[Ch. 16] PRETTY LITTLE BASTARD

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Rush Hours

“Kamu berada di mana-mana,” Saira lah yang pertama kali menyapaku saat aku malah terpaku berusaha memahami kenapa ini bisa terjadi lagi; pertemuan ini.

“Harusnya aku yang bilang begitu,” aku membalasnya. Kusadari bahwa ini memang bukan mimpi. Namun pikiranku kembali kacau sampai aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padanya. “Kamu muncul seperti itu, seperti jatuh dari langit ....”

Saira tertawa renyah. Dia kembali menatapi putranya. “Hari ini kamu nggak nakal ‘kan?” tanya dia pada putranya lalu mengabaikanku.

“Ada yang mengambil bonekaku...,” kata Sunny.

“terus?”

“Aku pukul aja...,”

“Bagus,” kata Saira. “Kamu nggak boleh biarin ada orang yang mengganggu kamu.”

“Ajaran apa sih itu?” aku menyela dan Saira mendongak dengan kesal padaku.

Dia bangkit sambil menggendong Sunny agar bisa tetap memeluknya. Sungguh, di mataku pemandangan itu terasa ajaib. “Kamu magang?” tanya dia, skeptis.

“Aku gurunya,” jawabku setengah protes dengan kata-kata ‘magang’. Dia menyadarkanku bahwa sifatnya yang dulu tidak semuanya berubah.

Saira tampak kaget. Lalu tertawa melecehkan, “Sidney Adams sekarang jadi guru SD?”

Aku menghela nafas. “Sekarang bilang kenapa kamu harus melompat pagar kalau cuma mau ketemu sama anak kamu?” tanyaku menjadi tidak sabaran karena ada banyak pertanyaan lain di kepalaku dan pertanyaan terbesarku adalah darimana asalnya anak itu? Maksudku siapa ayahnya? Seingatku Anna pernah mengatakan bahwa di data siswa hanya ada nama ibunya. “Aku tahu kamu dari dulu hobi memanjat pagar, tapi kalau itu berlanjut sampai sekarang itu membingungkan. Kamu nggak sedang mendramatisir keadaan supaya kelihatan keren ‘kan?”

“Bodoh. Gimana aku bisa jawab pertanyaan kamu kalau kamu ngomongnya kepanjangan?!”

“Kamu bilang aku bodoh?” aku sedikit tak terima sementara Saira menatapku kesal seakan dia ingin mengajakku bertengkar. “Aku benar-benar bingung. Kamu ... kamu nggak pernah bilang kalau kamu punya anak! Dan... dan kapan kamu....”

“Sunny?!” suara Anna mengagetkanku. “Sunny? Kamu di mana, Sayang?!”

“Sial!” gerutu Saira yang segera menurunkan Sunny. Ia mulai menggeledah sekitar dengan matanya; tampak mencari tempat sembunyi. “Kalau ketahuan bisa gawat!”

Sunny juga ikut panik.

Aku paham, sepertinya walaupun Saira ibunya Sunny, dia bukan pengunjung yang terverifikasi. Dia berlari kalang kabut ke sudut di mana ada tempat tersembunyi; gudang belakang.

Anna pun muncul. Dia lega saat melihat Sunny bersamaku. “Di sana rupanya. Kamu benar-benar bikin khawatir,” katanya sambil menghampiri. “Supirnya udah datang. Ayo!”

Sunny dengan patuh mengikuti. Dia berjalan lebih dulu di depan Anna.

Anna tampak menghela nafas, “Ada-ada aja. Dia selalu menghilang setiap jam pulang sekolah dan pergi ke sini. Sepertinya nggak mau pulang...,” jelasnya.

“Ah ya, sepertinya dia nggak suka pulang,” balasku seadanya.

Kemudian Anna melangkah pergi. Saat aku masih berdiri saja, dia pun menoleh sambil mengernyit. “Kamu masih ada keperluan di sana?” tanya dia heran; mungkin seharusnya aku ikut ke depan bersamanya mengawasi anak-anak.

“Ah ya, aku... aku akan ke sana sebentar lagi,” kataku, melirik gudang di mana Saira terlihat mengintip; barangkali memastikan bahwa aku tidak mengadukan seorang penyusup.

“Oke,” sahut Anna namun masih menatapku curiga.

Saira keluar dari persembunyian setelah Anna benar-benar sudah jauh. Dan yang aku herankan adalah pertemuan dengan anaknya hanya seperti itu saja. Singkat dan tergesa-gesa? Kenapa bisa begitu?

“Sepertinya aku harus pergi,” kata dia, tampak bersiap-siap; bukan dengan melewati koridor dan aku juga tidak yakin dia akan melompati pagar lagi. Dan yang juga masih menjadi misteri adalah bagaimana cara dia melakukannya?

Tapi belum sempat aku menyelesaikan pertanyaanku, Saira sudah mengambil ancang-ancang. Dia mengambil jarak yang jauh dari pagar sebelum melesat cepat; seperti angin. Aku termangu dengan gerakannya yang cepat; seperti kera yang memanjat. Dia sempat melangkahkan kakinya di dinding sebelum kedua tangannya meraih ujung pagar dan dia memanjat hingga akhirnya berada di atas. Hanya dalam hitungan lima detik. Apa dia seorang atlet Parkour?

“Hei!” panggilku. Aku tidak siap jika pertemuan yang walaupun tak pernah diharapkan ini selalu saja berakhir singkat. “Kamu selalu seperti itu? Menghilang?”

“Terus apa yang kamu harapkan, Sidney?” tanya dia, terdengar mengejek.

“Apa kamu akan terus menyisakan banyak pertanyaan yang nggak bisa terjawab?” balasku.

Dia memutar matanya, kembali terlihat gerah. “Oke, aku tunggu di sini,” katanya sebelum melompat turun. Lalu hening. Sepertinya dia sudah menyentuh tanah di balik dinding ini.

***

“Jangan berharap banyak. Aku nggak akan naik mobil seorang laki-laki beristri,” kata Saira menegaskan saat aku berhenti di depannya dengan mobilku.

Dia membuatku sedikit gusar, karena itu terdengar seperti umpatan. Namun dia membuatku seperti orang bodoh yang akhirnya turun dari mobil dan setuju untuk ikut dengannya. Pertemuanku dengannya selalu seperti itu. Di mana aku selalu berjalan di belakangnya; pergi ke mana pun yanng ingin dia tuju. Tetap saja, walaupun kembali bertemu, sosoknya yang kurus dan dibalut warna gelap, selalu memunculkan banyak misteri.

Selama berjalan bersamanya, aku sudah memikirkannya; terutama tentang Sunny. Apakah Saira menjalin hubungan dengan seorang pria setelah aku?

“Mama nggak pernah ngizinin aku ketemu sama Sunny, kalau kamu mau tahu,” Saira memulai saat ia memilih duduk di sebuah halte bus yang kami lewati dalam perjalanan tanpa tujuan itu. Entah mengapa dia lebih suka duduk di pinggir jalan daripada di tempat makan. “Dia nggak mau Sunny seperti aku karena menurutnya hidupku sudah sangat kacau.”

“Kamu membiarkannya kacau,” aku menyela dan Saira menatapku kecut.

“Bagian terburuk dalam hidupku adalah... di penjara di negeri orang dan mendapatkan ketidakadilan setelah itu,” terangnya. “Aku terpaksa harus menitipkan Sunny pada seorang teman selama di penjara. Saat Mama-ku tahu kalau aku punya anak, dia pun mengambilnya dan menjauhkanku dari Sunny. Makanya aku nggak bisa ketemu dia dengan bebas.”

“Mama kamu sedingin itu? Kenapa kamu nggak bisa kembali dengan cara baik-baik?”

“Sidney, aku ini anak-anak satu-satunya yang gagal. Bisa kamu bayangkan betapa kecewanya dia saat aku punya anak dari orang yang menurutnya nggak jelas?”

“Nah, itu juga yang ingin aku tanyakan. Siapa ayahnya Sunny?” aku bertanya dan seketika Saira tersentak. Apa aku terdengar cemburu baginya?

Dia menatapku tanpa jawaban. Sepertinya dia tidak ingin menjawab pertanyaan yang satu itu. Aku mulai berasumsi jangan-jangan Sunny adalah anak dari orang yang memperkosanya? Apa karena itu dia tidak ingin menjawabnya.

“Aku lapar. Kamu nggak niat traktir aku atau apa kek?” tanya dia tiba-tiba.

“Aku nggak mau Nasi Padang,” jawabku.

“Oke, karena kamu yang traktir jadi terserah kamu aja,” dia terdengar lebih ramah.

***

Pilihanku jatuh pada Restoran Chinese dan bayangkan untuk menuju ke sana saja, kami harus berjalan kaki sejauh tiga kilometer dan itu pun di bawah terik matahari pula. Semua itu hanya demi umpatannya padaku yaitu ‘tidak ingin semobil dengan orang yang sudah beristri’. Kedengarannya umpatan itu mengandung arti yang dalam: Saira tidak suka aku menikah terlebih yang kunikahi adalah Magisa. Bisa jadi dia cemburu.

Ini mulai membingungkan, kenapa aku senang dia cemburu? Perasaanku mulai membuatku khawatir. Jam di dinding sudah menunjukan pukul empat sore dan harusnya aku sudah dalam perjalanan pulang. Bagaimana pun keadaannya saat ini, aku mempunyai istri yang mungkin sedang menungguku pulang walaupun dia juga sedang kesal padaku.

Tapi, Saira selalu menjadi magnet yang mengundangku untuk mengikuti langkahnya hingga bahkan gerak-geriknya. Aku menatapinya seakan aku tidak akan melihatnya lagi; karena dia selalu menghilang; selalu seperti itu.

Dengan lahap dia memakan semua yang kupesan untuknya; seperti dugaanku dia selalu lapar dan ingatan saat kami bertemu di Australia juga menunjukan bahwa dia memang makan dengan cepat. Aku tertawa pelan saat akhirnya dia menyadarinya.

“Kamu kenyang hanya dengan mandangin orang?” tegurnya.

Aku kembali tertawa. “Kamu bisa makan banyak dengan lahap, tapi kenapa masih kurus?” tanyaku.

Saira tidak menjawab sampai dia menyelesaikan makannya dan menyisakan piring-piring yang hampir licin. Dia minum dengan nikmat sampai bersendawa. Ah, kesan angsa elegan yang angkuh dan melekat saat dia masih SMA sekarang seperti foto lama saja.

“Kamu punya rokok?” tanya dia kemudian.

“Aku nggak pernah merokok lagi,”

“Cih!” dia tersenyum sinis, “Pasti istri kamu.”

Aku diam. Aku tidak suka dia membicarakan Magisa walau itu kenyataan; kenyataan yang amat pahit baginya.

“Aku nggak asal menuduh, lho. Menurut kamu siapa yang lebih lama kenal si kawat Magisa?” kata dia. “Aku tahu sifatnya. Dia perfeksionis, higienis, dan klimis!”

“Dia udah nggak pakai behel lagi,” kataku, menyela.

“Apa dengan begitu dia sudah kelihatan cantik? Seperti yang dia mau?”

“Aku nggak mau ngomongin itu,” tukasku, mulai kesal. Magisa adalah istriku sekalipun Saira yang mengejeknya, aku tetap tidak bisa terima.

“Kenapa? Apa kita ini sedang pergi selingkuh?” balas Saira, dia juga terlihat sebal.

“Jaga ucapan kamu, Saira!” celetukku.

Saira menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan lelah. Dia menatapku seperti mulai bosan bicara denganku; dan anehnya aku sedikit khawatir setelah ini dia akan pergi dan menghilang. “Kamu bertanya tentang kehidupanku terlalu banyak, apa aku nggak boleh bertanya tentang kehidupan kamu juga?” dia bertanya, nada suaranya melunak. “Ya, sekali pun yang kamu bicarakan itu adalah tentang orang yang membuat hidupku benar-benar kacau. Tapi, sudahlah, aku sudah nggak mempermasalahkannya lagi.”

“Apa yang ingin kamu tanyakan?” aku pun berusaha untuk tenang kembali.

“Aku nggak mau bertanya sama orang yang kelihatannya nggak suka ditanyai,” jawab dia sambil melirik jam dinding. Sepertinya dia juga mencemaskan hari yang mulai sore. “Lagipula kamu harus pulang. Aku tahu kamu juga gelisah sejak tadi.”

Aku ikut menarik nafas panjang. “Kamu tahu apa yang terjadi padanya belakangan ini?”

“Apa? Kupikir kalian hidup bahagia selamanya. Apa lagi? Menikah, punya anak, hidup bergelimang harta, apa yang kurang?” jawab Saira terdengar sarkastis.

“Kami nggak bisa mempunyai anak, itu kenyataannya,” jelasku menatapnya dan menemukan dia terkejut lalu tampak prihatin.

Saira berhenti berbicara. Dia hanya memandangiku dan tampak merasa bersalah.

“Kamu lebih beruntung, bisa punya seorang anak walaupun menurut kamu kehidupan kamu sepenuhnya kacau. Dia menjadi alasan bagi kamu untuk bangkit...,” kataku dengan hampa.

“Itu bukan kesalahan kamu.,” ujar Saira tiba-tiba dan dia menatapku lekat-lekat. “Dia yang nggak bisa punya anak...,”

“Ya, tapi apa aku berhak untuk punya anak dari wanita lain?” balasku dan Saira tertegun.

Beberapa saat dia terdiam menatapku seakan ingin mengatakan sesuatu namun ragu-ragu.

“Apa kamu tahu hal berat apa yang terjadi padanya beberapa waktu lalu dan itu ada hubungannya dengan ibu kamu?”

“Apa?” Saira sepertinya memang tidak tahu karena dia kelihatan terkejut.

“Ibu kamu membuat dia tidak bisa diterima di perusahaan property mana pun dan itu adalah impian terbesarnya. Mereka ketemu secara kebetulan. Magisa mempresentasikan design apartmen yang dia buat tapi dia sama sekali nggak tahu bahwa kliennya adalah ibu kamu,” aku menjelaskan. “Dia membalaskan dendam atas apa yang sudah terjadi sama kamu, Saira.”

“Kenapa Mama-ku melakukan hal yang kekanakan begitu?” dia malah menatapku heran lalu mendecak kesal. “Itu benar-benar nggak lucu, Sidney!”

“Itulah yang terjadi sampai Magisa terguncang,” kataku.

Saira mengangguk-angguk. “Oke, pantas dari tadi kamu gelisah... sepertinya kamu butuh pulang,” kata dia.

Ya, aku ingin tapi aku juga tidak ingin mengakhiri pertemuan. Aku selalu takut; Ya Tuhan, aku takut dia menghilang lagi.

Saira berdiri dari kursinya. Dia sudah siap untuk pergi dan anehnya dia tersenyum, “Kamu harus membuatnya merasa lebih baik,” kata dia. “Beli bunga mungkin. Tapi, jangan bunga matahari,” candanya.

Aku ikut tertawa. Saira tidak tahu secemburu apa Magisa pada bunga matahari yang ada di kantorku. “Apa kita akan bertemu lagi di sebuah kebetulan lain?” aku bertanya saat dia membalikan badannya.

“Nggak akan ada kebetulan lagi, Sidney....” dia berkata, seperti menjanjikan sesuatu. “Aku sih ngak ingin, tapi kebetulan yang terakhir tadi benar-benar bikin aku bakal banyak berurusan sama kamu. Bukannya kamu gurunya Sunny?”

Oh iya?! Kenapa paranoid ini membuatku sangat bodoh?

“Tapi, aku senang ternyata itu kamu,” sambung dia. “Selama ini aku selalu lompat pagar hanya untuk ketemu sama anakku.”

“Aku mau bantu kamu tapi ada syaratnya,”

“Mulai deh...,” Saira kembali terdengar meledek. “Yang jelas kalau jadi istri kedua aku nggak mau.”

Aku tidak senaif itu. Namun harus kukatakan padanya bahwa aku mempunyai ketakutan ini. “Pertama, nggak ada rahasia lagi dan kedua jangan menghilang.”

Saira mengangguk. “Aku juga nggak suka punya rahasia dan ini Jakarta, mana mungkin aku menghilang,” jawab dia, terdengar seperti sebuah janji. “Lagipula satu-satunya hal yang bikin aku melarikan diri adalah pengkhianatan kamu, tapi itu sudah lama. Nggak ada gunanya diungkit-ungkit.”

“Maaf, aku ...,”

“Semua ini hanya demi aku bisa ketemu sama Sunny...,” dia menegaskan, “dan aku nggak punya pilihan lain....”

Aku membiarkannya pergi dengan perasaan lega. Aku tidak menyangka dua puluh empat jam dalam sehari ini begitu penuh dengan kejutan. Aku tidak bisa berhenti tersenyum sepanjang perjalanan pulang. Tidak lupa, aku singgah di kios bunga untuk membelikan satu buket mawar putih untuk Magisa. Aku juga ingin mengajaknya makan malam di tempat yang romantis.

Tak peduli bagaimana pun reaksinya bertemu denganku, aku ingin menunjukan bahwa kehadiran Saira kembali pun tak akan mengubah apa-apa.

***

Magisa tidak berubah sejak dari rumah hingga kami tiba di sebuah restoran Italia untuk makan malam. Pelayan sudah menyiapkan tempat khusus dengan lilin yang menyala dan diringi suara biola yang mendayu-dayu. Dia makan hidangannya dengan sangat pelan namun tampak tidak menikmatinya. Padahal makanan Italia adalah salah satu favoritnya.

“Kamu nggak suka makanannya?” tanyaku.

Magisa tidak menjawab; malah cenderung mengabaikanku dengan tidak mau menatap wajahku. Dia mulai memainkan spageti nya dengan garpu dan sepertinya tidak lagi tertarik untuk makan. Seolah mendengar suaraku membuatnya kehilangan nafsu makan.

“Gi?” tegurku, sambil menggenggam tangannya di atas meja. Tapi dia menariknya. “Sampai kapan kamu mau seperti ini?”

Lagi-lagi, dia bungkam. Menghindari wajahku adalah bentuk pertahanannya. Aku tidak tahu apa betul yang membuatnya sedemikian marah.

“Kamu harus melepaskannya...,” ujarku.

Akhirnya Magisa menatapku juga, namun tajam. “Kenapa aku harus melepaskannya?” tanya dia ketus. “Kenapa kamu minta aku melepaskannya? Kamu bisa mengejar keinginan kamu lalu kenapa aku harus berhenti?”

“Terus apa yang akan kamu lakukan?” tanyaku.

“Aku akan mencari dia. Kalau perlu aku akan buat dia merasakan apa yang aku rasakan saat ini!” katanya.

Dia? Aku yakin yang dia maksud adalah Saira.

“Magisa, lupakan semuanya! Kita bisa hidup tenang kalau saja kamu bisa menerima kenyataan...,”

“Kenyataan ini terlalu pahit, Sidney!” teriaknya; sampai-sampai ia berdiri dari kursi sambil melotot padaku.

Pemain biola pun sampai ikut terkejut dan sempat berhenti bermain sejenak. Namun dia melanjutkannya.

“Ini hanya cobaan, Magisa!” kataku. “Seberat apa pun itu kita selalu menghadapinya bersama. Kamu pernah melalui yang lebih buruk dari ini tapi kenapa kamu sekarang merasa bahwa semuanya berakhir?! Kamu masih punya aku ‘kan?! Untuk apa pekerjaan itu?!”

“Itu mimpiku, Sidney! Mimpiku!” dia berteriak. “Kamu yang dari lahir sudah memiliki segalanya nggak akan mengerti apa itu impian!”

Aku ikut berdiri. “Aku sama sekali nggak ngerti dengan jalan pikiran kamu!” teriakku; aku sendiri tidak menyangka bahwa aku akan terpancing emosi. “Hal buruk terjadi karena suatu alasan! Harusnya kamu mengerti itu!”

“Begitu? Apa kamu mencoba mengatakan bahwa apa yang terjadi dalah salahku?! Karena aku jahat sama dia?! Atau karena aku mengambil kamu darinya?!”

“Cukup, Magisa! Aku berusaha untuk menenagkan kamu! Tapi, kamu nggak pernah mau ngerti!”

Malam yang harusnya menjadi malam yang indah bagiku berakhir dengan sangat menyedihkan. Kami pulang dalam kebisuan; bahkan bertemu mata pun tidak. Aku benar-benar sudah kehilangan akal. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Lagipula apapun yang akan kulakukan dia tidak peduli; dia tidak menghargainya.

Aku benar-benar sangat lelah terlebih ketika menemukan mawar pemberianku sudah berpindah dari tempat tidur ke tong sampah. Entah kekecewaan apa lagi yang harus kudapatkan setelah ini.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments