[Ch. 17] PRETTY LITTLE BASTARD

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Scent of the Sun

Nama Saira Gayatri tertulis di data siswa milik Sunny. Benar seperti yang Anna katakan, tidak tertera nama ayahnya di sana. Saira belum berterus terang padaku dan semalam sempat terlintas pikiran bagaimana kalau akulah orang itu. Tapi masalahnya kenapa Saira tidak memberitahuku? Apa karena aku sudah menikah? Apa karena dia tidak mau merusak rumah tanggaku?

Baiklah, satu lagi misteri yang belum terpecahkan.

“Looks like you we’re chained with Sunny,” seseorang menegurku dan aku cukup terkejut. Rupanya Retha. “Apa kamu lihat Anna?”

“Oh?” aku tidak sadar bahwa Anna ternyata sudah tidak di mejanya. “Mungkin dia sudah kembali ke kelas.”

Aku kembali berkutat dengan data siswa yang lain. Aku perlu membacanya beberapa saat sebelum masuk kelas. Hari ini adalah kelas gambar; anak-anak biasanya suka sekali dengan kegiatan itu. Tapi, walaupun Anna tidak di tempat, Retha tak kunjung pergi. Dia masih berdiri di hadapanku; menatapiku; hingga aku risih.

“Kalau kamu mau tahu banyak tentang Sunny, aku bisa bantu,” katanya.

Aku tertawa pelan. Aku tahu lebih banyak sekarang.

“Terima kasih, Retha...,” ucapku kembali fokus pada data siswa di mejaku. Tapi, perempuan itu tiba-tiba merampasnya dariku; walaupun dengan cara yang lambat dan itu membuatku sangat heran. Terlebih dia menatapku begitu intens seolah ingin menunjukan sesuatu yang harusnya kulihat atau mungkin membuatku terpana.

Well, memang, bila dibandingkan dengan Anna yang usianya di atasku, aku dan Retha sepertinya seumuran. Dan karena aku mendengar anak-anak memanggilnya dengan Miss, dia mungkin masih single. Aku berusaha menendang jauh-jauh pikiran bahwa perempuan ini berusaha menarik perhatianku karena itu belum tentu benar. Aku tidak ingin terlalu percaya diri tapi tetap saja tatapannya itu cukup membuatku gelisah.

“Kamu terlalu memperhatikan Sunny. Ingat, Sid, muridnya ada sepuluh. Mereka bisa cemburu kalau kamu cuma perhatian sama satu orang anak saja,” kata dia, pelan dengan suara yang sengaja dibuat dalam. Dia masih menatapku seakan ingin menerkamku. “Aku juga bisa cemburu....”

Aku hanya membalasnya dengan tertawa. “Ada-ada saja...,” balasku sembari berdiri; tak sabar ingin menyudahi pembicaraan dengannya. “Aku harus kembali ke kelas. Mereka pasti sudah menunggu.”

Retha terlihat sedikit gusar. Apa boleh buat. Aku tidak ingin ‘meleleh’ oleh tatapannya yang menggelikanku.

***

“Sidney, look!” seorang anak perempuan memanggilku selagi aku memperhatikan Sunny yang tak sedikit pun menyentuh alat gambarnya.

Tampaknya Sunny tidak suka dengan menggambar.

Aku mengalihkan perhatian kepada Joana, gadis kecil berdarah Inggris itu berusaha menunjukan gambar yang dia buat. Dia berusaha mengangkat gambar itu tinggi-tinggi agar aku bisa melihatnya hingga aku harus jongkok untuk mengamati.

“This is my fluffy unicorn!” Joana menjelaskan tentang gambarnya tapi bagiku yang terlihat adalah sosok binatang yang jauh sekali dari bentuk unicorn tapi dihiasi dengan pelangi.

“That is nice, Joan...,” aku tersenyum.

“I will send it to Daddy,” dia berkata dengan logat Inggrisnya yang kental.

Tapi, aku sudah memperhatikan Sunny yang asyik dengan boneka kelincinya. Agaknya itu benda yang sangat berarti baginya; mungkin pemberian Mamanya.

“It will be lovely,” balasku lalu Joana dengan girang kembali ke mejanya. Dia mulai menambahkan warna-warna lain dalam gambarnya sementara aku merasa harus menghampiri Sunny.

Anak itu kembali murung setelah kemarin dia begitu senang bertemu dengan ibunya. Kenapa Mama Saira tega sekali memisahkannya dengan ibunya seolah-olah dia tidak tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ibu?

Kertas gambar Sunny masih putih bersih. Krayon-krayonnya pun masih rapi di dalam kotak. Kedua benda itu sepertinya tak pernah disentuh.

“Kamu nggak suka menggambar?” tanyaku, walau aku sudah tahu bahwa dia tidak akan menjawabku. Dia persis seperti ibunya; tapi dengan versi yang berbeda.

Dia hanya menatapku. Dia tidak peduli dengan teman-temannya yang bersemangat.

Aku beralih ke boneka kelinci yang dia pegang. “Itu dari Mama?” tanyaku.

Sunny mengangguk pelan. Hanya itu. Namun masih terlihat cemberut.

“Apa nanti dia datang lagi?” aku bertanya, rasanya aku juga ingin bertemu dengannya lagi.

Sunny tetap diam. Dari ekspresinya yang kecut, sepertinya dia tidak tahu atau tidak yakin ibunya akan datang. Mungkin saja, setiap hari memanjat pagar itu, apa dia tidak terluka? Apakah Saira tidak pernah terjatuh?

“Kamu mau ketemu Mama?” aku bertanya dan Sunny menggeleng dengan cepat.

Air muka Sunny kelihatan sedikit berubah.

“Baik, nanti kita tunggu Mama ya,” jawabku sedikit berbisik padanya. “Dia pasti datang. Kalau dia datang, nanti kamu kasih gambarnya ke Mama ya?”

Akhirnya bocah itu memberiku senyumnya. Barulah ia menyentuh krayonnya dan mulai membuat goresan di kertas gambar. Namun, tetap saja boneka kelinci itu berada di dalam pelukannya. Ternyata segala sesuatu yang membuat Sunny bahagia adalah ibunya; dan selama ini tak ada yang tahu itu. Ya, juga tak ada yang tahu bahwa Saira sering melompati pagar belakang hanya untuk bertemu putranya.

Aku mengusap kepalanya sejenak sebelum beralih ke anak-anak lain. Hingga kelas gambar selesai, Sunny tampak sedikit bersemangat.

***

Aku harus bertanya pada Saira saat bertemu nanti dan dia harus menjawabnya kali ini setelah kemarin dia memberiku ekspresi yang misterius; diam dan bersikap tak ingin membahasnya. Walaupun itu akan terlihat konyol. Setidaknya, perasaan ini tidak menggelisahkanku. Dia tidak tahu seberapa besar keinginanku akan seorang anak.

Hanya saja bagaimana dengan Magisa? Apa dia bisa menerimanya? Tapi, mau tidak mau itulah kenyataannya. Bukankah Sunny juga sudah hadir sebelum kami menikah, bahkan sebelum kami berpacaran. Pikiranku semakin kacau saat aku memandang ke pagar itu. Aku menunggu dengan penuh harapan; terlebih Sunny yang kembali berwajah cemberut.

“Apa biasanya Mama telat?” aku bertanya, tak berharap dia akan menjawabku.

Bisa saja Saira mempunyai urusan lain ‘kan? Tapi, aku juga tidak yakin. Dia tentu tidak akan melewatkan kesempatan sekecil apa pun untuk bisa bertemu putranya ‘kan?

Sunny masih diam.

“Kamu tahu Mama tinggal di mana?”

Anak itu hanya menggeleng.

“Kamu juga nggak tahu Mama tinggal dengan siapa?”

Tiba-tiba Sunny meneteskan air mata namun segera ia tepis. Ia berusaha memandang dengan mantap. Sepertinya dia tidak suka ada yang melihatnya menangis. Dia berusaha untuk terlihat kuat; anak lelaki.

“Apa Mama datang setiap hari?” aku bertanya lagi.

Sunny menggeleng.

Kami menunggu hingga sepuluh menit berlalu. Tapi, Saira tak pernah melompat dari pagar itu. Dia tidak muncul. Aku tak tahu siapa yang lebih kecewa antara aku dan bocah itu. Namun, kami terlihat sama ketika akhirnya aku harus menggendong Sunny.

Saat itu Retha muncul dan mendapati Sunny menangis.

“Sunny kenapa?” tanya dia dari kejauhan.

“Jangan bilang bu guru...,” Sunny berbisik padaku, aku cukup terkejut karena itu pertama kalinya dia bicara kepadaku. Sepertinya dia takut kalau aku akan membongkar rahasia kecilnya.

“Hm... Sunny menjatuhkan bonekanya, dan dia sedih,” jawabku sedikit asal namun Retha tampak mempercayainya begitu saja.

“Ya sudah. Ayo, Sunny, Pak Didi sudah datang,” kata dia.

“Pak Didi?” aku bertanya, siapa itu?

“Pak Didi supir keluarga,” jawab Retha. “Dia bertanggung jawab untuk mengantar jemput Sunny sekolah. Sepertinya kamu harus bertemu dia.”

“Ya,” aku menyanggupi sambil tetap menggendong Sunny dan membawanya ke halaman depan. Aku merasa berat untuk menurunkannya. Anak itu berpegangan padaku dengan erat seakan tak ingin naik ke mobil itu. Seakan dia ingin tetap menunggu ibunya di halaman belakang.

Retha mengenalkan Pak Didi padaku. Seorang pria paruh baya; usianya sekitar 40  tahunan. Rambutnya hampir memutih dan dia memiliki senyum yang ramah.

“Sunny sampai digendong Pak Guru?” Pak Didi bertanya pada Sunny yang naik ke mobil dengan cemberut. Ia menatapku.

“Iya,” jawabku sambil memandangi wajahnya; wajahnya yang terasa familiar bagiku.

“Apa Sunny merepotkan?” tanya dia, dengan aksen jawanya yang kental. Dia menatapku lekat-lekat seperti sedang berusaha mengenaliku.

“Nggak, Pak Didi,” jawabku.

“Sunny punya kemajuan. Dia akhirnya bisa dekat dengan orang,” kata Retha terdengar sedang memujiku.

Pak Didi cukup terkejut. Dia menatapku dan tiba-tiba bersiap untuk pergi saat aku berpikir dia akan mengajak bicara beberapa saat lagi.

“Saya pamit dulu, Pak, Bu Retha,...” kata pria tua itu sebelum naik mobil dan duduk di belakang kemudi. Dia tersenyum sebelum memundurkan kendaraannya dan aku sangat yakin pernah melihatnya sebelum ini; maksudku sebelum aku berada di sekolah ini.

Kalau tidak salah, pria ini jugalah yang dulu sering mengantar Saira ke sekolah. Aku sering memperhatikan Saira turun dari mobil di depan gerbang. Dia sempat melambaikan tangan ke arah supirnya sebelum ia melangkah dengan angkuh memasuki sekolah. Sepertinya hubungan Saira dan supirnya sangat akrab; sekarang dia bertugas mengantar anaknya juga.

Pantas, Bapak itu sepertinya juga mengenaliku.

***

Aku pulang tepat waktu. Jam empat sore. Di mana aku menemukan Magisa sudah mulai beraktivitas. Dia terlihat di depan mesin cuci; sibuk mengurusi baju kotor yang menumpuk di dalam keranjang. Dia terlalu sibuk sampai tidak menyadari kehadiranku. Aku cukup lega.

Namun, karena Magisa tidak tahulah, aku bisa menyaksikan sendiri kebiasaan lamanya yang sebenarnya tidak bagus; yang mana pernah dia akui sendiri saat ia merasa cemburu; yaitu menciumi baju yang pernah kupakai. Dia melakukan itu untuk memastikan tidak ada bau lain yang menempel di sana. Karena menurut pemahamannya, jika aku dipeluk oleh wanita maka baunya akan lekat di bajuku.

Hanya saja aku tidak bisa menyembunyikan tawaku ketika melihat Magisa mual karena mencium pakaian kotorku. Dia terkejut dan tiba-tiba cemberut.

“Kamu masih ngelakuin hal-hal yang nggak berguna itu?” tanyaku, mencoba untuk melupakan makan malam yang rusak itu.

“Bau matahari,” jawabnya ketus dan aku tersentak. “Kamu panas-panasan?”

Sekolah tempatku mengajar adalah tempat sejuk di tengah Jakarta yang panas di musim panas. Tapi, kemeja biru langit di tangan Magisa adalah baju yang kupakai ketika aku harus mengikuti Saira yang berjalan kaki. Ironis. Tapi, bau matahari bukanlah bau yang bisa dicurigai oleh Magisa.

“Aku mengawasi beberapa anak yang main di halaman dan cuacanya terik,” jawabku; inilah pertama kali aku berbohong padanya.

Magisa melempar baju itu dengan kasar ke dalam mesin cuci berikut baju-baju kotor lainnya. Sepertinya aku kembali membuatnya kesal.

Begitu pekerjaan di mesin cuci selesai, Magisa berpindah ke dapur. Dia mencuci beberapa piring kotor dan aku mengawasinya. Sudah lama aku tidak melihatnya senormal ini. Mungkin setelah ini dia akan memasak tapi handphone-ku berbunyi.

Magisa menghentikan pekerjaannya dan sempat melirikku sejenak selagi aku mengangkat telepon.

“Hi, Reg,” aku menjawab teleponnya sambil menjauh.

Begitu mendengar nama adikku, Magisa yang tadi sempat mencurigai kembali melanjutkan cuci piringnya. Aku pun masuk ke kamar, memelankan suaraku sambil memastikan Magisa tidak akan muncul.

“How do you do?” Reggina bertanya padaku; seperti tahu bahwa aku tengah memenangkan sesuatu hari ini.

“Good,” jawabku.

“Where are you?” dia bertanya.

“Aku sudah di rumah,” jawabku.

“Bukan waktu yang tepat?” dia tahu bahwa aku sengaja memelankan suaraku untuk menghindari terjadinya perang dunia ke III.

“Tergantung dari apa yang ingin kamu bicarakan,” jawabku.

Reggina terkekeh. “Aku cuma mau bilang kalau aku dan Triz berencana berkunjung ke sana. Bagaimana pun kami harus melihat keadaan Magisa ‘kan?”

“Oh ya? Kapan?”

“Probably next week?”

“Ok,” jawabku. “Tapi, ada hal yang ingin aku tanyakan soal penyelidikan kamu.”

“Penyelidikan yang mana?”

“Penyelidikan yang paling mengganggu yang pernah kamu lakukan.”

Reggina terkekeh lagi. “So?” dia bertanya; terdengar penasaran.

“Kamu sudah tahu segalanya?” aku memperhatikan pintu, menajamkan pendengaran.

I’m not God, Sidney...,” dia masih saja mempermainkanku.

“Bukannya kamu memang tahu segalanya?”

Adikku tertawa makin keras di sebarang sana. “Kamu harus bertanya dengan lebih spesifik,” jelasnya.

“Baik, kamu tahu siapa orang yang membuat dia dipenjara? Maksudku, dia warga negara Indonesia harusnya dia dideportasi dan menjalani hukuman di sini. Kenapa lima tahun? Dan setelah itu dia harus terlunta-lunta?”

“Anak seorang pemilik bisnis properti terbesar di Canberra. Ayahnya nggak terima putranya dituduh telah melakukan percobaan perkosaan yang membuat Saira harus membunuh dia. Kamu tahu kita yang memiliki koneksi di mana-mana bisa melancarkan banyak hal, dan seperti itu pula mereka. Dia menuntut Saira agar dihukum seberat-beratnya dengan membayar polisi, jaksa, atau siapapun terkait kasus itu. Dan Saira sendiri juga bukan gadis kecil miskin yang datang ke Australia sebagai imigran gelap. Ibunya berjuang mati-matian agar dia nggak dijatuhi hukuman berat. Dan putusan akhir, lima tahun kurungan. Tapi, Mamanya itu juga mengusahakan supaya dia nggak disatukan dengan tahanan lain. Ya, sejenis ruang isolasi khusus untuk dia sendiri sehingga dia nggak perlu bersentuhan dengan tahanan yang lain....”

“Apa lagi? Apa lagi selain itu?”

“Sid, apa kamu ketemu dia lagi?” Reggina membungkamku dengan balik bertanya.

Aku tidak langsung menjawab. Malah aku punya pertanyaan lain yang seketika terbesit di kepalaku. “Jadi kamu sudah tahu? Aku nggak yakin tapi aku merasa bahwa kamu menyusun sebuah rencana untukku karena kamu memang tahu semuanya. Kamu tahu semua hal yang belum aku tahu,” kataku dan entah mengapa adikku masih bisa tertawa.

“Sid, aku memang menyelidiki semuanya tapi nggak berarti segala sesuatu yang bahkan aku nggak tahu maksunya itu ada hubungannya denganku,”

“Jangan berbelit-belit, Reggina....”

“Ini tentang apa? Kamu ketemu dia terus apa hubungannya denganku? Aku mencarikan kamu pekerjaan yang kamu inginkan, terus apa masalahnya? Apa hubungannya dengan Saira Gayatri?”

Aku terdiam. Atau aku salah? Apa Reggina dan penyelidikannya memang tidak tahu bahwa Saira memiliki seorang anak yang kemungkinan adalah darah dagingku? Oh, aku ingat perkataan Anna di sekolah, barangkali Sunny adalah aib yang disembunyikan oleh keluarganya sehingga segala hal tentangnya adalah rahasia. Walaupun nama Saira tertulis di data siswa tidak berarti juga Reggina mengetahuinya. Reggina hanya menyelidiki riwayat Saira di Australia walau dia juga akhirnya tahu bahwa Saira sangat erat dengan masa laluku.

Lalu kenapa aku bisa mengajar di sekolah Sunny? Apa kali ini hanya kebetulan yang berbicara lagi? Terlalu banyak kebetulan hingga rasanya bukan Tuhan yang merencanakannya, melainkan manusia. Hanya saja, ini tetap membingungkan. Kalau adikku tahu Sunny adalah anakku tentu dia akan memberitahuku karena aku memang menginginkan seorang anak. Aku tahu adikku tidak akan membohongiku, apalagi ini menyangkut seorang anak manusia.

“Dia punya anak, Reggina,” kataku akhirnya. “Aku menemukannya di sekolah.”

“Oh ya?” Reggina benar-benar meyakinkanku bahwa dia memang tidak mengetahuinya.

“Aku pikir kamu memang tahu segalanya...,” aku sedikit kecewa dengan reaksinya.

“There’s a limit I can’t breaktrough...,” dia berkata dengan pelan hingga aku tertegun.

Aku harus menanyakan sendiri padanya jika nanti aku bertemu Saira. Aku harus tahu dan walaupun itu bukan aku, aku tetap harus tahu.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments