[Hal.1] THERE'S A GOOD IN GOODBYE - Baca Cerpen Romantis Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Pernah nggak sih ngerasain nyesek yang begitu dalam sampai nggak bisa nafas? Kalau aku sih, sering. Apalagi, ketika kita lagi memandangi foto orang yang kita sayang  ada perasaan rindu yang menyiksa tapi kita tahu orang itu bahkan nggak menganggap kita ada. Begitu memejamkan mata, tiba-tiba air mata mengalir seperti kain basah yang diperas. Rasanya itu… nusuk ke dalam. Bernafas pun kayak ada sesuatu yang nyangkut di hidung. Tiba-tiba pipi jadi merah kayak tomat. Begitu kita lihat di cermin ternyata kita kelihatan jauh lebih menyedihkan dari yang kita kira. Lengkap deh kalau nggak bisa lagi menahan tangis.

Tapi, kok sepertinya itu udah lama ya?

Mungkin karena masalah cowok atau patah hati bukan sesuatu yang besar lagi buat aku. Orang bilang, hidup sama kayak mie instan, kalau nggak ada bumbu mie-nya nggak bakal enak. Tapi, kebanyakan makan bumbu mie instan malah bikin sakit usus buntu. Sayangnya, udah cukup terlambat untuk menerima kenyataan yang seperti itu tapi aku mencoba untuk nggak bersedih. Hidupku yang sekarang sempurna –begitu yang mereka bilang, dan bikin aku cuma bisa senyum-senyum sendiri.

Aku Farra Arundati, hari ini aku 22 tahun dan baru aja melepaskan masa-masa sulit dalam hidup yang aku pikir aku nggak bisa melewatinya gara-gara patah hati. Setelah tiba-tiba aku terbangun di tempat asing seperti terlahir kembali. Entah, mungkin sama seperti saat kamu baru bangun dari tidur dengan mimpi yang indah di dalamnya dan kamu agak menyesal karena harus terjaga. Tapi, yang aku alami sangat aneh, mimpi itu terlalu panjang seakan aku tidur selama bertahun-tahun. Dan…begitu bangun, banyak hal di sekeliling kamu yang berubah. Perlakuan orang-orang termasuk keluarga sendiri, kelas dan teman-teman di kampus yang nggak lagi sentimen dan dosen yang sudah lebih bersahabat. Dan dari semua itu, hanya satu hal yang seingatku nggak pernah berubah, Dona.

“Gimana rasanya?”,  cewek berambut panjang dan kecoklatan itu menanyaiku dengan sorot mata serius. Ada sedikit kekhawatiran di dalamnya ketika ia menemukan aku terpaku pada keramaian di kantin kampus yang membuatku merasa sedikit asing.

Aku tersenyum, “Kayaknya…baru balik dari tempat yang jauh banget jalan kaki”, jawabku.

Dona menghela nafas, “Gue pikir lo bakal mati”, kata dia, bikin aku mengernyit. Tiba-tiba dia ketawa cengengesan, “Ternyata lo nggak mati”

“Lo berharap gue mati gitu?’, cetusku.

“Enggak! Lo nggak tahu sih gimana keadaan lo waktu itu! Kejadiannya pas gue sama lo lagi! Dan gue dalam keadaan sadar!”, balasnya, tiba-tiba menatapku sayu, “Gue masih merasa bersalah sama lo”

Aku mencoba tersenyum lagi. Nggak perlu disesali, toh kecelakaan itu udah terjadi. Meskipun, banyak hal yang nggak diinginkan terjadi setelahnya. Tapi, kalau diingat lagi aku dan Dona sama-sama salah walaupun keluargaku terus-terusan memojokan Dona. Keluargaku kan nggak tahu apa yang terjadi sebelum itu. Diceritakan lagi pun juga susah. Setelah keadaanku begini, kalau masih berani mengungkit-ungkitnya buat belain Dona, aku bakal kehilangan hidupku yang sempurna.

Sekarang, walaupun dilarang temenan sama Dona, aku tetap ketemu dia di luar kampus dan merencanakan banyak hal untuk dilakukan –mirip pasangan yang mau kawin lari. Tapi, Dona buatku, berarti lebih dari sekedar sahabat. Hidup kan cuma sekali. Aku lelah menangisi keadaaan  dan kejadian itu paling nggak membuatku sadar bahwa kita nggak perlu bersedih untuk semua hal buruk yang telah terjadi. Sekarang aku punya semuanya, keluarga dan teman-teman yang perhatian, kehidupan di kampus yang menyenangkan dan orang-orang yang mendukungku untuk terus semangat.

Setiap hari, aku bangun pagi dengan ceria. Entah dapat semangat darimana, aku melakukan hal-hal yang biasanya dulu nggak pernah aku lakukan. Misalnya hal-hal sepele seperti nolongin Mama beres-beres di dapur. Dulu biasanya, aku jarang di rumah dan keluyuran di luar sama Dona sampai malam. Pulang kuliah nggak pernah langsung pulang, sekalipun dimarahin Papa aku nggak pernah peduli. Sekarang aku lebih banyak di rumah. Ngumpul-ngumpul sama Kak Sani dan Mas Farhan –kedua kakakku yang kerjanya berantem  melulu. Kita main PS atau saling ngejek di meja makan nungguin Mama selesai masak. Kalau malam tiba, saat Papa sudah balik dari kantor, biasanya rumah bakalan ribut ngomongin macam-macam. Mulai dari calon presiden sampai insiden anjing tetangga yang diracun sampai mati sama maling kambuhan. Selalu ada yang kita perdebatkan. Salah satunya penyakit Kak Sani yang gonta-ganti pacar dan nggak pernah kapok patah hati atau Mas Farhan yang manja banget sama Mama. Dan cuma Papa yang belakangan sependapat denganku. Yah, sejak aku jadi anak yang rajin dan penurut.

Kecelakaan itu mengubah banyak hal, aku nggak ingin apa yang aku miliki itu hilang dan baru menyadarinya begitu semua udah nggak ada. Dan sebaliknya, aku nggak ingin keluargaku terlalu memikirkan keadaanku dan jadi terbebani. Soalnya, itu akan menimbulkan penyesalan yang lebih besar buat aku. Membuat aku berpikir kalau aja seandainya waktu itu aku nggak terbawa oleh perasaan kecewaku soal Adji, mungkin mereka nggak perlu pura-pura senang di depanku dan menangis di belakangku sekarang. Ah, tapi kalau seandainya kecelakaan itu nggak terjadi, aku bakal terus menyia-nyiakan hidup dan masa mudaku.

Semuanya gara-gara Adji. Kalau saja cowok itu nggak datang dalam kehidupanku. Tapi, tetap aku yang salah karena mengizinkan dia masuk dan mengecewakanku berulang kali sampai logikaku nggak jalan. Adji itu ternyata playboy sakit jiwa yang lagi belajar jadi penjahat kelamin alias PK. Pacaran sana sini sama cewek nggak jelas termasuk ayam kampus. Aku syok mengetahui seleranya Adji serendah itu. Tapi, apa boleh buat dia di Jakarta dan aku di sini, Surabaya. Long Distance Relationship sama orang nggak jelas. Well, itu memang kesalahanku sampai nangis-nangis segala terus berakhir sama Dona di jalanan dalam keadaan galau sebelum sebuah mobil menyerempet kami dan… terjadilah malapetaka itu.

---

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments