๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Jadi, katakan apa alasan kamu mem-bully Magisa?”
“Dia ngambil foto aku tanpa izin,” jawabnya acuh dan justru lebih galak dari aku yang harusnya marah karena dia baru saja dilaporkan membuat seorang siswa perempuan tidak mau ke sekolah karena Saira mengolok-oloknya bersama beberapa anak nakal lain. “Siapa yang tahu dia mau pakai foto itu buat apa.”
“Kita semua tahu kalau dia mengelola mading sekolah, Saira,” kataku mengingat anak itu memang seringkali membawa kamera ke mana-mana.
“Tapi, dia menguntit!” suaranya meninggi.
“Kenapa dia menguntit kamu?”
Saira membuang pandang dariku dengan kesal. “Aku nggak tahu!” teriaknya.
Aku menarik nafas. “Kalau kamu nggak punya alasan pasti, jangan menuduh. Lagipula apa pun alasan Magisa, itu nggak membenarkan kamu untuk mem-bully!” kataku.
“Gimana mungkin aku tahu alasannya! Aku nggak pernah temenan sama dia! Lagian Bapak tahu nggak sih, kalau si kawat Magisa itu rada nyeremin?”
“Apa?”
“Iya. Semua tahu kalau dia anak aneh.”
“Cukup! Saya sudah bilang, apa pun alasannya, kamu tetap nggak boleh melakukan apa yang sudah kamu lakukan.”
“Terus Bapak mau apa? Mau manggil Mamaku?” Saira berubah serius setelah tadi dia begitu santai menjawab semua ucapanku yang tak pernah berarti sesuatu untuknya –bahkan juga sebelum-sebelum ini. “Ya sudah, panggil! Aku nggak takut!”
“Jangan mengancam saya, Saira...,” kataku.
Saira berdiri dari kursinya dengan memusatkan pandangannya padaku. Dan dia melakukannya lagi dengan tatapan yang justru lebih menakutkan bagiku karena dia tahu, dengan sedikit mencondongkan badannya ke arahku, dia akan berhasil membuatku berhenti berdebat dengannya. “Aku tahu Bapak senang setiap kali aku masuk ke ruangan ini dan berharap aku sering bikin masalah supaya dipanggil,” dia kembali ke kursinya dan sedikit menertawakan keteledoranku barusan –aku terdiam dan membiarkan apa yang ingin kusembunyikan setiap harus berhadapan dengannya. “Aku tahu... Bapak suka sama aku...” dia berkata dengan pelan dengan senyum kemenangan di wajahnya yang cantik –dan seringkali tampil di sampul majalah remaja.
Aku membuang pandang; sama sekali tak ingin menanggapi ucapannya karena dia tetap saja gadis kecil. Meskipun kadang aku sedikit putus asa karena aku tahu dia benar. Usianya jauh di bawahku tapi aku tak merasa demikian. Sulit untuk menjaga kewarasanku agar tidak terpedaya olehnya setelah aku tahu perubahan yang terjadi pada dirinya disebabkan karena diriku.
***
Pertama kali melihatnya tahun lalu, dia masih normal. Setidaknya belum bertingkah sok dewasa dan membuat masalah untuk mendapatkan perhatian. Aku ingat, setiap kali setelah turun dari mobil yang mengantarnya ke sekolah dia berjalan dengan wajah suram tampak mengutuk pagi. Tapi, di satu hari yang cukup sial baginya aku melihatnya menyelinap keluar dari kelas untuk membolos.
“Hei!” aku menghardiknya dari bawah dan dia tampak terkejut. “Pelajarannya belum selesai!”
Ia sudah berada di puncak pagar yang sudah berhasil ia panjat dengan susah payah. Tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Aku mendengar jeritan itu dan sempat khawatir karena pagar itu lumayan tinggi.
Sambil meringis kesakitan dia bangkit dengan wajah cemberut.
“Cepat kembali ke kelas kamu!” perintahku.
Tapi, tiba-tiba dia tersungkur lagi. Kakinya terkilir dan terlihat amat kesakitan.
“Sakit, Pak...,” keluhnya tanpa beranjak dari tempat ia mengeluh.
“Kalau kamu tahu jatuh itu sakit, kenapa kamu manjat pagar? Memangnya kamu mau ke mana?” balasku sambil menhampirinya.
Dia masih cemberut dan kesal ketika aku mendekat untuk melihat bahwa lututnya juga terkilir.
“Bantuin...,” pintanya setengah merengek.
Aku menghela nafas lelah sebelum mengulurkan tangan padanya untuk membantunya berdiri. Dia berjalan dengan langkah terseok di belakangku ketika kepala sekolah kebetulan lewat dan melihatnya.
“Apa yang terjadi?” dia menanyaiku sambil menghampiri Saira yang kini sedikit cemas.
“Anak ini terjatuh, Bu Yuni,” jawabku tenang.
Bu Yuni menghela nafas prihatin. “Ya sudah, sekarang kamu pergi ke ruang kesehatan,” katanya pada Saira.
***
“Kenapa Bapak nggak bilang kalau aku mau bolos sama Bu Kepsek?” tanya dia padaku setelah kami masuk ke ruang kesehatan dan dia duduk di ranjang pasien menungguku mengambilkan P3K.
“Kamu mau saya hukum?” balasku.
“Jadi Bapak nggak mau kasih hukuman ke aku?” dia balas bertanya –sedikit mempermainkanku dengan tatapan sedikit intense.
“Setiap hari di ruang konseling ada banyak teman kamu yang membuat masalah dan bikin saya pusing,” kataku datar. “Kamu mau bergabung sama mereka menambah daftar hitam murid nakal?”
Dia terkekeh. “Bapak sama sekali nggak kelihatan kayak guru,” katanya sambil melepas sepatu dan kaus kakinya.
“Jadi?” balasku lagi, masih dengan sikap yang sama. Tenang saat aku mulai meluruskan kakinya yang terkilir dan dia meringis beberapa kali sampai aku memasangkan plester.
Dia terkekeh lagi. “Kalau aku bilang kayak model,” jawabnya. “Bapak punya darah campuran bule ya?”
Aku tidak menjawabnya. Aku sudah sering mendengar ucapan seperti itu dari banyak gadis kecil semacam dirinya. Itu reaksi yang biasa aku terima dari orang-orang sekitarku ketika baru bertemu. Mataku sipit dengan maniknya hitam, segelap rambutku. Hanya hidung mancunglah warisan ayah satu-satunya yang menempel di wajahku. Untuk ukuran orang bule aku termasuk yang tidak bertubuh tinggi, hanya sekitar 172 cm. Dan ya, ayahku berasal dari Australia –dan sama sekali tidak ada yang keren dengan itu karena orang tuaku tidak pernah menikah.
Ibuku adalah seorang wanita keturunan Tionghwa Indonesia sedangkan ayahku berasal dari Sydney. Ia bertemu dengan ayahku saat mendapat beasiswa untuk kuliah jurusan seni di Australia. Ibuku dulunya seorang pemain biola sedangkan ayahku dulunya adalah seorang pialang saham sebelum ia membangun perusahaan sendiri. Tapi sebelum ia sukses, orang tuaku berpisah dan ibuku kembali ke Indonesia membawaku. Lalu ayahku menikah dengan seseorang yang juga perempuan Indonesia hingga mereka punya Reggina dan Beatriz. Sebelum wisuda ibuku meninggal dunia karena kanker. Hubunganku dengan ayahku tidak terlalu baik.
Menjadi seorang guru bukanlah cita-citaku. Ini hanyalah proses setelah lulus dari fakultas psikologi untuk menjadi seorang psikolog. Lalu tawaran ini datang dan aku menerimanya karena berencana ingin melanjutkan S2 psikologi profesi. Dan seorang guru konseling adalah posisi yang sedikitnya cocok dengan bidangku.
Dua hari kemudian aku menerima laporan kalau dia membolos dua mata pelajaran sekaligus.
Aku pernah membicarakan ini dengan kepala sekolah tapi dia selalu memintaku lebih fokus kepada anak-anak perusak. Lagipula apa kenakalan Saira yang paling merepotkan? Membolos? Pakai baju mengepas badan? Nilai akademisnya yang sering di bawah rata-rata? Ibunya orang terpandang yang bersedia memberikan satu laboratorium komputer untuk sekolah agar semuanya bisa mentolerir apa yang dia lakukan selama tiga tahun.
***
Komentar
0 comments