๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Heartache
Kepalaku mendadak berdenyut. Tidak tahan, aku meninggalkan ruangan dan pergi ke halaman belakang untuk merokok. Berharap Saira juga ada di sana. Tapi yang kutemukan malah siswa lain.
Magisa –seorang siswa yang mempunyai reputasi sangat baik di sekolah. Dia berdiri di sudut tempat Saira biasa merokok sembunyi-sembunyi seolah sedang menunggu seseorang datang.
“Saira nggak masuk hari ini,” katanya dan tentu saja itu membuat sangat terkejut. Lalu ia tersenyum. “Bapak nggak usah khawatir, selain aku nggak ada lagi orang yang tahu kok.”
“Apa yang kamu lakukan di sini?” aku berusaha untuk tetap tenang walaupun sebenarnya aku juga melihat dia seperti ancaman yang sama ketika terakhir kali aku bertemu dengan Saira di sini.
Magisa adalah teman sekelas Saira. Seorang gadis berkaca mata dan behel yang sering diceritakan Saira padaku sebagai anak yang aneh dan sering menguntitnya. Sejak tersebarnya foto-foto Saira aku mulai tidak menyukai anak ini. Dan aku mengerti kenapa Saira merasa tidak nyaman. Magisa terlalu sering menguntit dan itu sangat mengganggu. Hanya saja aku tidak bisa menunjukan sikap itu di depannya.
“Nungguin Bapak,” katanya. “Aku mau ngasih tahu sesuatu soal kelakuan Saira belakangan.”
“Apa yang dia lakukan?” tanyaku.
“Dia ngumpulin banyak siswa perempuan untuk ikut gengnya dan mereka ngelakuin hal yang nggak pantas di luar sekolah,” kata dia menjelaskan. Lalu kembali mengeluarkan beberapa lembar foto –kali ini Saira sedang berpelukan dengan seorang pria yang usianya bahkan sangat jauh, mendekati paruh baya.
Sepertinya diambil di pinggir jalan; di sekitarnya ada beberapa orang gadis lain yang ikut bersalaman dengan pria itu . Foto-foto itu menunjukan awal dari Saira bertemu pria itu, mengenalkan teman-temamnya lalu mereka berjalan bersama dan naik sebuah mobil.
“Darimana kamu dapat foto ini?” tanyaku lagi setenang mungkin –walau ada sesuatu di dalam dadaku yang ingin meledak di saat yang sama aku memandang foto itu. “Kamu memang menguntit Saira?”
“Itu karena saya udah lama curiga kalau ada yang nggak beres. Saira jual diri, Pak. Bukannya itu bikin malu sekolah?” katanya, berusaha meyakinkanku.
“Kenapa Saira harus jual diri? Keluarganya kaya,” balasku. Tidak langsung percaya meski itu sulit.
Saira memeluk pria itu dengan senyum bahagia.
“Saya cuma ngasih ini ke Bapak karena saya tahu kalau ada orang lain yang melihatnya, ibu kepala sekolah bakal marah,” jelasnya lagi.
“Bapak nggak tahu sejak Mama-nya datang ke sekolah, Saira dihukum Mama-nya?” balas Magisa. "Aku rasa karena itu semuanya jadi masuk akal.”
Jantungku terbakar. Saira tampak dengan senang hati merangkul bahu lelaki itu sambil terlihat berbicara menghadap wajah ketiga temannya yang tak bisa kukenali. Sepanjang jalan Saira tampak bersandar manja pada pria itu.
***
Jam delapan pagi. Pelajaran baru saja dimulai. Aku meninggalkan ruangan konseling. Satu-satunya tempat yang ingin aku tuju adalah kelasnya Saira. Sambil lewat aku menutup pintunya yang terbuka. Sekilas aku bisa melihat guru sedang berjalan di antara siswa sambil membacakan sesuatu. Aku lega akhirnya aku bisa melihatnya lagi. Tiba-tiba aku menjadi tidak sabar supaya jam bergerak lebih cepat mengantarkan ku ke istirahat siang. Saira pasti akan menuju ke sana.
Tapi saat jam-jam yang dirindukan itu telah sampai pada waktunya, aku masih tidak melihatnya. Aku kembali pura-pura mengawasi. Padahal aku punya tugas yang harus aku selesaikan hari ini tak peduli pada kasus siswa laki-laki yang tawuran beberapa hari lalu dan aku harus membuat beberapa surat untuk orang tua mereka. Setengah jam berlalu, bel sialan itu kembali berbunyi.
Akhirnya aku kembali ke ruangan. Lalu duduk di kursiku dengan lesu sambil menatap layar komputer kutinggalkan karena gelisah akan Saira. Lalu bel istirahat berbunyi. Aku keluar lagi dan kembali mencari dengan gelisah hingga aku melihatnya di lantai dua.
Saira bersama Magisa di sana.
Dari kejauhan, mereka tampak berdebat. Saira yang marah menunjuk-nunjuk ke wajah Magisa. Aku mendengar apa yang dia katakan samar-samar. “Denger ya, sampai kapan pun lo nggak akan pernah jadi salah satu dari kita! Ingat ya!”
Saira terlihat akan pergi setelah ia memaki Magisa dengan begitu kerasnya. Tapi tiba-tiba Magisa meraih lengannya dan tampak masih ingin bicara. Di saat yang sama juga Saira menepiskan lengannya dari Magisa dengan sangat kasar sampai gadis itu harus mundur beberapa langkah. Sialnya di belakang Magisa adalah anak tangga.
“Kyaaaaa!” Magisa menjerit.
Aku menyaksikan bagaimana gadis malang itu kemudian berguling di tangga hingga tubuhnya yang lunglai mendarat di lantai satu.
“Magisa?!” aku berlari sekencang-kencangnya namun Magisa sudah tergeletak tak bergerak di sisi anak tangga pertama.
Darah segar mengalir di belakang telinganya. Matanya tertutup rapat. Anak-anak lain menyerbu untuk melihat apa yang terjadi. Tapi Saira masih di atas sana. Terlihat ekspresi ketakutan yang dari matanya yang tegang memandang ke bawah. Aku tidak lagi memikirkannya karena harus membawa Magisa ke rumah sakit.
Setelah hari itu, semuanya makin rumit. Tidak hanya bagi Saira tapi juga bagiku.
***
Mengherankan saat Saira tidak meneteskan air mata sedikit pun atas apa yang terjadi pada Magisa. Ia memang kelihatan takut dan panik pada saat itu, tapi setelahnya aku tidak merasakan simpati darinya terhadap Magisa. Awalnya aku merasa itu wajar. Saira membencinya. Namun tidak untuk keadaan Magisa yang kritis.
Aku belum ingin membahas tentang apa yang ia lakukan. Aku tahu Saira tidak sengaja mendorongnya sampai terjatuh walaupun anak-anak lain berlomba-lomba memojokkannya seolah mereka memang melihat bahwa Saira memang melakukannya.
“Kamu nggak percaya sama aku kan?” dia bertanya.
Aku tidak menjawab. Yang aku tahu pasti sejak itu, Saira sudah banyak berbohong. Dia berbohong. Bagaimana aku mempercayai orang yang berbohong padaku?
Saira tidak mau menatapku walaupun sedikit. Dia tampak menunjukan perlawanan seolah aku sudah menjadi bagian dari para pembencinya. Dia menatap ke segala arah kecuali wajahku yang berusaha menemukan kebenaran dari apa yang keluar dari bibirnya belum lama ini. Aku mulai merasa bahwa mungkin ada yang tidak beres dengannya.
“Soal percaya nggak percaya, kalau kamu percaya saya, kamu akan mendengarkan saya, Saira,” balasku. “Dan kamu juga berbohong.”
“Aku rasa bohong dan nggak mengatakan yang sebenarnya itu adalah dua hal yang beda,” balas dia.
“Keduanya sama karena ada rahasia tentang apa yang selama ini kamu lakukan. Dan rahasia itu bukan sesuatu yang bagus sampai-sampai kamu mengirim orang masuk rumah sakit,” celetukku.
Saira menatapku tajam. “Oh, jadi kamu juga nyalahin aku?” balas dia. “Kamu juga merasa aku sengaja, gitu?”
“Apa yang salah dengan kamu, Saira?” aku menatapnya.
Dia tidak menjawabnya sama sekali.
“Berhentilah bikin orang salah paham! Pikirkan hal yang bagus yang bisa kamu lakukan, Saira! Bukan meresahkan sekolah dan mempermalukan keluarga kamu sendiri!”
“Oh jadi kamu pikir aku pengacau?!” teriak dia. “Kamu juga mulai mengira aku seperti apa yang mereka bilang?!”
“Mau nggak mau, Saira!”
Saira diam. Akhirnya ia bisa juga meneteskan air mata. Namun, rasaku seakan mati sejak menyadari aku tidak boleh luluh. Harus ada yang mengembalikan Saira ke jalan yang benar. Meskipun itu menyakitkan baginya, tapi harus kulakukan. Demi kebaikannya.
“Lakukanlah hal yang benar...,” kataku setelah mengenyampingkan emosiku sendiri supaya Saira tidak lari lagi dariku.
“Lalu apa yang kamu lakukan ke aku di itu benar?” balas dia, menatapku tajam dan aku tersentak.
Aku termakan kata-kataku sendiri. Sudah kuduga, hubungan kami akan menjadi bumerang kepadaku pada hari yang lain setelahnya.
“Saira... Ini demi kebaikan kamu sendiri...,” ujarku mendekat selangkah. Paling tidak untuk membelai puncak kepalanya untuk menenangkannya karena ia mulai terisak.
Saira mundur. Menghindari tanganku. Ia masih menatapku. Namun dengan tatapan seperti saat pertama kali aku melihatnya –tatapan yang asing dan tidak bersahabat. Dia seakan kembali ke dalam ‘cangkang’-nya seperti siput yang ingin bersembunyi di dalam rumah. Kurasa, kata-kataku sangat melukai hatinya.
Namun, ia mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam sangat lama.
“Kamu tahu kadang lebih baik nggak bilang apa-apa karena banyak orang berwajah malaikat tapi nggak bisa dipercaya?” katanya. “Kalian...orang dewasa memang seperti itu.....”
Kurasa semua ini harus segera berakhir.
***
Komentar
0 comments