[Ch. 14] PRETTY LITTLE BASTARD

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Rasa Bersalah

Magisa terlihat di teras depan. Entah apa yang dia pikirkan, namun matanya memandang jauh ke ujung gang di mana sesekali tetangga atau gerobak pedagang makanan melintas. Malam cukup sunyi ketika aku memberanikan diri untuk menghampiri, setidaknya menyampaikan apa yang sudah aku rencanakan untuk kami selanjutnya. Yang pasti kami akan menetap di Jakarta dan aku akan mencari pekerjaan yang cocok; ya, pekerjaan yang sesuai dengan hasratku.

“Ini sudah jam sebelas, kamu nggak dingin?” tegurku.

Magisa menoleh. Namun tatapannya hampa, demikian pula bibirnya yang tertutup rapat.

“Aku menjadi nggak berguna kalau kamu stress hanya gara-gara pekerjaan,” ujarku. “Maksudku ..., kamu ingin bekerja karena aku terlalu sibuk dan sering nggak pulang. Tapi, sekarang, aku sudah nggak sesibuk dulu lagi. Artinya, kita akan punya lebih banyak waktu bersama. Jadi  kamu nggak perlu harus bekerja.”

“Kamu? Kamu nggak kerja?”

Aku menggeleng, sambil merangkul pundaknya. Lalu tersenyum padanya.

“Kamu nggak kerja terus mau ngapain? Jangan bilang kamu mau guru SD ...,” kata Magisa, terdengar ketus. Tapi, setidaknya dia sudah mulai ingin bicara denganku.

“Ada yang salah dengan guru SD?”

“Kamu putra pengusaha kaya di Australia, Sid ...,” dia mengingatkan, “dengan banyak anak perusahaan dan karyawan yang jumlahnya ribuan.”

“Apa salahnya?” sambungku.

Magisa tertawa, meski itu sarkastis. Tapi, cukup menggembirakanku setelah biasanya dia hanya berwajah dingin. “Aku akan mencari pekerjaan yang cocok di Jakarta,” kataku berujar, di saat Magisa sudah lebih tenang. Dan dia tampak tidak percaya.

“Pekerjaan apa?”

“Ya, pekerjaan yang bisa aku lakukan. Reggina dan Beatriz udah melepaskan aku dari perusahaan, dan kamu tahu selama ini itulah yang ingin aku lakukan…” aku menjelaskan, dan Magisa mulai tersenyum.

“Jadi sekarang giliran kamu lagi yang kerja dan aku tinggal di rumah?” tanya dia.

“Jangan cemberut. Kerjaan yang kali ini mungkin nggak sampai larut malam. Pokoknya sore aku pasti di rumah…” ujarku lagi.

Ya, semua akan kembali seperti semula. Aku harap Saira saat ini Saira juga berbahagia di mana pun dia berada….

***

“Kebiasaan, Sidney. Setiap kamu sudah pergi ke sana, kamu selalu lupa untuk menelepon,” kata Reggina di seberang sana.

Aku baru ingat kalau sejak kembali ke Indonesia aku lupa menelpon ibuku sampai-sampai Reggina yang melakukannya. Ya, selalu dia yang berusaha menenangkan keadaan rumah saat aku pergi.

“Sorry, kamu tahu aku sedikit sibuk belakangan ini,...” kataku.

“Well yea, itu juga sudah tugasku karena sekarang hanya aku satu-satunya di sini yang merngerti kalau kamu sudah menikah,...” katanya. “Ditambah dengan keadaan Magisa akhir-akhir ini dan itulah yang sangat aku khawatirkan lebih dari saat kamu nggak bisa dihubungi.”

Aku diam sejenak. Tidak tahu apa yang bisa kukatakan saat ini. Kepalaku kosong. Sejak kami kembali ke apartemen di Jakarta yang mana kukira semua akan baik-baik saja nyatanya tidak demikian. Magisa tak kunjung membaik.

“Tapi, Sid, apa kamu baik-baik saja?” tanya Reggina kemudian.

