๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Sunny
Sydney International Elementary School, sebuah kebetulan kalau seandainya perawat rumah sakit tidak salah menulis namaku. Tapi, sekolah dasar bertaraf internasional itu memang dikelola di bawah yayasan yang didirikan oleh perusahaan ayahku. Tujuan Reggina memintaku mengajar di sini adalah agar aku bisa menemukan orang-orang yang tepat untuk membuat sebuah program bagi anak-anak miskin. Hanya itu yang terpikirkan oleh orang yang tidak akan bisa memiliki anak seperti diriku. Awalnya aku berharap aku bisa mengerjakan hal ini dengan Magisa, tapi melihat sikapnya aku yakin dia tidak bersedia merepotkan dirinya mengurus sesuatu yang tidak ada hubungan dengan dirinya. Melihat caranya memarahi Lucky beberapa hari lalu, membuatku sangat yakin bahwa kami tidak sejalan lagi untuk urusan kegiatan amal ini.
Magisa lebih mementingkan dirinya saat ini. Aku teringat ketika pagi-pagi sekali pintu kamar terbuka dan aku melihatnya duduk di sisi tempat tidur masih mengenakan gaun tidur; tampak merenungkan sesuatu. Ketika dia menyadari bahwa aku berdiri di depan pintu kamar dia langsung menutup pintu; dan itu pun dengan cara membantingnya. Biasanya dia selalu mengabaikanku dengan diam dan murung seorang diri, namun sekarang dia benar-benar menunjukan bahwa dia marah padaku lewat tatapannya.
Tapi, bagaimana pun, bukannya aku tidak mempedulikannya. Aku selalu berusaha untuk membuatnya bangkit, tapi kali ini barangkali aku harus menunggunya selesai dengan dirinya sendiri. Aku yakin saat Magisa merasa bahwa dia membutuhkanku; toh karena selama ini kami hanya berdua, dia pasti akan kembali seperti semula. Semoga saja.
“Sebuah kehormatan, Mr. Adams,” seorang pria berusia sekitar 50 tahunan menyambutku ketika pertama kali aku membuka pintu ruang kepala sekolah. Dari yang kuketahui dari adikku, pria yang kelihatannya juga setengah Indonesia itu bernama Mr. Ulrich. Dia berdiri dari kursinya untuk meghampiriku dan mengulurkan tangannya.
“Panggil saya Sidney saja, Mr. Ulrich,” kataku sambil memberikan senyum terbaikku walaupun sepenuhnya pikiranku masih berada di rumah. Aku sedikit khawatir, kesendirian Magisa saat ini bisa saja membuatnya berpikiran yang aneh-aneh; bunuh diri misalnya.
Tapi, memperhatikan kelakuannya akhir-akhir ini, justru yang dia inginkan untuk mati saat ini bukan dirinya sendiri, melainkan Saira.
“Saya cukup terkejut kamu memutuskan untuk bergabung di sekolah ini,...” kata dia, terlihat segan namun itu membuatku merasa tidak enak.
Aku tidak datang sebagai pemilik yayasan.
Yayasan itu masih milik ayahku walau dia telah tiada dan pengelolaannya pun diserahkan kepada teman-teman yang dia percaya. Bisa dibilang bahwa yayasan ini adalah sesuatu yang jauh berbeda dari perusahaan. Memang pendidikan di sini bertaraf internasional dan rata-rata muridnya adalah anak-anak diplomat dan pejabat.
“Seperti yang sudah anda ketahui yayasan selama mengumpulkan dana dari wali murid untuk CSR bagi penduduk miskin di sekitar sekolah. Itu sudah berjalan sejak sekolah ini berdiri,” kata Mr. Ulrich.
“Menurut saya itu kurang efektif,” kataku, dan seketika sadar; tugasku bukan untuk menggurui seorang kepala sekolah melainkan mencari pekerjaan. “Tapi, mungkin itu hanya rencana saya pribadi dan nggak ada hubungannya dengan sekolah.”
“Saya mengerti, Sidney. Tapi, tetap kami akan membantu untuk mewudujkan rencana-rencana itu,” kata dia, sambil meraih gagang telepon lalu berbicara dengan seseorang di sana. “Bisa panggilkan Ibu Matilda? ... ya, baik, saya tunggu.”
Mr. Ulrich kembali menatapku setelah dia berbicara di telepon. Aku menunggu pekerjaan seperti apa yang akan kujalani setelah ini. Terus terang, aku sedikit berdebar karena ini pertama kalinya aku keluar dari ‘kotak’ tempatku bernaung selama ini.
“Ibu Matilda akan mengantarkan kamu berkeliling dan mengenalkan kamu kepada guru-guru lain,” kata Mr. Ulrich lalu kami mulai mengobrol hal lain di luar urusan sekolah sampai wanita yang dia maksud datang.
Matilda, seorang wanita akhir 40-an, berdarah Maluku. Kulitnya sawo matang dengan rambut ikal hitam legam. Di hidungnya yang mancung bertengger kaca mata bingkai hitam berbentuk bulat. Dia mengenakan sweater biru tua dan rok lipat melewati lutut yang disambung dengan stocking hitam; yang mana menurut dugaanku dia pasti orang yang serius dan juga kutu buku. Dia melangkah dengan pasti saat menghampiriku.
“Halo, Mr. Adams, senang bertemu dengan anda,” dia menyapaku sambil mengulurkan tangannya.
Aku meraih tangannya, “Terima kasih. Tapi, panggil saya Sidney saja,” balasku.
“Baik, Sidney. Kita punya sedikit petualangan,” kata dia dengan tepat sambil tetap memeluk buku yang dia bawa. Sepertinya dia memang sangat tepat waktu.
Aku pun mengikutinya mengunjungi beberapa tempat yang harus kuingat dengan baik; kelas-kelas yang jumlahnya lumayan banyak dari kelas satu sampai kelas enam. Satu tingkatan bisa terdiri dari beberapa kelas tergantung dari banyak siswa. Untuk kelas satu sampai kelas tiga, satu kelas maksimal berisi 10 orang dan itu memungkinkan bagi guru untuk memantau anak-anak dengan lebih detil. Anak-anak usia 5-7 tahun biasanya sedikit sulit diatur dan entah mengapa aku mendapat tugas di kelas satu.
Setelah berkeliling ke seluruh bagian sekolah, Matilda menjadikan kelas tempatku mengajar sebagai kunjungan terakhir kami. Di dalamnya sudah ada guru lain yang tengah mengajar; seorang wanita usia sekitar 30 tahun. Begitu melihat kami, ia langsung menghampiri.
“Sidney, ini Ibu Anna,” Matilda mengenalkan perempuan berambut pendek dan berkaca mata itu padaku. “Ibu Anna, ini Mr. Adams.”
Wanita itu mengulurkan tangannya, “Halo,” sapanya. “Saya pikir saya harus mengenalkan anda pada semua murid kita.”
“Tentu,” jawabku mengambil beberapa langkah maju, mengiringi Anna yang langsung mencoba untuk mendapatkan perhatian bocah-bocah itu.
“Hey, class, I’d like to introduce your new teacher,” kata dia dan anak-anak yang sedari tadi sudah memperhatikan kami sekarang terlihat menyimak apa yang dikatakan Anna. “Mr. Sidney Adams. Let’s come and say ‘hello’”
“Hello, Mr. Adams!” sapa mereka berbarengan dengan alur yang kedengaran rapi.
Kuperhatikan kebanyakan dari mereka adalah anak-anak berdarah campuran. Ada yang berambut pirang, bermata biru hingga bahkan ada juga yang berkulit hitam. Tidak seberapa yang perawakannya seperti orang Indonesia. Aku sempat menghitung berapa jumlah mereka dan kudapati jumlahnya tidak sesuai dengan yang dijelaskan Ibu Matilda padaku dalam perjalanan ke sini; seharusnya ada sepuluh orang, tapi menurut pengamatanku hanya ada sembilan orang murid.
“Hello. I’m Sidney. You don’t have to call me Mr. Adams,” kataku menyapa mereka. Entah mengapa aku sedikit gemetaran. Kelihatannya mereka tidak terlalu antusias dengan perkenalanku. Aku tidak terlalu pandai memulai; maklum saja, selama ini aku hanya disibukan dengan menandatangani banyak berkas. Aku tidak pernah membujuk atau berbicara dengan persuasif kepada orang lain. Aku meyakini mereka pasti berpikir bahwa aku guru baru yang akan sangat membosankan.Tapi, bel istirahat memperpendek waktu perkenalan di mana seharusnya aku menyampaikan hal-hal yang membuat mereka begitu ‘excited’ dengan guru pria. Tapi, sebagian besar dari siswa di dalam kelas itu adalah laki-laki. Pantas mereka menyukai Anna yang kelihatannya begitu pandai mengambil hati mereka.
***
“Semua orang mengalaminya, Sid,” ujar Anna yang menemukanku sedikit gugup saat di kelas tadi. Dia sangat ramah padaku dan beruntung aku satu ruangan dengannya. “Dan pastinya kamu dengan pengalaman yang masih terlalu sedikit pasti bingung dengan mereka.”
“Yah, ini sesuatu yang baru,” jawabku.
Anna kemudian memberikanku sebuah map yang sepertinya penting, “Itu adalah data siswa di kelas IA,” dia menjelaskan. “Kamu bisa mempelajarinya dan sedikitnya pasti bisa menilai seperti apa sifat mereka dari latar belakang keluarga. Kebanyakan dari anak-anak itu sedikit paranoid dengan orang yang baru dikenal.”
“Oh ya?” aku membuka sebuah map bertuliskan sebuah nama Adeline Maple Marlow, putri seorang duta besar Amerika untuk Indonesia, kemudian fokus kepada Anna yang akan memberikanku informasi penting.
“Ya, sekolah dijaga sangat ketat. Kamu tahu sendiri negara ini sangat rawan. Teroris dan pengeboman terhadap segala sesuatu yang disebut ‘asing’. Nyawa anak-anak ini sangat terancam,” jelas Anna. “Anak-anak tidak bisa dijemput di depan gerbang sekolah. Dan bagi supir yang menjemput harus dikonfirmasi lebih dulu ke bagian security untuk bisa masuk. Guru juga tidak boleh membawa sembarang orang ke lingkungan sekolah, kalau ketahuan bisa jadi masalah besar. Pokoknya setiap orang yang masuk ke lingkungan sekolah ini harus terverifikasi.”
“Aku mengerti,” jawabku untuk selanjutnya membuka map kedua yang bertuliskan ‘Sunny Wiranata’
“Oh ya satu lagi, di kelas 1.1 ada seorang siswa yang mungkin akan sedikit membuat kamu kewalahan,” kata Anna, matanya juga tertuju pada map biru di tanganku. “Sunny Wiranata.”
“Apa dia nakal? Pembuat masalah?” tanyaku.
Anna tersenyum sambil menggeleng saat tiba-tiba seseorang membuka pintu tanpa permisi. Seorang anak perempuan kecil dengan rambut pirang yang dikepang dua. Dia berdiri di pintu dengan nafas terkenal, “Miss Anna, Sunny fights with Francis!” serunya.
Anna segera bergerak menghampiri gadis kecil itu. “What’s going on?” tanya Anna lagi padanya.
“I don’t know. They said that Francis took his Bunny and then throw it away. Sunny gets mad and then punch him!” jelas gadis itu sedikit ketakutan.
Anna pun berlari ke luar kantor dan aku mengikuti bersama si gadis kecil yang panik. Kami menuju ke halaman di mana terlihat seorang anak lelaki dengan boneka kelinci lusuh di tangannya menunggangi seorang anak lelaki lain dan sementara tangannya terus memukul.
“Sunny, berhenti!” seru Anna yang segera mengangkat bocah itu dari tubuh temannya selagi anak-anak lain menonton dan bersorak.
Hal pertama yang aku lihat dari bocah lelaki berusia enam tahun itu adalah ... tatapannya yang dingin; terlalu mengerikan untuk anak seusia itu. Dia tidak mempunyai ekspresi ketika Anna bertanya padanya, “Kenapa kamu memukul?”
Bocah itu tidak menjawab. Dia hanya menatap Anna dan itu membuatku cukup prihatin. Namun, ketika anak itu menemukanku berdiri tidak jauh dari Anna, dia memandang ke arahku, aku merasa ada sesuatu yang aneh dengannya. Anak-anak tetaplah anak-anak. Hanya saja dia terkesan menyembunyikan sesuatu -barangkali sesuatu yang jahat- di balik tatapannya itu. Dan yang membuatku terpaku memandang ke arahnya adalah... dia juga memandang ke arahku sangat lama.
Rasanya saat perkenalan di kelas tadi aku tidak melihatnya. Barangkali dia adalah murid ke sepuluh itu.
***
“Nggak banyak yang bisa kita ketahui soal keluarganya. Tapi, Sunny sepertinya yatim piatu,” jelas Anna dalam perjalanan kami kembali ke kantor.
“Apa kamu nggak pernah menanyainya soal apa yang terjadi di rumah?” tanyaku lagi. Anak yang bernama Sunny itu memang membuatku sedikit penasaran.
“Sejak masuk ke sini dua bulan yang lalu, aku belum pernah mendengar dia bicara. Dia tidak bergaul dengan siapa-siapa. Ada indikasi kalau Sunny memang tidak bisa Bahasa Inggris seperti kebanyakan teman-temannya, tapi dia juga tidak menjawab kalau ditanyai Bahasa Indonesia. Kedatangan Sunny ke sini sangat misterius.”
Misteri dan misterius adalah kata-kata yang sangat akrab di telingaku. Entah mengapa aku merasa, semisterius apa pun sesuatu aku pasti bisa mengungkapnya; walaupun waktulah yang lebih banyak berperan menjawab semuanya. Seperti Saira; misterinya sudah terpecahkan.
“Apa kerabatnya pernah datang ke sini?”
Anna menggeleng pelan. “Pendaftaran Sunny juga diurus oleh orang misterius,” kata Anna. “Kalau menurutku... barangkali Sunny adalah aib yang harus ditutupi oleh sebuah keluarga yang kaya raya sehingga pihak sekolah tidak boleh tahu banyak tentang asal usulnya.”
“Lalu bagaimana dengan isian di data siswa? Apa tidak bisa ditelusuri dari sana?”
Anna juga menggeleng dengan murung. “Kalaupun asumsiku benar, kita tidak boleh terlalu tahu privasi keluarga murid...,” katanya lagi, tapi terdengar sedikit mengeluh. “Tidak banyak yang ada di data siswa milik Sunny, hanya nama ibunya saja, tanpa nama ayah.”
Penjelasan Anna membuatku semakin penasaran dengan anak berambut lurus dan hitam legam itu. Ada sesuatu tentang anak itu yang membuatku tak puas dengan apa yang baru saja kudengar. Aku jadi ingin segera membuka data siswa yang belum sempat kubaca tadi.
“Jangan terlalu memikirkannya, Sid,” tegur Anna saat map Sunny sudah berada di tanganku dan aku bersiap membukanya.
Aku tersenyum dan menemukan dia sudah bersama guru wanita lain yang kalau tidak salah sudah dikenalkan Matilda padaku. Namanya Retha dan dia mengajar di kelas empat.
“Oh, ini pasti soal Sunny,” Retha melirikku lalu Anna di sampingnya.
“Menurutku ekspresi dingin yang dia perlihatkan itu sangat nggak lazim untuk anak berusia enam tahun,” kataku.
“Dia hanya begitu kalau ada yang menjahatinya,” jelas Retha. “Memang sih dia nggak pernah bicara sama siapa pun, tapi kalau dia sedang sendirian bersama boneka kelincinya, dia itu tetap saja anak kesepian yang butuh diperhatikan. Sayangnya, dia nggak menunjukan itu di depan orang lain....”
“Oh ya?”
“Retha tahu banyak hal tentang Sunny karena dulu Retha sempat mengajar di kelas satu,” jelas Anna tentang mengapa sepertinya Retha lebih memahani Sunny -Sunny yang misterius dan mengingatkanku pada seseorang.
“Tapi, ini hari pertama Mr. Adams.” kata Retha, tiba-tiba mengalihkan pembicaraan lalu menatap Anna di sampingnya. “Apa dia sudah mengerti semua peraturannya?
Anna mengangguk. “Aku rasa hal-hal yang terlupakan, akan teringat sendiri begitu dilakukan,” jawabnya, lalu menoleh padaku. “Kamu masih punya banyak waktu untuk membaca data siswa itu nanti,” ujarnya. “Sebentar lagi bel pulang berbunyi. Kita semua harus mengawasi penjemputan siswa di halaman depan.”
Aku memandangi map itu lagi. Aku belum sempat membacanya namun aku harus mengikuti mereka.
Anna mulai bersiap-siap sementara aku memasukan semua data siswa pemberian Anna ke dalam laci. Lalu kami keluar bersama-sama dan disambut oleh guru-guru lain yang juga ingin pergi ke halaman depan. Untungnya juga ada guru laki-laki lain yang bergabung karena berada di antara banyak wanita membuatku kurang nyaman.
Aku membayangkan istriku yang tengah dilanda kesedihan panjang di rumah sendirian. Entah mengapa aku ingin cepat pulang dan menemuinya walaupun nanti ketika dia melihatku, dia akan menatapiku tajam atau tak mau bicara denganku lagi.
***
Bell pulang akhirnya berbunyi. Seperti dikomando anak-anak keluar kelas di dampingi oleh guru mereka. Dari pengamatanku sekilas, tampaknya sekolah ini begitu disiplin dan ketat. Aku memperhatikan Anna dan Retha mengantar anak-anak yang supirnya telah datang menjemput. Mereka sempat berbicara dengan supir-supir itu dan sepertinya mereka sudah saling kenal; mungkin itulah yang disebut dengan terverifikasi.
Anak-anak itu kelihatan gembira saat menaiki mobil jemputan. Mereka sempat melambaikan tangan pada guru mereka dengan riangnya dengan menyerukan ‘Sampai bertemu besok!’. Setelah itu para guru menemani anak-anak yang belum dijemput.
Sayangnya aku belum terbiasa menghadapi anak kecil. Itu kedengaran lucu. Aku belum mendapatkan selah untuk mendekati satu anak pun karena kebanyakan mereka kelihatannya lebih suka dengan guru perempuan. Lihat saja Anna dan Retha yang berbicara dengan lemah lembut kepada mereka. Anak-anak itu kelihatan betah bersama kedua perempuan itu.
Tapi, ada hal lain yang menarik perhatianku. Sunny.
Anak itu terlihat berdiri tidak jauh dari seorang guru pria yang menunggui jemputan anak-anak didiknya. Dia berdiri di sana sendirian dengan menyandang ransel; juga boneka kelinci lusuh di tangannya. Aku mengawasi dia karena sepertinya guru yang berada dekat dengannya sibuk berbicara dengan anak-anak lain. Anak itu memperhatikan sekitarnya seperti mengintai sesuatu di antara keramaian. Lalu dia mulai bergerak dengan pelan sambil mengawasi sekitar.
Mencurigakan. Aku heran, ke mana tujuan anak itu?
Aku menyaksikan kemudian Sunny berlari menyusuri koridor setelah memastikan tidak ada yang melihatnya; atau lupa padanya. Dan aku pun mengikuti dia secara perlahan. Ke mana dia di saat semua anak begitu bersemangat saat pulang sekolah?
Pertanyaan itu terjawab setelah kami sampai di halaman belakang. Sunny terlihat berdiri di depan dinding pagar sekolah. Dia menengadahkan kepalanya dan tampak menunggu sesuatu akan turun dari atas sana. Tapi, apa?
“Sunny?” aku memberanikan diri untuk menghampiri.
Anak itu membalikan badannya dengan ekspresi terkejut yang menurutku lucu dan menggemaskan. Matanya membelalak dan bibirnya membentuk huruf o yang bulat sekali. Dia mulai ketakutan saat aku mendekat sambil sesekali menengok ke atas; apa pun itu dia seolah tengah menunggunya datang.
“Kamu mau ngapain?” aku menanyainya dengan pelan.
Dia tidak menjawabku; namun ekspresinya tidak sedingin saat tadi dia memukul teman sekelasnya yang nakal. Dia hanya kelihatan khawatir; khawatir tentang rahasia kecilnya di halaman belakang. Ternyata dia hanyalah seorang anak kecil yang pemurung dan polos saat dia menggeleng dengan ketakutan; seakan aku akan memukulnya.
Aku ikut menoleh ke atas; untuk melihat apa yang dia tunggu sebenarnya. Tapi, tak ada apa-apa. Hanya langit siang hari yang begitu terik dan panas.
Sunny mengawasiku seperti pencuri kecil yang tengah dihukum. Wajahnya kecut dan takut.
“Apa kamu menunggu seseorang?” tanyaku.
Dia hanya menatapku takut-takut sambil menyembunyikan boneka kelincinya di belakang.
“Itu nggak mungkin. Pagarnya tinggi sekali. Orang nggak bisa memanjatnya,” ujarku. “Sebentar lagi jemputannya datang.”
Anak itu menggeleng sambil mundur beberapa langkah. Dia tidak ingin pergi seolah harus memastikan sesuatu dulu. Sehingga aku kembali menoleh ke atas; pagar setinggi itu siapa yang bisa memanjatnya?
Ah, aku jadi ingat kejadian saat Saira yang hendak bolos sekolah. Dia melemparkan tasnya ke balik pagar lalu memanjat. Kalau saja aku tidak memergokinya, dia tidak akan jatuh. Ya aku ingat dia mendarat dengan menyakitkan di tanah dan di tambah celana dalam yang kelihatan.
Tapi, kenapa aku malah teringat padanya?
Aku dan Sunny malah sama-sama menatapi pagar itu, seolah kami memang menunggu seseorang akan melompat dari sana. Entahlah, pikiranku tiba-tiba kacau. Hanya orang gila yang mau memanjat pagar setinggi itu lalu melompat ke bawah. Membayangkannya saja, rasanya tulang-tulangku lah yang akan patah.
Sunny tampak sedih. Mungkin apa yang dia tunggu tidak juga kelihatan.
“Ayo pergi,” ajakku setelah cukup bernostalgia dengan dinding pagar sekolah dan Sunny dengan patuh mengikuti.
Kami bergerak untuk kembali ke halaman depan di mana mungkin supir yang menjemputnya sudah datang. Sunny terlihat begitu kecewa saat ia membalikan badannya; kembali menatapi dinding pagar itu dengan sedih sembari mengetatkan genggamannya pada boneka kelinci lusuhnya. Aku cukup terenyuh memperhatikan sikapnya itu.
Mengapa dia begitu kecewa pada sesuatu yang tak dimengerti?
Namun, perhatianku teralihkan oleh suara benda jatuh yang lumayan keras. Sunny yang sudah lebih dulu menoleh ke asal suara itu, seketika berlari dengan kencang. “Mama!!” serunya.
Lalu kutemukan seseorang baru saja mendarat di halaman belakang; orang gila yang begitu nekatnya melompat dari pagar setinggi itu dan Sunny memanggilnya ‘Mama’. Sesosok perempuan kurus berpakaian serba hitam; jeans ketat hitam, jaket hoodie hitam; dan aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Apalagi saat Sunny menghampirinya dia memeluk anak itu dan wajahnya yang ditutup hoodie juga tersembunyi di bahu Sunny.
Itu pertama kalinya aku menyaksikan pertemuan mengharukan antara seorang anak pemurung dan ibunya yang kelihatan seperti preman. Hal macam apa yang menghalangi mereka untuk bertemu sampai sang ibu yang nekat itu harus menaklukan rintangan seperti ini? Entah.
Aku mendekat seakan tubuhku paku kecil yang berada di sekitar magnet; dan mereka yang tengah berpelukan itu adalah magnetnya. Hal ini mungkin juga mengingatkanku pada kejadian-kejadian di masa lalu yang masih tertinggal di benakku. Di mana takdir terkadang begitu aneh dengan kebetulan-kebetulan yang tak pernah diharapkan.
Perempuan itu melepaskan putranya dan dia menemukanku. Walaupun hoodie itu masih menutupi kepalanya, aku bisa melihat wajahnya dan wajahnya itu sangat kukenali. Dia berdiri tepat di hadapanku seperti waktu itu.
Saira. Seraut wajah tirus, rambut pendek yang hitam legam dan tindik di hidung yang kini telah identik dengan dirinya yang sekarang.
Aku menatapi Sunny yang memanggilnya ‘Mama’ dan yang belum dapat kupercayai saat itu adalah dia sudah memiliki seorang anak berusia enam tahun. Kebetulan yang aneh kembali membawanya ke hadapanku tapi dengan misteri yang baru.
Komentar
0 comments