๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Kelas berakhir. Aku baru bangun tidur. Syukur nggak ketahuan sama Pak Wagian, Dosen Hukum Tata Negara yang terkenal killer itu. Aku sengaja duduk di belakang supaya dia nggak melihat kalau sakit perutku kambuh. Tapi, sayangnya, aku jadi ketinggalan catatan!
Sial, besok ada kuis lagi!!
Aku mulai mencari-cari seseorang yang aku kenal di kelas itu. Mungkin bisa dipinjamin catatan. Tapi, sayangnya, yang aku kenal udah banyak yang lulus dan paling nggak udah senior juga. Anak-anak itu udah mulai keluar dari kelas dengan angkuh. menyisakan aku dengan seorang cowok yang masih duduk di kursinya sambil main hp.
Oh, lagi BBM-an rupanya…
“Hei…”, sapaku pelan dan dia langsung menoleh.
Dia menatapku, sambil tersenyum. Kelihatannya cowok itu ramah.
“Aku boleh pinjam catatannya nggak?”, tanyaku dengan yakin, cowok ini pasti bisa diandalkan, “Sepuluh menit aja”
“Oh, boleh”, sahutnya dan ia langsung mengambilkannya di dalam tas dan memberikannya padaku.
Aku dengan cepat mengambil buku itu dan duduk di kursi yang ada di belakangnya. Mulai menulis, aku sama sekali nggak peduli apa-apa. Mana catatannya banyak banget dan…tulisan cowok ini, nggak sebagus seperti yang kita kira kalau lihat tampangnya. Susah dibaca.
“Tulisan aku jelek ya?”, tanya dia dan aku cuma ketawa pelan.
Jelek sih. Tapi, masih bisa dibaca walaupun jadinya agak lama. Dan mungkin bakal butuh lebih dari sepuluh menit untuk menyalin semuanya.
“Kamu jarang kelihatan. Mahasiswa baru juga?”, tanya dia.
“Aku semester sembilan”, jawabku, masih serius dengan catatanku dan berusaha berkonsentrasi supaya otakku dan jari-jariku sinkron. Aku ingin menyelesaikannya cepat-cepat supaya bisa pulang.
“Oh ya?”, dia ikut tertawa pelan juga.
“Jadi senior dong?”, balasnya.
Ternyata dia memang ramah.
“Aku semester tujuh”, katanya, “Yah, baru pindah ke sini dari semester enam. Makanya kita nggak pernah ketemu”
Aku mengangguk-angguk, tanpa melepaskan mataku dari buku catatan, “Oh”, balasku, “Kamu pindahan dari mana?”
“Bandung”, jawabnya tenang.
Oh, pantesan tampangnya cakep. Hanya itu yang terpikirkan olehku. Yah, taulah. Orang-orang Bandung memang terkenal makanya banyak yang jadi artis. Raffi Ahmad atau Asmirandah misalnya, terus kalau jaman dulu ada Syahrul Gunawan dan Desy Ratnasari.
“Oke!”, aku menyelesaikan catatanku dalam lima belas menit dan cowok itu masih duduk di depanku. Ia sudah memutar kursinya dan kami jadi duduk saling berhadapan. Dan memang, cowok itu cakep, harus diakui. Tapi, aku harus balikin catatannya dan cabut, “Makasih banyak ya…”
Cowok itu menerima bukunya dengan senang hati, “Nama kamu siapa?”, tanya dia, memandangi aku dengan sorot matanya yang sedikit bikin aku merinding.
Aku menyandang tas-ku sambil berdiri, “Farra”, jawabku dan bergegas ingin pergi.
“Kamu buru-buru?”, tanya dia, masih duduk di kursinya.
“Hm… enggak sih”, kataku, “Tapi kan memang harus pergi, kamu juga kan? Kelasnya juga mau dipakai sama anak-anak lain”
Dia tertawa pelan, “Iya juga ya…”, katanya, ikut berdiri, “Kalau gitu kita barengan aja”
STD alias standar. Cowok-cowok selalu bersikap ramah ketika dia sedang ‘menggambar’ buruannya. Bukan salahku kalau aku selalu punya pikiran negative soal cowok yang baik padaku di awal kenal. Istilahnya ‘pencitraan’ gitu –macam kampanye pilpres aja. Termasuk yang satu ini. Mungkin dia nggak akan berbeda dari cowok-cowok lain yang selalu berpikir kalau aku sasaran empuk untuk menghilangkan rasa jenuh.
Ia mengulurkan tangannya, “Aku Ren”, katanya dan aku pun membalasnya dengan uluran tangan dan senyum ramah.
Cowok ini punya banyak pertanyaan yang harus aku jawab sepanjang jalan. Sayang juga kalau dianggurin. Tampangnya oke sih. Kulitnya kuning langsat. Rambutnya hitam lurus dan dipotong rapi. Postur tubuhnya juga tegap dan tinggi. Kalau boleh disbanding-bandingkan, si Ren ini nggak ada apa-apanya sama Adji. Sikapnya juga lebih tenang dan ramah. Dan yang bikin aku agak gregetan tiba-tiba, kalau diperhatikan Ren agak mirip sama Christ Laurent tapi versi Indonesia banget!
Wew, sepertinya aku bakal tergoda. Tapi, cowok yang macam begini, siapapun pasti suka. Dia nggak akan kesulitan cari pacar atau barangkali memang udah ada pacarnya. Jangan terlalu berharap. Lha, kalau pedekate, trus jadian, setelah itu apa? Patah hati? Nggak lah!
---
“Kamu sendirian aja?”, tanya dia lagi.
“Emangnya harus sama siapa sih?”, balasku cekikikan.
“Yah, bisa jadi sama teman atau pacar mungkin…”
Aku tertawa lagi, “Kalau yang seangkatan udah banyak yang lulus”, jelasku, “Kalau cowok sih…bagusan jalan sama pacar daripada jalan sama kamu”
Ia ikut tertawa, “Kamu lucu ya?”, dia malah cengengesan sendiri. Ketahuan deh, cowok ini lumayan lugu dan pemalu juga.
Aku cuma cengar-cengir. Yah seperti biasa. Aku kan memang ramah, baik dan tidak sombong tapi agak susah nabung. Cowok ini, mulai menunjukan ketertarikan yang sinyal-sinyalnya udah bisa ditangkap sejak pertama kali kenalan lewat tatapan mata dan senyum yang selalu ia perlihatkan. Klise…
“Kamu nggak suka pacaran ya?”, tanya dia.
Aku tertawa lagi, “Yah, siapa sih jaman sekarang yang benci pacaran?”, balasku.
“Kan ada juga orang yang nggak mau pacaran lagi karena trauma patah hati”, katanya.
“Itu sih tergantung. Yang namanya pacaran pasti ada enak dan nggak enaknya lah. Tergantung kita yang menjalaninya aja. Kalau sanggup ya lanjut kalau nggak ya udah, masing-masingnya ada resiko kok…”
Tiba-tiba dia senyum-senyum sendiri, “Bagus…”, katanya pelan, terdengar bergumam, “Aku suka…”
Tahap pertama adalah tukeran nomor hp dan pin BB, itu pasti. Selanjutnya BBM-an seharian ngebahas sesuatu yang biasa sampai sesuatu yang bersifat pribadi. Aku pernah menjalani tahapan yang seperti itu sebelumnya dan mulai parno lagi –endingnya bakalan selalu sama.
---
Ren bukan cowok pertama yang mendekati aku dengan cara yang begini rapi dan sistematis. Bedanya dia cuma sedikit agak jujur soal pribadinya. Dan aku menarik kesimpulan, kalau dia termasuk kategori ‘nakal’. Well, jangan berprasangka baik dulu. Aku nggak berniat menerima cowok ini kalau dia sempat bilang ‘suka’. Aku harus tetap tenang, berpikir logis. Pacaran lagi, itu nggak mungkin. Sama sekali nggak mungkin. Kenalannya juga baru dua hari.
Tapi, cowok ini ngotot pingin mengenal aku. Boleh-boleh aja sih. Tapi sebelum sesuatu yang diinginkan terjadi aku harus beri dia WARNING.
‘Aku ini nggak seperti yang kamu pikir Ren’
Rasanya cukup meyakinkan. Penolakan yang ragu-ragu bakal bikin cowok ini berpikir aku ini mau tapi malu. Aku menepuk dadaku dan hp-ku bunyi lagi ‘TING TONG TING TONG’
‘Emg kamu knp?’
Itu dia masalahnya. Oke, kamu boleh bilang, nggak ada yang bisa nolak cewek secantik aku. Well, itu benar, aku memang cantik. Tapi, aku nggak ingin terluka. That’s it! Siapa sih yang mau patah hati dengan cara yang sama? Dan orang bodoh mana yang mau jatuh di lubang yang sama?
‘Pokoknya aku nggak seperti yang kamu kira’
Aku menatap ke layar blackberry-ku yang menampilkan percakapan sama cowok yang bernama Arendias Putra itu. Dan di bawah namanya ada kalimat is writing a message yang tayang lumayan lama sebelum bunyi TING TONG TING TONG. Wow, dia membalasnya dengan cepat! Ngebet banget! Biasalah, cowok yang belum dapat maunya memang begitu.
‘Aku cuma ngerasa senang kalau dekat2 kamu’, itu dia kata-kata andalan cowok yang paling ampuh bikin aku ge-er setengah mati, ‘Kamu itu lucu dan enak diajak ngomong’
Bah! Dia baru tahu!
‘hm…’, gayaku kalau lagi bingung mau bilang apa, ‘Terus?’
Aku mengharapkan satu kata-kata pamungkas lainnya. Dan menebak-nebak. Jelas nih cowok pingin kita cepat-cepat jadian.
‘Kamu ngerti kan kalau pacaran jarak jauh itu nggak mungkin’, jelas dia dalam bunyi TING TONG TING TONG, ‘aku harus cari yang lain’
What the…jadi gue pelarian gitu? Dari ceweknya yang masih di Bandung dan katanya nggak pedulian. Udah hampir setahun mereka nggak ketemu dan jarang komunikasi. One simple word buat kamu, Ren. MODUS!
‘Kamu pikir kenapa sih tiba-tiba aku deketin kamu?’, dia mengirim yang baru lagi, sebelum aku sempat mengetik balasannya, ‘karena aku suka’
Itu dia kata-kata pamungkasnya.
‘kamu kan keren, kenapa nggak cari cewek lain’, kata-kata yang pas untuk menolak cowok keren tanpa harus merasa bersalah dan nyesel karena kenyataannya dia emang sayang untuk ditolak. Tapi, harus ditolak. Bagiku ini adalah bentuk self-defense kalau nanti-nanti dia ternyata seorang PK. Yah, kalau ungkapan cinta pada pandangan pertama itu bukan omong kosong.
‘itu kan masalah perasaan’, katanya.
Tepuk jidat! Aku jadi makin bingung jawab apa. ‘Terus cewek kamu gimana?’
‘Jujur aku masih sayang’, jawabnya. Nah lho, ini cowok aneh banget kan? ‘Tapi, hubungan kita nggak mungkin dilanjutin’
‘Duh, jangan deh Ren’
Cowok ini beneran melelahkan.
‘Aku nggak enak’, kataku lagi, ‘Aku ogah gangguin punya orang’
‘Kamu sama sekali nggak gangguin punya orang kok’, balasnya, ‘Kan aku yg mulai’
Aku geleng-geleng kepala dan cuma bisa kirim emoticon terpingkal-pingkal dua kali. Sebelum mengetik lagi, ‘nggak salah kamu?’.
‘maksudnya?’, tanya Ren lagi dengan emoticon tanda tanya di kepala.
Gimana cara bilang ke dia kalau dia tuh sama sekali nggak akan kesulitan cari pacar. Dan itu nggak harus aku kan? Yang aku tahu cowok-cowok cakep punya aturan main dasar seperti ini :
1. Gue keren, hilang satu tumbuh seribu
2. Gue punya kehidupan sendiri, teman-teman dan hal-hal yang gue sukai, jadi gue nggak bisa selalu ada buat lo dan apa lo mau terima gue yang seperti itu kalau lo beneran sayang sama gue?
3. Kalau lo nggak suka, lo boleh pergi, gue nggak maksa, dari awal kan gue udah bilang gue orangnya gimana.
Cewek mana yang bakal nggak makan hati? Di mana-mana ya orang cakep itu jadi sorotan. Apalagi di jaman yang begini canggih. Apa-apa serba di posting di sosial media. Sehingga banyak banget artis dadakan cuma gara-gara foto-nya tersebar di Twitter atau Facebook. Misalnya, polisi ganteng itu sekarang ada lagi PNS cakep. Semua pada heboh. Buat yang jadi cewek-nya sih, mohon sabar-sabar aja kalau cowoknya jadi digandrungi cewek-cewek lain ditambah kemungkinan si cowok bisa memilih yang lebih baik.
Uuugh! Kenapa ya ini kepala isinya pikiran negatif melulu?
Sekarang udah bukan jamannnya TTM (Teman Tapi Mesra) atau HTS (Hubungan Tanpa Status), tapi KJAD (Kita Jalani Aja Dulu). Modus banget nggak sih?
‘Maaf ya, Ren’, kataku akhirnya setelah percakapan itu bikin aku capek, ‘Aku cuma nggak mau kecewa’
Ada-ada aja.
Tapi, apa cinta sejati itu beneran ada ?
---
Komentar
0 comments