๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Heartache
Tidak ada yang bisa kuberikan untuk seorang gadis broken home seperti dirinya. Aku sudah merencanakan masa depanku jauh sebelum dia karena aku benci kegagalan. Kupikir karena terlalu serius dengan apa yang belum terjadi lah yang membuatku kehilangan masa-masa berharga di usia belasan yang kuhabiskan untuk hal-hal membosankan. Lalu ketika sudah terlalu terlambat, aku jatuh cinta layaknya remaja pada seorang remaja. Meskipun itu juga bukan perasaan sepihak, dengan Saira, aku tahu itu adalah kesalahan. Aku memang tidak bisa menyembunyikan betapa seringkali aku berharap dia bukan seorang gadis SMA berseragam ketika dia mendekat
Tapi, sebenarnya yang menjadi masalah kemudian bukanlah hubunganku dengannya.
Satu sekolah dihebohkan dengan berita tentang Saira. Entah siapa pelakunya, foto-foto Saira tengah bersama pria dewasa berserakan di depan gerbang sekolah. Itu menjawab kegelisahannya tentang apa yang dilakukan Magisa terhadapnya baru-baru ini –mengambil fotonya diam-diam tanpa izin. Saira sangat paranoid akan hal itu.
Sedangkan aku? Tanganku gemetaran saat memandangi foto itu di saat yang sama aku tak tahu perasaan macam apa yang paling mengemuka di hatiku ketika tahu gadis yang bertingkah begitu menyukaiku seperti... jalang di luar sana. Entah. Entah itu rasa cemburu, atau sedikit lega –itu bukan fotoku bersamanya, atau marah pada siapa yang melakukan itu padanya.
Di ruang konseling, Saira masih bisa terlihat santai di depanku seolah foto itu sama sekali tidak mengganggunya.
“Kejadiannya nggak seperti itu,” dia berkata padaku. “Pokoknya itu jauh dari yang dipikirin orang-orang.”
“Kenapa kamu bisa bicara seolah-olah nggak bersalah?” balasku.
“Karena aku memang nggak salah,” jawabnya, sedikit ketus. Dia mungkin berpikir aku harus mempercayainya, tapi entah mengapa sulit bagiku untuk menerima perbuatannya.
Dia menjelaskan semuanya tapi aku tidak mau mendengarkan.
Untuk pertama kali aku seperti orang gila memikirkannya di saat yang sama aku harus bersikap seperti selayaknya guru –tegas dan tanpa ampun untuk kesalahan. Namun sebenarnya, aku hanya cenderung menggunakan posisiku untuk menunjukan padanya betapa kecewanya aku karena dipermainkan olehnya dengan mengeluarkan surat panggilan untuk ibunya. Aku meyakinkan kepala sekolah bahwa ini layak dilakukan.
***
Hari itu Ibunya yang malu datang ke sekolah. Dia seorang wanita kantoran yang sepertinya sibuk sekali. Seringkali telepon genggamnya berbunyi dan ia harus mengangkatnya.
Tapi, aku berusaha untuk tidak membalas tatapan itu karena pertemuan dengan ibunya juga menghadirkan kepala sekolah.
“Maaf, Bu Sastri,” kepala sekolah terlihat segan saat wanita itu baru saja menutup sebuah telpon penting tentang rapat yang sepertinya harus ia hadiri segera.
“Ah, nggak apa-apa, Bu...,” balas wanita itu. “Saya benar-benar repot hari ini. Tapi, mengenai anak saya... tolong, beri dia kesempatan sekali lagi. Memang, Saira susah sekali untuk dinasehati. Apalagi sejak saya dan Papa-nya bercerai. Saira semakin tidak terkendali....”
Saira duduk di kursi yang sama, memandangku dengan tatapan kesal seakan merencanakan sesuatu yang jahat –membongkar hubungan kami misalnya.
“Mama nggak ngerti sama kamu, Saira! Mama izinin kamu modeling supaya kamu punya kegiatan yang positif di luar sekolah. Nggak keluyuran, nggak aneh-aneh!” katanya menyemprot Saira yang hanya memalingkan wajah sesekali melirikku seolah berharap aku akan bicara –menerangkan kepada ibunya bahwa sebenarnya ini hanya ulah Magisa. Tapi, sang ibu menganggapnya seperti sebuah perlawanan karena tak kunjung mau menatapnya. “Lihat Mama, Saira! Mama malu banget, tahu?!” teriak Mama-nya lagi. “Kamu masih diberi kesempatan sekolah di sini karena sekolah masih memandang Mama, kamu ngerti?! Jangan sampai kamu bikin ulah lagi!”
Saira menoleh, memandang ibunya ogah-ogahan tanpa bicara.
“Saya mohon bantuannya., Bu Kepala Sekolah. Dia nggak pernah mau dengerin saya. Saya sendiri juga bingung harus menasehati dia dengan cara bagaimana,” kata wanita itu buru-buru. Tampak sudah mau pergi.
“Saya mengerti, Bu. Masalah ini tetap akan ditelusuri,” jelas Bu Tetty lagi di akhir pertemuan singkat itu –dia sudah memberitahuku bahwa ibunya Saira memang seperti ini.a
Selangkah Saira dan ibunya meninggalkan ruangan konseling, aku merasa lega –aku tahu aku tak seharusnya memikirkan diriku sendiri. Dan aku tahu dia melihatku seperti seorang pengecut yang terlalu takut kehilangan pekerjaan kalau membelanya. Padahal itulah yang seharusnya aku lakukan agar semua orang tidak memojokannya atas kesalahan yang tidak dia lakukan.
***
Seminggu kemudian, aku mendapatinya merokok seorang diri di halaman belakang. Reaksi pertama saat melihatku adalah terkejut. Ia segera membuang rokoknya seakan aku ingin menegurnya saja. Namun, yang aneh, dia malah bergegas pergi tanpa mengatakan apa-apa. Kurasa dia benar-benar membenciku, tapi aku tidak pernah punya kesempatan untuk menjelaskan bahwa itu harus kulakukan untuk membuatnya berhenti membuat masalah.
Aku tidak tahu entah sejak kapan dia mulai merokok –namun pertemuan hari itu mengisyaratkan bahwa Saira sudah jauh berubah. Sangat jauh. Dari seorang gadis kaya yang cantik dan dikagumi teman-temannya, lalu tukang bolos, dan sekarang merokok di sekolah.
Besoknya, aku melihatnya lagi. Seorang diri dengan sebatang rokok yang masih menyala di tangan. Kepala tersandar ke dinding lusuh. Duduk melipat kaki dan memandang dengan hampa ke langit. Dia persis seperti wanita yang baru kehilangan kekasihnya dan begitu depresi.
“Kamu tahu merokok di sekolah itu dilarang?” tegurku sembari menghampiri. “Ikut ke ruangan saya sekarang!”
“Nggak mau,” balas dia acuh. “Memang kamu mau ngapain? Aku lagi nggak mood.”
Aku sedikit terkejut –caranya menyebutku juga berubah.
“Ikut saya sekarang!” perintahku.
Dia langsung menatapku gusar. “Jangan maksa aku ikut kalau kamu nggak mau seisi sekolah tahu selama ini kita ngapain,” itu terdengar mengancam dan dia tampak serius dengan itu.
“Apa yang salah dengan kamu, Saira? Kenapa kamu jadi begini?”
“Apa yang salah dengan kamu, Sidney? Kenapa kamu sama sekali nggak membelaku?” balasnya dengan irama dan intonasi yang sama dengan kalimatku. Dan dia masih menatapku marah.
“Sekarang kamu mau apa?” tanyaku lagi, berusaha untuk tenang.
“Nggak ada. Cuma mau kamu pergi dari sini. Jangan ganggu aku,” katanya dengan dingin.
Aku tidak bisa menyembunyikannya lagi –sikapnya sangat melukai hatiku ketika dia tak lagi menoleh sedikitpun padaku. Kalau saja dia tidak berdiri di depanku dengan seragam putih abu-abu itu, aku sudah pasti berdiri dari tempatku untuk memeluk dan menciumnya. Parahnya, itu juga di sekolah dan keheningan dalam harmoni di kepalaku tentang cinta kepadanya tiba-tiba buyar oleh satu suara.
‘TEEET!’
Bel tanda istirahat siang berbunyi. Dia lansgung menarik tangannya saat genggamanku lemah oleh lamunan sesaatku dan berlari pergi.
Tapi, kemudian dia selalu tidak ingin berada di tempat yang sama denganku. Hari setelah ibunya dipanggil, Saira merusak mading sekolah dengan cat semprot sebagai balasan untuk Magisa. Itu masalah terakhir yang dibuatnya sebelum segala hal tentang Saira mulai menjadi misteri bagiku....
***
Komentar
0 comments