[Ch. 9] PRETTY LITTLE BASTARD

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Dream Comes True

Sydney, Australia....

Kenyataannya Saira tidak pernah kembali untuk membalas. Jika dia ingin kembali, sudah pasti dia muncul dan mengacaukan kami. Tapi, yang aku tahu Saira bukan seorang pengacau. Betapapun berantakannya dia, dia tidak pernah membalas kejahatan dengan cara menghancurkan orang lain. Aku tahu itu. Lagipula   enam tahun   adalah waktu yang lama. Sebagaimana aku telah melupakannya, mungkin dia juga sudah menemukan kebahagiaannya.

Bisa saja saat ini, dia menjadi model majalah di tempat lain dan terkenal. Atau tengah menikmati indahnya ladang bunga matahari di satu negara. Entah. Dia bukan lagi gadis kecil yang membenci orang dewasa karena saat ini pun dia sudah dewasa. Atau barangkali telah menikah dan memiliki seorang anak; bisa jadi beberapa anak.

Aku tersenyum kepada bunga matahari yang hampir layu di dalam vas besar  di tengah-tengah kantorku. Lalu Vanessa, sekretarisku tiba-tiba muncul bersama Reggina dan Beatriz.

“What’s so good with the almost-dried sunflower?” tanya Beatriz sembari membuka lengannya untuk memelukku. “Satu bulan kamu ninggalin aku dan Reggy dengan banyak kerjaan, Sid.”

Aku terkekeh. “I promise that I won’t do that anymore...” kataku sambil menepuk punggunnya pelan. Lalu giliran Reggina memelukku.

Kedua adik perempuanku segera mengambil tempat duduk di sofa selagi Vanessa berdiri di dekat meja bunga matahari. Aku hampir lupa satu hal karena kehadiran kedua adikku yang mungkin akan menatarku setelah ini.

“Vanessa, can you do me a favor?” tegurku sebelum perempuan berambut pirang itu berlalu dari ruanganku.

“Yes, Sid?” sahut dia, penuh perhatian.

“Would you like to call someone to get rid of this sunflowers?” kataku.

Dia tampak heran; memandang bunga matahari itu lalu aku. “Oh do you want me to bring the new ones?” tanya dia.

“No need to,” jawabku. “Just get rid of them.”

“No flowers anymore?” Vanessa sedikit kelihatan bingung.

“Yes. Do it quick,” kataku sambil menuju ke sofa. Lalu berbalik sebelum Vanessa menghilang di balik pintu. Or you can replace with other kind of flowers!”

Vanessa masih kelihatan heran. Dia mungkin merasa aku agak aneh sejak pergi. “Artificial or real one?” dia masih bertanya setelah menarik gagang pintunya.

“Whatever,” jawabku dan langsung duduk menghadapi kedua adikku yang saling tertawa; sepertinya mereka sedang mengejekku.

“That is so weird, you’re mad at sunflowers?” Beatriz terang-terangan meledekku. “Apa salah bunga matahari itu sampai kamu menyingkirkannya? Apa yang dia lakukan?”

“Aku pikir kamu suka bunga matahari dan setahuku dari kecil kamu nggak pernah suka dengan yang namanya bunga. Jadi, karena di ruangan ini selalu harus ada bunga matahari, kayaknya itu spesial,” Reggina ikut berkomentar.

“Jadi kita mau ngomongin soal bunga matahari sekarang?” balasku dan mereka tertawa sambil menatap satu sama lain.

Reggina mulai bergabung dengan perusahaan setelah lulus kuliah jurusan manajemen pemasaran. Dia memang mempersiapkan dirinya untuk mengelola perusahaan tapi karena terlahir sebagai anak perempuan, dia tidak mendapatkan prioritas sepertiku. Selain itu, saat ayah kami meninggal dia masih dalam kuliah sehhingga Reggina baru bisa bergabung dua tahun setelahnya. Pembawannya tenang dan logis,  tapi terkadang ia bisa terlihat menakutkan; Reggina adalah Mummy dengan versi yang lebih muda.

Sedangkan Beatriz adalah si bungsu. Sama sepertiku, dia tidak terlalu berminat masuk perusahaan karena hobi bermain musik. Tapi, karena satu kali aku pernah hampir membuat perusahaan ini bangkrut, ia terpaksa terjun untuk memberi bantuan. Sejak itu kami terjerumus di sini. Sering terlibat perdebatan sengit, terutama aku dan Reggina. Dan Beatriz selalu berada di posisi yang mendamaikan dengan kelucuannya.

Aku pikir kami bertiga sudah saling melengkapi.

***

“Jadi ada hal penting apa?” tanyaku, memulai pembicaraan serius.

Beatriz langsung kelihatan malas. “Sudah basi, Sid,” katanya lalu tertawa. “Aku pikir nggak lama setelah di telepon, kamu langsung terbang. Tapi, ternyata kami harus menunggu sebulan. Dan herannya Mum bisa tenang selama itu.”

“He’s married now, Triz...,” kata Reggina meliriknya sejenak sebelum menatapku. “That’s why....”

Aku tertawa. “Why is so serious?” balasku.

“We got that,” sahut Reggina, dia mulai menatapku serius ala Scarlett Johanson. “Karena itu kita membuat keputusan.”

“Keputusan apa?” tanyaku mulai penasaran.

“Aku mengambil alih perusahaan,” jawab Reggina dengan jelas.

“Apa?” aku sangat terkejut. Kenapa mereka tidak mengatakannya dari awal? “Kalian memutuskan begitu saja?”

Beatriz mengangguk dengan cepat sementara aku membutuhkan jeda untuk mencerna kata-katanya lebih du. The problem is... kalau kamu ada di dalam diskusi, kamu pasti bilang nggak apa-apa, demi janji sama Daddy,” potongnya, ikut-ikutan menatapku serius. “Sementara kami tahu, kamu merasa kalau kamu nggak mampu menggantikan Daddy.”

“Apa maksud kalian?”

Beatriz menghela nafas sementara Reggina diam.

“Kenapa aku sama sekali nggak diberi tahu apa-apa?!” protesku.

“You’re not belong here, Sidney,” Reggina mempertegas.

Aku berdiri dari kursiku dan merasa sangat marah. Seperti baru saja di usir dan mereka baru mengatakannya sekarang?

“What’s this all about?!” tanyaku tidak sabaran.

“Yang mau Reggina bilang adalah kami tahu kalau kamu sebenarnya nggak menginginkan ini,” jelas Beatriz lagi. “Kamu harusnya jadi psikolog, bukannya pengusaha. Itu dua hal yang bertolak belakang.”

Aku diam, menyimaknya baik-baik karena kemudian aku merasa bahwa mereka merasakan apa yang kurasakan selama ini.

“Coba pikir, mana ada bos yang mengizinkan karyawannya manggil dengan nama? Kalau dipikir-pikir kamu kebanyakan empati sama karyawan dan di satu sisi itu nggak bagus untuk seorang pemimpin. Kamu sering nggak menempatkan  diri sebagai seorang pemimpin di saat  itu harus,” lanjut Beatriz. “Itu yang bikin kamu sulit untuk membuat keputusan. Karena ini bukan dunia kamu, that’s it.”

“Lagipula sekarang Magisa kembali ke Indonesia. Kalian hanya berdua dan kami nggak ingin rumah tangga kalian jadi berantakan hanya karena berpisah jauh,” Reggina tersenyum padaku. “Kamu masih bisa jadi psikolog kalau kamu mau.”

“We’ll take care  of things here,” ujar Beatriz kemudian. “Just get home to where you belong, Sidney....”

Di bawah sadarku, aku selalu dirantai oleh sesuatu yang berat hingga tidak mampu berjalan. Mimpi itu mungkin mengasosiasikan keadaanku di dunia nyata selama ini. Namun, setelah hari aku bicara dengan kedua adikku, aku merasa saat itu mereka melepaskan satu persatu rantai yang mengikat kaki dan tanganku. Mereka menggantikanku untuk menarik beban berat itu.

Aku sudah tidak sabar ingin memberi tahu Magisa bahwa aku sudah bisa pulang ke sisinya. Namun sebelum itu aku harus menyelesaikan pekerjaanku yang masih tersisa sebelum menandatangani beberapa surat penting yang mengukuhkan bahwa Reggina adalah penggantiku. Kupikir aku akan memberinya kejutan dengan pulang tanpa kabar, ya itu ide yang bagus.

Apa aku perlu menaruh bunga mawar di kamar sebagai bagian dari kejutannya? Aku semakin tidak sabar. Walau itu artinya, kemungkinan besar aku akan menghabiskan sisa hidupku di Jakarta. Betapa aku tidak menyukai Jakarta, karena terkadang jujur saja... kenangan itu masih menghantuiku. Aku hanya tidak pernah mengakui bahwa dia masih sering hadir dalam mimpiku.

***

Aku mengendarai Cadillac-ku menuju rumah Reggina dan Beatrize untuk acara makan malam sebelum berangkat ke Indonesia.

 “Kamu sama sekali belum bilang Magisa?” Beatrize bertanya. Ia sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk kami selagi Reggina belum pulang.

Surprise,” jawabku sambil menghampiri untuk melihat apa yang bisa kubantu untuk makan malam spesial kami.

Beatrize tersenyum, sementara tangannya sibuk mencincang daging. Dia ingin membuat pie daging dan sup kacang polong. Aku bisa melihat semua bahan sudah disiapkan di atas meja oleh Winnie, pengurus rumah tangga.

“Kamu mau Pavlova?” tanya Beatrize padaku.

“Ya, it would be nice. Satu bulan di Jakarta aku sering makan mie cup instan, lontong sayur dan krupuk,” jawabku sambil tertawa.

“Oh ya?” Beatrize ikut tertawa.

“Magisa sudah bosan dengan menu barat,” jelasku, “Semua itu nggak ada di sini,”

“Tapi, kita kehabisan whipped cream,” katanya. “Can you get it from the store?”

Aku mengangguk dan segera mencari kunci mobil. Sudah lama aku tidak disuruh belanja ke toko yang berada cukup jauh dari rumah. Dalam perjalanan aku menyempatkan diri menghubungi Magisa.

Apa dia sudah selesai dengan maketnya?

“Kamu menelpon di saat yang tepat!” kata Magisa padaku, bahkan di saat aku belum menyapa sama sekali; kedengarannya buru-buru. “Aku mau ketemu klien dan presentasi. Nanti aku telepon lagi. Daag! I miss you!”

Aku tertegun lalu tertawa setelah panggilan itu langsung terputus kurang dari satu menit saja. Aku lupa, hari ini adalah hari ia mempresentasikan design yang dibuatnya ke klien penting yang selalu ia tunggu. Pasti dia berdebar, pikirku sambil membelokan mobil memasuki parkiran sebuah pusat perbelanjaan di pusat kota Sydney. Aku tidak tahu tempat lain yang bisa dituju untuk belanja, jadi melihat supermarket, aku pastikan aku akan berputar-putar untuk mencari whipped cream.

Aku memasukan lima kaleng whipped cream ke dalam keranjang, kemudian langsung menuju ke kasir yang berada di dekat pintu keluar. Karena ada pelanggan lain, aku harus mengantri.

Sekilas aku memperhatikan kernyitan di dahi sekuriti yang tampak menunggu pelanggan di depanku merogoh saku jaketnya; mungkin mencari uang receh untuk sekaleng minuman yang dia ambil dari rak.

“Hurry up, please...” kata lelaki kulit hitam itu, tapi si dia masih saja merogoh saku-sakunya seakan kehilangan sesuatu; mungkin dompetnya. Tapi, bisa jadi juga dia tidak punya sepersen pun di dalam kantongnya. Karena dia kelihatan seperti berandalan. Berandalan biasanya selalu memaksa penjaga swalayan untuk memberinya minuman gratis. Aku khawatir bila tiba-tiba orang ini menodongkan pistol dan meminta kasir membuka kotak uangnya.

Aku melihat punggung yang kurus ditutupi jaket hitam bertudung. Aku tidak bisa memastikan apakah dia laki-laki atau perempuan dari belakang. Tapi, memperhatikan blue jeans robek membalut sepasang kaki yang amat kurus itu, posturnya lebih mirip seperti perempuan. Ya, dia ternyata berambut panjang, dan helaian rambut hitam legam itu terurai keluar dari tudung kepalanya menutupi wajahnya. Aku pastikan dia adalah seorang perempuan.

Perempuan yang panik; ia tidak terdengar bicara sepatah kata pun pada kasirnya. Dan tampaknya dia memang tidak punya uang, apalagi senjata.

Aku berniat memotong antrian dan melewati gadis itu karena tidak ingin menunggu lebih lama dan membayarkan sekaleng minuman yang harganya tidak seberapa. Tapi, tiba-tiba langkahku terhenti karena aku mendengarnya menggumam dengan kesal; tidak jelas apa yang dia katakan.

“Brengsek!” satu kata itu membuatku tertegun dan seketika menoleh ke belakang, tempat gadis kurus itu berdiri dan mengeluh karena ia tak bisa menemukan uang receh di kantongnya sendiri. Aku tidak menyangka bahwa ternyata dia juga orang Indonesia dan aku lebih kaget lagi saat aku sadar bahwa aku juga mengenali wajahnya.

Gadis itu masih meggerutu sendiri selagi antrian di belakang bertambah panjang, sebelum dia melihat ke arahku.

“Saira?” tegurku setelah kupastikan, seraut wajah tirus yang kini menatapku itu adalah dia.

Dia terlihat lebih terkejut lagi. Hal yang kudengar adalah bunyi kaleng minuman yang menghempas lantai dan berguling entah ke mana; Saira menjatuhkannya tanpa dia sadari.

Aku pikir ini mimpi lagi; di mana kadang-kadang aku bisa menemukannya di mana-mana. Tapi, dalam mimpiku aku tidak menemukannya di tempat seperti ini; aku tidak pernah bermimpi bahwa ternyata Saira juga di Australia.

Aku pikir setelahnya aku akan terbangun di kamarku dalam keadaan nafas tersengal di atas tempat tidur begitu dia lenyap tanpa aba-aba. Tapi, dia tidak menghilang lagi, bahkan di saat aku mendekat selangkah untuk memastikan bahwa yang kulihat benar-benar Saira Gayatri.

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments