[Ch. 6] PRETTY LITTLE BASTARD

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

The Sunflower Fields

Di satu malam setelah kejadian-kejadian itu aku bermimpi. Aku melihat Saira dengan bunga matahari menghiasi kepalanya dan ia berjalan di atas pasir menuju matahari terbenam, menyongsong ombak di pinggiran pantai. Di tangannya ia  menggenggam setangkai bunga matahari,.

“Saira!” aku menyerukan namanya dan ia menoleh lalu tersenyum padaku. Tapi, ia terus berjalan dan aku terpaku di tempat yang sama menyaksikan ia perlahan menjauh lalu tenggelam.

Langit tiba-tiba menjadi hitam. Saat akhirnya aku bisa mengejarnya, ia telah mengilang.

Ketika terbangun, aku berpikir untuk mendatangi Teluk Jakarta sekali lagi. Para gadis matahari akan menghanyutkan permohonan mereka setiap senja menjelang. Tapi yang kutemukan hanya gadis lain yang tidak diharapkan.

Magisa. Dia tengah menghanyutkan permohonanya dalam sebuah botol bersama setangkai bunga matahari ke laut.

“Mereka nggak ngelakuin itu setiap hari,” jelas dia padaku. “Aku nggak tahu persis. Mereka melakukannya hanya di saat mereka membutuhkannya dan itu nggak pasti.”

“Lalu Saira?”

“Dia sudah pergi,” jawabnya.

“Ke mana? Kapan kamu ketemu Saira?” aku mendesak.

“Saat pengumuman kelulusan. Dia bilang mau ke tempat yang ada ladang bunga mataharinya. Karena di Indonesia nggak ada. Katanya...saat ini adalah musimnya.”

“Ke negara mana?” tanyaku lagi.

Magisa hanya mengangkat sebelah bahunya. “Dia nggak mau bilang,” jawab dia dengan pasti.

Aku terdiam dan hanya menatap langit kemerahan yang terbentang di atas hamparan laut yang berkilauan oleh bias lampu-lampu gedung di kota.

“Apa permohonan yang kamu tulis?” tanyaku tanpa sengaja di tengah suara-suara gemuruh ombak kecil yang menghampiri pantai.

Magisa menatapku. “Lulus fakultas arsitektur di University of Canberra,” jawab dia.

“Arsitektur?” balasku. “Kupikir kamu tertarik di bidang jurnalistik?”

“Aku nggak mau lagi membangun sesuatu di atas kebohongan,” jelas dia. “Aku pikir kalau ngelakuin sesuatu yang baru itu menarik. Aku nggak bisa lepas dari semua itu dengan mudah ‘kan, Sid?”

Aku menatap langit itu untuk terakhir kali. Tidak ada lagi yang tersisa di sini. “Ayo pergi,” kataku.

***

Aku mengumpulkan informasi tentang negara-negara di dunia yang memiliki ladang bunga matahari terindah. Mulai dari Thailand, Jepang, Italia, Eropa dan Amerika. Lalu memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanku. Mengingat aku membutuhkan uang yang sangat banyak demi ambisiku, aku menemui ayahku di Australia karena hanya dia yang bisa membantuku. Meskipun itu dengan merngorbankan harga diriku. Aku mencarinya ke semua tempat.  Tapi, Saira tidak ada di manapun. Seolah ia memang tidak pernah datang ke sana.

Di hari pemakaman ayahku, seseorang datang menemuiku dengan sengaja. Ya, Magisa hadir di pemakaman ayahku setahun kemudian. Ia berhasil lulus ujian masuk universitas impiannya.

“Kenapa harus Canberra?” aku bertanya padanya dengan rasa heran. Harusnya aku menanyakan itu pada menit terakhir kami menyaksikan malam sedih di Teluk Jakarta. Magisa tersenyum.

“Kenapa kamu nanya aku seolah aku ini penguntit yang kurang kerjaan?” balas dia. Gadis itu sudah terlihat dewasa dari saat terakhir aku melihatnya.

“Kamu mau aku mengulang gimana terkenalnya kamu sebagai penguntit di sekolah?” balasku dan ia tertawa.

Magisa mengangkat kedua tangannya. “Oke,” katanya. “Aku ngaku deh.”

Aku hanya tertawa pelan. Masih belum paham mengapa ia memilih Canberra dan aku menunggu jawaban itu seakan apa yang ia lakukan itu tidak masuk akal.

“Well...,” dia memulai dengan senyum simpul. Sekilas memperlihatkan giginya yang sudah rapi tanpa behel. “Aku harus jujur.”

“Jujur soal apa?”

Magisa memulainya dengan tawa lagi dan itu membuatku semakin penasaran. “Kamu bisa keliling dunia, ke Thailand, Jepang, Amerika, Eropa, hanya demi untuk mengejar orang yang kamu cintai,” jelas dia tanpa senyuman lagi melainkan satu tatapan serius. “Kenapa aku nggak bisa melakukannya juga demi orang yang aku cintai, Sidney?”

Jawabannya membuatku terbungkam. Benar-benar tanpa balasan.

“Kamu tahu apa yang sebenarnya aku tulis dalam botol di Teluk Jakarta?” tanya dia lagi. Kedua matanya yang menatapku mulai berkaca-kaca.

“Kamu bohong lagi soal University of Canberra?” tanganku.

Ia tersenyum sambil menghapus tetesan pertama di pipinya. “Bohong demi kebaikan...,” balasnya. “Tapi, itu juga nggak bisa disebut bohong....”

“Terus?”

“Saat itu aku juga udah tahu kalau aku lulus,” jelas dia. Mulai belajar tertawa di saat menangis.

“Cepat bilang, apa yang kamu tulis di dalam botol,” desakku.

“Sederhana, Sidney,” akhirnya ia pun berterus terang. “Aku....hanya ingin dicintai oleh orang yang  aku cintai....”

Sungguh, aku tidak bisa berkata apapun lagi. Aku menatap dirinya yang seakan di bingkai oleh pemandangan laut dan gedung Opera Sydney -asal muasal nama pemberian ayahku. Saat itu aku merasa harus meninggalkan Saira di masa laluku. Malam itu aku memberanikan diri untuk mendekat dan menghapus air mata sedihnya.

“Dengar,...” aku mulai bicara tentang perasaanku sejak Saira pergi. “Aku ini laki-laki yang buruk.”

Magisa diam dan mendengarkan.

“Kamu tahu apa yang bikin aku merasa berat untuk membiarkan orang lain masuk?” tanya ku dan Magisa menggeleng. “Nggak ada yang lebih buruk dari saat aku melukai dua orang gadis yang mencintaiku hanya dalam satu hari, dalam rentang beberapa jam saja.  Aku belum bisa melupakan semua itu....”

“Aku menunggu,” tegas dia.

Kupikir aku tidak perlu membuatnya menunggu lebih lama. Setelah ia mengejar ku sejauh ini dan aku masih saja membicarakan masa lalu ku, itu kedengaran tidak adil. Kami sudah membayar setiap kesalahan dengan penderitaan. Sudah saatnya untuk menutup buku kenangan lama. Tiga tahun setelahnya aku menikah dengan Magisa Sunariya hingga detik ini.

Tapi, aku tidak tahu apakah kisah tentang Saira berakhir di sana...

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments