๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Suatu pagi yang hampir klise, aku terbangun di kamarku sendiri. Aku memandangi diriku pada cermin; tengah berdiri dengan pakaian rapi dan tongkat penyangga tubuhku setelah bersiap untuk kembali ke kampus.
Aku berjalan di koridor sendirian. Membawa buku dan ranselku dengan susah payah. Nggak ada seorang pun yang membantu saat sebuah buku jatuh dari tanganku. Termasuk Wanda yang cuma memandangku dari kejauhan dan berikutnya dia pura-pura nggak melihatku. Dan begitulah. Aku bertumpu dengan kaki kiriku, bertahan dengan tongkatku sampai ujung jariku menyentuh buku itu.
Aku senang saat berhasil melakukannya sendiri. Tapi, aku nggak bisa naik tangga di saat itu harus. Karena kelasku ada di lantai 2. Jadi aku hanya berdiam diri sebelum seseorang menghampiriku.
"Sini, aku bantuin", katanya dengan senang hati tersenyum padaku.
"Gion?", aku terkejut. Kabar terakhir yang aku dengar dia sempat cuti kuliah. Tiba-tiba dia muncul dengan gaya yang sudah berubah sama sekali. Dia terlihat lebih berandal dengan tato dan anting bulat di telinga kirinya.
Dia membuat seorang gadis kesepian memberontak pada kehidupan yang kadang nggak adil. Aku ingat saat pertama kali dia pegang tanganku naik tangga ke lantai dua dan dia menungguku sampai aku selesai di depan pintu kelas. Aku nggak tahu akan membuat sebuah keputusan yang mengubah segalanya mulai dari detik itu.
***
Kita sama-sama berhenti kuliah dan menikah. Aku ninggalin rumah setelah berdebat dengan Mama. Dan dia dengan mobil sedan hasil modifikasi miliknya siap membawaku pergi ke mana pun yang aku mau.
Aku ingat saat mobil itu mogok dan dia meninggalkannya begitu saja di pinggir jalan. Kami pergi ke stadion jalan kaki untuk nonton pertandingan sepak bola dengan coretan-coretan warna mencolok di wajah, memakai topi konyol dan berteriak sepanjang pertandingan. Kami pulang dengan bahagia setelah tim kesayangan menang.
Sayangnya, kami punya tagihan yang harus dibayar setiap bulan. Dan itu membuat kami bertengkar hampir setiap hari bahkan tengah malam. Aku dengan nekat berlari keluar, dini hari, mengingatkanku dulu aku dengan perasaan seperti ini melarikan diri dari orang tuaku yang saling memaki.
Aku nggak menyangka dia mengejarku.
"Hei, Hei!", dia menghentikan aku dengan menggenggam lenganku, "Aku udah janji kan nggak akan mengulang kesalahan orang tua kamu?"
Aku hanya bisa diam. Kami masih sangat muda. Aku 21 tahun dan Gion, 19 tahun. Memutuskan menikah. Saat sama-sama nggak ingin berakhir dengan buruk. Pernikahan akan mengikat erat kami. Nggak ada akhir yang perlu kami takutkan.
Aku bahagia, saat pindah ke rumah baru. Membeli perabotan sederhana. Menyusunnya dengan baik sembari ribut saat Gion mengacau dengan merombak kerja kerasku.
Aku ingat saat menunggunya pulang dari bengkel dan dia muncul dari balik pintu dengan baju penuh noda oli dan aku marah karena itu terlalu sering terjadi. Aku juga ingat saat dia memelukku dan menyandarkan kepalanya di atas pundakku. Aku mengusap-usap rambut gondrongnya. Merasakan bau keringat dan oli yang bercampur di tubuhnya.
Dia adalah hal terbaik yang pernah aku miliki.
"Aku nggak akan ninggalin kamu sendiri", katanya. Dengan sungguh-sungguh, menatapku dalam-dalam. Kedua tangannya di pipiku. "Aku memang jatuh cinta sama cewek player kesepian dan setiap kali aku melihat dia selalu seperti pertama kali. Aku masih ingat saat dia nendang meja sampai aku jatuh. Dia adalah hal terbaik yang pernah aku miliki..."
Air mataku menetes begitu saja.
"Jangan nangis, Hemy...", ujarnya sambil menyandarkan aku pada aromanya yang khas.
Ketika itu cukup bagiku, aku membayangkan sebuah keluarga bahagia. Kami punya dua anak. Laki-laki dan perempuan. Membesarkan mereka dengan cinta dan kebahagiaan. Mengkhayal, kami masih cukup muda untuk menyaksikan satu persatu dari mereka menikah. Membangun sebuah keluarga baru. Meninggalkan kami berdua saja di rumah ini, bernostalgia tentang masa muda kami yang menyenangkan saat ini. Menyanyi dan menari. Tertawa dan bersedih. Bahagia dan sakit. Semuanya!
Karena itu kami mencintai kebebasan yang kami miliki sekarang. Untuk pergi ke tempat yang belum pernah kami datangi hingga kaki ini lelah...
Sekarang aku mengerti Cinta yang sesungguhnya. Sesuatu dengan dua nuansa bertolak belakang. Yang melukai sekaligus menyembuhkan. Lalu menyisakan kenangan yang manis untuk dikenang.
Komentar
0 comments