๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Malam bagiku seperti salad yang berisi berbagai macam sayuran –campuran antara wanita murahan, orang mabuk, geng mafia dengan saus seperti rokok, minuman, narkotik dan tarian.Aku tidak terlalu menikmatinya seperti Gemma, Wendy, atau Pan –rekan-rekanku. Jika bukan karena uang, aku tidak akan berada di sini…tapi sebenarnya aku telah keliru dengan memilih pekerjaan ini. Tapi, aku tidak sanggup jika harus menengok kembali apa yang telah kutinggalkan di kota kelahiranku. Aku sudah tidak punya apa-apa dan siapa-siapa di sana, sehingga sekarang aku tersesat di sini.
Dari panggung ke panggung, dari satu pria ke pria asing lainnya, seperti itulah aku melewatkan malam terkutuk yang menjadikanku sama seperti mereka yang duduk di pangkuan pria-pria nakal yang punya senyum mengerikan. Dengan setampuk lembaran dollar di tanganku, aku merasa cukup puas saat keluar dari salah satu kamar hotel walaupun harus terhuyung kelelahan.
Satu malam lainnya, yang kupikir akan berakhir dalam pelukan pria yang kelaparan oleh nafsu, aku menyanyi seperti malam-malam sebelumnya. Klub malam selalu didatangi kelompok orang-orang yang berkumpul untuk para gadis dan minuman. Aku akan duduk di antara mereka, ikut tertawa dan memasang senyum bodoh di wajahku sebelum salah seorang dari mereka membawaku. Tapi, malam itu, ada tiga orang yang memaksaku ikut. Terbayang sudah apa yang akan mereka lakukan padaku.
“Tidak!”, aku menjerit, menarik tanganku yang diseret paksa oleh seorang pria dengan seringainya yang menakutkan. “Lepaskan!”
Gemma terlihat kebingungan, dia mencoba meraih tanganku, tapi tubuhnya didorong sampai jatuh mengenai pengunjung klub yang lain –seorang pria yang tampak tak ada hubungannya dengan grup itu.
“Faia!”, dia memanggilku keras dan ketakutan, tapi dua pria yang lainnya berusaha menghalanginya.
Aku terus menoleh ke belakang, berharap Gemma bisa melakukan sesuatu.Dan kulihat seorang pria yang tidak kukenal mendekat dan menghajar dua pria yang mendorong Gemma.Dia adalah pria yang Gemma timpa karena didorong dengan kasar.Dia kelihatan sangat marah. Dengan tubuhnya yang tinggi berotot dan bertato,ia memukul dan menendang dengan sadis sehingga aku harus menutup mata dan telingaku.
Begitu semuanya sudah berakhir, ketiga pria pemaksa itu terkapar di lantai dan aku masih merasa ngeri memandanginya.
Hal-hal seperti ini sudah sering terjadi padaku dan sebelumnya tidak pernah ada seorang pun yang menolongku.Setidaknya untuk berpendapat bahwa aku masih tidak pantas diperlakukan seperti binatang belian.Aku terdiam, memandang pada sosok seseorang yang mendekat lalu mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.
***
“Kau masih di sini?”, seseorang menghampiriku untuk duduk di sampingku.
Aku menengadah, menoleh ke belakang.Shane Grayson datang lagi dan ini bukan lagi kejutan seperti bantuannya yang tak ternilai.
“Itu pertanyaanku untukmu”, balasku, mengamatinya sampai dia benar-benar duduk di sampingku dengan tawa yang terdengar sedikit melecehkan. Tapi, aku hanya membalasnya dengan tawa yang sama. “Aku bekerja, jika itu maksud pertanyaanmu”
“Setelah semua itu?”, tanya dia, menatapku.
“Aku hanya sedang sial”, kataku.
“Kau selalu sial”, balasnya dan aku mengernyit sambil mendengus.
Aku diam. Harus kuakui itu benar.Dan aku tidak selalu beruntung bertemu orang seperti dirinya. Mungkin tidak akan ada lain kali untuk itu.
“Kau tinggal jauh dari keluargamu?’, tanya dia padaku, dan kedengaran serius.
“Mereka sudah tidak ada”, jawabku, dan aku segera berdiri.Tidak pernah ada yang menanyakan keluargaku dan jika pun ada aku tidak suka membicarakannya.Apa yang menarik dari orang tuaku yang sudah meninggal?
“Gemma menceritakannya padaku”, kata dia, berbalik saat aku berpikir untuk kembali bekerja, “Semuanya. Jadi kau tidak perlu pergi hanya karena tidak ingin membicarakannya”
“Lalu kenapa tetap saja kau menanyakannya?”
“Hanya…tidak tahu cara mengajakmu bicara. Apa aku salah?”
Aku tetap berlalu. Aku tidak pernah tertarik dengan pria seperti apapun jika itu disebut jatuh cinta.Aku sudah lupa bagaimana rasanya jatuh cinta.Dan aku tidak tahu bagaimana yang disebut jatuh cinta.Selama ini, setiap aku memandang seseorang yang berkata mencintaiku, aku tidak bisa merasakan cinta itu sendiri.Sehingga, aku mengabaikan mereka dan pergi.Aku terlalu nyaman dengan kesendirian ini.
Tidak ada yang melarang menyanyi, minum atau merokok. Tidak ada perasaan yang akan tersakiti oleh ilusi yang disebut cinta. Aku tidak pernah menerima uluran tangan seseorang atas nama cinta. Aku tidak pernah membutuhkannya…
Cukup lama setelah itu, aku tidak melihat Shane datang lagi. Aku tidak terlalu peduli padanya sekalipun aku satu-satunya wanita di klub yang sering ia ajak bicara. Itu bukan kebanggaan bisa menjadi pusat perhatian dari seorang pembalap liar yang mengendarai Porsche di jalanan dan memenangkan ribuan dollar dalam semalam.Hanya satu lagi persamaan yang hasil akhirnya kekecewaan. Orang yang merasa dirinya hebat dan bisa mendapatkan apa saja, aku melihat sosok itu di dalam dirinya. Maaf-maaf saja, aku sudah lama tidak tertarik dengan tipe yang seperti itu.
***
Komentar
0 comments