[Hal.9] SHE KNOWS - Baca Cerbung Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
“Kau…benar-benar keterlaluan! Bodoh! Dan tidak berperasaan!”, Gemma meneriakiku sambil menarik selimutku  sampai aku berguling ke bawah. Tubuhku menghempas lantai dan mataku yang mengantuk berat segera terjaga.Dan yang terburuk aku harus terus mendengar cercaannya, “Kau benar-benar gadis yang mengerikan!”
“Gemma…”, keluhku kesakitan sambil membalikan badanku dan melihatnya mengamuk di kamarku.

Gemma membuka laci paling bawah meja di dekat tempat tidur, mengeluarkan semua isinya sambil bersumpah serapah, “Benda-benda ini… harusnya kau membuangnya!”, kata dia, memboyong lembaran-lembaran foto milikku dan tampak ingin membawanya keluar.

Aku segera bangkit, “Gemma! Apa yang kau lakukan?!”, teriakku menarik tubuhnya, merampas barang-barangku.

“Sampai kapan kau akan terus hidup dengan semua itu?!”, balasnya berteriak, melemparkan kertas-kertas dan foto-foto yang kusimpan selama ini.

Aku tidak langsung memungutinya, karena aku sendiri juga tidak ingin melihat foto-foto itu. Hanya saja…masih terlalu berat untuk membuangnya sekalipun aku ingin. Karena itulah tempatnya selalu berada di laci paling bawah dan aku tidak pernah ingin membukanya. Juga entah dari mana Gemma tahu aku menyimpan ‘peninggalan’ itu di sana.

“Kenapa kau tidak kembali padanya kalau kau begitu merindukannya?!”, teriak Gemma, “Dan berhenti menyiksa dirimu!”

“Cukup, Gemma!”, balasku berteriak, “Semuanya tidak seperti yang kau pikirkan! Aku tidak membuangnya karena aku lupa benda-benda itu berada di sana”

“Baiklah…”, Gemma menghela nafas, “Bereskan sampah-sampah itu dan bersiaplah untuk pergi keluar. Lakukan sesuatu dengan bokongmu yang pemalas itu!”

“Ke mana?”, tanyaku, bingung. Gemma bertingkah tidak wajar hari ini.

“Shane menunggumu di luar”, jawabnya, mulai menjentik-jentikan jarinya di hadapan wajahku seperti memerintah seekor anjing untuk melompat ke dalam bak mandi.

Aku mendengus, “Ya Tuhan…”, keluhku, rencana apa lagi ini?

***

“Bagus, kau memaksa Gemma dan temanku sendiri jadi tidak berpihak padaku”, keluhku begitu aku mendudukan pantatku di atas jok mobil Porsche-nya dan dia hanya tertawa melihatku menggerutu sepanjang jalan.“Jadi, ke mana kau akan membawaku?”

Dia tidak menjawabnya. Hanya tersenyum padaku dan aku baru tahu dia punya lesung pipi yang dalam dan…oh well,  aku sedikit terkesima tapi segera kutarik mataku sebelum jantungku berdegup kencang.

Ini pertama kalinya lagi aku pergi –berkencan, dengan seorang pria di luar menjalankan profesiku.Atau bisa saja ini bagian dari pekerjaanku, karena aku belum tahu maksud lelaki ini sebelum dia berhasil menyusup ke dalam celanaku.

“Kau ingin makan sesuatu?’, tanya Shane saat ia keluar dari mobil di depan sebuah minimart di pom bensin dan sudah satu jam kami berkelana di jalan tanpa tujuan.”Taco? Chicken Burrito?”

“Apa kau tidak punya pilihan lain?”, balasku.

“Bagel?”, tanya dia.

Aku mengangguk dan dia segera pergi membelikannya.Dengan lelah, aku menguap sambil mengenakan sunglasses-ku karena siang terlalu terik –terlebih, seharusnya aku berada di rumah dan tidur.Sekitar sepuluh menit, Shane kembali dengan bungkusan bagel sebagai makan siangku dan coke sebagai minumannya.

“Ini musim panas”, dia mengingatkanku bahwa menguap terlalu berlebihan di cuaca sepanas ini, tapi dia tahu bahwa hampir setiap malam aku tidak mendapat tidur yang cukup. Dan sepanjang jalan dia terus tersenyum seakan ada hal yang menyenangkan menungguku di suatu tempat yang jauh dari sini.

Aku hampir tertidur saat tiba-tiba aku mendengar deru mesin mobil yang melesat di samping kami. Aku terkejut dan memandangi sedan terbuka itu berada cukup jauh di depan. Shane mengoper gigi dan aku tidak tahu dia akan mengejar mobil itu. Aku mulai ketakutan.

“Shane?”, aku menoleh ke samping kiriku dan ia kelihatan serius. Aku berada dalam kecepatan hampir 200 km / jam!

Tawa Shane terdengar begitu mobil merah itu terkejar dan ia menurunkan kaca untuk melihat siapa yang mengoloknya barusan. “Sialan kau!”, serunya pada si pengendara mobil yang ikut tertawa. Ternyata mereka berteman. Oh, aku hanya lupa, Shane adalah bagian dari sebuah klub otomotif yang suka menggelar balapan liar.

Selain jaguar merah itu, terlihat sebuah Nissan GT-R hijau mendekat, menyusul dan pengendaranya yang duduk bersama seorang gadis berpakaian minim melambai –itu adalah Gemma yang bersorak padaku. “Hai, Faia!” dan aku hanya menggeleng-geleng tidak percaya mereka merencanakan sebuah konvoi menuju pantai bersama-sama karena mereka punya pesta di sana.

Sebuah pesta seperti yang biasa dibuat anak-anak remaja.Astaga, semua orang-orang di pesta rata-rata berusia 25 tahun ke atas.Tapi, siapa yang peduli? Musim panas adalah hari pantai, dan aku tidak membawa pakaian renang. Aku terlihat konyol dengan kaos longgar tanpa lengan dan celana jeans robek sementara yang lain sudah mengenakan pakaian renang. Mereka melompat dari ketinggian tebing bersamaan sambil tertawa dan para gadis menyaksikan dari bawah sambil berseru.

“Aku harus mengatakan itu supaya kau beranjak dari tempat tidurmu”, kata Gemma soal cercaannya jam sepuluh pagi tadi sehingga aku harus mandi dan bersiap-siap untuk berada di pantai ini, "Tapi, kau harus bangkit. Sudah hampir enam tahun”

Aku mengangguk dan tersenyum menghadap langit.Cahaya matahari yang silau tidak bisa menembus gelapnya sunglasses-ku. “Ya, enam tahun…”, gumamku.

“Jika berat, kau bisa kembali”, ujarnya, “Untuk mengubah semuanya”

Aku menggeleng, “Aku sudah melakukannya jika aku benar-benar ingin kembali”, ucapku, tersenyum, “Tapi, tidak ada satu hal pun tentangnya yang bisa menyentuhku”

Gemma tersenyum sebelum ia meninggalkanku sendiri. Ia dan bikininya sudah berada di pinggir pantai bersama kekasihnya untuk bermain air sepanjang siang. Sampai malam datang, pesta belum juga usai dan sepertinya kami akan menggelar kemah musim panas di pesisir pantai.

Shane menghampiriku dengan sekaleng bir dan aku menerimanya. “Apa kau senang?”, tanyanya.

“Jika aku merasa tidak senang, kau akan melakukan apa saja?”, candaku.

Dia tersenyum.“Jika diperlukan”, jawabnya.

Cahaya api unggun membias di wajahnya yang tampak berwarna keemasan di mataku dan seketika darahku berdesir. Ditambah dengan senyum manis yang membuatku sadar bahwa sudah lama dia menatapku dengan cara seperti itu tapi selama ini aku berusaha untuk tidak peduli –seakan itu adalah tipuan yang akan menjerumuskan perasaanku. Tapi, aku salah. Dalam sesaat, aku mengubah pendirianku, berhenti berpikir bahwa dia sama. Tidak, dia sangat berbeda.

Pertama, dia tidak perna membiarkanku sendirian. Kedua, dia mengajakku untuk masuk ke dunianya dan menjadikanku bagian darinya sekalipun aku tidak terlalu menyukai  balapan liar kecuali untuk bagian pesta bebas di mana semua orang bisa bermesraan selama pesta. Ketiga, dia tidak menjadikanku asing di dalamnya dan…melainkan hanya ada kami berdua di tempat seramai itu.

Aku  tidak melihat orang selain diriku dan dirinya selama api unggun menyala dan di kelilingi mereka yang bernyanyi. Aku berada dalam dekapan kedua tangannya yang menyapu kulitku lembut sebelum aku membiarkannya menciumku, lalu terbawa suasana yang mendukung untuk bermesraan beberapa saat, sebelum aku mendorongnya dan menggeleng.

“Aku tidak bisa”, kataku, sedikit mengecewakan ketika ia membaringkanku di atas pasir, dan pinggulnya sudah berada di antara kedua kakiku. Hampir saja, pikirku, tertawa pelan dan Shane menyingkir dariku dengan banyak sekali pertanyaan di kepalanya.Aku segera bangkit untuk duduk dan tertawa, “Kau pikir kau mendapatkanku?”

Shane tampak heran.Dia menatapku tanpa berkedip sebelum menggedikan bahunya dengan bingung.

Aku segera berdiri sambil tertawa, lalu berlari dengan sengaja. Agar ia mengejarku dan ia benar-benar segera melakukannya.

“Hei, tunggu!”, teriaknya, membalas tawaku dan aku berlari ke arah pantai sembari melepas satu persatu yang kukenakan di badanku. Sepatu, celana, kaos hingga pakaian dalam, sebelum kulit telanjangku terbungkus oleh dinginnya air laut di musim panas.Dan dia benar-benar mendapatkanku di tengah laut, ketika memelukku dan aku membalas ciumannya.

“Aku mencintaimu…”

Aku mendengarnya berbisik di telingaku ketika ia kembali berada di antara kedua kakiku dan kedua tanganku menggenggam butiran pasir yang terasa seperti helaian seprai lembut yang mengalasi kami dan menyerap tetesan air yang mengalir di tubuhku.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments