๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Almost An End
Seminggu setelah misteri tentang Saira terpecahkan, seseorang mengetuk pintu kantorku –Magisa.
Dia sudah tidak mengenakan kaca mata dan kawat Magisa yang membuatnya seperti gadis culun dan kutu buku. Aku tidak menyangka ia merubah penampilannya sejak keluar dari rumah sakit. Dengan mengenakan pakaian bebas, ia mendatangiku untuk mengajakku pergi bersamanya.
“Kamu mau tau apa yang sebenarnya yang Saira dan teman-temannya lakukan di luar?” tanya dia.
Dia belum menceritakan garis besarnya waktu di rumah sakit tapi itu tidak mengurangi keingintahuanku yang besar. Aku memang ingin melihatnya sendiri. Saat itu aku masih berharap juga bisa melihat Saira. Magisa telah memanipulasi sebuah rahasia besar dari kelompok gadis-gadis yang ingin mengatasi masalah yang mereka alami dengan melihat keluar dari kotak di mana mereka hidup. Mereka melihat ke depan untuk menjadi lebih baik dan melihat ke bawah untuk lebih banyak bersyukur.
Aku tidak tahu apa yang kami tunggu sambil bersembunyi. Aku sudah tidak sabar ingin melihat Saira.
“Apa yang kita lakukan?” aku bertanya lagi.
“Lihat aja,” kata Magisa dan kami menunggu lagi.
Tak lama, kami memang melihat sekelompok siswi yang masih berseragam melangkah keluar dari gerbang sekolah. Aku tidak tahu hal menyenangkan seperti apa yang mereka alami di dalam sekolah sampai mereka terlihat begitu ceria dan riang. Ah barangkali melangkah keluar dari sekolah sama seperti terbebas dari penjara.
Ya begitulah yang mereka tahu tentang sekolah selama ini. Mereka tidak bisa berlari dengan riang seperti anak kecil yang ingin bermain sekalipun di tengah teriknya matahari.
Siang itu luar biasa panas. Tapi, siswi-siswi itu mulai berjalan bersama. Ada yang berlari-lari kecil dan memanggil yang lainnya untuk berjalan lebih cepat seakan mereka dikejar oleh waktu.
“Mereka mau pergi ke mana?” tanyaku.
“Ayo kita ikutin,” ajak Magisa mengambil jarak beberapa meter di belakang kelompok itu agar tak kelihatan.
Mereka mempunyai tujuan yang sama. Dan aku terkejut saat menyusuri jalan yang mereka ambil menuju tempat yang mereka rahasiakan melewati perkampungan kumuh dan jembatan yang keropos. Apa mereka hanya akan berkeliling kota dengan berjalan kaki seperti ajakan Saira yang kutolak saat itu?
Jadi inilah yang mereka lakukan? Berjalan kaki keliling kota dengan wajah ceria?
Tapi setelah melewati jembatan, mereka tampak melambai ke kelompok anak-anak kecil yang sedang bermain di tanah lapang. Mereka memainkan permainan tradisional di mana seorang anak melompat-lompat di atas tanah yang digarisi kotak-kotak setelah melemparkan sesuatu yang keras seperti batu ke ke salah satu kotak. Kami perhatikan ternyata bukan hanya anak kecil yang memainkannya.
Anehnya mereka segera menghampiri dan meninggalkan permainan lalu ikut berjalan bersama. Mereka menyapa sambil tertawa riang. Lalu mempercepat langkah mereka seperti sedang mengejar sesuatu. Aku mengira ini seperti sebuah sekte –sekte remaja.
Mengherankan saat aku melihat ada tiga orang remaja yang tidak berseragam keluar dari sana dan menghampiri kelompok yang jumlahnya semakin banyak itu. Mereka melanjutkan perjalanan setelah lah seorang gadis yang memakai ransel mengeluarkan sesuatu dari sana.
Setangkai bunga matahari.
Dengan menjujung bunga itu di atas kepala dia mulai berjalan lagi dengan bergerombol. Seperti pembawa obor pada pembukaan olimpiade, gadis itu memimpin paling depan. Semua orang mulai memperhatikan mereka,tapi mereka tetap melangkah membuat suara-suara riang yang menarik perhatian.
“Saira nggak ada,” kata Magisa, ia sendiri juga terkejut akan sesuatu yang belum kusadari.
“Hah?”
Magisa memperhatikan mereka seksama. “Biasanya Saira yang pegang bunga mataharinya...,” katanya. “Dia nggak muncul....”
Aku harus menelan rasa kecewa lagi. Tapi, melihat jumlah mereka semakin bertambah di tengah jalan, aku semakin tidak sabar. Ke mana mereka pergi? Seolah pertemuan telah direncanakan. Mereka seakan berkampanye tapi tidak terdengar yel-yel apapun. Mereka hanya berjalan menghindari jalan raya dengan memilih gang-gang kecil.
Tapi mengapa harus melewati perkampungan kecil dan kumuh?
Inikah cara mereka bersyukur? Menikmati hari, dengan melakukan perjalanan panjang dengan jalan kaki? Di saat orang-orang Jakarta lebih memilih bepergian dengan kendaraan yang memenuhi setiap jalan yang terbentang? Lalu terjebak macet berjam-jam lamanya sebelum bisa pulang? Betapa membosankan nya itu. Mereka tampak tak ingin membuang waktu dengan menunggu.
Ke mana mereka pergi?
Pertanyaan itu terjawab di pantai Teluk Jakarta menjelang matahari terbenam. Langit mulai Semerah darah. Para gadis mulai merogoh tas masing-masing. Mengeluarkan secarik kertas dan pulpen lalu sebuah botol. Mereka mulai menulis lalu kertas yang telah ditulis kemudian dimasukan ke botol kaca. Satu persatu dari mereka menghanyutkan botol-botol itu di laut seiring mulai gelapnya langit dan lampu gedung-gedung tinggi sekitarnya mulai menyala.
“Mereka bikin permohonan di dalamnya,” Magisa menjelaskan.
Botol-botol itu terbawa di antara biasan cahaya lampu di permukaan laut. Seolah arus akan membawa permohonan mereka kepada Tuhan agar dapat terkabulkan.
Rahasia Saira telah terungkap. Tapi dia tidak ada di sana di saat aku memahami bahwa mereka gadis-gadis itu memilih untuk diam karena tak ada orang dewasa satu pun yang bisa memahami bahwa mereka hanya ingin didengarkan. Dengan menulis permohonan kepada Tuhan lewat surat dalam botol, mereka yakin semua akan terkabul. Ya, suatu hari nanti.
***
Malam ketika aku pulang dari menghadiri ritual gadis-gadis bunga matahari, aku terperanjat menemukan seorang berdiri di depan pintu rumahku.
Alangkah bagusnya bila itu Saira. Ketiadaannya membuatku lemah. Tapi, aku sudah lupa akan seseorang yang selama ini menjalin hubungan jarak jauh denganku. Aku lupa pada rasa di jari manis ku yang telah dipakaikan cincin tahun lalu.
Maria, tunanganku. Dia pulang.
“Sidney?” dia menatapku dengan gembira setelah tadi ia terlihat begitu lelah -mungkin karena sudah terlalu lama menunggu.
Lututku seketika lemas. Saat ia menghampiri untuk memelukku penuh kerinduan.
“Sidney, I've missed you...,” bisiknya sambil membenamkan kepalanya di bahuku.
Aku tidak mampu membalas pelukannya. Pertama kalinya dalam hidupku aku merasa begitu bersalah. Tapi, aku tidak bisa memutuskan dalam sesaat bahwa bukan Maria yang kurindukan saat itu sekalipun sudah lama tidak bertemu.
Di tempat tidur yang sama, aku membayangkan seandainya Saira-lah yang terlelap di sampingku. Tapi, rasa lelah membunuh pikiranku tentangnya hingga aku tertidur. Aku baru tahu beberapa jam setelahnya adalah pagi di mana matahari yang dilepas dalam ritual semalam telah kembali karena mendengar bel pintu berbunyi.
Aku pikir aku bermimpi soal kedatangan Maria yang mendadak. Karena kutemukan tempat di sebelah ku kosong. Aku lega dan kembali menjatuhkan kepalaku yang sakit di atas bantal.
Bel pintu berbunyi lagi. Aku segera bangkit dari tempat tidur. Tapi sebelum sempat membuka pintu kamar aku mendengar suara pintu yang terbuka disertai suara seorang perempuan.
“Kamu siapa?” suara Maria yang berdiri di depan pintu hanya dengan gaun tidur.
Sialnya, dia bukan mimpi dan lebih sial lagi, yang datang adalah Saira. Mengenakan baju kaos longgar dan ransel yang tampak penuh, dia berdiri di depan pintu. Hanya satu detik baginya untuk menyadari bahwa ia telah datang di saat yang paling tidak tepat.
Tidak ada kata yang ia ucapkan saat melihatku. Hanya sebuah ekspresi sedih.
“Saira...,” aku berlari secepat yang kubisa saat gadis itu pergi.
“Sidney?!” Maria menatapku bingung dan sedih. Sepertinya dia sudah menyadarinya. Ia sempat berusaha menghalangi jalanku mengejar Saira yang sudah tiba di ujung lorong.
“Saira!” panggilku tapi ia berjalan dengan sangat cepat. Aku hampir mendapatkannya saat ia hendak masuk ke dalam lift tapi akhirnya gagal karena ia sudah menutup pintunya.
Hal yang kulihat saat itu adalah wajahnya yang memerah dipenuhi air mata. Sebelum dua sisi pintu lift menutup. Aku menyesal karena itulah terakhir kali aku melihatnya.
Saira benar-benar menghilang saat itu. Aku sudah mencarinya ke mana pun tapi aku tidak pernah menemukannya. Bahkan ibunya saja melarangku untuk mencarinya karena Saira sudah berpamitan padanya untuk pergi dan berpesan agar tidak mencarinya.
Setelah Maria tahu aku pernah mengkhianati cinta dan penantiannya, dia memutuskan pertunangan kami. Aku seperti terdakwa yang pantas dihukum mati saat ia marah dan memaki sambil menceritakan hal indah apa yang pernah kami miliki dulu. Aku telah menghancurkannya. Ia juga pergi sambil menangis.
Komentar
0 comments