๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Heartbreak
Sunny kelihatan gembira saat dia tidak perlu harus naik mobil Pak Didi dan pulang ke rumah. Pak Didi pergi lebih dulu dan dia lega saat aku mengatakan bahwa aku akan membawa Sunny ke ibunya. Dia bilang padaku bahwa dia akan mengurus segala sesuatu di rumah sehingga Nyonya rumah tidak tahu bahwa cucunya belum pulang.
Kemarin Saira memohon padaku agar dia mempertemukan aku dengan putranya. Aku tidak bisa menolaknya. Saat aku bilang bahwa aku sempat berbicara dengan Pak Didi dia memintaku untuk mengatakannya pada Pak Didi. Saira tahu bahwa pria itu tidak akan bilang tidak menyangkut dirinya. Saira tahu bahwa Pak Didi orang yang bisa dia andalkan.
Saira menunggu di sudut jalan yang tidak jauh dari sekolah. Saat akhirnya mereka bertemu, aku ikut gembira. Saira memeluk putranya erat bahkan sampai meneteskan air mata.
“Mama kangen sama Sunny,” dia berkata sambil membelai-belai puncak kepala putranya. “Sunny nggak nakal ‘kan?”
Sunny menggeleng dengan polosnya. “Pak Guru jagain aku...,” kata dia.
Saira melirikku sambil tersenyum. “Ah iya, Pak Guru,...” ledeknya. “Kalau Pak Guru yang jahat bilang sama Mama ya?”
“Pak Guru nggak jahat!” kata Sunny. “Pak Guru bantuin aku bikin gambar buat Mama.”
“Oh ya, gambar apa? Coba Mama lihat.”
Sunny membuka risluting tasnya dan mengeluarkan sebuah kertas yang dilipat dua dari dalam sana. Ia memberikan hasil karyanya kepada Saira yang langsung histeris. Sunny menggambar dirinya dan ibunya di bawah sebuah matahari lengkap dengan bunga matahari yang banyak sekali.
“Ini aku, dan ini Mama,” kata Sunny sambil menunjuk guratan-guratan krayon pada selembar kertas itu. “Kita ada di ladang bunga matahari.”
“Bagus sekali...,” Saira memujinya sambil mengecup kedua pipi Sunny dan memeluknya erat-erat. “Anak Mama memang pintar!”
“Mama janji nggak akan pergi lagi?” Sunny bertanya padanya.
“Nggak, Sayang...,” jawab Saira sambil membelai rambutnya. “Mama nggak akan ninggalin kamu. Tapi, kamu harus dengerin Pak Guru ya?”
Sunny mengangguk dengan patuh.
Aku melajukan mobil menuju taman bermain di mana mereka bisa bersama sepuasnya dan Sunny bisa menjadi anak-anak seperti selayaknya. Berlari dengan girang, dipeluk oleh ibunya, makan es krim, bermain dan tentu saja bahagia. Kemurungan itu sudah sirna sama sekali walau dia jadi terlihat sangat manja. Aku bisa memahami selama ini Sunny hidup tanpa itu semua. Pertemuan mereka pun tidak pernah lama. Begitu matahari hampir terbenam, aku harus mengantarnya kembali ke Pak Didi di tempat yang kami janjikan.
Ya, Saira terlihat sedih begitu ia melepas putranya dari pelukan. Namun, besok kami akan mengulang hari ini lagi dengan pergi bermain ke tempat lain yang lebih menyenangkan dari taman hiburan. Tapi, walaupun harus berpisah, Sunny masih dapat terlihat ceria saat melambaikan tangannya dari dalam mobil.
Sampai di penghujung senja, saatnya aku dan Saira harus berpisah. Tapi, tidak sebelum aku mengajukan beberapa pertanyaan yang sudah bernaung di kepalaku dan membuatku gelisah.
“Urusan kita belum selesai,” kataku saat Saira tampak ingin undur diri. Wajahnya juga ceria; tidak seperti kemarin di hari yang gerimis itu. “Kamu harus menjawab semua pertanyaanku dengan jujur, Saira.”
“Kamu mengajukan syarat, tidak ada rahasia lagi dan jangan menghilang. Aku nggak melakukan satu pun dari keduanya,” kilahnya.
“Yakin?” tantangku. “Aku rasa kamu masih menyembunyikan sesuatu dan itu sangat penting. Penting sekali.”
“Soal apa?”
“Ya, soal Sunny. Kamu belum bilang siapa ayahnya ‘kan?”
Saira tampak terkejut untuk beberapa saat kemudian tertawa terpingkal-pingkal. Entah apa yang menurutnya lucu. Saat menatapku dia kembali melecehkanku. “Kamu kira dia anak kamu?” tanya dia dan membuatku berfirasat buruk.
“Ya bisa saja... kita.. kita pernah...,” dia kembali membuatku seperti orang bodoh karena tak dapat melanjutkannya.
Saira kembali tertawa. “Kita menjalin hubungan nggak lama dan entah itu bisa disebut pacaran. Soalnya kamu punya gadis lain ‘kan?” Saira seolah memojokanku; mempertegas bahwa aku tak pantas berpikiran bahwa Sunny adalah darah dagingku. Terus terang, sikap itu mengecewakanku lebih dari saat aku menyadari bahwa aku dan Sunny memang tidak memiliki hubungan darah.
“Kamu memang laki-laki pertama dalam hidupku, tapi bukan berarti karena melarikan diri setelah apa yang kamu lakukan membuatku nggak bisa menjalin hubungan dengan orang lain,” kata-katanya kedengaran amat serius. “Lagian apa menurut kamu Sunny itu mirip dengan kamu?”
“Dia nggak mirip aku karena terlalu mirip kamu,” celetukku, tak puas dengan jawaban yang selalu menjadi pertanyaan dan balik menyerangku. “Lalu siapa orangnya?”
Air muka Saira berubah. Sepertinya dia tidak suka nama itu disebut. “Kamu sama sekali nggak asyik,” gerutunya sambil melangkah.
“Tapi, dia nggak ada tampang bulenya sama sekali,” kataku, kembali memancing kejujurannya.
“Berarti dia juga bukan anak kamu,” putus Saira, tapi sambil tertawa. “Kamu lupa kalau kamu juga bule? Walaupun setengah?”
“Jadi Sunny bukan anakku?”
“Kenapa kamu bisa berpikir begitu?”
Aku menghembuskan nafas lelah. “Apa kamu nggak bisa memberi jawaban saja ketimbang ngasih pertanyaan lain?” tukasku. “Jelas aku berpikir begitu karena kita pernah melakukannya! Apa lagi?! Lagian sebelum kamu ditangkap, bukannya kamu yang bilang sendiri kamu ke Australia untuk mencariku?! Aku pikir kamu mencariku karena Sunny sudah lahir dan kamu menitipkannya sama teman kamu ‘kan?!”
Gadis itu menatapku skeptis. Aku mulai bosan dengan wajahnya yang seperti itu.
“Aku mencari kamu karena aku masih ingin bertemu. Tapi, penjara itu mengubah semuanya. Aku lebih memikirkan Sunny karena dia masih kecil sekali dan sejak lahir aku nggak benar-benar mengurusnya dengan baik. Waktu aku tahu aku hamil dia, aku panik tapi karena dia satu-satunya yang kupunya, aku mempertahankan Sunny. Aku menyesal harus berakhir di penjara sementara dia harus hidup dengan orang lain. Kamu pikir di penjara itu enak, walaupun Mama-ku mengusahakan agar aku keselamatanku dijaga?”
“Itu nggak menjawab pertanyaanku tentang siapa ayah Sunny, Saira!”
“Kamu berkata seolah kamu cemburu aku menjalin hubungan dengan orang lain selain kamu, sementara kamu sendiri menikah dengan gadis yang menghancurkan aku! Apa kamu masih berhak menanyakan sesuatu yang bukan urusan kamu yang aku juga nggak mau mengingatnya?! Apa kamu nggak sadar aku nggak pernah mau membicarakannya karena itu menyakitkan?!”
“Ini semua nggak akan terjadi kalau kamu nggak menghilang. Aku mencari kamu seperti orang gila! Aku mengakui kesalahanku soal hari itu dan aku juga menyesal karena nggak mengejar kamu!”
“Rasanya aku sudah bilang berkali-kali aku menghilang karena kamu! Kamu tidur sama aku! Kamu tidur sama perempuan yang ada di apartemen yang ternyata adalah tunangan kamu! Saat itu kamu memang nggak mengkhianati aku, tapi kamu memakai aku untuk mengkhianati tunangan kamu! Dan aku masih terlalu kecil untuk mengerti hubungan yang seperti itu!” Saira berteriak membungkamku. Aku belum pernah melihatnya seemosi ini. “Itu belum termasuk saat aku tahu ternyata kamu menikahi si kawat gigi. Memang, perasaanku sudah jauh berubah terhadap kamu, aku merasa bodoh mencari kamu ke Australia sehingga kejadian itu menimpaku. Aku menyesali itu seumur hidupku, anakku harus menderita dan semuanya karena kamu!”
“Kenapa kamu malah menyalahkan aku?!”
Bibir Saira gemeretak menahan amarah. “Kamu tahu, aku benci sama semua kebetulan yang membuat kita harus bertemu lagi!” teriaknya. “Dan aku lebih benci lagi aku harus memohon sama kamu hanya untuk bisa bertemu sama anakku!”
Aku menelan ludah. Pertengkaran ini harus dihentikan. “Kalau kamu merasa benci, kamu nggak perlu merasa kalau aku melakukan ini karena apa yang ada di masa lalu,” kataku, rasa perih seakan menancap dalam-dalam di dadaku. “Aku gurunya dan aku hanya berniat membantu seorang murid yang bahkan untuk bertemu ibunya saja begitu sulit... siapa yang tega melihat hal seperti itu?”
Saira memilih diam dan mengalihkan matanya dariku.
“Kamu juga kekanakan seperti ibu kamu,” kataku pelan. “Kamu nggak perlu memohon sama aku juga kalau kamu pulang ke rumah. Bukankah itu yang bikin ibu kamu melakukan hal ini? Supaya kamu pulang?”
“Kamu nggak ngerti...,” Saira berkata, dengan pelan. “Ini nggak sesederhana yang kamu pikirkan.”
Aku tidak ingin melanjutkan pertengkaran ini; aku ingin segera pulang karena malam sudah menjelang. “Pulanglah, Saira...,” kataku. “Dengan begitu... kita nggak perlu harus bertemu seperti ini lagi....”
“Kalau aku pulang, Mamaku pasti bakal mengatur semua hidupku. Dan pastinya, untuk menutupi kesalahanku, dia akan mencarikan orang yang dia pikir cocok buat aku. Aku nggak bisa, Sid...,” katanya, terdengar getir.
Aku hanya menatapnya sedih. “Makin ke sini... aku makin percaya kalau Sunny anakku,” kataku padanya, menatap dengan serius sekaligus mengamati perubahan pada air mukanya. Aku sengaja mengalihkannya lagi karena inilah yang selalu menggangguku dari kemarin.
Dia balas menatapku lekat-lekat. “Kamu pikir karena sejak remaja aku bertingkah seperti jalang yang haus perhatian di depan kamu, aku juga begitu di depan orang lain?” balasnya. “Aku sendiri juga nggak percaya bahkan setelah kamu menikah, kamu tetap jadi satu-satunya. Nggak adil, Sidney. Kamu berhubungan dengan banyak perempuan sedangkan aku?”
“Maafkan aku...,” ucapku sembari meraih dia ke dekatku. Aku mendekapnya sangat lama dan aku rasa dia tahu, sebagian dari diriku masih menginginkannya.
Aku melakukannya lagi –berkhianat.
***
Sudah lama aku tidak merasa selelah ini. Setelah jam-jam menyenangkan di mana aku terbawa eforia Saira dan Sunny, aku kembali muram dalam perjalanan pulang. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa melupakan Magisa sejenak. Tiba-tiba aku merasa khawatir bagaimana jika perasaan yang aneh ini tidak kunjung reda. Lelaki sejati harusnya setia pada cintanya. Tapi, setelah bertemu Saira lagi, aku jadi mempertanyakan siapa yang aku cintai sebenarnya?
Aku sudah berselingkuh itu jelas. Meskipun itu dengan seorang perempuan –yang harus kuakui, adalah seseorang yang seharusnya memiliki semua cintaku, itu tetap kesalahan. Saira tidak menolakku ketika aku menciumnya dan malam seperti di Hyatt terjadi lagi, meski pun itu hanya di mobil dan dalam waktu yang singkat. Dan sialnya aku tidak merasa puas dengan itu; aku semakin menginginkannya dan kalau saja Magisa tidak sedang dalam keadaan mengkhawatirkan sekarang, entah. Aku akan membuat alasan untuk tidak pulang malam ini.
Beberapa bulan yang lalu, aku dan Magisa begitu bahagia, seolah dunia ini hanya ada kami di dalamnya. Rumah baru, kehidupan baru, tahap hubungan yang baru, semua itu kupikir akan mengisi kekosongan di antara kami. Pindah ke Jakarta akhirnya tidak menjadi sesuai harapan. Banyak hal yang tak terduga.
Apa ini ujian yang jauh lebih berat lagi? Apa aku bisa melewatinya? Entahlah....
Aku membuka pintu dengan langkah gontai. Tanpa perlu melihat jam tangan, aku tahu ini sudah malam. Aku sudah menyiapkan jawaban yang pas apabila Magisa mengeluh soal keterlambatanku; Jakarta itu memang macet. Tapi, aku juga yakin dia tidak seperhatian itu lagi sekarang walaupun tetap saja suka mencurigai dan cemburu. Aku tidak ingin memikirkannya dulu.
Tapi, Magisa menyambutku dengan makan malam di meja makan. Aku sangat terkejut dia menyiapkan banyak menu kesukaanku. Dan bahkan dia menyambutku dengan senyuman hangat. Aku pikir aku sedang bermimpi tapi itu benar.
Tampaknya dia sudah mulai normal.
Hanya saja... aku tidak terlalu senang. Seluruh bagian dari tubuhku masih terjebak dalam sesuatu di mobil tadi. Aku kelelahan. Kata-kata Saira yang tajam masih terngiang di benakku. APA YANG TERJADI PADANYA ADALAH SALAHKU, dia membisikan itu di telingaku berulang kali. Bagaimana bisa aku menikmati makan malam dengan tenang sekali pun melihat istriku sudah membaik? Sepintas aku merasa, bukan inilah yang aku butuhkan sekarang.
Aku membutuhkan Saira; aku belum bisa berpindah. Bahkan saat akhirnya Magisa memelukku di atas ranjang, aku nyaris mati rasa. Aku memandang wajahnya, mencoba menemukan sesuatu yang bisa membangkitkan kembali rasa sebelum Magisa terguncang. Namun aku gagal. Aku memang bercinta dengannya lagi; setelah sekian lama tapi rasanya tidak lagi sama. Hambar. Dan bercinta dengan orang yang berbeda dalam jarak yang tak terlalu lama membuatku sangat kewalahan.
Aku lelaki brengsek.
“Aku sudah memikirkannya, Sid,” Magisa berkata di telingaku. Suaranya kedengaran manja. “Apa yang nggak membuatku bahagia belakangan ini....”
Apa pun itu aku tidak peduli. Aku sudah jera menghadapi sikapnya yang tak mudah dimengerti.
“Sidney Sayang...,” Magisa mengalungkan kedua lengannya di dadaku; menegaskan bahwa aku adalah miliknya yang berharga dan sempat hilang sehingga ia memelukku begitu erat.
Aku bisa merasakannya bernafas di punggungku dan aku mendengarkan walaupun aku masih memikirkan Saira. Mengingat setiap detail rasa ketika aku berada di dalam dirinya, menatap wajahnya yang begitu dekat dan merasakan dia bernafas di pundakku.
“Bagaimana kalau kita kembali ke Australia?” dia menanyaiku seperti mengucapkan sebuah permohonan. “Aku pikir... Jakarta memiliki banyak kenangan yang buruk buat aku, buat kamu juga... kamu ingat, di Australia kita hidup bahagia. Walaupun kamu sering pulang telat dan aku sendirian, tapi kita tetap bahagia....”
Aku tidak menjawab.
“I love you, Sidney...,” ucapnya sambil membenamkan wajahnya di punggungku.
Aku tidak ingin meninggalkan Jakarta begitu saja. Magisa tidak bisa begitu saja membalikan keadaan setelah kami kembali seperti semula. Tidak, tidak bisa seperti itu. Perasaanku sudah berubah walaupun aku tak menginginkannya. Tapi, aku tak bisa meningkari bahwa bahagiaku berada di sekolah itu; bersama anak-anak; memperhatikan mereka; dan tentu saja bertindak seperti orang tua mereka. Magisa tidak akan memahami perasaan seperti itu.
***
“Pak Didi nggak datang?” Anna bertanya padaku saat aku merapikan meja kerjaku. Dia baru kembali dari memastikan anak-anak di kelasnya sudah dijemput semua.
“Ya, tadi dia menelpon,” jawabku. “Aku sendiri yang akan mengantarnya.”
“Wow! Baiknya.” seru Retha yang muncul secara mendadak. Benar ‘kan? Dia suka menguping?
Anna mengangguk-angguk. “Ok,” sahutnya. “Sampai ketemu besok.”
Aku segera berlalu dari hadapan mereka dengan langkah terburu-buru. Sebenarnya bukan Pak Didi tidak bisa menjemput; padahal itu tugas utamanya. Dia hanya akan menjemput sore nanti setelah Sunny bertemu dengan ibunya seperti kemarin. Menurutnya Nyonya tidak curiga bahwa cucunya tidak pulang seharian. Sedangkan Saira dia sudah menunggu di tempat yang sama kemarin.
Sunny sedang duduk di bangku taman dan tampak ditemani oleh Joan; mereka mulai akrab belakangan ini walaupun Sunny tidak bisa berbahasa Inggris dan Joan juga tidak bisa berbahasa Indonesia. Saat anak-anak bercengkrama dengan bahasa tubuh, itu terlihat lucu.
Tapi, aku melupakan sesuatu. Kunci mobil! Aku menaruhnya di dalam laci meja!
Terpaksa aku kembali dan sesampainya di sana aku harus mendengar dua orang perempuan sedangan bergosip; dan itu tentangku.
“Itu bukan urusan kita, Retha,”
Tak jelas apa yang sebenarnya mereka bicarakan. Namun Anna sepertinya mencoba menasehati temannya itu.
“Kita nggak bisa terus berpura-pura. Maksudku, kamu ‘kan seorang perempuan juga, gimana kalau suami kamu selingkuh?” Retha kedengaran ngotot sekali.
“Yang jelas kita nggak tahu seperti apa sebenarnya hubungan Sidney sama Mamanya Sunny,” tegas Anna. “Bisa jadi mereka itu sahabat dekat. Kamu harus positif thinking, Ret. Salah-salah, kamu bisa dipecat karena ikut campur urusan orang. Lagian keluarganya yang punya yayasan ini. Gimana pun kita harus menghormati dia. Apa kamu nggak merasa segan karena dia sangat low profile?”
“Aku nggak ngerti deh, An. Kenapa kamu malah nggak sependapat. Sebagai sesama wanita lho!” Retha tetap memaksa. “Mereka berpelukan di pinggir jalan, An! Kita lihat sendiri kemarin!”
“Iya aku tahu. Tapi, Sidney bukan orang timur. Berpelukan itu sesuatu yang biasa!”
“Kalau lihat suasananya, pelukan itu bukan sesuatu yang santai,” Retha tetap bersikeras dan aku menghentikannya dengan masuk secara tiba-tiba.
“Sorry, kunci mobil ketinggalan!” kataku dengan buru-buru dan segera membuka laci untuk mengambil barang yang kumaksud.
Anna kelihatan tidak nyaman dengan kehadiranku; mungkin merasa bersalah. Sementara Retha yang biasanya menatapku penuh godaan, kini terlihat angkuh dan menyebalkan. Aku langsung pergi dan lebih memilih tidak memusingkan pembicaraan mereka. Perempuan memang hobi bergosip dan aku terlalu bodoh apabila menanggapinya serius.
“Dag, Joana!” Sunny terlihat melambaikan tangannya pada Joana yang sudah berada di mobil; bersemangat sekali.
Joana pun demikian. Mereka kelihatan dekat sekali.
Saat melihatku, Sunny lebih gembira lagi. Ia bahkan sampai berlari-lari kecil bersama boneka kelincinya menuju mobilku. Tampak tidak sabar bertemu dengan ibunya.
Seperti biasa ketika Saira naik ke mobil, Sunny akan berseru dan ibunya akan memeluknya erat. Lalu aku sebagai supir pribadi harus bertanya ke mana tujuan mereka.
”Sea World!” jawab mereka berbarengan.
***
Selama di Sea World, aku tak banyak berada di sekitar mereka. Aku membiarkan mereka menikmati pemandangan akuarium raksasa dengan berbagai macam ikan di dalamnya. Saat ada pertunjukan oleh penyelam memberi makan ikan, aku berdiri paling belakang.
Pembawa acara mengundang anak-anak ke depan untuk menjawab pertanyaannya dan bagi yang bisa menjawab dengan benar akan mendapatkan hadiah. Saira terlihat mengacungkan tangan Sunny sehingga pembawa acara memilihnya lalu memberinya tantangan. Yaitu menyebutkan dengan benar kalimat seperti ‘Kelapa diparut, kepala diurut’.
Tiga orang anak mendapatkan perhatian sang pembawa acara. Anak pertama menyebutkannya dengan terbalik ‘Kepala diparut, kelapa diurut’ dan penonton yang bejibun ikut tertawa. “Kepala kok diparut?”
Sunny mendapat giliran terakhir. Dia tampak menyimak kalimat si pembawa acara sebelum dia menyebutkan kalimat itu dengan pelan-pelan dan dia melakukannya dengan baik. Saira berseru dengan riangnya saat menyambut putranya kembali dengan sebuah hadiah; boneka Nemo alias ikan badut.
Kami menghabiskan waktu setengah hari di Sea World dan makan sea food di salah satu food court yang ada di sekitar Sea World. Kali ini, Sunny yang makan dengan lahap. Sedangkan Saira hanya makan sedikit. Sepertinya dia kenyang hanya dengan mengamati putranya. Aku memandangnya sampai dia sadar bahwa aku juga tidak menyentuh makananku karena terlalu asyik memperhatikan mereka.
Sekilas, kami terlihat seperti keluarga yang utuh; ayah, ibu dan seorang anak. Sampai-sampai seorang penjaga sebuah photo booth yang berkostum ikan Dori mengajak kami untuk berfoto. Saira tidak melewatkan kesempatan untuk membuat sebuah kenangan yang manis. Mereka berdua masuk ke dalam sana, tapi tiba-tiba Sunny keluar dan menarik lenganku.
“Pak Guru!” serunya agar aku ikut serta.
Aneh rasanya. Saira cukup tidak nyaman saat berada di photo booth. Tapi, mesin foto yang bercuap-cuap menyuruh kami berpose dengan gembira menggunakan properti yang ada. Dan jadilah sebuah foto yang ceria. Andai aku bisa menyimpannya satu; kami terlihat gila dan bahagia.
***
Sunny sudah hampir kehabisan energi saat masuk ke mobil. Dalam perjalan menuju tempat Pak Didi menunggunya, Sunny ketiduran. Di dalam mobil seketika menjadi hening, karena Saira tak juga bicara. Dia juga enggan memandang ke arahku. Mungkin kalau kami memulai sebuah pembicaraan, pasti berujung pada keributan yang tak bisa dihindari. Aku dan Saira tampak sama; sama-sama takut Sunny akan mendengarnya.
Tapi, akhirnya Saira melirik ke arahku. “Terima kasih untuk hari ini,” ucapnya.
Aku hanya mengangguk satu kali.
“Aku tahu kamu benar,” kata Saira dan aku segera menoleh. Sepertinya dia tidak akan bicara dengan nada menyalahkanku lagi. “Harusnya aku pulang sehingga bertemu Sunny aja nggak akan serumit ini. Kasihan Pak Didi juga ‘kan kalau sampai ketahuan Mama.”
Aku tidak berkomentar sehingga Saira diam lagi sampai kami tiba di tempat Pak Didi menunggu. Saira menyerahkan Sunny yang sudah ketiduran kepada Pak Didi sementara aku hanya menunggu di mobil. Aku sempat memperhatikan Saira berbicara dengan Pak Didi.
Pak Didi pergi membawa Sunny, Saira pun kembali ke mobil. Aku masih diam menunggu dia mengatakan tujuan selanjutnya; tempat dia tinggal.
“Sampai di sini aja, Sidney,” katanya, sepertinya dia tidak akan lagi ikut berkendara denganku.
Aku tidak menjawab. Aku tidak berharap dia berada di sini lebih lama, tapi tak ingin dia berlalu. Setelah dia mengatakan akan kembali pada Mamanya, mulai besok tak akan ada lagi alasan untuk pergi seperti ini. Keputusannya terdengar melegakan; bagus untuknya; bagus untuk Sunny; tapi tidak adil bagiku. Aku masih ingin bersamanya.
Dilema adalah aku juga bukan orang yang bebas untuk bisa pergi dengan perempuan lain tanpa melibatkan perasaan.
“Terima kasih banyak..,” ucap Saira lagi lalu meraih gagang pintu mobil untuk membukanya. Tapi, aku menghentikannya.
Aku tak tahu apa yang aku pikirkan saat menariknya dengan kasar ke sisiku.
“Sidney!” Saira meronta saat berada dalam dekapanku. Kenapa dia tidak menyukainya?
Aku tidak berkata sepatah kata pun. Ada ketakutan luar biasa di dalam diriku. Aku benar-benar tidak dapat menguasai diriku atas perasaan ini. Aku mempererat pelukanku sampai Saira melemah. Aku tahu tubuh kurusnya tidak akan mampu melawanku. Saat itulah aku melepasnya dan terpaksa mencuri sebuah ciuman hanya untuk meredakan kegelisahanku; apabila setelah ini aku tidak melihatnya lagi; apabila aku tidak bisa sedekat ini lagi dengannya.
Tapi, aku salah besar.
Tubuh yang kurus itu memberontak; membuat perlawanan yang besar terhadapku. Saat aku berusaha ‘menjinakannya’ dengan bibirku dia menemukan cara untuk menyadarkan kegilaanku.
PLAK!!!
Pipiku terasa nyeri. Dia menamparku dengan sangat keras.
“Kamu sakit jiwa!” teriaknya dan tak cukup dengan itu, Saira menendang perutku dengan kakinya.
Malam ini berakhir dengan lebih buruk dari malam sebelumnya dia membuatku gila, berfantasi liar; kali ini aku dihajar oleh seorang perempuan yang tidak suka dengan ciumanku.
“Aduh!” aku memeluk diriku yang baru saja ‘dihantam’ dengan kuat oleh kaki perempuan kurus.
Sakit yang luar biasa merambat dengan cepat di badanku. Tendangan itu terlalu berlebihan jika dia hanya ingin menyadarkanku dari kesurupan amarah. Rasanya sangat... terlalu.
“Sidney?!” setelahnya Saira histeris. “Sidney?! Kamu nggak apa-apa?!”
Aku menekan bagian perutku yang sakit. Ada bekas sepatu di kemeja biruku. “Kamu... yang sakit jiwa...,” kataku sambil meringis. “Apa kamu pikir aku ini pemerkosa?”
Saira tampak merasa bersalah. Tapi, dia mempertahankan egonya. “Kamu sendiri yang mulai,”
“Kenapa sekarang kamu menolak?” tanyaku, membela diri dalam ringisan sakit pada perutku yang berdenyut.
“Apa ini sama sekali nggak mengganggu kamu?”
Aku menggeleng. “Aku kira itu bukti kalau aku masih menginginkan kamu....” aku menggerutu dan berusaha tidak merasakan nyeri itu; pikiranku kacau lagi seperti orang mabuk.
“Walaupun kamu menikah dengan orang yang menghancurkan hidupku, itu tetap bukan alasan untuk menjadi orang ketiga...,” katanya. “Aku nggak bisa lagi seperti ini, Sid....”
“Terlalu terlambat kalau kamu mau bilang begitu sekarang,” kataku. “Kamu nggak bisa menyingkirkanku dengan mudah. Kamu mungkin bisa menghindar... tapi kamu pasti akan terus memikirkanku. Berharap aku ada di sisi kamu setiap saat....”
“Dan itu nggak bisa kamu penuhi...,” katanya terdengar lirih.
Aku meraih tangannya, menaruhnya di dadaku dan menatapnya sungguh-sungguh. “Kalau kamu menginginkannya, kita akan selalu punya cara untuk bersama... seperti saat ini...,” kataku. “Dan kamu nggak perlu memikirkan apa pun.”
“Sidney... aku...,” Saira mencoba mengatakan sesuatu yang sepertinya akan cukup menyakitkan bagiku. “Aku... sedang berusaha menjalin hubungan dengan seseorang saat ini....”
“Apa kamu mencintainya?” hanya itu pertanyaan yang perlu ia jawab.
Saira diam.
“Aku anggap itu sebagai jawaban tidak, Saira. Dan aku nggak peduli dengan siapa kamu mulai dekat...,” kataku, sambil membelai puncak kepalanya. “Aku mencintai kamu dan kita memiliki seorang anak.”
“Sid....”
“Aku rasa itu cukup adil,” tegasku. “Kita sama-sama berkhianat.”
Saira tertunduk dan dia menatapku dengan murung.
“Saira, dengarkan aku...,” ucapku, kembali menyatukan dahiku dengannya. “Ketika kita bersama, berjanjilah kamu bakal membuang semua pikiran tentang siapa kita sebenarnya di luar dari mobil ini. Kita orang tua Sunny. Dia hadir ke dunia karena kita saling mencintai dan sekarang pun nggak ada bedanya... aku pikir... menjadi sedikit egois saat ini juga nggak apa-apa...”
***
“Apa dia nggak curiga kamu pulang telat terus?” tanya Saira setelah dia selesai merapikan dirinya.
“Ya, dia selalu curiga,” jawabku acuh.
Bagaimana pun reaksi Magisa nanti di rumah, aku akan menghadapinya dengan tenang.
Saira mengangguk. Dia berhenti bertanya. Yang aku tahu dia memang tidak suka dengan topik seputar Magisa.
“Apa kamu punya waktu besok?” tanyaku.
“Kenapa?”
Aku meraih tangannya lagi. “Nggak, aku hanya ingin bersama kamu lebih lama,” jawabku.
Dan Saira mengangguk. Hingga kemudian ia harus turun dari mobilku.
Begitu Saira naik ke taksi yang dia berhentikan di pinggir jalan dan taksi itu melaju. Aku menyalakan mesin dan mengejar taksi itu. Jika dia tidak mau memberitahuku tempat di mana aku bisa menemukannya, aku harus mencari tahu dengan caraku sendiri. Aku pikir aku sudah terlalu pintar menghadapinya; membuntuti seperti paparazi yang begitu ingin tahu kehidupan sang idola. Meskipun kami merasa begitu saling memiliki, aku masih saja bisa patah hati.
Saira berhenti di sebuah rumah sakit. Aku berpikir dia sedang sakit atau apa; wajahnya cukup pucat hari ini. Bisa saja ‘kan? Sakit bisa menjadi alasan kenapa tubuhnya kurus kering begitu.
Tapi, kekecewaan pertamaku adalah saat tahu bahwa ternyata gadis yang jarang berterus terang secara sukarela ini mempunyai ponsel di dalam saku jeansnya. Dia baru mengeluarkan benda itu sesaat setelah turun dari taksi untuk menelepon seseorang. Aku pernah meminta nomor telepon tapi dia mengaku tidak punya ponsel. Aku bahkan sampai ingin membelikannya agar aku bisa menghubunginya tapi dia menolak.
Dia menunggu di tempat parkir tidak lama sebelum seorang laki-laki; berpakaian putih menghampirinya. Laki-laki itu langsung merangkulnya; membuat darahku berdesir.
Siapa dia?
Mereka sempat mengobrol sebentar dan laki-laki yang tampaknya berprofesi sebagai dokter itu beberapa kali mengusap rambut Saira. Mereka masih berangkulan saat akhirnya masuk ke gedung rumah sakit.
***
Komentar
0 comments