[Hal.10] SHE KNOWS - Baca Cerbung Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Pesta-pesta lainnya berlalu dengan cara yang hampir sama. Kalau bukan di pantai, mungkin bisa berada di jalanan saat balap liar akan segera dimulai.Aku meninggalkan klub sejak kami tinggal bersama di apartemen Shane.mSebelum balapan, dia meminta sebuah ciuman keberuntungan dariku agar bisa memenangkan ratusan ribu dollar untuk pesta di Vegas atau Cali. Setidaknya, hanya untuk minum dan pulang dalam keadaan mabuk.

“Katakan kau akan baik-baik saja”, ujarku, sebelum melepas pelukan dan teman-teman Shane yang lain berteriak agar aku tidak bertingkah manja.

“Tentu, Sayang…”, dia menciumku lagi sebelum naik ke mobilnya.

Selama dia tidak ada di sisiku, aku membuat doa-doa yang rasanya terlalu konyol hanya agar ia bisa memelukku lagi nanti. Semua doa itu terkabul dan begitu ia turun dari mobilnya dia akan mengejarku, mengangkat tubuhku di antara ratusan kepala dan berterima kasih atas ciumannya. Tapi, itu tidak menjamin kebahagiaan bagi kami.

“Aku hanya ingin kau berhenti”, kataku, merajuk setiap kami membicarakan tentang penghidupan yang lain selain mempertaruhkan nyawa dalam kecepatan. Aku hanya merasa takut bilamana hal yang dia sukai ternyata malah merenggut nyawanya.

“Kita sudah membicarakan ini dan kau tahu betul aku tidak punya pekerjaan… tidak mudah bagi orang sepertiku untuk menemukan pekerjaan…”, katanya, tampak acuh, “Bagiku ini profesi”

“Lalu apa kita bisa terus bersama dengan profesimu itu?!”, teriakku, memaki di depannya dan Shane langsung berdiri dari kursinya membalasku.

“Itulah kenyataannya! Kita masih bersama! Sejauh ini!”, tegasnya.

Aku mengambil langkah mundur.Karena setiap aku berdebat dengannya aku selalu kalah sampai aku memilih pergi keluar dari rumah sementara waktu untuk menenangkan diriku. Biasanya aku akan ke tempat Gemma, menginap beberapa malam di sana sampai ketegangan mereda.

Tapi, malam itu Shane mengejarku.Tampak tidak mengizinkan jika harus pergi hanya untuk menghidari keributan dengannya.

“Faia, maafkan aku…”, katanya, menarik lenganku dan aku masih bersikeras pergi dengan melepaskan diri darinya. “Aku tidak ingin kau pergi setiap kali kita bertengkar karena masalah ini…”

Aku diam. Menatapnya jenuh. Menunggu apa yang akan dia katakana untuk membujukku agar kembali ke dalam, bersamanya.

“Aku mengerti”, katanya, “Aku mengerti kecemasanmu soal balapan itu dan bukannya aku tidak pernah memikirkan jalan lain agar kita tetap bisa hidup bersama. Aku sungguh-sungguh, dan kali ini…kumohon, beri aku kesempatan untuk menyelesaikannya sebentar”

“Maksudmu?”

“Kau tahu Dailey Rae?”, tanya dia.

Aku mendecak. Langsung tidak tertarik untuk mendengarnya lebih jauh. Aku memang benar-benar ingin pergi, memberinya waktu untuk berpikir atau melakukan apa yang dia suka dengan catatan aku tidak akan kembali tinggal di sana bersamanya.

“Faia, kumohon dengar…”, pintanya menarik lenganku.

Aku memaksa melepaskan diri untuk ke sekian kali. Berlalu darinya dengan langkahku yang kedinginan, aku tidak peduli dengan larut malam musim gugur yang membuatku memeluk diriku sendiri.

“Faia!”, Shane belum menyerah. “Ini taruhan besar. Jika aku memenangkannya, kita akan hidup berkecukupan dan aku tidak perlu kembali balapan di jalan”,

“Aku tidak masalah dengan kembalinya kau ke jalanan”, kataku, tetap berusaha menjauh, “Tapi, balapan untuk mafia seperti itu, kau tahu tidak hanya berhadapan dengan kematian. Kita akan terjebak”

“Aku sudah membuat perjanjian dengannya”, jelas Shane.

“Dan yakinkan aku bahwa aku tidak menjadi bagian dari pernjanjian itu”

“Tentu saja tidak, Sayang.Mengapa aku melakukan itu?”

Aku menghentikan langkahku, menatapnya serius dan sungguh-sungguh. “Kau mau berjanji ini terakhir kalinya kau menaruh nyawamu di dalam mobil balap?”, tanyaku.

Shane mengangguk, “Aku sudah mengatakannya padamu, aku akan melakukan apapun untukmu”, ujarnya, berada tepat di depanku.

“Berjanji tidak akan meninggalkanku?”

Shane mengangguk dan mengembalikanku ke dalam pelukannya

Sehari sebelum balapan, kami kembali ke pantai untuk berenang bersama kelompok yang biasa berpesta sampai pagi.Sebelum balapannya yang terakhir dan entah kenapa aku menjadi lebih takut dari biasanya.

Dengan Volvo yang ia dapatkan dari Rae, Shane tampak sangat yakin ia akan memenangkannya. Seperti biasa ia meminta sebuah ciuman keberuntungan sebelum naik mobil dan melaju. Dalam penantian yang kurang dari tiga puluh menit itu, aku kembali mengatupkan tanganku dan berdoa –semoga dia baik-baik saja.

Tapi, Volvo hitam putih itu tidak juga mencapai garis finish dan banyak orang sudah menunggunya dan semakin tidak sabar.

Aku membuka mataku, kerumunan yang tadi berdiri di pinggir jalan memecah, menyebar menyambut sebuah mobil yang kembali dengan selamat.

Tidak ada Volvo yang berada di garis finis.Melainkan BMW kuning emas yang bemper depannya hancurdan hampir lepas dari posisinya. Pengemudinya melompat keluar begitu ia berhenti melewati garis finis.

“Di mana Shane?”, teman-teman timnya mulai panik.

Aku menerosbos kerumunan itu, mencari tahu di mana Shane dan mobilnya.

“Maafkan aku, Bro”, kata si pengemudi berkulit hitam itu, menggeleng prihatin, “Dia tertinggal jauh di belakang…”

“Shane kecelakaan!”, seru salah seorang yang baru saja menerima telpon dan dalam sekejap perasaan saat aku mendengar ayahku tewas dalam kecelakaan kembali menghantuiku.

Ya, duniaku berhenti berputar.Keramaian, suara-suara gaduh di sekitarku hilang dan aku seolah berada di ruang hampa udara.

Aku pikir aku juga akan mati bersama Shane yang tidak selamat.

***
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments