๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Morning Sun
Pagi-pagi, aku menangkap basah diriku mengenakan jaket bulu merah marun milik Magisa, dan istriku yang jahil baru saja mengambil gambarku. Aku terjaga, memaksa membuka mata karena kudengar suara tawa Magisa yang tengah merekam dengan ponselnya. Terangnya sinar matahari pagi langsung menusuk mataku, perih. Tapi, tanganku berusaha menggapai ponsel Magisa yang baru mengabadikan pose terjelekku dalam sebuah video.
Magisa tertawa sambil menghindar. Pada akhirnya, aku harus membiarkannya. Aku masih sedikit mengantuk dan... sekujur tubuhku, Ya Tuhan, pegal sekali. Aku memutar badanku, menghadap dinding di mana cahaya matahari tidak akan menangkapku.
“Ini udah pagi, Sayang...,” kata Magisa kembali mendekat.
Aku bisa merasakan ia bernafas di telingaku. Aku bergeming, pada awalnya.
“Sid...,” Magisa mulai memanggil sambil mengguncang-guncang tubuhku. Sampai tiba-tiba aku berbalik dan yang kulakukan adalah merampas ponselnya.
“Gotcha!” seruku dan Magisa langsung menjerit saat aku menangkap tubuhku. Ia memekik sambil tertawa. Aku melihat ke layar ponselnya dan ternyata benda itu masih merekam. “What are you going to do with that picture?”
Magisa menggeleng dalam pelukanku. “Karena aku selalu lihat kamu pakai jas dan dasi,” jawab dia sambil cekikikan.”Jaket merah furr itu bikin kamu kelihatan seksi...,”
“Bohong,” kataku, “Apa cuma itu yang pernah kamu lihat?”
Magisa tampak berpikir lalu senyum-senyum mencurigakan. Sambil menatapku dengan tatapan melecehkan, dia menjawab. “I’ve seen you naked hundred times,” jawab dia terdengar seperti menggodaku.
“Wanna see it once again?” tanyaku sambil menjatuhkannya di atas helaian baju yang mengalasi lantai yang sudah menghangat oleh sinar matahari. Aku menatapnya lekat-lekat saat ia berkata dengan pelan.
“Show me...,”
***
Ponselku berbunyi. Aku mulai menggapai-gapai ke tempat di mana aku membuang celana jeansku. Benda itu tersimpan di saku sejak semalam. Magisa masih berbaring di atas tubuhku dan aku belum ingin menurunkannya karena kulitnya.
“Siapa?” tanya Magisa sambil mendongak saat aku sedang menengok layar ponselku.
“Reggina,” jawabku sebelum mengangkat teleponnya. “Hai.”
“Good morning, Sidney,” sapa adik perempuanku itu.
“Morning, Reg,...” jawabku. Mungkin suaraku terdengar serak dan lelah.
Reggina adalah adik tiriku yang menggantikanku di kantor selama aku pergi.
“Still sleeping?” tannya Reggina terndengar mencurigai. “Or having a really good times?”
Aku tertawa. Heran dia bisa menebaknya dengan benar. “Ada apa?” tanyaku, merasakan Magisa sedikit beringsut agar aku bisa bernafas saat bicara. Dia masih terlihat malas-malasan dan belum ingin bangkit.
“Kapan kamu kembali?” tanya Reggina.
Aku terkekeh. “Aku baru pergi tiga hari,” kataku.“Kami sudah di apartemen. Begitu semuanya beres, aku pasti kembali secepatnya. Apa ada masalah?”
“Nggak juga...,” jawabnya.
Magisa bangkit dia ikut menguping dengan mendekatkan telinganya ke wajahku. Sepertinya dia ingin tahu sekali seolah kalau Reggina menelpon dia akan memberitahukan masalah yang terjadi sepeninggalku.
“Are you happy there?” tanya Reggina tiba-tiba.
Aku mengernyit. “What do you mean?” balasku.
Reggina terdengar menghela nafas. “No, nothing...,” jawab dia. “Kalau semuanya sudah beres, cepat kembali. We got something very necessary to tell you.”
“Bad news or good news?”
“It can be both,” jawabnya. “Just take your time. Be back soon.”
Aku masih bertanya-tanya saat teleponnya ditutup. Lalu kembali menjatuhkan kepalaku di atas lantai yang keras. Tubuhku sakit sekali seperti baru ketindihan saat tidur.
“Jadi kamu harus cepat balik?” tanya Magisa, kedengarannya sedikit kecewa.
Aku tidak menjawab. Hanya membelai puncak kepalanya yang bersandar di bahuku dengan lembut. Baru beberapa saat mulai betah di sini, aku sudah memikirkan akan meninggalkannya sendirian. Itu sangat berat bagiku.
“Aku nggak akan ke mana-mana sampai kita selesai mendekorasi apartemen ini,” ujarku kemudian. “Aku janji mau mengangkat lemari, tempat tidur dan meja-mejanya kan?”
Magisa tertawa pelan. Lalu mengecup pipiku. “Kedengarannya ada masalah di sana. Apa nggak apa-apa?” tanya dia lagi.
Aku menatapnya lekat-lekat, untuk meyakinkannya bahwa semalam adalah pertama kalinya, aku merasa bisa lepas dari pemikiran tentang perusahaan yang membuatku selalu mengenyampingkan dirinya. Aku ingin kami terus seperti ini, menikmati kebersamaan seperti ini setiap hari. Tidur sampai siang dan bermalas-malasan sepanjang hari, makan mie cup instan saat lapar, yang mana belum pernah kami lakukan selama lima tahun menikah.
“You’re all I have,” kataku, meyakinkannya bahwa saat ini aku mampu membuang semua keluh kesah tentang tanggung jawab terhadap almarhum ayahku dan rasa takut tidak bisa membahagiakan dirinya. “Aku nggak membutuhkan apa-apa lagi.”
***
Aku menepati janjiku bahwa sampai semua yang kami butuhkan untuk tinggal di Jakarta sudah ada, tertata pada tempatnya seperti yang Magisa inginkan. Perabotan dan barang elektronik seperlunya untuk mengisi ruang kecil di mana kami bisa menjadi sepasang merpati yang baru saja jatuh cinta.
Setiap hari terasa hangat. Aku tidak ingin beranjak dari tempat tidur cepat-cepat sekalipun rutinitas baru Magisa dimulai. Magisa harus bangun pagi dan berangkat ke kantor. Karena kantornya dekat, aku pikir tidak masalah menahannya sedikit lebih lama bersamaku karena aku tidak biasa tinggal sendiri di rumah. Karena biasanya aku yang selalu berangkat pagi-pagi bahkan di saat Magisa masih ingin bersamaku.
Kami jarang memadu kasih dan tidak bisa benar-benar menikmati saat-saat itu entah karena aku yang kelelahan sepulang dari kantor. Kupikir, Magisa mengalami siksaan batin yang luar biasa selama ini. Akhirnya aku merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan ketika sangat menginginkan sentuhannya.
“Aku harus ke kantor...” kata Magisa sambil turun dari tempat tidur. Entah perasaanku saja atau dia terdengar sangat dingin. Mungkin karena dia sudah telat berangkat kerja dan dia tidak ingin bermesraan sedikit saja denganku.
Tapi, aku belum puas. Aku menarik tangannya dan menyeretnya kembali ke sisiku. Aku menjatuhkan tubuhnya yang polos di atas seprai putih yang kusut lalu memulainya lagi. Namun, kurasakan Magisa tidak bersemangat seperti biasanya. Dia terasa begitu pasrah di dalam keberingasanku. Aku tidak memperhatikan raut wajahnya, mungkin dia kesal karena aku memaksa. Aku juga tidak bicara untuk mengatakan aku tidak ingin dia pergi. Aku begitu menginginkannya.
Lalu aku menatap wajahnya dan terperanjat.
Seraut wajah yang tanpa ekspresi; mata yang menatapku dingin. Aku sadar, dia bukan istriku. Seorang gadis lain berambut hitam legam dan dipotong pendek tak beraturan. Tubuhnya kurus dan kulitnya seputih kapas; pucat sekali; dan juga terasa dingin.
“Sai...ra?” aku menyebutkan namanya dengan gemetar.
Air mata menetes dari sudut matanya. Dia menatapku sambil berbisik, “Sa...kit...,”
Ya Tuhan, apa yang kulakukan?! Hatiku menjerit dan tiba-tiba ia lenyap.
Aku segera bangkit dan menyadari sepi di sekelilingku. Magisa sudah tidak di sisiku. Cahaya matahari pagi yang masuk dari jendela kamar menerangi setiap sudut. Nafasku tersengal dan aku berusaha untuk tenang. Mimpi macam apa itu?
***
Semuanya sudah berubah. Aku tidak tahu di mana gadis itu berada. Kenapa aku masih saja merasa bersalah? Aku sudah berusaha sekuat tenaga bukan? Tapi, tetap saja aku tidak bisa menemukannya. Seolah dia ditelan bumi. Kenapa dia bisa hadir di dalam mimpiku?
“Kamu mikirin apa sih?”, Magisa memelukku sambil menyandarkan seluruh tubuhnya di punggungku. “Pasti pikiran kamu sudah sampai di Sydney, ya ‘kan?”
Aku hanya tersenyum.
“Aku kan udah bilang, kalau kamu mau balik nggak apa-apa. Toh rumah kita udah jadi. Kamu udah bantuin aku menyusun perabotan,” ujar dia.
“Tapi, sekali aku pergi, susah untuk kembali ke sini. Sekali pun itu demi kamu...,” kataku sedikit sedih. Lalu menoleh. Perhatianku kemudian tertuju pada sesuatu yang berada di tengah-tengah ruangan kami. Maket gedung yang dibuat oleh Magisa untuk klien pertamanya. Sudah hampir seminggu kami mengerjakannya bersama walaupun aku hanya kebagian tugas memotong dan mengelem partisi. “Maket kamu belum selesai.”
“Aku bisa selesaiin sendiri kok,” ujarku. “Itu kan udah kerjaan aku dari jaman kuliah....”
Aku menghela nafas. “Seingatku tugas akhir kamu juga aku yang bantu bikin maket nya...”kataku. “Aku sampai ikut begadang menyelesaikan maket kamu yang rusak karena jatuh.”
“Itu beda, Sid. Sekarang ini maket beneran. Aku harus usaha sendiri kalau mau sukses...” katanya. “Kamu ‘kan punya kerjaan juga. Aku nggak mau egois, oke?”
Aku membalikan badanku untuk bisa berhadapan dan memeluknya dengan erat. “Kamu nggak keberatan aku jadi bujangan lagi di sana?” tanyaku dan Magisa terkekeh.
“Jadi bujangan sih nggak apa-apa. Masalahnya kalau kamu punya pacar baru di sana....” kata dia terdengar merajuk. Suara cekikikannya sudah hilang.
“Aku nggak seperti itu,” jawabku sambil melepas pelukanku dan ikut tertawa.
“Tapi kamu pernah seperti itu,” aku tidak menyangka dia berkata seperti itu. “Kamu melakukannya, pada Saira dan Maria.”
“Gi, we have promised not to talk about that ever again,” aku memperingatkan.
Magisa membuang pandang sebelum beranjak dariku. “Talk about what?” balas dia, lalu berbalik untuk menatapku.
“Kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba mengungkit masalah itu?” tanyaku sambil menghampiri.
Seketika dia meneteskan air mata. Tapi, tampaknya belum akan bicara karena dia lebih memilih menjauhiku agar aku berhenti bertanya.
“Magisa?” panggilku sembari menyusul langkahnya. Namun dia mengabaikanku dengan masuk ke kamar; selanjutnya menuju ke kamar mandi. Aku semakin tidak mengerti, mengapa ia bisa menangis begitu mudahnya? “Don’t do this!”
Magisa masih belum mau menjawabku. Aku memberinya waktu untuk menghapus air mata di depan kaca wastafel dan menunggu sampai dia mau menatapku lagi.
“Aku nggak tahu harus bilang apa,” kataku sambil berdiri di ambang pintu dan mengamati Magisa yang terdiam menatap dirinya di cermin. Ia belum menghapus air dari wajahnya yang sedih dan merengut.
“Everyday, I was afraid...,” kata dia, tanpa membalikan badannya. Tapi melalui cermin ia menatap ke arahku. “Satu-satunya alasan kenapa aku selalu menunggu kamu selarut apapun kamu pulang adalah untuk memastikan kamu benar-benar habis pulang dari kantor. To make sure that you were not going out somewhere with some other girls....”
Aku menghembuskan nafas, sambil mendekat. “Aku nggak melakukan hal-hal seperti itu,” kataku menegaskan.
“Aku tahu!” teriaknya dan seketika menghentikan langkahku. “I said, I was just afraid....”
“Takut apa?!” aku menjadi tidak sabar. Magisa seakan menuduhku berselingkuh.
Ya Tuhan, aku berani bersumpah bahwa aku tidak pernah tertarik pada siapapun selama menikah dengannya!
“Setiap malam, setiap kamu pulang aku mencium semua baju-baju yang kamu pakai untuk memastikan nggak ada bau lain selain dari bau parfum kamu sendiri. Aku periksa handphone kamu untuk memastikan kamu nggak terima telepon atau menelpon orang asing...” jelas dia. “Aku ngelakuin semua itu karena aku takut....”
“Tapi kamu pernah menemukan kecurigaan kamu itu, hah?” tanyaku.
Magisa menggeleng, lalu tertudunduk. “Aku nggak ketemu apa-apa di baju atau handphone kamu, Sid... Tapi... ” katanya datar, aku hampir lega. Tapi, kemudian dia menoleh ke arahku, dan tatapannya masih menusuk seperti saat ia menatapku melalui cermin beberapa saat lalu. “Satu kali aku ke kantor, aku malah melihat sesuatu yang membuat hatiku nggak pernah bisa tenang...,”
Aku mendekat selangkah, menarik lengannya. “Apa?” desakku. Rasanya aku tidak pernah menyembunyikan apa-apa darinya.
Magisa menatapku dalam, dan bibirnya mulai membentuk kata dengan pelan. “Di kantor... kamu selalu memajang bunga matahari. Kata sekretaris kamu, kamu nggak menginginkan bunga selain bunga matahari di dalam vas,” katanya dan suaranya gemetar. Genggaman tanganku pada lengannya terlepas. Tapi, Magisa tampak masih belum berhenti berkata-kata. “Satu-satunya vas besar di kantor kamu selalu diisi bunga matahari dan diganti setiap layu, benar ‘kan? Vas itu nggak pernah kosong dari bunga matahari.”
Aku termangu. Hanya bisa menatapnya dan berharap dia tidak melanjutkannya karena sudah tahu apa yang akan dia katakan. Semua yang ingin kungkapkan seperti tertelan, karena aku tidak bisa membantah setiap kata cemmburu yang dia lontarkan.
“Aku tahu semuanya...,” kata Magisa masih tertunduk dan kembali terisak.
“Listen to me....,” aku kembali mendekat, hendak menjelaskan bahwa bunga matahari itu tidak berarti apa-apa bagiku melebihi dirinya. Itu hanya bunga, tidak lebih dari sekedar pajangan. Tapi, saat Magisa kembali mengangkat kepalanya untuk menatapku, aku tersentak.
“You slept with her, didn’t you?” tanya dia lagi dan aku kembali terbungkam.
Apa lagi ini? Kami sudah melupakan semuanya. Aku tidak habis pikir kenapa malah seperti ini?
“Dia sendiri yang bilang....” kata Magisa lagi. “Waktu kelulusan....”
“Apa?”
“Aku ketemu Saira saat pengumuman kelulusan dan dia...,” lanjutnya; aku menjadi tidak sabar, karena Magisa belum pernah menceritakan bagaimana terakhir kali ia bertemu Saira, karena kami baru bertemu lagi saat aku sudah melepaskan gadis itu. Kami tidak pernah membahasnya. “Dia bilang... kamu seorang pembohong....”
Aku diam. Sungguh tak tahu lagi harus berkata apa-apa. Lama kami tidak menyebut nama Saira dan menceritakan kisahnya.
“Dia bilang... sebaiknya aku menjauhi kamu karena... kamu memiliki kekasih lain dan hanya memanfaatkan dia...,” jelasnya lagi di sela isakan tangis yang tidak berhenti. “Tapi, aku nggak percaya... aku... sudah berusaha keras untuk bisa lulus ujian masuk universitas di Australia, supaya bisa mengejar kamu....”
“Dia bilang apa lagi?” tanyaku akhirnya.
Magisa masih menatapku, kali ini nanar. “Hanya itu...,” jawabnya. “Aku... nggak pernah percaya itu karena aku... mencintai kamu. Saat aku berhasil mengejar kamu dan kita akhirnya ketemu di Sydney, aku baru tahu kalau ternyata Saira nggak bohong. Kamu mengakui soal Maria dan itu bikin aku merasa... benar-benar bodoh. Tapi... aku sudah terlanjur... datang ke sana...demi kamu... dan aku selalu terngiang kata-kata terakhir Saira sebelum dia menghilang... dia akan datang lagi untuk membalas pengkhianatan yang kamu lakukan....”
Ya Tuhan....
“Aku takut dia kembali sewaktu-waktu untuk menghancurkan kita....”
***
Komentar
0 comments