kelas. Aku masih terpaku di sana dan tanpa sadar tanganku menarik lengannya. Untuk saat ini, aku nggak ingin dia pergi sekalipun cuma pergi belajar.

---

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments