[Ch. 13] PRETTY LITTLE BASTARD

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Black Hole

Magisa seolah masuk ke lubang hitam yang dibuat oleh masa lalu dan terjebak di dalamnya. Sejak pulang dari rumah sakit, dia tidak lebh membaik dari saat ditemukan tergeletak. Dia sering menangis, mengunci diri di kamar dan sesekali meracau. Sesekali membahas bagaimana Saira memperlakukannya sampai terpikir untuk membalas dendam.

Aku hanya diam dan mendengarkan untuk sementara sampai Magisa menyuarakan semua isi hati dan pikirannya yang kacau.

“Apa lagi?” Magisa masih kedengaran menggerutu di tempat tidur. Dia menatapku dengan wajah pucat dan mata merah. “Aku udah menerima semuanya ‘kan?”

Aku belum berkomentar apa-apa sejak tadi karena kupikir dengan mengatakan semuanya akan baik-baik saja, tidak berarti apa-apa. Magisa sudah merasakan goncangan yang luar biasa dan logikanya dia merasa bahwa sampai kapan pun dia akan selalu dibuntuti masalah yang sama.

“Apa lagi sekarang?” dia masih bertanya sambil menatapku dengan kedua jemari yang mengepal menahan kesal. “Udah terlalu banyak, Sid…”

Aku duduk di sampingnya sambil membelai rambutnya. Hatiku pun ikut gelisah   memandanginya. Perempuan yang biasanya selalu tegar terlihat begitu lemah. Aku tahu bahwa semua kejadian buruk yang telah dilupakannya kembali hadir dalam pikirannya. Sampai tidak bisa tidur, sampai ia terus menangis hingga kedua matanya membengkak.

“Kamu bisa bayangin setelah Ananda bunuh diri aku dikejar rasa bersalah? Aku nggak pernah tahu bakal ada seseorang yang menyebarkan foto-foto yang aku ambil untuk menunjukannya ke kamu. Mereka adalah orang yang benci sama Saira dan aku yang bikin mereka semua bersatu untuk membalas Saira…,” Magisa masih meracau dan air matanya kembali menetes. “Mereka sama sekali nggak menjenguk aku di rumah sakit dan… sampai saat aku mengaku di depan semua orang mereka nggak mendukungku, seolah aku membuat semua kebohongan itu sendirian….”

Aku memang tidak tahu persis kejadian yang dihadapi Magisa sebelum kami bertemu di Teluk Jakarta senja itu. Ya, waktu yang panjang bagi Magisa sebelum kelulusan. Dia tidak pernah menceritakannya secara persis karena tidak mau mengingatnya; karena kejadian itu buruk sekali.

Ya, Magisa sempat diamankan beberapa orang guru ke ruangan kepala sekolah dari amukan anak-anak perempuan yang kesal padanya. Aku memperhatikannya dari kejauhan bahkan saat ia menoleh dengan penuh rasa bersalah kepadaku, tapi saat itu aku memalingkan wajahku dan pergi; karena aku marah dan benci sekali padanya.

“Setiap aku lewat mereka selalu bersorak, menyebutku pembohong, penipu, apa pun yang bikin aku nangis. Kadang, ada yang mengurung aku di toilet…,” katanya lagi, kembali terisak. “Guru-guru nggak melakukan sesuatu di saat aku melapor ada yang mencuri bukuku dan aku menemukannya dalam keadaan hancur. Dalam pelajaran olahraga nggak ada yang mau satu tim dengan aku bahkan kelompoknya sudah ditentukan guru… mereka semua memperlakukan aku nggak adil… tapi aku berusaha… berusaha untuk nggak nangis, karena aku sadar yang aku lakukan salah….”

Aku juga termasuk orang yang memperlakukannya dengan buruk saat itu selain dari teman-teman yang terus meledek dan mencemoohnya di sekolah. Setelah hari pengakuan itu dia kembali mendatangiku untuk meminta maaf atas apa yang dia lakukan pada Saira, aku juga mengucapkan kata-kata yang kejam padanya, “Aku nggak mau melihat wajah kamu lagi!” lalu membanting pintu di depan wajahnya. Aku tidak pernah tahu suatu hari dia muncul di Sydney; hadir pada pemakaman ayahku.

“Aku sudah menerima hukumanku, apa lagi?!” Magisa tiba-tiba berteriak. “Nggak ada yang tahu gimana sulitnya bertahan di satu tempat di mana semua orang membenciku… di saat aku pikir aku nggak boleh kalah, aku bersikeras nggak mau pindah dari sana… aku masih ingin membuktikan bahwa aku bisa jadi lebih baik. Aku belajar mati-matian untuk menghibur diri sendiri dari perlakuan orang-orang… apa itu nggak cukup sebagai balasan setelah sekarang aku divonis nggak pernah bisa jadi seorang ibu?! Ini udah nggak sebanding lagi! Sekarang semua perusahaan property bakal menolak aku! Ini semakin nggak adil, Sidney!”

“Ssst…” desisku sambil merangkulnya. “Sudah….”

“Ini nggak adil…,” jeritnya lagi dengan suara tertahan, sampai-sampai suaranya parau.

Aku belum pernah melihat Magisa seperti ini dan sedikit menyesal kenapa aku tidak ada di saat ia membutuhkanku waktu itu. Jika seandainya aku tidak meninggalkannya, mungkin Magisa tidak akan se-depresi ini. Aku pun mempererat pelukanku.

“Aku di sini ‘kan?” ujarku. “Kamu nggak kekurangan apa-apa….”

Magisa masih terisak-isak seperti anak kecil di dadaku.

“Kamu nggak butuh pekerjaan untuk mengisi waktu karena merasa bosan…” ujarku lagi. “Karena aku di sini. Kamu nggak perlu harus nungguin aku pulang kerja lagi….”

Magisa melepaskan dirinya dan kemudian menatapku heran. “Maksud kamu?”

“Aku udah melepaskan perusahaan, artinya aku akan lebih banyak di sini bersama kamu….”

“Kenapa?” Magisa masih tampak heran.

“Karena kita hanya berdua… kita nggak butuh perusahaan, kita nggak butuh apa-apa selain bisa bersama….” Jawabku.

Seulas senyum terbentuk di bibirnya yang pucat sebelum aku menciumnya dengan lembut. Kuharap dapat mengusir semua kegelisahannya dan kegelisahanku sendiri karena beberapa hari yang lalu aku mencium wanita lain dan….

***

“Sid…” suara lemah Magisa memanggilku saat aku berusaha memusatkan perhatianku padanya. “Aku mimpi aneh….”

“Mimpi apa?” tanyaku penuh perhatian, memandangi wajahnya seksama dalam belaian lembut tanganku pada pipinya yang masih memutih pucat.

“Saira kembali…,” kata dia dan seketika darahku berdesir. Kuharap dia tidak mendengar suara detak jantungku yang tiba-tiba berlari karena jarak yang begitu dekat di antara kami. “Aku lihat dia memeluk kamu sambil tersenyum….”

“Itu hanya mimpi…” ujarku, “Semuanya hanya mimpi, sekali pun dia kembali, tidak akan mengubah apa pun, Magisa….”

“Kamu janji?”

“Ya… aku janji….”

Aku memeluknya sekali lagi walaupun jantungku masih berdebar keras. Kupejamkan mataku saat mendekapnya di dada untuk merasakan bahwa hatiku milik perempuan ini, apa pun yang terjadi. Namun, kilasan itu seakan menari-nari lagi di ruang mataku.

Bagaimana Saira menolakku untuk tidak menyentuhnya seujung jari pun; dia gemetaran bahkan saat aku memeluknya untuk memberinya rasa nyaman. Dia menangis dan aku berusaha keras untuk membuatnya bicara. Saat akhirnya dia bicara, kami saling menangis. Ya, aku meneteskan air mataku saat mendengarkan ceritanya.

“Sid…,” suara Magisa kembali memanggil dengan lemah.

Kusadari, aku telah terbaring dengan tubuhnya di atas tubuhku. Aku membuka mataku dan melihat wajah pucat Magisa tepat berada di depan wajahku, dan bibirnya menyentuh bibirku dengan kasar. Aku membiarkannya karena keadaannya yang sedang tidak stabil. Aku berusaha mengikuti iramanya saat ia menindih tubuhku dan membuatku berhenti bernafas sejenak. Entah mengapa rasanya seperti tercekik.

“I smell someone else in your body…,” katanya, dengan suara parau namun tajam hingga aku membeku beberapa saat.

Tapi, tak ada suara yang keluar dari tenggorokanku. Kusadari jemari Magisa sudah menggenggam leherku; kedua tangannya mencekikku secara perlahan. Tubuhku tak bisa bergerak.

“How dare you…,” ia kembali mendesis, mengetatkan jemarinya di leherku.

Tenggorokanku rasanya sakit. Dalam pikiranku aku mencoba meronta dengan begitu kuatnya, tapi entah mengapa aku merasa tubuhku tidak bergerak. Cengkraman kedua tangan Magisa sangat erat!

Apakah dia sudah tahu apa yang kulakukan? Tapi bagaimana?

You lied to me…,” katanya lagi dengan suaranya yang parau itu; ada amarah dalam desis yang membuatku sangat ketakutan.

Aku mencoba melawan, walau tubuhku tak bisa bergerak. Aku memaksa untuk bisa menggerakan kedua tanganku; aku memusatkan perhatianku pada wajahnya yang pucat dan mengamatinya baik-baik. Namun, aku tidak bisa melihat wajahnya; tertutup oleh rambut ikalnya yang berantakan. Aku harus menghentikannya dan ketika kudapatkan tenagaku aku langsung mendorongnya dariku. Aku tahu itu akan menyakitinya, aku tahu dia akan terlempar dari tempat tidur. Namun, aku tetap mengerahkan semua tenagaku untuk menyingkirkannya dariku.

Aku bangkit dari tempatku dan kurasakan nafasku yang memburu bersamaan dengan kembalinya seluruh jiwaku yang terberai ke dalam tubuhku; saat itulah aku menyadari bahwa itu hanya mimpi. Lagi-lagi hanya mimpi yang membuatku muak karena selalu berasal dari rasa bersalahku sendiri. Aku mengatur nafasku dan kemudian mendapati bahwa tempat di sisiku telah dikosongkan.

Aku melirik jam weker di sisi meja yang menunjukan pukul delapan pagi. Cahaya matahari sudah menyebar ke setiap sudut lewat jendela yang hordennya tidak menutup sempurna. Segera, aku turun dari tempat tidur dan mulai mencari.

Sosok Magisa yang masih mengenakan piyama tampak berdiri di depan jendela; memandang keluar. Melihat dia yang begitu tenang melamunkan sesuatu, kurasa dia sudah berdiri di sana sejak tadi.

Aku menghampirinya dengan langkah pelan; khawatir akan membuatnya terkejut. Aku mulai mencemaskannya karena dia begitu asyik melamun sampai-sampai tidak menyadari kehadiranku. Dengan hati-hati, aku menegurnya lewat sentuhan di pundaknya dan seketika ia menoleh; kembali memperlihatkan wajah sedihnya.

“Kenapa?” tanyaku lembut sambil meraihnya ke pelukanku dan Magisa terasa begitu pasrah menjatuhkan dirinya dalam dekapanku.

Ya, tubuhnya terasa lebih kurus; padahal baru seminggu. Namun, depresi memang membuat bobotnya berkurang. Magisa tidak mau menyentuh makanan walaupun dia lapar. Minum pun harus ia lakukan dengan sangat terpaksa. Aku tahu, pikirannya yang kalut justru bisa membuat rasa lapar dan haus tidak terasa dan yang menerima efek dari semua itu adalah tubuhnya. Dokter sudah memberinya obat-obatan; hanya untuk menghilangkan rasa perih dan sakit. Namun, tidak bisa menghilangkan penyebab depresi.

Aku rasa inilah tugas pertamaku. Lalu seketika terpikir olehku untuk membawanya pulang ke rumah keluarganya.

***

Kedua orang tua Magisa kelihatan bahagia saat melihatnya, walaupun Mama-nya sempat hampir meneteskan air mata saat memeluknya. Beberapa hari yang lalu sebelum pulang, aku sudah menceritakan keadaan Magisa dan penyebabnya. Mereka sangat khawatir dan memintaku agar cepat-cepat membawanya pulang. Karena tinggal di apartemen pasti hanya membuatnya tetap kesepian.

Magisa memiliki seorang kakak perempuan, Alma dan adik lelakinya, Robby. Alma sudah menikah dan memiliki tiga orang anak yang lucu, Sherin, Lucky dan Raisa. Suami Alma adalah seorang anak buah kapal yang saat ini berlayar ke luar negeri sehingga selama suaminya pergi Alma dan anak-anaknya tinggal di rumah orang tuanya. Sedangkan Robby adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di jurusan mesin yang saat ini sedang menyelesaikan skripsi. Orang tua Magisa adalah pensiunan. Mama-nya adalah seorang guru sedangkan ayahnya dulu seorang polisi. Seperti yang aku tahu selama ini mereka adalah keluarga yang harmonis. Kupikir kembali berada di tengah tengah mereka akan mengembalikan semua sifat cerewet dan suka mengatur Magisa.

Namun, sejak kami tiba sampai detik ini, Magisa tetap saja murung. Dia bahkan tidak terlalu banyak bicara denganku.

“Maaf ya, Sid, Mama belum sempat belanja jadi nggak ada roti,” ucap Ibu mertuaku saat menghidangkan sayur tumis dana yam goreng di atas meja. “Semua pada sibuk beresin rumah dan kamarnya Magisa supaya kalian bisa tinggal di sana.”

“Kenapa nggak suruh Kak Alma aja?” celetuk Robby. “Sekali-kali suruh Kak Alma, ke pasar dong, Ma. Biar olahraga dan jadi langsing, nggak kayak sapi glonggongan!”

Alma di sampingnya langsung mengernyit kesal. “Lha nih anak! Nyentil gue!” balasnya sewot sementara Robby cekikikan. Alma memang berbadan bongsor dan cenderung malas bergerak. Hobinya adalah mengemil di sofa sambil menonton TV. Sedangkan anak-anaknya lebih sering diasuh nenek dan kakeknya. Aku dengar kadang Robby menjulukinya Kungfu Panda dan itu selalu membuatnya menjerit karena marah. “Gue gendut-gendut gini seksi tau!”

“Iya, iya,” balas Robby masih cekikikan. Sedangkan Robby adalah anak yang jahil dan konyol. Seringkali ia dan Alma tedengar saling ejek lalu berdamai dengan segelas sirup berwarna merah di atas meja. Karena mereka sama-sama menyukai minuman manis dan dingin.

“IIh reseh deh, Robby!” Alma masih tidak terima.

“Aduh kalian ini, malu sama ipar dong…” kata Ibu mereka sambil melirikku dan aku tersenyum.

“Nggak apa-apa, Ma,” ujarku.

“Mereka memang berisik,” kata ayah mertuaku lagi yang duduk di depanku. Ia tampak sudah memilih makanan mana yang akan ia santap lebih dulu selagi Mama menyiapkan piring untuknya.

“Magisa, kok kamu malah ngelamun?” tegur Ibu mertuaku sambil menoleh ke Magisa yang masih menopang dagu.

Tersadar Magisa melihat sekelilingnya tapi tak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya. Lalu dia kembali melirik piringnya yang masih kosong. Dia belum memindahkan apa-apa ke sana. Aku membantu mengambilkan mangkuk nasi yang isinya tinggal separuh agar Magisa bisa mengambilnya.

“Aku nggak lapar,” jawab dia sambil berdiri dan dengan wajah yang murung itu, ia pun berlalu dari ruang makan.

Semua mata tertuju padanya, tapi tak ada yang berani berkomentar. Hanya saja, kedua orang tuanya dan juga saudara-saudaranya jelas kelihatan sedih. Aku hampir saja ikut berdiri dari kursiku untuk menyusul tapi ketika Alma melarangku dan demikian juga ibu mertuaku yang ingin aku makan terlebih dahulu, aku pun membiarkannya. Aku pun juga tidak tahu harus bagaimana lagi.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments