๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Kenangan yang Menjauh
Sudah tiga hari Saira tidak datang. Aku dan Sunny selalu menunggu di halaman belakang. Mencapai hari ketiga ini, Sunny semakin murung dan tak kalah muram dengan hari-hari sebelumnya. Seandainya saja aku tahu Saira berada di mana, aku akan membawanya ke sana. Bodohnya aku tidak bertanya di mana dia tinggal. Aku juga tidak meminta nomor telepon; aku sendiri juga ragu Saira punya telepon genggam. Dia benar-benar kelihatan seperti orang yang tak punya apa-apa. Ya, sepertinya harta berharga satu-satunya bagi Saira adalah Sunny. Tapi, kenapa dia menghilang lagi setelah dia berjanji padaku akan kembali lagi? Paling tidak demi putranya.
“Mama pasti sakit...,” kata Sunny. Suaranya yang pelan terdengar merengek. “Mama nggak bisa datang....”
Sunny seolah mengatakan bahwa sakit adalah satu-satunya hal yang menghentikan Saira. Selain itu tak ada lagi yang bisa menghalanginya untuk datang menemui Sunny.
“Kamu tahu Mama sakit apa?” aku bertanya dengan khawatir.
Sunny menggeleng.
“Apa Mama sering seperti ini?”
Anak itu mengangguk dengan polos.
Ada perasaan marah di dalam hatiku saat memandangi Sunny yang ingin menangis tapi dia berusaha untuk menahannya. Sepertinya dia diajarkan untuk tidak terlihat lemah oleh Saira karena dia seorang anak lelaki. Tapi, bagiku, anak lelaki atau perempuan tetap tak pantas dipisahkan; mereka akan tetap menangis tak peduli betapa kuatnya mereka.Teringat bahwa istriku juga mengalami depresi yang parah karena orang yang sama; Saira juga menyebutnya kekanakan, membuatku ingin menemuinya. Entah. Aku benar-benar sangat kesal.
Saat Pak Didi akhirnya datang juga, Sunny tampak tak ingin naik ke mobil. Dia memeluk kakiku dan berpegangan di sana saat Pak Didi akhirnya harus turun dari mobil untuk membujuknya.
“Den Sunny pulang ya?” ujarnya.
Tapi Sunny menggeleng-geleng sambil tetap menyembunyikan wajahnya di kakiku.
Pak Didi langsung kelihatan kewalahan. Dia memandangku dengan khawatir.
“Sunny, besok ke sini lagi ya?” aku ikut berujar sambil jongkok agar dia mau naik ke mobil. “Besok ada pelajaran berenang.”
Dia tetap menolak.
“Biasanya nggak pernah begini,” kata Pak Didi padaku. “Apa tadi ada kejadian, Pak Guru?”
Aku menghela nafas. “Beberapa hari ini dia murung,” jawabku, tiba-tiba jadi ingin menanyakan sesuatu padanya. “Apa di rumah dia seperti ini juga?”
Pak Didi tampak iba. “Den Sunny mau ketemu sama Mamanya tapi nggak dibolehin sama Nyonya,” jawab Pak Didi. “Jadinya di rumah cuma sama pembantu dan tukang kebun, Pak Guru....”
“Kenapa Sunny nggak dibolehin ketemu sama Mamanya?”
“Saya nggak bisa cerita, Pak Guru...,” jawab Pak Didi lagi, ikut muram sambil memandangi Sunny yang masih berpegangan pada kakiku.
“Pak Didi, saya kenal Mamanya Sunny,” ujarku.
Pak Didi masih menatapku ragu. “Saya nggak mau dimarahi Nyonya, Pak...,” katanya.
“Saira juga mau ketemu anaknya,” kataku. “Saya tahu itu, Pak Didi... tapi kenapa Mamanya nggak mengizinkan dia ketemu sama Sunny?”
Pria itu menatapku lagi, kali ini melunak. “Nyonya Maunya Non Saira pulang, tapi dianya nggak mau. Selama Non Saira juga nggak pulang, dia nggak ngizinin Non Saira ketemu Sunny...,”
“Mama nggak mau pulang...,” kata Sunny merengek. “Kalau Mama pulang, dikurung sama Oma....,”
Aku sangat terkejut mendengar pengakuan Sunny yang mulai menangis.
“Non Saira itu keras kepalanya luar biasa kayak Nyonya. Tapi, gimana pun Non Saira anak satu-satunya. Ibu mana yang nggak mau bersama anaknya. Itu satu-satunya jalan supaya Non Saira pulang...,”
“Apa Pak Didi tahu kenapa Saira nggak ingin pulang?”
“Saya nggak tahu, Pak Guru. Tapi, sebelum Non Saira menghilang dan tiba-tiba ditangkap di Australia, dia pernah bilang sama Mamanya kalau dia nggak bisa bikin Mamanya bangga. Daripada menyusahkan dia lebih memilih pergi,” kenang Pak Didi.
Jika bertemu Saira, mungkin aku akan membicarakan ini dengannya. Namun, untuk saat ini aku harus membujuk Sunny agar dia mau naik ke mobil.
“Sunny, kamu harus pulang ya? Besok ke sekolah lagi,” ujarku sambil menggendongnya.
“Aku mau ketemu sama Mama...,” rengeknya.
Aku dan Pak Didi sama-sama terenyuh melihat air matanya.
“Anak laki-laki nggak boleh nangis,” ujarku sambil membawanya ke mobil. “Besok kita pasti ketemu sama Mama....”
“Pak Guru janji aku bisa ketemu sama Mama?” dia bertanya begitu dia duduk di jok belakang.
“Ya,... Pak Guru janji...,” jawabku sambil mengusap pelan kepalanya.
Setelah Sunny mau duduk di sana, aku pun menutup pintunya. Tapi, Pak Didi masih berdiri di tempatnya menatapku dengan senyuman haru.
“Selama ini Den Sunny nggak bisa dekat sama siapa-siapa. Waktu Non Saira di Australia dan nggak bisa pulang, dia selalu minta ketemu...,”
“Sudah berapa lama Sunny tinggal sama Oma-nya?”
“Sejak umur empat tahun. Sebelumnya Sunny tinggal sama teman Mamanya sampai akhirnya dijemput sama Nyonya yang awalnya nggak tahu kalau Non Saira hamil. Karena Nyonya nggak tega, Den Sunny dibawa ke Australia untuk ketemu Non Saira. Tapi, nggak bisa sering-sering karena Nyonya sibuk....”
Aku hampir tidak percaya dengan perkataan Pak Didi. Ternyata Mamanya Saira nggak sejahat itu padanya; walau caranya begitu ‘kasar’ dan Saira begitu keras seperti karang. Dia hanya ingin putri satu-satunya pulang.
“Maaf, Pak Guru, saya permisi dulu...,” Pak Didi akhirnya pamitan.
“Pak Didi, tunggu sebentar,” aku memanggilnya sebelum ia sempat menyalakan mesinnya. “Pak Didi tahu di mana rumah teman Saira tempat Sunny pernah dititipkan?”
“Tahu, Pak Guru. Tapi, dia sudah nggak tinggal di sana. Saya juga nggak tahu ke mana dia pindah...,” jawab Pak Didi, dan itu membuat jalanku kembali buntu.
***
“Aku nggak nyangka kamu bisa terikat begitu kuat dengan anak yang baru kamu kenal beberapa hari lalu,” Anna muncul lagi dan seperti biasanya membuyarkan pikiranku. Mungkin karena aku terlalu banyak melamun dan masih saja membuka data siswa itu. “Anak itu juga, dia dengan mudahnya bisa terbuka sama kamu bahkan supir keluarga yang biasanya nggak banyak bicara tiba-tiba bercerita panjang dengan kamu....”
Aku hanya tersenyum. Sulit untuk mengatakan bahwa banyak kebetulan yang membawaku ke sini. Tapi, Anna sepertinya guru yang baik juga; berbeda dengan Retha. “Apa kamu percaya dengan kebetulan?” aku bertanya padanya.
“Kebetulan yang bagaimana?” dia tampak tertarik dengan pertanyaanku.
“Aku mengenal nama yang tertulis di data siswa ini,” jelasku.
“Ibunya Sunny?”
Aku hanya tersenyum.
“Mantan pacar kamu?” tanya Anna tiba-tiba dan aku tersentak. Dia tertawa mendapati reaksiku. “Aku benar ya?” dia mulai mencandaiku.
Aku masih tertawa. Semua itu hanyalah kenangan yang menjauh.
“Kebetulan itu memang aneh. Tapi, ada beberapa yang bisa dijelaskan dengan logika. Pertemuan adalah sebuah misteri yang hampir nggak bisa terpecahkan. Karena itu ada kebetulan,” dia menjelaskan, tampak memberikanku dukungan atas perasaanku saat ini. “Dan... konon katanya, kebetulan yang sering terjadi adalah takdir.”
Takdir?
Aku mengurut kembali setiap pertemuan yang kuanggap kebetulan paling ajaib. Melihatnya di Australia, lalu di sekolah ini. Semua itu seolah terhubung kepada sesuatu -Sunny; seorang anak yang membuatku merasakan bagaimana memiliki seorang anak.
“Tapi, yang aku lihat di antara kamu dan Sunny adalah sebuah ikatan,” kata Anna. “Ikatan yang kuat bisa saja mengubah nasib.”
Aku beruntung memiliki rekan kerja seperti Anna. Dia wanita yang baik dan cerdas. Walaupun dia mempunyai seorang sahabat yang tidak terlalu kusukai; Retha. Kami menemukannya saat keluar dari ruang guru. Dia tengah berdiri di sana; seperti menguping.
“Kelas renang sudah selesai,” dia memberitahu kami. Tapi, aku tidak yakin dia datang ke sini hanya untuk mengatakan itu walaupun setelah kelas renang ada kelas Bahasa Inggris di mana Anna akan mengajar.
Entah perasaanku saja atau Retha memang sengaja tidak masuk ruangan karena ingin mendengarkan pembicaraan kami. Tapi, untuk apa dia menguping?
***
Saat bel pulang berbunyi lagi, tak ada yang berubah dari halaman belakang di mana aku dan Sunny menunggu Saira muncul. Anak itu kembali kecewa; kali ini padaku. Dia menangis tersedu-sedu; sebelumnya tidak pernah. Aku berusaha menenangkannya namun tidak sanggup lagi berjanji. Aku tidak bisa menjamin ibunya akan menemuinya; aku bahkan tidak berdaya. Didukung oleh cuaca mendung, kesedihan rasanya makin pekat saja.
Pak Didi terlihat cemas melihat Sunny menangis sampai matanya bengkak. Aku tidak menjelaskan banyak karena ini rahasia kecil kami. Meski pun Pak Didi sepertinya bisa dipercaya karena dia jelas ikut sedih saat melihat Sunnya terisak-isak.
“Dia kangen Mamanya,” aku menjelaskan ke Pak Didi.
“Sunny selalu kangen Mamanya. Kalau saya tahu Non Saira ada di mana pasti saya antar dia ke sana...,” kata Pak Didi. “Walaupun saya bakal dimarahin Nyonya, tapi saya nggak akan kehilangan nurani saya melihat anak kecil yang begitu sayang sama ibunya tapi untuk ketemu aja nggak bisa. Kalau seandainya Non Saira mau mengalah, Sunny nggak akan kayak gini... tapi memang Nyonya juga keras.”
“Apa benar kalau Saira pulang dia dikurung?” tanyaku lagi.
“Sunny mengira Mamanya dikurung karena pernah dengar Non Saira sama Nyonya ribut di rumah. Memang Nyonya sampai bilang kalau Non Saira nggak mau dengar, dia bakal dikurung supaya nggak ke mana-mana. Tau sendiri Non Saira juga keras, dia maunya bebas seperti selama ini...,”
Andai saja aku bertemu dengannya, akan kukatakan bahwa semua ini akan membaik kalau saja dia mengalah; mengalah untuk Sunny; mengalahn untuk menang.
“Saya pasti akan menemukan Saira, Pak Didi...,” aku berujar. “Saya sudah janji sama Sunny kalau dia pasti bisa ketemu sama Mamanya....”
“Makasih, Pak Guru,” ucapnya. Memandangku lekat-lekat. Saat dia harusnya sudah membawa Sunny, dia masih menatapku.
“Ada apa, Pak Didi?” tanyaku.
“Ah, enggak, Pak Guru teman Non Saira yang mana ya?” dia tiba-tiba bertanya.
“Saya pernah mengajar di SMA nya Saira dulu...,” jawbaku.
“Oh ya, ya...,” Pak Didi mengangguk-angguk sambil tersenyum. Tampaknya dia maklum lalu bersiap untuk naik ke mobil. “Saya pamit, Pak Guru. Makasih sudah menjaga Den Sunny....”
Aku memperhatikan mobil itu melaju hingga keluar gerbang sekolah dan merasa hampa. Belakangan tidak ada hal lain yang bisa kupikirkan selain bagaimana caranya agar Sunny tidak bersedih. Tapi, dengan memikirkannya, aku bisa lepas dari keluh kesah yang ada di rumah. Setidaknya di sekolah, menemani dan memperhatikan anak-anak membuatku merasa bahagia.
Aku melirik jam tanganku yang menunjukan pukul tiga sore. Setelah memastikan semua murid sudah dijemput keluarga, aku bisa pulang. Aku tidak berencana melakukan apa-apa sepulang dari sekolah. Aku masih belum berani mengajak Magisa makan di luar lagi; takut mood-nya akan menghancurkan suasana dan itu hanya membuat kami semakin jauh berselisih.
Tapi, saat aku kembali ke kantor, Retha sudah berada di sana tanpa Anna; padahal kantornya berada di sebelah.
“Kamu punya waktu setelah jam sekolah?” tanya dia dengan pelan namun tatapannya begitu penuh dan terpusat hanya kepadaku. “Untuk secangkir kopi?”
“Aku ingin tapi sayangnya aku punya jam pulang yang nggak boleh dilanggar,” jawabku diplomatis. “Mungkin lain kali?”
Retha mulai mendekatiku.
Aku tahu dia bertubuh tinggi. Penampilannya seperti guru dengan versi yang modis. Rok di atas lutut, sweater ketat dan sepatu hak tinggi berujung runcing. Harusnya dia bisa menarik perhatian pria lain, bukannya lelaki sepertiku yang lebih suka dengan anak-anak daripada wanita seksi. Aku memang payah dalam urusan wanita, tapi setidaknya aku berusaha setia.
Tanpa canggung dia berdiri di hadapanku dalam jarak kurang dari 20 cm. Aku hampir menabrak tubuhnya yang langsing; aku baru menyadarinya sekarang. “Ayolah, Sid,...” dia mencoba membujuk dan sekonyong-konyong menaruh kedua lengannya di bahuku.
Aku hanya menatap wajahnya. “Sorry,” ucapku tegas. “Aku punya makan malam dengan istriku.”
Dahinya seketika berkerut lalu melepaskanku. Sepertinya baru tahu kalau aku sudah menikah. Tampaknya dia langsung patah hati.
“Seriously?” dia terdengar protes. “Benar-benar nggak seru.”
“Maaf kalau kamu kecewa, Retha,” ucapku tersenyum simpul sambil membereskan barang-barangku di atas meja.
Di saat yang bersamaan, Anna masuk dan kaget melihat kami. Mungkin dia heran, apa yang dilakukan Retha tanpanya di sini? Tapi, tampaknya dia tidak berpikiran buruk soal itu.
“Sebentar lagi hujan, Ret,” kata Anna dengan buru-buru menuju mejanya. Dia sepertinya ingin cepat pulang. “Kamu bisa nyetir lebih cepat?”
“Bisa, sayangnya Sid nggak mau ikut,” jawab dia melirik Anna lalu kembali padaku. “Mr. Adams rupanya sudah menikah....”
Anna malah tertawa, “tuh kan?” dia menambahkan sambil melihat ke arahku. “Aku bilang juga apa?”
Aku baru tahu ternyata mereka suka membicarakanku di belakang. Itu bukan sesuatu yang bagus, tapi baik untuk menyadarkan Retha agar bersikap sewajarnya terhadapku. Aku memang tidak suka dengan wanita agresif yang belum apa-apa sudah ingin memelukku bahkan menciumku. Itu sesuatu yang nggak pantas dilakukan oleh seorang guru; di sekolah pula.
Tapi... bukannya aku dulu juga begitu?
“Jadi kamu nggak bisa ikut ngopi sore bareng kita, Sid?” Anna bertanya padaku.
“Maaf, kayaknya lima menitku sudah habis,” jawabku dengan pasti.
“Alright,” balas Anna yang sudah menenteng tas dan jaketnya. “Sampai jumpa besok, Sid.”
Aku mengangguk sambik memperhatikan Retha yang masih berusaha menggodaku dengan langkah yang diikuti gerakan pinggulnya. Dia membuatku tertawa geli. Aku melirik jam tanganku lagi, lima belas menit sudah habis hanya untuk meladeni para wanita yang ingin minum kopi bersama.
Setelah memastikan barang-barang di mejaku tersusun rapi, aku menuju parkiran mobil. Rintik hujan sudah membasahi tanah dan langit tidak sekedar mendung; gelap. Dengan kecepatan sedang aku melewati gerbang sekolah sehingga aku bisa melihat ada seseorang yang berdiri di depan pagar sekolah.
Aku memperhatikan sosok seorang perempuan yang tampak menunggu di tengah rintik hujan. Ketika mobilku lewat di depannya, aku baru sadar bahwa itu adalah Saira. Segera aku menepikan mobil dan berlari keluar.
Syukurlah itu benar-benar dia!
“Sidney...,” dia memanggil namaku dengan suara pelan yang kedengaran sedih.
“Kamu ke mana saja?” aku menanyainya dan dia menatapku sambil menggeleng; tampak memintaku untuk tidak bertanya sesuatu yang belum mau dia jawab.
“Tolong aku...,” katanya; menangis. Air matanya tersamarkan oleh suara hujan yang tiba-tiba bergemuruh. “Aku mohon, kali ini tolong aku....”
“Kamu selalu tahu aku akan melakukan apa saja,” ujarku sambil mendekat beberapa langkah. Aku memiliki perasaan yang amat kuat untuk memeluk tubuhnya yang kurus.
Saira tertunduk. Ia menahan isak tangisnya saat akhirnya aku memeluknya. Aku merindukannya. Aku sangat merindukannya....
***
Komentar
0 comments