๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Ketika liburan semester tiba. Kami nggak ketemu untuk waktu yang cukup lama. Walau pun masih SMS dan telpon, kerenggangan mulai terasa saat itu nggak lagi sesering biasanya. Aku coba menerima bahwa aku bukan siapa-siapa. Mungkin Gion dekat sama seorang cewek atau dia balikan sama mantan pacar yang udah bersamanya selama 5 tahun.
Selama itu aku membolak balik percakapan kami dari awal hingga ia mulai jarang menghubungiku. Ada banyak kalimat yang menyatakan ambigu antara dia mungkin menyukaiku atau tidak. Aku mencoba menarik kesimpulan sendiri dan nggak yakin dengan itu.
Aku player, kenapa cuma gara-gara brondong satu aja pikiranku jadi kacau? Jadi penyakit lamaku kambuh. Setelah aku selesai mengulang kelas sejarah -kelas di mana kami selalu bertemu- aku jarang biss melihatnya. Aku ketemu cowok. Mainan baru.
Waktu melihat Gion melambaikan tangannya saat melihatku lalu menghampiriku, aku sangat lega. Dia nggak melupakan aku demi cewek mana pun yang dia dekati sekarang. Dengan senang hati aku berlari ke arahnya dan kami duduk di kantin seperti biasanya.
"Kamu sombong ih!", kataku.
"Nggak. Kamu tuh! Aku biasa aja. Aku ada ujian", jelas dia.
"Oh", aku mengangguk-angguk lalu tertawa lagi. Memandangnya dan dia juga membalasku dengan senyum yang sama.
Apa yang menarik dari cowok bandel ini? Menurutku sih nggak ada. Dia nggak ganteng-ganteng amat. Tapi, dia menyenangkan untuk diajak cerita.
"Kamu yang sombong tiap aku SMS, respon kami gitu-gitu aja. Aku bisa bilang apa?", jelas dia lagi.
"Kamu sering nggak bales SMS aku", kataku.
"Kamu punya pacar ya sekarang?", harusnya itu pertanyaanku untuknya.
"Pacar apaan?!", celetukku cemberut, "Kamu sih nggak tahu apa yang terjadi sama aku belakangan ini dan aku setres banget!"
"Apa emang?", dia bertanya penuh perhatian seperti biasanya.
"Aku ketemu mantan",
"Ah; kamu sih! Udah tahu bakal bikin sakit hati masih aja diurusin!", Gion sewot.
Aku seperti mendapat angin segar melihat reaksinya. Seingatku dia nggak pernah mendukungku untuk CLBK dan di saat aku sengaja ngomongin soal Sam dia selalu bilang harus move on.
"Bukannya gitu juga, Aaron", kataku dan aku termangu di saat bersamaan.
"Aaron? Siapa tuh Aaron?", tanya dia menggodaku.
"Bukan siapa-siapa!", jawabku malu. Kenapa bisa-bisanya aku salah sebut?
"Kalau bukan siapa-siapa kenapa kamu bisa sebutin nama itu?", dia masih penasaran dan menggodaku dengan tawa kecilnya.
"Nggak kok. GION. AARON. Hampir sama kan?"
"Jauh beda, Hemy. Kamu jangan bohong!", dia tertawa dan aku jadi bingung saat dia mendesakku menjelaskan siapa pemilik nama itu.
Dijelaskan pun Gion nggak mengenalnya. Aaron, cowok baru yang aku temukan di toko buku. Lebih keren dari pada Gion atau Sam. Dan aku suka gayanya. Orang yang belakangan ini selalu meramaikan hp-ku sejak Gion mulai jarang menghubungiku dan sebaliknya. Aaron setidaknya membuatku berhenti bermain-main tanpa kepastian dengan orang yang aku tidak tahu persis apa yang dia pikirkan soalku.
Namun, aku bosan terlalu cepat dan kembali duduk dengan Gion di sini. Tapi, suasana siang itu perlahan memudar dalam ingatanku. Gion seolah menghindar dariku dan aku mulai mengada-ada. Berharap jika aku punya masalah, kami akan bisa bicara lagi.
"Kamu marah sama aku?", aku menanyainya.
"Kenapa aku marah, Hemy?", balasnya, dengan suara riangnya yang biasa.
"Aku nggak biasa kalau kamu banyak diam..", kataku.
"Ah, enggak, ", dia tetap tertawa renyah. Seakan dia tidak pernah merasa punya masalah, atau begitulah cara dia menjalani hidupnya yang juga nggak mudah. "Aku nggak mau ganggu kamu kalau misalnya kamu dekat sama orang lain. Sama...siapa tuh yang kamu sebutin namanya secara nggak sadar waktu itu..."
Aku terhenyak. Apa dia sedang mencemburui atau itu hanya ungkapan biasa saat dia selalu bertanya aku pergi dengan siapa jika pergi keluar?
Aku nggak mengerti.
"Kenapa kamu nggak peka sama perasaan aku?", aku setengah menuntut. "Saat ini aku hanya dekat sama kamu kan? Aku nggak akan dekat sama seseorang tanpa alasan, Gi. Apa lagi cowok. Kamu jahat..."
"Lho, kok jahat sih?", dia masih cekikikan.
Aku nggak lihat wajahnya langsung karena kami cuma bicara di telpon.
"Ya udah, lupain aja omonganku", kataku agak kesal.
"Lho, kok gitu sih...jelasin dong apa masalahnya sampai kamu sensi gitu sama aku", katanya.
Kekurangan dia yang paling menonjol adalah sama sekali TIDAK perasa. Aku terlalu malu mengungkapkan bahwa, aku nggak bisa terlalu dekat dengan seorang cowok yang nggak ada hubungan apa-apa denganku. Jika aku ngizinin seseorang ada di sampingku, tandanya aku suka. Dan orang yang aku suka haruslah jadi pacar BUKAN teman.
Tapi; prinsip Gion bertolak belakang denganku. Dia pernah bilang, kalaupun naksir sama cewek juga dia nggak akan bilang sama cewek itu. Karena nggak ada yang jamin apakah hubungan itu bakal bertahan selamanya. Gion nggak ingin kehilangan teman di saat hubungan berakhir.
"Aku males ngomong sama kamu...", aku mulai merajuk.
"Ayo ngomong sama aku, kalau nggak aku marah lho", kata dia mendesak.
Aku lelah, haruskah aku bilang harusnya kita pacaran, bukan belagak kayak orang bodoh begini, gerutuku.
"Oh ya? Emang kamu bisa marah?", tantangku.
Dan tiba-tiba telponnya terputus!
Sial! Batrainya habis dan aku buru-buru memasangnya chargernya. Aku dengan sedikit cemas mengirim SMS, "Aku nggak matiin lho, batrainya habis!, jelasku. Tapi ia hanya mengirimkan gambar emoticon 'tutup mulut' sebagai balasan. Dan amarahku seketika naik.
Ternyata aku salah mempercayai seseorang. Dan aku menyampaikan kekecewaanku padanya. Sebelum dia membalas dengan kekanakan "Katanya mau lihat aku marah?",
Aku makin kesal dan mengetik, "Ya udah, marah aja sana!"
Sejak itu semua berubah. Kami nggak lagi berkomunikasi. Terakhir aku mencoba membujuknya, dia nggak membalas SMS-ku dan aku pun diam. Aku pernah beberapa kali menangis hanya gara-gara memirkirkan dia, sisanya aku merasa begitu kesepian. Kehampaan yang kurasakan seolah nggak bisa tergantikan oleh apapun. Jadi aku berharap, aku akan menemukan seseorang yang bisa membahagiakanku.
Tapi, kita nggak pernah tahu kehidupan mendatang. Aku berjalan sendirian, di depan komplek pertokoan yang menjual barang-barang mahal seperti baju, tas dan sepatu branded.
Aku menginginkan sepasang wedges yang kulihat terpajang di etalase. Aku berhenti untuk memandangnya sebentar walau aku nggak akan bisa membelinya. Wedges mahal dengan tali-tali menyilang berwarna coklat dan krem. Aku suka model yang sederhana namun terkesan berkelas. Aku melirik sepasang kakiku yang mengenakan wedges yang dibelikan Sam tahun lalu sebagai hadiah ultah. Wedges dengan tali biru toska tinggi 8 cm.
Lalu tersenyum sendiri sebelum aku kembali memandang ke etalase saat seorang pramuniaga datang untuk mengambilnya. Betapa beruntungnya gadis yang bisa membelinya. Dan aku menemukan Wanda di dalam sana.
Ia dengan senang hati mencoba wedges yang disodorkan pramuniaga padanya. Membuatku iri dan sakit hati. Aku langsung berbalik dengan kecewa, melintasi jalanan untuk sampai ke seberang. Mengabaikan sebuah motor yang akhirnya menabrakku...
---
Komentar
0 comments