๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Good Liar
Foto-foto yang pernah diperlihatkan Magisa padaku sudah tersebar. Ananda adalah salah satu gadis yang ada di foto itu. Magisa sudah mengakui bukan dia pelakunya. Namun, yang disalahkan justru bukan si penyebar foto, melainkan Saira yang dituduh mengajak teman-temannya ikut terseret dalam prostitusi. Karena itu kemudian ada sekelompok anak laki-laki yang iseng mempermainkannya di sekolah.
Ananda tewas dengan menggantung dirinya pada langit-langit kamar di rumahnya. Sebelum kematiannya, katanya dia terlihat biasa saja. Tidak menunjukan tanda-tanda bahwa sebelumnya ia dilecehkan oleh beberapa orang siswa lelaki di sekolah. Pelaku pelecehan itu sudah diserahkan ke polisi atas desakan seluruh orang tua murid.
Saira juga dikeluarkan dari sekolah dan menghilang. Saat semua orang menyalahkannya, ia bersembunyi seperti pengecut. Saira tidak pernah menjelaskan apa pun. Tidak juga teman-temannya yang lain tentang kebenaran foto—foto yang menimbulkan salah paham itu. Entah apa gunanya mereka bungkam. Barangkali itu sebagai bentuk rasa protes karena Saira dikeluarkan.
“Saira terpukul,” kata Pevita salah seorang teman Saira ketika aku memanggil beberapa orang temannya ke ruang konseling.
Aku menarik nafas panjang. “Keadaan sudah semakin genting,” kataku. “Sudah saatnya kalian bicara. Setelah diusir ibunya, dia pergi kemana?”
Beberapa di antara gadis itu menggeleng. Aku sudah menduganya.
“Kami udah janji...,” kata salah seorang lagi. “Kami nggak bisa bilang.”
“Itu nggak menyelesaikan masalah. Kalian sadar, akan banyak yang terjadi kalau kalian terus seperti ini...,” ujarku, setengah memohon. “Kita semua tahu kalau kalian tidak melakukan kesalahan seperti yang orang-orang kira.”
Mereka masih saja menggeleng. Kali ini tanpa suara lagi.
“Di mana Saira?” tanyaku kemudian
Seorang gadis yang berdiri di dekatku masih menggeleng.
“Jangan menyembunyikan Saira,” kataku.
“Kami juga nggak tahu Saira di mana. Yang jelas dia juga nggak di rumahnya karena Mamanya udah ngusir dia....” jawab gadis lain.
Ya Tuhan....
“Nggak ada yang tahu dia di mana...” tegas yang lainnya seolah memaksaku menyerah untuk mencari. “Terakhir kalinya lihat Saja dua hari yang lalu...dia kelihatan sakit lalu setelah itu pergi....”
***
Magisa akhirnya terjaga dari koma selama seminggu yang membuat semua orang bersedih. Aku menjenguknya di rumah sakit untuk mewakili sekolah. Ia menyapaku dengan senyum ramah dari tempat tidurnya. Tanpa kaca mata juga kawat Magisa yang sepertinya harus dilepas karena benturan di anak tangga kabarnya juga melukai bagian dalam mulutnya.
“Apa kabar, Pak Sidney?”
“Baik...,” jawabku sambil tersenyum. “Gimana keadaan kamu?”
“Saya udah lebih baik,” ucap dia.
“Jadi kapan kamu keluar dari sini.”
“Harus ada beberapa tes lagi. Mungkin Minggu depan saya sudah bisa ke sekolah.”
“Secepat itu?”
“Ya, saya sendiri juga nggak nyangka. Di sini ngebosenin, Pak. Saya nggak betah,” katanya.
Aku mengangguk-angguk dan memikirkan apa lagi yang bisa ditanyakan sebagai formalitas kunjungan ini.
“Gimana kabar Saira?” tanya dia dan aku cukup terkejut.
“Saira sudah dikeluarkan dari sekolah.”
“Apa?” Magisa tampak terkejut. Aneh.
Aku benar-benar tidak ingin membicarakan tentang Saira berikut akibat perbuatannya. Magisa tidak tahu bahwa ada kejadian besar di sekolah ketika dia dirawat hampir sebulan lamanya. Seorang siswi bunuh diri –salah seorang teman Saira yang mendapat pelecehan seksual di sekolah.
Magisa tertunduk. Yang membuatku tidak mengerti adalah mengapa dia terlihat sedih? Bukankah itu yang dia inginkan selama ini? Membuat Saira dikeluarkan dari sekolah?
“Dia harus menerima hukuman itu,” kataku, mencoba tersenyum. “Kamu, harus cepat sembuh. Mungkin ada yang kangen dengan tulisan Mading kamu.”
“Sidney,” panggil dia tiba-tiba dan aku terkejut. Dia menatapku dengan penuh permohonan. “Aku boleh juga manggil begitu ‘kan? Seperti Saira? Kita juga nggak lagi di sekolah.”
Aku diam saja. Aku tidak perlu menanggapi hal itu dengan serius terlebih dia hanya seorang gadis yang sedang sakit.
“Maafin aku, ya?” kata dia dengan suara yang pelan sekali. “Semuanya salahku.”
“Soal apa?”
Dia menatapku penuh penyesalan. “Saira dan semuanya....,” kata dia, lalu menangis terisak-isak.
Aku tidak tahu akan mendengar semua kebenaran itu di saat aku tidak lagi memerlukanmya. Sambil menangis, Magisa mulai bercerita tentang penyesalan nya. Tapi, bukan penyesalan karena telah berhasil menyingkirkan Saira dari sekolah, tapi penyesalan karena kebohongannya itu menyebabkan tewasnya seorang siswi dengan cara bunuh diri –rupanya dia sudah mendengar itu dari orang tuanya.
***
“Magisa,” kataku dengan pasti pada kepala sekolah saat pertemuan menanggapi tuntutan orang tua murid agar sekolah menuntaskan masalah itu. “Magisa harus mengakui bahwa foto-foto Saira adalah kebohongan.”
“Satu nyawa sudah melayang, Sidney,” tegas dia. “Kalau benar ada prostitusi itu harus diserahkan ke polisi supaya diusut.”
“Jangan,” tegasku. “Kalau begitu beri saya waktu. Ini hanya tuduhan Magisa yang dia lakukan karena sakit hati. Kita harus punya cukup bukti untuk membawa ini ke polisi karena kalau benar itu nggak terbukti, justru sekolah yang terkena imbasnya.”
“Lalu gimana dengan foto-foto memalukan yang terlanjur tersebar itu?”
“Lelaki di foto itu bukan lelaki hidung belang,” kataku lagi. “Itu ayahnya. Dia sudah lama nggak bertemu dengan ayahnya dan dia mengajak teman-temannya juga untuk menjemput ayahnya di bandara.”
Mereka semua terkejut sama seperti saat aku baru mendengarnya dari Magisa yang menangis tersedu-sedu mengakui semua kebohongannya.
“Itu bukan foto yang diambil dengan sengaja untuk disebarkan,” kataku lagi.
Aku tahu Magisa mengambil foto itu hanya untuk menunjukkannya padaku agar aku menjauhi Saira. Mereka tidak melakukan hal-hal yang dituduhkan selama ini.
“Kalau itu memang ayahnya, kenapa teman-teman mereka nggak mau menjawabnya?”
“Saira dan teman-temannya punya semacam janji untuk nggak bicara sama orang dewasa yang dianggap nggak akan mengerti,” kataku. “Mereka seakan didoktrin untuk menyimpan rahasia.”
Dan Magisa mencoba menjadi bagian dari mereka, hanya saja dia sudah terlanjur membuat Saira marah dan mungkin teman-teman Saira tidak menyukainya.
***
Ke mana lagi aku harus mencarinya?
Aku kehilangan jejak. Hampir putus asa, saat itu aku hanya bisa meninggalkan jejakku dan berharap jika bukan aku yang mencarinya, dia yang akan datang padaku. Aku menuliskan pesan pada selembar kertas kecil.
Jika saat itu ia menuliskan gambar matahari yang seperti obat nyamuk bakar itu untuk mengajakku keluar dari sekolah, aku membuat sebuah simbol rumah. Aku akan selalu menunggunya di sana. Dia bisa datang kapanpun. Aku menitipkan surat itu pada salah seorang temannya karena mereka pasti akan bertemu dengan Saira nanti.
Lama aku menunggu tapi dia tidak pernah menemuiku. Mungkin dia kesal dan marah padaku, atau mungkin benci padaku karena telah meragukannya. Bahkan sampai akhirnya Magisa tampil di depan umum untuk membongkar semuanya karena merasa bertanggung jawab atas kematian Ananda, Saira juga tidak pernah muncul. Kurasa setelah semua orang tahu kebenarannya, dia merasa tidak perlu menemuiku lagi.
Ya, tanpa disadari semua mulai mendekati akhir.
***
Komentar
0 comments