[Hal.2] THERE'S A GOOD IN GOODBYE - Baca Cerpen Romantis Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

“Kamu ada kelas hari ini?”, tanya Mas Farhan yang lagi ngemil kacang di meja makan.

“Iya nih, aku ngambil banyak SKS. Kan udah banyak ketinggalan”, jelasku.

“Beneran tuh?”, tanya dia sangsi, “Palingan sampai sore kamu main sama Dona”

“Ih, Mas Farhan sok tahu!”, celetukku, duduk ikut duduk di kursi di samping Kak Sani yang sibuk sama Blackberry-nya.

 Mas Farhan usianya empat tahun di atasku. Di usianya yang 26 tahun, masih aja jomblo. Gimana enggak? Cewek mana yang bakal tahan sama cowok pengangguran yang hobinya nonton TV sambil komentar seakan-akan itu penting banget dan bakal didengerin?  Dulu sih dia punya cewek tapi karena Mama nggak suka terpaksa deh diputusin. Sedangkan Kak Sani yang cuma satu tahun di atasku lain lagi. Memang sih aku dan Kak Sani bandelnya beda tipis, tapi aku lebih pintar dengan bermain aman. Nah, kalau Kak Sani yang kesehariannya seorang sekretaris di perusahaan multinasional, mainnya terang-terangan karena dia memang cuek dan nekat.

“Kamu berangkat kuliah naik apa?”, tanya Kak Sani padaku.

“Bus”, jawabku, menghabiskan mie telor di piringku dengan buru-buru karena aku cuma punya setengah jam sebelum kelas dimulai.

Kak Sani udah berdiri dari kursinya sambil nyandang tasnya, “Oh”, katanya, lalu menghampiri Mama yang lagi nyuci piring, “Ma, aku berangkat kerja dulu ya”

Kirain mau nganterin…, pikirku agak kecewa.

“Udah deh, Farra! Jangan ngarep”, celetuk Mas Farhan lalu cekikikan, “Si Rocky kan udah nangkring di depan. Kamu mau diboncengin tapi ditaruh di ban?”

Kakakku emang reseh. Kadang-kadang perhatian, kadang-kadang jahil dan nyebelin. Tapi, itulah mereka.

Aku cuma bisa cemberut saat lihat Kak Sani naik motor gede cowoknya, Rocky, di depan rumah. Suara motornya nyaring lagi! Kayak sengaja ngasih tau tetangga kalau dia punya cowok super keren, tajir pula. Aku kapan ya?

“Nggak usah sedih gitu”, ujar Papa yang juga mau berangkat kerja, “Papa yang antar? Gimana?”

Baru deh aku tersenyum lagi. Rasanya ajaib. Dulu biasanya aku selalu nolak. Jadi ingat deh, nggak mungkin dong cewek se-kece Farra Arundati naik motor ke kampus masih diantar sama ayahnya. Yang ada aku pasti diledekin sama anak-anak reseh. Tapi, sekarang aku nggak peduli. Aku adalah aku, bukan apa kata mereka. Mereka hanya nggak tahu, gimana rasanya punya hidup seperti hidup yang aku jalani –tepatnya setelah kecelakaan itu. Meskipun nggak ada yang kurang. Aku nggak cacat dan nggak ada bekas luka yang menonjol yang bikin orang jadi kasihan.

Aku masih Farra Arundati yang dielu-elukan. Farra yang masuk ke kampus ini karena beasiswa, cewek pintar dengan fisik yang oke. Disayang dosen dan IPK-nya nggak pernah di bawah 3,00. Wow, itu hanya di luarnya aja. Orang-orang mereka pikir aku cewek yang nyaris sempurna dan nggak sembarang cowok bisa mendekati aku. Mereka salah. Toh, cowok seperti Adji bisa merusak hidupku dan menjadikanku seperti ini. Tapi, sudahlah. Untungnya cowok itu menghilang dan sisi positif dari kecelakaan itu adalah aku bisa melupakannya karena sibuk menata hidupku serapi mungkin. Sekarang, aku kembali bisa melangkah, walaupun sendirian, karena Dona udah lebih dulu lulus dan punya kerjaan yang lumayan. Aku masih punya tiga semester untuk diselesaikan –entah aku sanggup atau nggak.

Tapi, kadang-kadang masih nyesek juga. Sampai tiba-tiba, air mataku menetes tanpa aku sadari dan setelah itu aku menghapusnya secepat mungkin supaya nggak ada yang lihat. Ternyata masih berat ya. Makanya, ada banyak orang yang memutuskan bunuh diri karena nggak sanggup menerima kenyataan –terlebih masalah yang datang bertubi-tubi dan nggak terselesaikan.

Tiba-tiba perutku sakit. Aduh… rasanya lengkap banget deh…

Hp-ku bunyi saat aku berusaha menahan perih yang belakangan masih sering datang dan bikin aku uring-uringan di kelas sendirian saat istirahat.

“Lo di kampus?”, tanya dia di seberang sana.

“Iya…”, jawabku, masih menahan sakit.

“Lo kenapa?”, tanya dia lagi, kayaknya sadar, aku berusaha menekan perutku yang sakitnya nggak tertahankan.

“Biasa. Sakit perut…”, jawabku, meringis.

“Gue ke sana ya? Kayaknya lo nggak sehat deh…”, kata dia, terburu-buru.

“Jangan parno ah! Gue cuma sakit perut!”, celetukku, “Biasanya juga gue sakit perut…”

Dona terdiam di seberang sana.

“Gue nggak apa-apa, Don”, kataku, masih memegangi perutku, menekannya agar sakitnya hilang.

“Mending lo pulang aja istirahat”, ujarnya, “Gue juga mau bilang hari ini gue pergi sama Rizky”

Aku terkekeh, “Dasar, nggak setia…”, kataku, “Gue udah sengaja bohong lagi sama Mama hari ini ada kelas. Masa lo mau batalin gitu aja…”

“Sorry, tapi lo tahu sendiri kan. Kalau nggak diturutin ntar malah berantem. Lagian kita udah lama nggak ketemu…plisss…”

Aku mendengus, “Iya deh iya…ntar kalau lo udah sendirian baru deh nyariin gue…”

Dona cuma cengengesan lagi. Lama-lama cewek ini ngeselin juga. Tapi, apa boleh  buat sih. Cewek kalau udah berurusan sama cowoknya, yang lain-lain pasti lupa. Aku juga dulu pernah begitu. Nggak peduli siang atau malam, pasti kepikiran itu terus. Kayak kecanduan zat adiktif gitu.

Waktu pertama ketemu Adji, aku pikir dia perfect –perfect buat aku maksudnya. Dia lebih keren dari pacarnya Kak Sani waktu itu –yang jelas bukan Rocky, pacarnya yang sekarang. Itu tuh yang namanya kesengsem, nggak peduli dia itu playboy atau apa, awalnya aku seolah sanggup nerima dia yang seperti itu. Termasuk sikap cueknya. Masalahnya sih gini, kalau udah jarak jauh, terus jarang komunikasi itu kayak bom waktu yang suatu hari meledak. Hatiku hancur kayak pesawat MH17 yang ditembak jatuh di Ukraina waktu aku tahu si Adji ini gampangan. Aku dan egoku mempertahankan harga diriku yang nggak akan mau balikan sekalipun dia mengemis, tapi nyatanya tetap aja aku sedih dan kepikiran.

Aku sama Kak Sani beda. Sama Dona juga beda. Mereka itu gampang move on karena jarang pakai perasaan mendalam terhadap cowok-cowok mereka. Nah aku, yang selalu ingin semuanya sesuai keinginan sering bikin bikin cowok yang dekat sama aku nggak betah. Makanya aku nggak pernah mengalami pacaran yang benar-benar bisa disebut pacaran. Maksudku, nggak pernah ada saat-saat berdua yang romantis seperti jalan bareng, pengangan tangan, dan makan berdua. Aku bahkan nggak pernah punya foto berdua sama cowok yang aku anggap pacar.

Kadang ingin juga bertingkah norak kayak pasangan-pasangan yang lain. Misalnya pasang status di facebook, in relationship with atau engaged to bla bla, supaya dunia tahu ‘ini lho pacar gue’. Atau bikin status BBM pake nama pacar terus diselipin gambar hati. Atau, pasang foto berdua jadi display picture.  Jadi iri nih ceritanya.

Aku nggak pernah mendapatkan semua itu. Aku nggak pernah merasa dianggap ada oleh cowok-cowok yang pernah aku pacarin. Entah karena memang mereka-nya yang nggak suka hal-hal seperti itu atau aku yang nggak pernah minta karena harga diri. Rasanya kalau aku yang minta si cowok bakal berpikiran kalau aku ngarep banget dan dia bakal punya kesempatan untuk mainin aku.

Cowok itu rumit, buat cewek seperti aku. Aku nggak ngerti, harus jadi cewek yang gimana. Yang perhatiankah supaya si cowok senang, atau santai tapi bikin si cowok jadi males karena berpikir ‘nih cewek sok jual mahal’. Nah lho, serba salah kan? Aku cuma punya cowok-cowok yang perhatian kalau ada maunya, dan setelah itu bisa pergi seenak udelnya. Love then leave gitu.

Makanya setelah kecelakaan itu dan aku masih diberi kesempatan sekali lagi, aku kapok. Aku rasa cowok-cowok yang biasa godain aku dan sok-sok perhatian itu bisa lihat ada bendera putih di atas kepalaku kalau aku jalan di depan mereka. Sorry, aku nggak tertarik pacaran lagi. Hati ini udah sering patah, hancur malahan. Sampai aku jadi nggak punya hati lagi untuk dibagi-bagikan sama cowok-cowok menggiurkan di luar sana.

Aku suka yang keren dan tampang oke. Itu sih wajar. Soalnya pernah ada pengalaman sama teman sekampus yang cantik banget tapi cowoknya jeleeeek banget. Dia diketawain sama yang lain, mana cowok itu juga nggak tajir lagi, kerjaannya juga serabutan. Nggak kebayang deh rasanya diejekin orang-orang. Katanya merusak pemandangan yang indah. Katanya ceweknya pasti dipelet. Atau itu cewek matanya rabun kali ya. Makanya, aku nggak pernah punya cowok jelek.

Tapi, kalau dipikir-pikir, ini nih nggak enaknya jadi cewek oke. Orang bilang orang cantik nasibnya mujur. Kata siapa? Pernah dengar kan ada berita unik di TV ada seorang cewek yang dipecat karena terlalu cantik atau cowok di negeri Arab sana diusir karena terlalu ganteng? Konyol nggak sih? Tapi, masalah yang aku alami mungkin agak komplit dari itu. Memang sih nggak ada hubungan sama orang-orang di sekitarku. Tapi, coba deh, misalnya aku dilahirkan dengan tampang yang biasa aja –bukannya nggak bersyukur. Tapi, ini misalnya lho.  Aku pasti nggak akan mengalami masalah yang ribet begini.

Coba deh, melihat orang lain yang bisa dibilang tampangnya nggak cakep-cakep amat. Bisa punya pacar –yah walaupun juga nggak cakep. Mereka punya sense of belonging yang tinggi satu sama lain. Tiba-tiba mereka jodoh, hebat kan? Yang bikin aku iri, mereka bisa bahagia dan membahagiakan satu sama lain. Aku sih ngerti, standar bahagia itu nggak ditentukan dari punya pasangan cakep atau wah, tergantung ketulusan dari masing-masing. Itu yang disebut bahagia. Aku cuma heran, mereka bisa tapi aku nggak. Kenapa ya? Apa karena cowok-cowok itu hanya melihat aku menarik, yang terpikir sama mereka itu hanya cara gimana caranya supaya bisa ‘memiliki’ dalam artian mereka sendiri –yah, taulah itu maksudnya ‘memiliki’ itu dengan cara apa. Atau sekedar banggain ke orang-orang ‘ini nih cewek gue, oke kan?’. Selama ini aku cuma jadi objek atau perhiasan. Siapa yang nggak capek?

Kalau seandaninya aku ini dilahirkan jadi cewek yang biasa-biasa aja, apa aku tetap bakal sendirian begini ya? Karena kalau aku jelek, pasti cowok yang ada di sampingku udah pasti menerima apa adanya. Karena ‘jelek’ itu adalah kekurangan yang benar-benar jelas terlihat. Ah, mungkin aku benar-benar nggak mencintai orang itu dengan tulus. Mungkin juga karena aku hanya menilai orang itu dari luarnya, nggak salah dong mereka juga menilai aku dari apa yang bisa dilihat. Tapi, sekarang, aku nggak akan fokus untuk cari pacar lagi. Kayaknya hanya menyia-nyiakan umur yang singkat ini. Lagian… mana mungkin aku bisa pacaran?

---

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments