๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Maafkan aku…”, ucap Shane dengan suara lemah dan ia berusaha bernafas dengan benar dengan alat bantu. Suaranya lirih dan sedih, aku berusaha menajamkan pendengaranku untuk mendengar satu persatu kata yang keluar dari sana.
Aku menggeleng, “Kau tidak perlu minta maaf padaku…”, ujarku, sambil bersandar di sisinya, “Melihatmu masih di sini bersamaku, sudah lebih dari cukup”
Perlahan matanya mulai terpejam karena aku memintanya untuk istirahat dan tidur.Lalu aku tidak kuasa menahan tangisku sendiri memandangi wajahnya dan sekujur tubuhnya yang tidak berdaya.Hari-hari yang berat harus kujalani setelah kecelakaan itu dan kekasih yang kucintai harus kehilangan kedua kakinya.
Aku pikir semua itu sudah terlalu buruk bagiku. Namun, tidak pernah ada kata menyerah untuk terus berada di sampingnya, menemaninya sama seperti saat ia mendampingiku di saat-saat terburukku dulu. Aku tidak meninggalkannya, dan tidak pernah ingin melakukannya.Walaupun Shane harus menggantungkan hari-harinya pada kursi roda dan bantuanku.
Perlahan semua mulai berubah.Aku mulai merindukan hari-hari yang kami lalui dengan bebas, mengendarai mobil dan berenang di pantai. Karena tahu, itu tidak akan terjadi lagi.
Shane menjadi pendiam.Senyum yang pernah membuatku jatuh cinta padanya, jarang terlihat dan perlahan menghilang dari bibirnya. Setiap hari, ia hanya memandangi jendela dan tampak sangat merindukan dunia luar di mana seharusnya ia berada. Tapi, setiap kali aku mengajak untuk jalan-jalan sebentar ia selalu menolak. Parahnya, itu dengan sikap yang kasar.
“Pergilah”, katanya tiba-tiba, suaranya ketus dan ia tidak mau menatapku. Aku pikir dia menyuruhku keluar sendiri, tanpa dirinya.“Aku tidak ingin kau menyia-nyiakan hidupmu dengan pria yang tidak berguna seperti diriku”
“Apa?’, aku terkejut.Aku mencoba mencari wajahnya yang tersembunyi oleh sosok belakang yang dingin dengan aura panas yang tak bisa tersentuh. “Kau tahu aku tidak akan meninggalkanmu”
“Jangan mengasihaniku!”, bentaknya dan ludahku tertelan. Tanganku mulai gemetaran menahan tangis sampai rasanya aku ingin memohon agar ia tidak mengatakan hal-hal seperti itu lagi.
Aku tidak ingin meninggalkannya. “Aku mencintaimu, Shane…”, ucapku, bersandar pada kursi rodanya.Tidak pernah kami berada dalam situasi semenyedihkan ini sebelumnya.
Shane diam. Tidak bergeming dari tempatnya.Hingga aku berhenti menangis, tapi aku tidak pernah beranjak dari sana.
“Maafkan aku…”, katanya –suara itu melemah, “Aku tidak mendengarkanmu…”
Aku menggeleng, berharap ia tidak akan meneruskannya. Karena Shane sudah mengatakannya berulang-ulang. Bahwa ia sangat menyesal.
“Aku membahayakan diriku sendiri dan sekarang kau harus tinggal dengan seseorang yang tidak bisa melindungimu…”, katanya.
“Cukup, Shane…”, pintaku, bergerak ke depan untuk bisa memandang wajahnya dan kulihat, ia meneteskan air mata. “Please…”
Shane menggeleng-geleng, “Aku harusnya melindungimu, kau tahu…”, katanya, “Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu…sekarang, aku tidak ingin kau menghabiskan waktumu untuk menjaga orang cacat sepertiku, apa kau mengerti? Aku hanya ingin kau bahagia…”
“Aku bahagia bersamamu!”,kataku.
“Tapi, aku tidak bisa membahagiakanmu!”
“Kau sudah membahagiakanku!”
Shane tertegun beberapa saat, “Aku…merasa sangat tidak berguna…”
“Tidak…”, aku menggeleng lagi, “Kau sangat berarti untukku, lebih dari yang kau tahu, Shane…dan…kau masih bisa disembuhkan. Ini hanya soal waktu. Kumohon, bersabarlah…kita akan kembali seperti dulu lagi…”
Shane tertawa lirih, masih terlihat putus asa di wajahnya yang tertunduk sedih, “Aku akan sangat menyusahkanmu…”, katanya.
“Tidak…”, ujarku, meraih ujung rambut di atas dahinya dan membelai lembut puncak kepalanya agar ia menatapku, “Tetaplah bersamaku…”
Perlahan senyum lirih itu mulai berubah. Dengan menarik garis bibirnya sedikit lebar, ia mulai tertawa, dan aku menghapus air mata yang aku tidak ingin melihatnya lagi. Bagiku semua sudah cukup untuk bisa bersama –selamanya.
“Apa kau masih mau menikah denganku?”, tanya Shane tiba-tiba saat aku memeluk pundaknya yang gemetaran.
Aku melepasnya, menatapnya lalu balas tersenyum, “Aku selalu menunggu kau mengatakannya”, ucapku bahagia.
“Sekalipun dengan laki-laki berkursi roda yang tidak akan bisa menggendongmu saat malam pertama?’, tanya dia.
“Kalau kau tidak keberatan aku yang akan melakukannya untukmu”, candaku, sambil tertawa, sebelum kedua tangannya menarik kepalaku dan wajahnya tepat berada di depan wajahnya.
Rasa ciuman itu masih sama seperti saat kami pertama kali melakukannya. Aku memejamkan mataku saat bersandar di pelukannya dan aku merasa sangat yakin –tiada kebahagiaan lain yang bisa menjadikanku seperti ini, yaitu utuh.
Aku tidak menyangka bahwa pernikahanku adalah dengan seorang pria yang menungguku di altar dengan duduk di kursi roda. Namun begitu, di sana telah menunggu sebuah suka cita abadi yang mungkin tidak akan kutemukan dengan orang lain. Aku telah mengalami hal-hal yang buruk di sini semenjak remaja –orang tua yang meninggal, cinta yang kandas dan kecelakaan yang tragis.Begitu aku berdiri di hadapannya dengan seikat bunga, semua itu sirna dan seolah tak pernah terjadi.
Aku berlutut di depan Shane agar ia menyibakkan cadarku dan melihat betapa cantiknya aku hari ini untuknya. Jantungku berdegup keras, walau ini bukan pertama kali aku merasakan bibirnya menyentuh bibirku tapi kali ini kami melakukannya di dalam ikatan yang suci.Itu adalah hari paling bahagia yang pernah kurasakan dalam hidupku.
Apa yang menandakan cinta sejati dan tidak bagimu? Bagiku seperti keajaiban yang berlimpah dan ada cahaya di atas kepala yang menuntun langkahku dan Shane saat kami meninggalkan gereja. Sebelumnya aku tidak pernah membayangkan sebuah pernikahan, bahkan aku merasa bahwa aku belum pantas untuk sebuah pernikahan yang manis.Yah, pesta pernikahan kami sangat berbeda saat aku mendorong kursi rodanya sepanjang jalan menuju rumah.Kami sudah tidak punya apa-apa saat itu karena kami telah menukar semuanya dengan kebahagiaan ini.
Lalu seperti terlahir kembali, kami memulai dari nol untuk bisa hidup dan memiliki uang.Shane masih punya harapan untuk bisa berjalan lagi jika melakukan operasi.Aku kembali ke klub untuk menyanyi meskipun aku tahu Shane sangat tidak menyukainya.Tapi, kami bahagia.
Andai saja… kami tetap bersabar dengan keadaan itu…
***
Komentar
0 comments