๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Seseorang menyewa band untuk sebuah pesta”, kata Gemma padaku, dan dia kelihatan hati-hati mengatakannya padaku sambil mengawasi sekitarnya.
Aku tahu, ia memastikan Shane tidak akan mendengarnya karena seharusnya aku sudah berhenti dari pekerjaanku.
“Bayarannya sangat besar, kau tahu?”, Gemma mendongak dari kursinya sambil berbisik, “Ini akan cukup untuk membiayai operasi Shane, dan orang itu membayar di muka”
Aku terkekeh, “Kau yakin ada orang se-fanatik itu dengan band Pan?”, tanyaku skeptik.
“Yah…aku tidak tahu”, katanya, lalu menyalakan pemantik api untuk menyulut rokoknya.
Aku mengernyit, “Oh ya?’, aku masih tidak percaya selagi Gemma mengambil sesuatu dari dalam tasnya, sebuah amplop tebal.Aku yakin itu berisi seikat uang tapi…jumlahnya sangat mencurigakan. Aku pun meraihnya –lembaran seratus dollar yang banyak sekali.
Bayaran yang sangat besar untuk satu orang pengisi acara amatiran. Dermawan mana yang begitu baiknya melakukan ini?
“Jadi, katakan di mana pesta yang spesial ini akan berlangsung?”, tanyaku.
Gemma sedikit tertegun.Terlihat keraguan di wajahnya, “Ini pestanya Errence Lee”, jawabnya dan ia tahu persis itu adalah nama yang sangat tidak ingin kudengar apalagi kusebutkan –aku juga sudah lama tidak mendengarnya. Dengan cepat ia segera berdiri dan kelihatan jelas meng-hin-dar sebelum mendengarku menolaknya. “Kau sudah terima uangnya”
Aku hanya menghela nafas, memandangi satu amplop uang di atas meja yang entah mengapa aku tidak ingin melihatnya.Apa ini kebetulan atau memang di sengaja?
“Kau akan meneruskannya?”, Shane bertanya padaku –memang tidak mungkin baginya untuk tidak mendengar apapun di rumah ini. Dia tidak bisa ke mana-mana di rumah yang sempit seperti ini.
Aku menggeleng, “Entahlah”, jawabku, “Aku pikir aku akan mengembalikannya pada Gemma supaya dia bisa mencari penyanyi lain”
“Barangkali si pemilik pesta sengaja membayar lebih untukmu karena dia hanya menginginkanmu untuk menyanyi di pestanya”, Shane kembali terdengar merajuk.Ia memutar kursi rodanya, bergerak menjauhiku.
“Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi. Itu sudah sangat lama”, kataku, sambil mengikutinya ke dapur di mana Shane kembali ke depan jendela dan memandang keluar. Dia selalu menyembunyikan kemarahannya dengan cara seperti itu.
“Kau hampir tidak membicarakannya denganku bahkan kau masih menyimpan foto-fotonya”, cetus Shane.
Ya Tuhan, tenggorokanku seperti tercekik. “Aku pikir Gemma sudah membuangnya!”, kataku, “Aku bahkan sudah tidak ingat lagi…”
“Kau meminta Gemma membuangnya?”, suaranya terdengar dingin, “Dia tidak mungkin melakukan itu karena seharusnya kau yang membuangnya tapi kau tidak melakukannya. Sialnya, aku tidak tahupersis kenapa kau pergi sejauh ribuan mil lalu kembali ke sini kalau kau benar-benar membenci kota kelahiranmu sendiri. Ada banyak hal yang tidak kumengerti tentangmu”
“Aku kembali ke sini karena aku merasa sudah jauh lebih baik”
“Dengan mengganti nama?”
“Aku tidak ingin membicarakan ini, Shane. Kumohon…tidak ada yang bisa kuingat lagi sekarang”
“Benarkah?”, Shane belum kedengaran lega.
“Dia…dia membuatku merasa menjadi gadis paling tidak diinginkan sedunia…”, kataku, dan suaraku melemah, “Itu alasan yang cukup kuat untuk pergi dan melupakan”
“Dan dia menginginkanmu kembali…”, tandasnya, “Bagian itulah yang tidak kumengerti. Karena ada satu hal yang tidak pernah kau ceritakan dan sepertinya…sesuatu di antara kau dan orang itu sepertinya belum selesai”
“Sudah, Shane…”, ujarku, “Aku sudah mengakhirinya”
“Tapi, dia tidak”, tegas Shane, sambil berbalik, menatapku, “Apa yang akan kau lakukan?”
“Kau mau aku menyelesaikannya?”, tanyaku, mendekat, untuk memastikan dia tidak sedang berkecil hati. Aku ingin meyakinkannya.
“Pertama kali bertemu denganmu aku merasa kau membenci semua pria di dunia dan aku tidak percaya itu hanya karena hanya satu orang”, Shane berkata, “Butuh usaha keras bagiku untuk membuka matamu bahwa aku tidak seperti itu dan aku masih tidak mengerti, kenapa sepertinya kau masih terkungkung oleh kebencian itu…”
Aku menghela nafas saat duduk di sisi kursi roda agar bisa bersandar padanya, “Maafkan aku…”,ucapku, “Aku harus membenci untuk melupakan semua yang dia lakukan padaku”
“Apa ini bukan pertama kali orang itu mencoba untuk mengejarmu kembali?”, tanya dia dan aku menelan ludah.
Aku menggeleng pelan, sekali, “Aku tahu dia berusaha mendapatkanku lagi.Dia mencariku, menghubungiku, memohon agar aku kembali tapi… dengan membayangkan semua hal menyakitkan yang dia lakukan saja...aku lebih dari yakin untuk menghilang”,jelasku.
“Sembilan tahun…”, katanya, terlihat sangat sedih, “Dia masih berusaha untuk mendapatkanmu, Faia…”
Aku tersenyum dengan pasti, sambil menggenggam tangannya dan menaruhnya di dadaku, “Kau tahu, bahwa hatiku adalah milikmu, Sayang…”, kataku, “Sampai kapan pun, aku akan selalu menjadi gadismu…”
Shane pun tersenyum, “Aku tahu kau akan mengatakan itu”, katanya, sekarang terlihat mulai tenang. Menarik nafas panjang, ia menyandarkanku ke sisinya, “Pergilah. Katakan padanya kalau kau adalah gadisku…”
Aku mengangguk-angguk, mempererat pelukanku di pundaknya.
Saat aku membongkar barang-barangku, sudah tidak ada lagi perasaan sesak yang menyiksa setiap aku melihatnya.Lembaran-lembaran foto dan sebuah kado biru yang tidak pernah kuserahkan pada ulang tahunnya.Kami bahkan tidak bersama sampai setahun, tapi dia memberiku cobaan yang beratnya seperti telah berhubungan bertahun-tahun –ya seperti itulah ‘dia’ menyiksaku sampai aku bahkan tidak ingin menyebutkan namanya hingga sekarang.
Aku datang ke pesta itu untuk menunjukan bahwa tidak ada satu hal pun darinya yang tinggal di kepalaku. Ketika memandangnya lagi, sudah tidak ada perasaan sakit atau kecewa seperti saat aku meninggalkan San Fransisco demi melupakannya –apalagi cinta.Semua itu sudah tertinggal di dalam kado yang terpaksa harus kuserahkan juga namun sudah tidak berarti lagi bagiku.
***
Aku masih ingat bau uang dalam amplop yang diberikan Gemma.Dengan putus asa aku mengantonginya dan mengirim Shane ke rumah sakit setelah itu.Dan sekarang, aku berada di sini menangisi semua yang kulakukan hanya untuk mendapatkan kehidupan kami yang dulu.Aku membunuhnya.
Seseorang mengetuk pintu dan aku hampir tidak mendengarnya karena berada di dalam ruangan di dalam sebuah kamar Barbie.Entah berapa lama aku duduk diam dan air mataku tidak bisa berhenti mengalir.
“Miss Grayson”, suara seorang perempuan terdengar di balik pintu. Wanita yang biasa datang untuk membereskan kamar dan memunguti baju-baju kotor untuk mencucinya.
“Mrs. Grayson”, aku mengingatkan sekali lagi bahwa aku bukan seorang gadis lajang. Aku sudah menikah.
“Hm…maaf, Mrs. Grayson…”, wanita itu tertunduk, lalu kembali menatapku dengan tidak enak, “Aku ingin membereskan kamarmu”
“Tidak”, kataku, “Kau tidak perlu melakukannya…aku bisa sendiri…”
“Tapi, Mr. Lee…”
“Dia mengenalku dengan sangat baik dan dia tidak akan keberatan dengan itu”, tegasku sebelum menutup pintu.dan menyandar di sana dengan lelah.
Aku hanya punya sebuah buku untuk ditulis.Setidaknya untuk membuatku merasa lebih baik.Karena aku tidak punya teman untuk mengungkapkan perasaan sakitku. Dan tempat ini lebih seperti penjara daripada sebuah istana…
Jika saja aku punya tempat lain untuk pergi, aku tidak akanberada di sini.
Shane, andai saja kau masih berada di sini…
Komentar
0 comments