“Tentu,” jawabku cepat. Aku tidak ingin keluargaku mencemaskanku karena itu akan sangat berlebihan. Aku anak sulung. Sudah banyak masalah yang aku ciptakan sejak muda dan aku tidak mau bahkan di saat aku telah menikah, aku masih membuat keluargaku khawatir. Meski ‘Reggina’ terkadang tidak termasuk dalam kapasitas ‘keluarga’ yang over-protektif terhadapku, namun menceritakan padanya bahwa keadaan malah semakin memburuk tetap saja membuatku merasa lemah -sebagai seorang lelaki.

“Kedengarannya nggak seperti itu,” kata Reggina. “Come on, Sid, aku bukan adik perempuan yang selalu minta digendong sambil menangis. Kamu terlalu meremehkan aku!”

Aku tertawa. Ya, aku tahu. “Kamu lebih kayak adik laki-laki, daripada adik perempuan,” kataku.

Reggina telah mengambil semua kontrol sejak Daddy meninggal. Tak heran dia tegas dan bisa diandalkan, meski pengetahuannya tentang ‘mengatur’ kelewat batas. Dia menyuruh orang membuntutiku dan Saira. Dia tahu terlalu banyak. Di sini aku menyadari bahwa Reggina bisa menjaga rahasiaku dengan baik tapi aku tidak siap mengungkap lebih banyak rahasia kepadanya.

Don’t get me started...,” kata dia memperingatkan dan bagiku itu pemaksaan yang serius.

“Kamu nggak tahu segalanya, Reg...,” balasku.

I do,” dia menegaskan. “I really do.

Aku kembali terdiam sebelum tiba-tiba merasa Reggina pasti mengirim orang untuk selalu mengawasiku di sini. Ah, dia lebih paranoid dari ibuku.

“Lupakan semua yang kamu tahu dan sudah aku lakukan,” Reggina masih memaksa -memaksaku untuk bicara. “I’m your sister and I know you.

“Know what?”

Reggina terdengar menghela nafas. “Aku tahu kamu nggak benar-benar mencintai istri kamu,” kata dia cepat dan tepat, seperti anak panah yang melesat cepat.

Aku sempat bingung sejenak sebelum  memvonis bahwa adikku sudah benar-benar sangat keliru. “Reg,...” aku ingin membantahnya.

”No use defending the word that you are not going to say,” potong Reggina. “Aku ingin kamu yang memulainya tapi kamu bikin aku harus mengatakan itu.”

“Kenapa harus aku yang memulai? Dan ini tentang memulai apa?” aku mulai kesal.

“You know what I’m talking about...,” balas Reggina yang kembali memancing emosiku. “Sungguh, aku nggak mau membicarakannya, tapi kamu memaksaku harus melakukannya,” kata dia lagi, terdengar tak bertanggung jawab setelah berhasil membuat pikiranku bergemuruh.

Bagaimana mungkin aku tidak mencintai istriku?

“Kamu menikahi dia bukan karena kamu mencintai dia. Hanya karena dia selalu ada dan merasa nggak enak karena dia mendampingi kamu di saat yang paling kamu harapkan menghilang. Kamu merasa nggak enak atas perjuangan dia mendapatkan kamu.”

“Cukup, Reg!” kataku sambil memperhatikan sekelilingku. Aku harap Magisa tidak ada di sekitarku dan bertanya kenapa tiba-tiba aku berteriak.

Seketika teringat bahwa Magisa pergi bersama Alma belanja di supermarket dan sepertinya dia belum kembali.

“Itulah kenyataannya. Aku mengatakan ini bukan karena aku nggak menyukai Magisa. Maksud aku, dia adalah pilihan kamu pada akhirnya. Tapi, sungguh, kalau saja kamu nggak ketemu Saira Gayatri aku nggak akan setertarik ini untuk mau tahu tentang apa yang terjadi di masa lalu. Dan akhirnya, aku mengerti kenapa kamu keliling dunia untuk mencari seorang gadis dengan nekatnya seperti orang gila dulu.”

“Itu sudah berlalu...,” kataku.

“Sid, I love you...,” kata Reggina tiba-tiba membuatku terbungkam, “and I do care about you. Jadi tolong dengarkan aku kali ini bukan sebagai adik yang selalu mau tahu urusan pribadi kamu. Tapi, aku tahu di sana kamu  nggak benar-benar bahagia.”

“Apa maksud kamu?”

“Harusnya kamu bahagia, tapi bukan dengan perempuan seperti Magisa yang obsesif. Tapi, bagaimana pun aku tetap menghargai dia. Hanya saja... setelah aku tahu semuanya, aku merasa... aku merasa kalau aku harus mengatakannya. Saat ini dia seolah menghukum kamu atas apa yang terjadi di masa lalu yang sudah menghancurkan masa depannya. Everybody does mistake, Sid, tapi beberapa ada yang mencoba memperbaiki kesalahan itu dengan hidup lebih baik di masa depan. Sedangkan Magisa, dia tidak bisa memaafkan dirinya dan tidak mau berdamai dengan masa lalu sehingga sekarang dia mengabaikan kamu.”

“Dia depresi, Reg. Kenapa kamu tega bilang seperti itu?”

“Baik. Depresi itu bukan sesuatu yang bisa dipahami dari sudut pandangku. Dulunya dia benar-benar jahat dan dia baru mendapatkan ganjarannya sekarang. Tapi, aku tetap nggak ingin kamu juga terbawa depresi karena nggak bisa menyembuhkannya.”

“Aku nggak mengerti. Jadi selama ini kamu nggak menyukai Magisa?”

“Ini bukan masalah suka atau nggak suka. Aku tahu dia istri kamu dan kamu selalu memikirkan dia, berusaha membuat dia merasa aman. Hanya saja, ada hal lain yang kamu nggak tahu, Sid....”

“Apa yang aku nggak tahu?”

“Ok,” tegas Reggina tiba-tiba. Dia terdengar membersihkan tenggorokannya dan seolah ingin mengatakan sesuatu yang penting dengan benar setelah beberapa menit ini dia memang berhasil membuatku gusar. “Kamu punya istri. Tapi, kamu pantas untuk sebuah kesempatan menjadi bahagia lebih dari ini. Sebenarnya aku ingin bilang, tapi... keadaannya nggak memungkinkan. Aku nggak ingin... menjadi seorang adik yang mengacaukan rumah tangga kakaknya entah itu disengaja atau tidak. Sid, yang ingin aku katakan adalah sebenarnya kamu...,”

“Apa?” aku menunggu. Kata-katanya membuatku menjadi begitu penasaran.

Tapi, Reggina malah diam.

Aku hanya mendengarnya bernafas di telepon selagi aku berharap dia akan mengatakannya segera.

“Kamu menelpon siapa?” suara Magisa membuatku cukup terkejut. Kulihat dia sudah berdiri tidak jauh di belakangku dengan wajah penuh tanda tanya.

Rupanya dia suda pulang. Aku juga menemukan Alma dan anak-anaknya dengan banyak sekali barang belanjaan. Aku pikir aku harus membawakannya karena Alma keihatan tergopoh membawa dua kantong besar sekaligus ke ruang tengah.

Aku menatapnya sambil tersenyum menghampiri. “Reggina?” aku menegur adikku yang masih terdiam dan menjadi tidak sabar selagi Magisa mendekat. Tapi, yang terdengar di telepon hanyalah bunyi ‘tut tut’ dengan nada cepat.

Reggina menutup telponnya begitu saja.

“Reggina?” Magisa bertanya dengan heran.

Aku menjauhkan  handphone-ku dari telinga. “Ya, dia menelpon tapi tiba-tiba mati,” jelasku sambil memandangi layar telponku. Aku hanya tidak habis pikir, apa yang dia ingin katakan padaku?

***

Dari ruang tengah, aku bisa mendengar suara Magisa dan Alma mengobrol -walaupun suara Alma lebih mendominasi di antara suara-suara ketiga anak Alma yang asyik bermain bersamaku di ruang TV. Magisa bisa dibilang hampir tidak berkomentar atas apa pun yang Alma katakan dan sesekali aku mendengar namaku disebut.

Aku bukannya tidak tahu bahwa keluarganya selalu berusaha untuk meyakinkannya bahwa semuanya hanya masa lalu. Magisa hanya kebetulan saja bertemu dengan Ibu Saira tapi dia masih belum bisa menerimanya. Kesan yang aku dapatkan ketika dia bercerita padaku tentang Saira adalah sepertinya sekarang Magisa kembali menyalahkannya. Tapi, aku tidak bisa menceritakan padanya bahwa Saira pun juga tidak hidup dengan semestinya setelah semua yang terjadi. Bahkan mendengar nama Saira keluar dari mulutku saja dia tidak sudi -Magisa tidak suka bila aku yang menyebut namanya. Magisa masih saja cemburu.

Tapi, yang terlihat sekarang bukan lagi rasa cemburu Magisa yang berlebihan seperti biasanya. Aku bisa mencium keinginannya untuk bertemu Saira dan membalas dendam. Aku merasa bersalah karena tak bisa dipungkiri bahwa semua keinginan itu sangat beralasan. Magisa hanya tidak tahu saja tentang pertemuan kembaliku dengan Saira. Dia punya firasat yang kuat sehingga aku sering bermimpi apa yang kusembunyikan diketahui Magisa begitu saja. Bahwa aku telah mencium dan tidur dengan perempuan lain selain dirinya. Aku benar-benar merasa sangat bersalah.

Aku tidak pernah membagi hatiku dengan siapa pun tapi tetap saja ada satu bagian yang merindukannya. Saira menghilang begitu saja dari hidupku dan aku mencarinya seperti orang gila tanpa pernah kutahu akhirnya dia mencariku ke Australia lalu terjadilah semua hal yang buruk kepadanya; harus dipenjara selama lima tahun karena membunuh orang yang mencoba memperkosanya. Ya, itulah yang terjadi padanya dan hari ketika aku bertemu dengan Saira adalah hari pertamanya bebas dari penjara. Aku masih ingat baju lusuh yang dia kenakan hari itu serta tubuh kurusnya yang tidak terawat. Dia tidak pernah tahu Sydney Opera House berada di mana.

Aku memang menendang keluar semua pikiran untuk melindungi Saira yang tak ingin berurusan denganku karena tahu aku sudah menikah. Aku juga tahu dia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya ketika dia tahu yang kunikahi adalah Magisa. Barangkali jika aku tidak menikah dia bersedia kembali padaku. Ah, apa yang aku pikirkan?

“Om Sid, yang ini di mana?” tanya Sherin, putri sulung Alma berusia 7 tahun yang menyodoriku sekeping jigsaw puzzle.

Aku meraih potongan puzzle di tangannya dan mulai ikut mencari di mana seharusnya potongan itu berada di antara susunan yang hampir utuh. Tapi, menemukannya tidak sesulit jigsaw puzzle untuk dewasa. “Di sini,” kataku sambil menaruh bagian itu hingga gambar barbie berukuran sebesar kertas A4 itu hampir utuh.

Sherin mulai mencari potongan yang lain. Selagi Lucky yang berusia empat tahun asyik menjejalkan mobil-mobilannya di atas karpet. Lucky punya banyak sekali mobil-mobilan kecil yang bertebaran di lantai. Aku pun berdiri dari tempatku dan pergi ke dapur untuk mengambil minuman dingin di kulkas.

Saat itu, Alma sedang memasak sedangkan Magisa? Magisa hanya duduk di meja makan; melamun. Dia tidak peduli apa-apa. Bahkan saat melihatku saja dia begitu acuh. Alma sempat memperhatikanku dengan tatapan canggung.

“Aduh, Gi, lo ngebiarin suami lo ngambil minum sendiri?” tegurnya namun Magisa hanya menoleh padanya untuk kemudian acuh.

Aku hanya bisa tersenyum pada kakak iparku.

“Beruntung lo punya suami kayak gitu. Coba deh kayak laki gue, sekali pulang gue nggak bikinin minum pagi-pagi, bisa disindir melulu gue!” kata Alma.

Magisa juga melirikku dengan tatapan yang sama -acuh. Lalu dia berdiri; seperti biasanya dia selalu menghindar.

Alma yang memperhatikan langkahnya hanya bisa menghela nafas sambil menggelengkan kepala. Dia sedikit kesal dan merasa tidak nyaman oleh tingkah adiknya yang seolah ingin mengusir semua orang.

Aku baru saja ingin membalikan badanku untuk kembali ke ruang tengah menemani Sherin dan jigsaw puzzle-nya.

Tapi, tiba-tiba kudengar Magisa menjerit kesakitan.“Aduh!” Magisa melompat-lompat dengan sebelah kakinya. Dia baru saja menginjak sesuatu yang menyakiti telapak kakinya.

Sebuah mobil-mobilan kecil berada tidak jauh darinya dan sepertinya itu kepunyaan Lucky yang ikut terkejut. Magisa meraih mobil kecil itu dan tiba-tiba melemparkannya ke lantai. “Lucky!” pekiknya sampai Alma berlarian dari dapur untuk melihat apa yang membuat Magisa terdengar begitu marah.

Aku segera menghampiri Magisa untuk menenangkannya tapi dia keburu berteriak pada anak tak bersalah itu.

“Kamu nggak bisa mainnya nggak di situ?!” ia memarahi Lucky hingga Alma langsung terlihat emosi.

Lucky langsung menangis sementara Magisa masih menatapnya dengan emosi.

Alma juga hampir melabrak adiknya tapi saat aku berisyarat padanya untuk tenang, Alma pun kemudian menghampiri putranya untuk menggendongnya. Aku mengikuti Magisa yang langsung masuk kamar dengan membanting pintu. Aku rasa sikap Magisa sangat keterlaluan memarahi anak kecil sampai seperti itu.

“Itu hanya anak kecil, Gi! Kenapa kamu sejahat itu?!” kataku, entah mengapa aku tidak suka melihat sikapnya itu; sikapnya terhadap anak kecil yang tidak tahu apa-apa.

“Ya, aku memang jahat!” teriak Magisa padaku. “Dari dulu aku memang jahat, terus kenapa?!”

Aku segera sadar memarahi Magisa hanya akan membuatnya semakin labil. Aku menarik nafas panjang, berusaha mengendalikan amarahku.

Magisa masih menatapku tajam, persis ketika ia berteriak pada Lucky yang masih menangis di luar sana. “Kenapa kalau anak kecil?” dia terdengar menantangku. “Kenapa aku harus baik sama anak kecil sementara aku sendiri juga nggak akan punya anak?”

“Sadar, Magisa...,” kataku, sambil menjauh darinya karena emosiku belum dapat reda terlebih mendengar pertanyaannya yang kelewat egois. Aku berada di ambang batasku karena Magisa sudah memperlakukan seorang anak kecil -yang juga darah dagingnya sendiri, sangat tidak pantas. “Mungkin karena inilah kita nggak diberi kesempatan menjadi orang tua karena kamu nggak suka dengan anak kecil.”

Magisa terbungkam. Matanya membelalak menatapku. Sepertinya aku telah mengusik bagian paling tidak membahagiakan dalam hidup kami.

“Kamu nggak betul-betul menginginkan seorang anak...,” kataku lagi. Aku tak tahu seberapa pedih itu baginya. “Kamu menginginkan seorang anak hanya supaya aku terikat dengan kamu dan itu nggak benar....”

Sedikitnya aku merasa sedikit terpengaruh dengan ucapan adikku di telepon. Aku benci mengakui apa yang Reggina katakan benar -meski tidak semuanya. Magisa mencemburuiku karena terlalu obsesif terhadapku sampai-sampai dia pernah mengakui bahwa dia selalu menciumi baju yang kukenakan untuk mengetahui apakah ada bau perempuan lain di sana. Entah, menelisik ke belakang, membuatku semakin tidak tahan.

Magisa seakan menghukumku.

***

Alma sudah pulang bersama anak-anaknya dengan taksi walaupun aku ingin mengantar tapi kakak iparku itu menolak. Aku merasa semakin tidak enak setelah dia memasak agar aku punya sesuatu untuk dimakan -karena selama ini aku selalu makan di luar dan menurutnya juga mertuaku, itu tidak sehat. Namun, karena keadaan Magisa, mereka terpaksa membiarkanku hidup dengan ‘tidak layak’.

Sejak pertengkaran kecil siang tadi, aku belum bicara dengan istriku yang masih merajuk. Aku sempat mengintip ke kamar dan dia sedang tertidur di atas ranjang. Saat aku masuk dan mendekat, dia mengusirku. Itu cukup menyakitkan karena semarah apa pun dia padaku dia tidak pernah sampai mengusirku. Dia tidak membolehkanku memeluknya; hal yang biasa kulakukan saat kami berselisih. Dia seolah muak padaku karena selalu mengalah.

Lalu beberapa saat setelah aku keluar, Magisa mengunci pintunya dari dalam. Dia tidak menginginkanku masuk.

Perlakuan itu membuatku ingin menelepon Reggina. Ya, aku belum pernah menelepon adikku dengan alasan ini -tak bisa menghadapi istriku. Tapi, pembicaraan kemarin belumlah selesai. Aku masih ingin mendengar apa yang dia coba katakan padaku.

“Memangnya aku mau bilang apa?” Reggina malah berpura-pura bodoh saat aku mendesaknya. “Sepertinya itu nggak terlalu penting.”

“Kamu mau main-main?” balasku sedikit kesal.

Reggina tertawa. “Sudah kubilang itu nggak penting sekarang. Yang paling penting adalah rencana selanjutnya, Sidney.”

Aku bisa mendengar suara keramaian di sekitarnya dan dia sepertinya sedang berada di luar ruangan. Lalu aku mnghela nafas lelah. Aku kira apa?

“Apa kamu sudah mendapatkan pekerjaan yang kamu inginkan?” tanya dia padaku, kali ini serius dan tenang.

“Itu bukan sesuatu yang sulit,” jawabku.

“Harusnya,” balas Reggina. “Oh ya, ngomong-ngomong soal sekolah, aku pikir kamu tertarik untuk kerja di salah satu Sekolah Dasar milik yayasan yang dikelola sama perusahaan yang ada di sana.”

“Aku malah berpikir untuk mengajar di sekolah orang yang tidak mampu,” kataku.

“Itu bisa saja. Jadi kegiatan sampingan atau jadi donatur sekalian. Tapi, menurutku, kamu harus punya pekerjaan tetap... yah butuh atau nggak, kamu harus menghasilkan uang karena itu yang namanya ‘bekerja’, Sidney.”

“Aku tercatat sebagai warga negara asing di sini. Kamu pikir aku bisa mengajar di sekolah negeri dan jadi Pegawai Negeri Sipil?”

Reggina tertawa. “Glad to hear that,” katanya. “Karena itu aku menyarankan kamu untuk mengajar di sekolah yayasan itu. Memang sih, kedengarannya nggak semulia mengajar anak-anak miskin. Karena sekolah itu sekolah internasional dan kebanyakan yang sekolah di sana anak-anak kaya. But, for sure, kamu belum punya pengalaman mengajar dan untuk itu, kita perlu koneksi.”

“Koneksi macam apa?” dia membuatku tertawa.

Trust me. Kamu pasti akan suka di sekolah itu, Sid. Di samping itu, kamu bisa mengumpulkan kenalan untuk membuat program membantu anak-anak yang nggak mampu. Gimana? Idenya brilian ‘kan?” Reggina mulai membuatku yakin bahwa yang brilian itu bukanlah idenya, melainkan dia sendiri.

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments