[Hal.4] THERE'S A GOOD IN GOODBYE - Baca Cerpen Romantis Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

“Kamu nggak mau pacaran ya?’, Ren mulai lagi.

Selesai kelas Hukum Internasional, dia masih punya pertanyaan yang sama. Bukannya dari kemarin-kemarin udah dijawab?

Aku menggeleng, sambil tersenyum lebar, “Yah, tergantung”, jawabku, “Kalau orangnya bisa diajak kompromi”

“Jadi aku termasuk yang nggak bisa diajak kompromi, gitu?”

Cowok ini ternyata emang rada lugu sampai bikin aku ketawa, “Aku nggak tahu”, jawabku, “Yang jelas kamu masih punya cewek”

“Kok itu lagi sih? Aku kan udah bilang kalau aku mau ngejalaninnya sama kamu”

“Atas dasar apa, Ren?”, tukasku, menoleh sekali sebelum aku berdiri ingin meninggalkan kelas dan pulang. Aku mulai cemas kalau cowok ini membuatku berubah pikiran karena memandang ke wajahnya –yang nggak mungkin ditolak, “Kamu nggak terlalu kenal sama aku. Lagian, kayaknya ‘level’ kamu tuh jauh di atas aku. Masih banyak cewek lain yang mungkin nggak ada apa-apanya dibandingkan aku”

“Kamu ngomong apa sih?”, dia mengikuti langkahku, “Belum perang udah nyerah”

“Terus mau gimana?”, balasku, “Siapa yang tau apa yang kamu pikirin?”

“Jadi kamu nganggap aku cowok playboy gitu?’, dia terlihat protes. Dengan wajah cemberut plus gusar dia jadi kelihatan seperti anak kecil yang merajuk. Padahal kita seumuran.

“Pertama, kamu masih punya cewek. Kedua, kamu baru kenal aku. Ketiga, kamu nggak tahu siapa aku. Keempat, apa itu nggak aneh?”

Ren malah kelihatan bingung, “Bagusan kan aku bilang masih punya cewek daripada nggak bilang sama sekali? Itu artinya nggak mau bohongin kamu”

“Ide bagus kalau gitu”, kataku tersenyum lagi, mundur beberapa langkah sebelum kata-kata dia berikutnya membuatku mengambil keputusan yang salah. Ini mulai terasa mengerikan, melihat beberapa hari, atau beberapa bulan ke depan, seperti berjalan di jembatan yang pendek dan ujungnya putus, “Bagus kamu bilang, jadinya kelihatan banget kamu jadiin aku pelarian”, cetusku.

Ren memotong jalanku sebelum aku melangkah keluar pintu, “Sama sekali enggak!”, dia bersikeras dan sekarang berdiri di depanku. Menutup pintu kelas, dia mulai mendekat beberapa langkah dan aku mundur sebanyak ia melangkahkan kakinya. Tanpa melepaskan tatapan matanya dari mataku, dia seperti penyihir yang mau mempengaruhiku. “Kamu ngerti cowok kan? Kalau udah pacaran jarak jauh dan nggak ada komunikasi, siapa yang bisa tahan?”

Dari semua hal yang dia katakan sejak kita kenal, mungkin satu-satunya alasan dia yang bisa kuterima adalah kalimatnya yang terakhir. Ibaratnya, posisi Ren sama seperti aku dulu waktu masih sama Adji. Tapi, apa bisa dipercaya?

Sudah sifat alami manusia melakukan 1001 cara untuk mendapatkan apa pun yang dia mau.

Aku menarik nafas panjang, “Oke”, kataku, “Kalau gitu putusin dia dulu, baru aku mau”

“Butuh waktu, Far”, kata dia, “Aku juga nggak sejahat itu, tiba-tiba minta putus tanpa alasan”

Bener-bener bikin capek nih cowok…

“Terus?”, aku jadi makin nggak sabar. Lebih baik memang pasang bendera putih sekarang. Sebelum dia bikin aku menangis gara-gara patah hati di hari kematianku. Dijamin deh, nggak ada yang lebih menyedihkan dari itu dalam hidupku sebelumnya.

“Aku lebih milih kamu. Tapi, tolong kasih aku waktu untuk semuanya, oke?”, dia berujar dan aku cuma angkat bahu.

“Nggak tau deh…”, gumamku sambil melewatinya. Sakit perutku jadi kambuh.

Tapi, cowok ini memang rada gila. Tiba-tiba tangannya menarik tubuhku dan aku udah ada dalam pelukannya. Nekat juga dia.

“Ren…”, pasti jiwa raga ini menolak. Kalau ada yang mendadak datang dan melihat gimana? Reputasi sama-sama hancur kan? Jadi aku mendorongnya supaya dia menjauh.

“Aku nggak mau lepasin…”, kata dia, di telingaku dan bikin bulu kuduk merinding.

Bisa-bisanya aku merasa deg-degan di saat begini. Ketahuan banget udah lama aku nggak pernah dipeluk cowok sekuat ini sampai nggak bisa nafas.

“Aku nggak tahu kenapa bisa jadi begini. Tapi, inilah yang aku rasain setiap kali ketemu kamu”, rayunya dan aku hanya tersenyum.

Hanya tersenyum.

“Kamu juga kan? Masa nggak ada perasaan sama sekali saat jelas-jelas aku nunjukin perasaan aku?”

“Semua cowok juga gitu kali”, kataku begitu lepas dari pelukannya dan ia masih cemberut, seolah masih ada yang belum sesuai sama keinginannya.

“Jangan samain aku sama cowok lain”, dia protes

Aku tertawa lagi, “Jadi serius nih?”, balasku, “Aku orangnya pemarah, egois dan keras kepala. Kamu nggak akan tahan”

Ren mengernyit, “Sekarang bilang, kamu maunya apa”, dia kelihatan menantang seolah dia bakal melakukan apa aja buat aku. Mendaki gunung, melewati lembah –kayak Ninja Hatori. Kedengaran gombal. Tapi, sekali melihat ke wajahnya itu, aku mulai merasa aneh. Dia itu lebih cakep dari yang aku lihat sekilas, karena aku memang nggak pernah menatapnya berlama-lama.

“Aku mau komitmen”

“Komitmen?”

“Jaga hati, jaga mata, jaga tangan”

Ren tersenyum dan dia kembali meraihku dengan kedua tangannya. Girang banget kayak anak kecil baru dapat mainan yang paling dia inginkan.

Aku nggak tahu apa yang aku pikirkan. Rasanya aku meragukan keputusanku untuk tetap menjalani hidupku sendiri. Melakukan hal-hal baik supaya nggak ada penyesalan. Memberi kenangan yang indah bagi orang-orang yang aku sayang. Tapi, membiarkan Ren berjalan di sampingku, entah mengapa rasanya lebih baik dari selama ini. Aku nggak sendirian lagi.

Tapi, ada sesuatu yang harus selalu aku ingat. Ini nggak akan bertahan lama kan?

---

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments