๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Long After You've Gone
Aku bisa menggambarkannya dengan cepat di kepalaku. Perawakan wajahnya tidak berubah. Selain dari mata yang cekung dan tindik di hidung sebelah kanan, dia tidak berbeda dengan Saira yang pernah kukenal. Rambut hitamnya sudah memanjang lagi, tergerai lurus melewati bahu. Dia menutupi kepalanya dengan tudung jaket yang kelihatan lusuh. Celana jeansnya sudah robek sekali, dan di ujung kaki disambut oleh sepatu kets abu-abu yang juga usang. Keseluruhan, dia sangat kusam dengan kulit yang agak kecoklatan.
Dia menatapku beberapa saat; terpana; mungkin juga terkejut. Tapi, hanya beberapa saat aku bisa memperhatikan detil dari sosoknya, sebelum tiba-tiba dia berlari pergi.
Oh, jangan lagi…
Aku masih ingat dengan berlarilah dia menghilang. “Hey!” panggilku sambil berlari mengejarnya. Aku tidak boleh kehilangan dia.
“Hey! Stop!” kasir berteriak tapi aku tidak peduli. “Catch that girl!”
Seorang pria berbadan besar tiba-tiba menghadang di pintu keluar dan dia menangkap Saira lebih dulu. “Where’re are you going, little girl?” dia menyeringai kepada Saira yang meronta.
Kenapa dia malah menangkap Saira?
“Let go of me!” teriak Saira yang terus melawan saat pria bertopi tulisan security itu memelintir tangannya ke belakang dan menggiringnya keluar. Dia terus menjerit seolah pria itu mengerti apa yang ia katakan.
Aku melirik ke kasirt yang termangu, sampai kemudian aku menaruh dua lembar uang kertas di meja tanpa peduli pada kembaliannya. Dan juga mengambil kaleng minuman yang dijatuhkan Saira.
“Hey, let her go!” kataku pada petugas itu.
Pria itu menoleh padaku dengan penuh tanda tanya. “Who are you?”. Mungkin ia akan melaporkannya ke polisi karena mengira Saira mencuri.
“Just let her go. It’s a mistake!” kataku tapi pria itu tidak langsung percaya.
“Let me go!” Saira masih berontak karena tangannya diborgol.
“Your girlfriend?” tanya sekuriti itu dan aku tidak langsung menjawab.
“Yes. I said let her go.” jawabku.
Pria itu masih menatapku sebelum ia menghampiri Saira untuk melepas borgolnya. Sementara itu Saira masih bersumpah serapah dalam Bahasa Indonesia kepada orang itu. Dia bodoh atau apa?
Tapi, setidaknya aku berhasil menghentikannya pergi.
***
Saira hanya memandangi kaleng soda itu tanpa menyentuhnya sama sekali. Bukankah minuman itu yang dia inginkan di Walmart? Dia masih menatapku dengan wajah muram dan merengut. Sejak aku mengajaknya untuk singgah di restoran terdekat dan duduk untuk sekedar bicara; dia belum mengucapkan sesuatu.
“Ngapain kamu di Australia?” tanyaku menatapnya, memperhatiiikaaannn raut wajahnya. “Sejak kapan?”
“Sejak enam tahun yang lalu. Memangnya kenapa?” balas dia, agak ketus tanpa merubah raut wajah masam itu. Dia tampak tak ingin berlama-lama denganku karena dia sendiri tampak gelisah; sambil menggoyang-goyangkan lututnya, menatap ke sana ke mari kecuali ke arahku dan dia beberapa kali menengadah seperti sedang menanggul air mata dengan cekungan yang dalam pada kedua matanya. Agaknya dia benar-benar terpaksa menghadapiku.
“Enam tahun?” balasku, tertawa satu kali. Aku belum mau mempercayainya. “Apa yang kamu lakukan selama enam tahun di Australia?”
“Apa peduli kamu?” dia masih menjawabku ketus. Sementara aku mulai berpikiran macam-macam.
“Sudah ketemu ladang bunga mataharinya?” tanyaku kemudian, berusaha untuk tetap ramah. Bagaimana pun enam tahun jugalah kami tidak bertemu. Aku mencarinya ke sana ke mari, tapi tak pernah bisa menemukan keberadaannya.
Tiba-tiba dia berdiri; benar-benar kelihatan marah. Sepertinya dari semua pertanyaanku yang tidak dia sukai, inilah yang membuatnya habis kesabaran.
Sehingga aku ikut berdiri, untuk menahannya. “Oke,” ujarku. “Maaf! Aku sama sekali nggak berniat menginterogasi, oke?”
Saira tampak menghela nafas sebelum duduk lagi. Dia berusaha menenangkan diri. Sepertinya dia mudah sekali terpancing emosi. Beberapa menit kemudian dalam diam pelayan datang membawakan makanan pesanan kami.
Aku melirik jam tanganku, hampir jam setengah tujuh. Lima kaleng whipped cream dalam keranjang masih ada di tanganku. Mum sebentar lagi pasti menelpon karena dia membutuhkan bahan ini untuk bisa segera memanggang Pavlova-nya di oven.
Saira mulai tidak mempedulikanku karena dia harus makan. Melihat caranya makannya yang lahap, dia pasti sangat lapar. Apa yang kulihat darinya semakin membuatku penasaran. Apakah yang dia lakukan di Australia? Kenapa penampilannya begitu lusuh dan kotor? Dengan siapa dia tinggal? Aku ingin menanyakan itu segera, tapi aku tidak mau hujan pertanyaan malah membuatnya menghindar. Bukankah Saira selalu tertutup? Susah payah menahannya pergi, aku tidak bisa membiarkannya masih menyisakan banyak misteri, walau kenyataannya segala sesuatu tentang Saira di dalam hidupku adalah misteri.
Dia selalu datang dan pergi sesuka hatinya; meninggalkan banyak pertanyaan yang tak bisa terjawab.
“Aku mau pulang ke Indonesia,” kata dia tiba-tiba. “Aku ingin segera pergi dari sini….”
Aku mendengarkannya dengan seksama, sebelum memikirkan satu pertanyaan dengan hati-hati. Mungkin aku harus memahami polanya lebih dulu sebelum melemparkan banyak pertanyaan. “Lalu?” tanyaku, berusaha mengikuti alur pembicaraan Saira selanjutnya.
“Aku menunggu seseorang menjemput, tapi dia belum datang….,” jawab dia.
“Siapa? Pacar kamu?” balasku, dan Saira sedikit tercengang, sebelum tertunduk sejenak. Dan ia mengalihkan ekspresi sedihnya dengan meminum soda dari gelasnya. Tiba-tiba dia tertawa pelan.
“Pacar?” balas dia, mulai terkekeh seperti penghinaan terhadapku. “Aku nggak ingat kapan terakhir kali aku masih selera sama laki-laki….”
“Oh, jadi sekarang kamu seorang lesbian?” balasku.
Saira tertawa makin keras. “Kamu pikir begitu?” balas dia.
Sudah lama sekali aku tidak mendengar dia memanggilku dengan nama itu. Ternyata dia belum lupa walaupun mungkin orientasi seksualnya mungkin sudah berubah.
“Aku nggak percaya siapa-siapa,” dia menegaskan padaku.
“Aku minta maaf soal itu,” kataku, rasanya dia pernah bicara tentang kepercayaan terhadap seseorang dulu.
“Soal apa?” balas dia, cepat. “Soal cewek di apartemen?”
Aku mengalihkan pandanganku sejenak, karena kejadian itu masih saja membuatku sesak setiap mengingatnya. Entah mengapa Saira bisa tertawa seakan itu lucu. Dia seolah menikmati kebingunganku. Atau mungkin saja dia sudah tidak peduli.
“Itu sudah lama,” dia mengingatkan. “Semuanya sudah berubah. Apa lagi sekarang?”
Aku diam.
Saira kembali berdiri. “Aku harus pergi,” kata dia. “Makasih makan siangnya. Kebetulan aku juga nggak punya uang.”
“Bukan kebetulan. Sepertinya kamu memang nggak pernah punya uang,” balasku.
Saira menarik nafas. “Ya, kenapa kalau aku nggak punya uang?” celetuknya sambil beranjak dari kursi, tampak serius ingin pergi.
Aku mengambil dompet, dan mencabut semua uang tunai yang kusimpan di dalamnya dan menaruhnya di atas meja. “Ambillah,” kataku, “Kamu mungkin membutuhkannya.”
“Aku nggak butuh uang sebanyak itu. Sebentar lagi aku juga pulang,” dia masih berusaha menolak.
“Lalu ibu kamu?”
“Seperti biasa. Dia nggak terlalu peduli.”
Aku pun ikut berdiri. “Kamu sudah menelepon ayah kamu? Di mana dia sekarang?”
“Itulah masalahnya. Aku sama sekali nggak punya handphone untuk ngasih tahu Papa kalau aku sudah keluar…,” kata dia, masih terkekeh. “Aku juga nggak tahu dia di mana sekarang?”
“Keluar dari mana?” tanyaku heran dan seketika Saira tersentak.
Dia tidak langsung menjawab. Sekilas aku merasa dia terdiam karena sedang menyembunyikan sesuatu lagi.
“Aku nggak ngerti sama kamu. Keluar dengan penampilan seperti itu. Nggak punya uang dan handphone. Kamu maunya apa sih?” tanyaku semakin tidak habis pikir.
“Ya begitulah….” Jawab dia acuh.
Lalu aku mengeluarkan ponselku. “Sekarang telpon ayah kamu supaya dia nggak cemas,” kataku.
Saira sempat termangu. “Panggilan internasional? Mungkin Papaku masih di Indonesia.” Jawab dia.
“Apa?!” aku semakin tidak mengerti dengannya. Sebenarnya apa yang dia lakukan di sini? Kenapa ini mulai berbelit-belit?
“Telpon aja. Nggak apa-apa,” kataku akhirnya.
Dengan ragu-ragu Saira mengambil ponselku dan dia mulai memencet sebuah nomor telpon. Tapi, dia memilih menjauh dariku saat bicara dengan ayahnya. Entah apa yang mereka bicarakan cukup lama. Lalu Saira kembali padaku dengan wajah sedih.
“Makasih banyak…,” ucapnya.
Aku masih bertanya-tanya. Setelah tadi dia tampak lega bisa bicara dengan ayahnya, sekarang dia sedih. Aku pikir dia akan pergi lagi, menghindar saat dia tidak ingin bicara, tapi nyatanya ia kembali duduk di kursi yang sempat ia tinggalkan. Mungkin dia sudah tak tahan karena akhirnya dia menangis. Menangis sampai tersedu-sedu.
Ada apa lagi dengannya?
“Saira?” tegurku, karena sekarang ia tampak putus asa akan sesuatu. Apa ayahnya memberinya sebuah kabar buruk? Kurasa….
“Sial…,” gumam dia pelan, tapi menggerutu. Ia menghembuskan nafas lelah lalu menyeka air matanya.
“Hei…,” tegurku lagi. “Ada apa sih?”
Dia mengangkat kepalanya sambil menghapus air matanya, tapi gagal berhenti terisak. Sungguh, aku belum pernah melihatnya menangis sampai seperti itu sebelumnya. “Papa nggak bisa ke sini…,” katanya. “Dia nggak bisa jemput aku….”
“Kenapa?” tanyaku dan Saira menggeleng-geleng. “Saira?”
Aku diam sambil memperhatikannya menangis tersedu-sedu sampai beberapa orang lain di restoran sampai memandangiku.
“Apa karena nggak punya uang?” tanyaku dan Saira hanya menatapku. Aku menganggapnya sebagai jawaban iya.
Saira kembali tertunduk sedih.
“Oke, aku akan belikan tiket pulang,” kataku. “Sekarang bilang kamu tinggal di mana, aku antar pulang. Aku akan menyelesaikan masalah tiketnya, oke?”
Gadis itu kembali termangu. Dari tadi seringkali ia hanya terdiam menatapku bingung. “Aku nggak punya tempat tinggal.”
“Jangan bilang kamu menggelandang selama di sini!” emosiku terpancing karena dia membuatku semakin tidak mengerti.
Saira menggeleng. “Lebih buruk dari gelandangan….,” katanya. Tapi, tidak cukup meyakinkan.
“Kalau kamu nggak punya tempat tinggal terus kamu tinggal di mana selama ini?”
Lagi-lagi dia diam. Aku mulai membuat drama di pikiranku. Apa Saira tinggal dengan kekasihnya lalu setelah hubungan berakhir dia diusir? Lihat saja dia, dia tidak punya apa-apa selain dari yang dia kenakan di badan. Ya ampun, kenapa dia menjadi menyedihkan begini?
“Sidney…,” dia memanggilku. “Kamu bisa berhenti teriak-teriak?” tanyanya, tampak memohon dan seketika aku diam.
***
Dia berjalan lagi seolah kaki-kakinya yang kurus tidak pernah merasa lelah. Padahal dia juga tidak punya tujuan pasti. Katanya selain tidak punya uang juga tidak punya tempat tinggal. Siapa yang menelantarkannya? Saira tidak pernah menjawab dengan pasti. Dia hanya berkata ingin pulang. Namun, ada yang aneh saat aku memperhatikan langkahnya yang ringan.
Sesekali tampak Saira menghirup udara setiap angin bertiup. Entah. Aku melihatnya seperti seekor burung yang baru saja lepas dari sangkarnya dan terbang bebas. Sejak meninggalkan restoran dengan perut kenyang, dia sedikit lebih ceria walaupun masih menghindari banyak pertanyaan dariku. Selain itu juga dia masih enggan memulai percakapan.
Cahaya matahari semakin berkurang intensitasnya. Aku mungkin melewatkan makan malam di rumah sebagaimana aku mengabaikan telpon dari Mum dan Magisa. Aku mengikuti langkah Saira seakan takut ini akan menjadi terakhir kalinya lagi aku melihatnya. Dia seringkali menghilang seperti hantu lalu muncul secara mendadak.
“Malam ini kamu tidur di mana?” tanyaku akhirnya.
Saira tengah menatap dengan hampa pemandangan jalan di depannya. “Entahlah,” jawab dia. Ada sesuatu yang dia pikirkan saat ini. “Aku nggak pernah jalan-jalan di kota seperti ini….”
“Oh ya?”
“Pertama kali datang ke Sydney, aku seperti gadis kampung yang baru tahu seperti apa rupa kota besar,” sambung dia. “Maksudku kota yang lebih besar dan maju dari Jakarta.”
“Kapan kamu datang?”
“Aku bilang enam tahun yang lalu.”
“Dan nggak pernah pulang?”
Saira menggeleng.
“Jadi… di mana kamu selama enam tahun?”
“Kamu nggak bakal ingin dengar.”
“Siapa bilang? Kamu malu mengakui kalau kamu jadi TKW dan selama bertahun-tahun disiksa oleh majikan, terus baru berhasil kabur sekarang?”
Saira malah tertawa terbahak-bahak. “Kamu itu… selalu membuat drama sendiri tentang orang lain,” katanya seperti mengejek. Lalu mendahului langkahku. Tapi tiba-tiba dia kembali. “Oh ya Sidney, kamu punya rokok?”
“Aku berhenti merokok,”
“Banci!” teriaknya.
Aku tidak bisa bilang bahwa aku berhenti merokok karena Magisa tidak menyukai bau asap rokok. Dia sering memarahiku kalau ketahuan merokok diam-diam. Aku pun kembali mengambil dompet untuk mengambil uang. “Kamu mau beli rokok?”
“Wah! Wah! Benar-benar konglomerat, apa-apa tinggal ‘sret’!” dia mengejekku lagi sambil tertawa.
“Ambil,” kataku, hampir putus asa karena Saira tidak mau menerima uangku.
Saira masih menolak dengan tetap berjalan. Keanehan sifatnya tidak pernah berubah.
“Daritadi kamu terlalu banyak tanya soal aku tapi aku belum tanya apa-apa soal kamu.” Dia mulai bicara lagi.
“Tanya apa?” balasku.
“Kamu sudah menikah?” akhirnya dia menanyakannya.
Aku tidak langsung menjawab.
“Kasihan sekali kamu, semakin tua tapi nggak menikah,” kata Saira, membuatku sedikit gusar.
“Ya, aku menikah,” jawabku dan dia malah cekikikan sementara aku merasa dia mungkin akan cemburu. “Dan aku memang sudah tua. Tiga puluh dua tahun.”
Dia mengangguk-angguk. “Semuanya memang sudah berubah ya?”
Kami mulai berjalan tanpa tujuan. Aku sudah hafal dengan gaya Saira yang lebih suka berjalan kaki; apalagi di tempat yang belum pernah ia datangi. Ya, dia layaknya magnet dan aku adalah paku kecil yang terus mengekor ke mana pun dia pergi.
Mungkin, cemburu adalah hal yang berlebihan baginya. Setelah semua yang terjadi, semua yang telah kulakukan dan bagaimana waktu menghapus luka. Aku bertemu Saira dalam sebuah kebetulan yang dicampuri oleh semesta. Meski masih berselubung misteri yang tak kunjung terpecahkan bahkan di saat dia sudah kembali hadir di hadapanku.
Tapi, benar katanya. Semua sudah berubah. Tidak ada lagi cinta gila yang membabi buta, yang memupus akal sehat; yang menguras air mata dan emosi. Misteri tentang Saira bukan hal penting lagi dan harus kupecahkan. Biar saja dia menjadi apa adanya dan tertinggal dalam ingatanku sebagai gadis misterius dengan teka-teki. Saira memang demikian adanya. Tapi, kerinduan terpendam selama ini padanya telah terjawab, meski pun tak pantas lagi disebut kerinduan. Aku sudah mencintai orang lain.
***
“Hei,” Saira mengalihkan pandangannya dari taman kecil di seberang jalan raya ke arahku. “Kamu tahu gedung di Sydney yang bentuknya seperti keong itu?”
“Maksud kamu Sydney Opera House?” balasku.
Dia hanya mengangkat bahunya. “Aku bilang aku lupa namanya,” kata dia, sedikit gusar.
“Ya, itu tempatnya, yang bentuknya seperti keong dan berdiri di pinggir laut,” aku menjelaskan. “Jangan bilang kamu belum pernah ke sana.”
“Memang,” celetuk dia. “Aku hanya pernah lihat di gambar atau di TV.”
Aku tertawa lagi. “Apa saja yang kamu lakukan selama enam tahun?” aku kembali mengulangnya dan seketika ia berubah muram.
“Kita bisa pergi ke sana?” tanya dia, menatapku serius dan mengabaikan pertanyaanku. Dia selalu menghindar dari pertanyaan tentang enam tahun. “Aku nggak tahu setelah pulang akan kembali ke sini.”
“Kenapa kamu ingin sekali ke sana?”
Saira diam beberapa saat. “Hanya ingin tahu….” Jawabnya, tiba-tiba murung. “Mungkin karena tempat itu kelihatan sangat menyenangkan dan terkenal.”
“Harusnya kamu ke sana di hari pertama kamu datang ke Australia.”
Gadis itu menggeleng, masih belum membuang muram di wajahnya. Kemudian ia menatapku, cukup lama; itu adalah tatapan terlamanya padaku sejak pertemuan hari ini. “Aku harap juga begitu,” ia menjelaskan dan kembali memandang ke seberang jalan. Kali ini tatapannya kosong. “Terlalu banyak kejadian buruk di sini….”
“Kejadian apa?” aku mengunci mataku pada sosoknya yang sedang menyelipkan rahasia lagi. Saat Saira tidak mau menjawab dengan jujur dia pasti memalingkan wajahnya.
“Satu hal yang aku ingat dari gedung keong itu adalah nama kamu ada di dalamnya,” kata Saira tiba-tiba. Kemudian sepasang mata yang indahnya telah tersamarkan itu, menatapku. “Aku pikir… nama itu juga bersejarah seperti gedung keong.”
“Gimana kamu tahu?” balasku.
“Tebakan…,” jawab dia sambil menghembuskan nafas.
Dingin mulai menyusup pada udara malam. Angin sesekali bertiup. Aku menatap seksama ke arahnya dan dia juga. Aku tidak menyangka dia menunjukan bahwa dia masih memikirkanku. Ah ya, kami pernah saling jatuh cinta.
“Ibuku seorang pemain biola dan bergabung dengan grup orchestra yang bermarkas di Opera House. Di salah satu pertunjukan balet yang digelar di sana, tim orkestranya mengiringi music pertunjukan itu. Kebetulan ayahku menontonnya dan mereka bertemu. Itulah kenapa anak pertama mereka diberi nama Sydney. Karena kesalahan dari orang bodoh di pencatatan sipil dia mengganti huruf y dengan huruf i. Ya, itu sangat merusak momentum,” jelasku tanpa berpaling darinya sedikitpun.
Saira tertawa pelan. “Aku cuma nggak suka…,” kedengarannya akan sedikit mengklarifikasi. “Si kawat gigi memanggil kamu pakai nama itu dengan gaya yang sama sekali nggak aku suka….”
Aku terdiam lagi.
“Semua orang selalu salah menilaiku sejak dia menghancurkan semuanya. Apa pun yang aku lakukan akan selalu salah di mata orang,”
“Kamu mem-bully dia dulu,”
“Oh, dia cerita?”
“Semuanya.”
Saira diam. “Ya, aku nggak akan membantahnya,” katanya, dan mulai berjalan lagi. “Aku nggak menyukainya karena dia anak cupu yang suka menguntit. Aku cuma nggak suka dibuntuti dan ditanyai banyak hal.”
“Terus kamu mengajak teman-teman kamu yang lain mem-bully?”
“Apa?” dia kedengaran emosi. “Aku nggak perlu orang lain kalau cuma untuk bikin dia kapok. Memang sudah nasibnya sial sejak kelas satu dan itu juga bukan salahku.”
Satu pertanyaan besar sudah terjawab; meski bukan jawaban yang penting untuk diketahui saat ini. Namun, setidaknya, Saira sudah mulai ingin berterus terang.
“Udahlah, itu nggak pantas lagi diingat,” kata Saira. “Cuma bikin sakit hati. Lagipula mungkin dia sudah jadi wartawan acara gossip sekarang.”
“Dia seorang arsitek,” celetukku, tanpa ragu-ragu.
“Oh ya?” Saira mengernyit, seakan tidak percaya. “Dari mana kamu tahu?”
“Aku tahu semua tentang dia…” jawabku tertunduk sejenak, sebelum menatapnya lagi dan kusaksikan air muka Saira berubah. Tapi, harus kukatakan padanya. “Dia istriku, Saira….”
Seperti dugaanku, Saira tercengang, sampai kedua matanya melotot, tanpa berkedip. Dan itu bukan ekspresi yang dibuat-buat. Ya, dia tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya dariku. Bibirnya tampak ingin mengatakan sesuatu tapi dia selalu kehilangannya. Mengambil beberapa langkah mundur dariku, dia langsung berbalik. Kulihat dia menyeka wajahnya dengan tangan. Entah, bagaimana ekspresi wajah yang dia sembunyikan.
Namun, tentu aku merasa sangat bersalah. Aku tidak pernah tahu bahwa kami akan bertemu lagi seperti ini.
***
Aku bisa menggambarkannya dengan cepat di kepalaku. Perawakan wajahnya tidak berubah. Selain dari mata yang cekung dan tindik di hidung sebelah kanan, dia tidak berbeda dengan Saira yang pernah kukenal. Rambut hitamnya sudah memanjang lagi, tergerai lurus melewati bahu. Dia menutupi kepalanya dengan tudung jaket yang kelihatan lusuh. Celana jeansnya sudah robek sekali, dan di ujung kaki disambut oleh sepatu kets abu-abu yang juga usang. Keseluruhan, dia sangat kusam dengan kulit yang agak kecoklatan.
Dia menatapku beberapa saat; terpana; mungkin juga terkejut. Tapi, hanya beberapa saat aku bisa memperhatikan detil dari sosoknya, sebelum tiba-tiba dia berlari pergi.
Oh, jangan lagi…
Aku masih ingat dengan berlarilah dia menghilang. “Hey!” panggilku sambil berlari mengejarnya. Aku tidak boleh kehilangan dia.
“Hey! Stop!” kasir berteriak tapi aku tidak peduli. “Catch that girl!”
Seorang pria berbadan besar tiba-tiba menghadang di pintu keluar dan dia menangkap Saira lebih dulu. “Where’re are you going, little girl?” dia menyeringai kepada Saira yang meronta.
Kenapa dia malah menangkap Saira?
“Let go of me!” teriak Saira yang terus melawan saat pria bertopi tulisan security itu memelintir tangannya ke belakang dan menggiringnya keluar. Dia terus menjerit seolah pria itu mengerti apa yang ia katakan.
Aku melirik ke kasirt yang termangu, sampai kemudian aku menaruh dua lembar uang kertas di meja tanpa peduli pada kembaliannya. Dan juga mengambil kaleng minuman yang dijatuhkan Saira.
“Hey, let her go!” kataku pada petugas itu.
Pria itu menoleh padaku dengan penuh tanda tanya. “Who are you?”. Mungkin ia akan melaporkannya ke polisi karena mengira Saira mencuri.
“Just let her go. It’s a mistake!” kataku tapi pria itu tidak langsung percaya.
“Let me go!” Saira masih berontak karena tangannya diborgol.
“Your girlfriend?” tanya sekuriti itu dan aku tidak langsung menjawab.
“Yes. I said let her go.” jawabku.
Pria itu masih menatapku sebelum ia menghampiri Saira untuk melepas borgolnya. Sementara itu Saira masih bersumpah serapah dalam Bahasa Indonesia kepada orang itu. Dia bodoh atau apa?
Tapi, setidaknya aku berhasil menghentikannya pergi.
***
Saira hanya memandangi kaleng soda itu tanpa menyentuhnya sama sekali. Bukankah minuman itu yang dia inginkan di Walmart? Dia masih menatapku dengan wajah muram dan merengut. Sejak aku mengajaknya untuk singgah di restoran terdekat dan duduk untuk sekedar bicara; dia belum mengucapkan sesuatu.
“Ngapain kamu di Australia?” tanyaku menatapnya, memperhatiiikaaannn raut wajahnya. “Sejak kapan?”
“Sejak enam tahun yang lalu. Memangnya kenapa?” balas dia, agak ketus tanpa merubah raut wajah masam itu. Dia tampak tak ingin berlama-lama denganku karena dia sendiri tampak gelisah; sambil menggoyang-goyangkan lututnya, menatap ke sana ke mari kecuali ke arahku dan dia beberapa kali menengadah seperti sedang menanggul air mata dengan cekungan yang dalam pada kedua matanya. Agaknya dia benar-benar terpaksa menghadapiku.
“Enam tahun?” balasku, tertawa satu kali. Aku belum mau mempercayainya. “Apa yang kamu lakukan selama enam tahun di Australia?”
“Apa peduli kamu?” dia masih menjawabku ketus. Sementara aku mulai berpikiran macam-macam.
“Sudah ketemu ladang bunga mataharinya?” tanyaku kemudian, berusaha untuk tetap ramah. Bagaimana pun enam tahun jugalah kami tidak bertemu. Aku mencarinya ke sana ke mari, tapi tak pernah bisa menemukan keberadaannya.
Tiba-tiba dia berdiri; benar-benar kelihatan marah. Sepertinya dari semua pertanyaanku yang tidak dia sukai, inilah yang membuatnya habis kesabaran.
Sehingga aku ikut berdiri, untuk menahannya. “Oke,” ujarku. “Maaf! Aku sama sekali nggak berniat menginterogasi, oke?”
Saira tampak menghela nafas sebelum duduk lagi. Dia berusaha menenangkan diri. Sepertinya dia mudah sekali terpancing emosi. Beberapa menit kemudian dalam diam pelayan datang membawakan makanan pesanan kami.
Aku melirik jam tanganku, hampir jam setengah tujuh. Lima kaleng whipped cream dalam keranjang masih ada di tanganku. Mum sebentar lagi pasti menelpon karena dia membutuhkan bahan ini untuk bisa segera memanggang Pavlova-nya di oven.
Saira mulai tidak mempedulikanku karena dia harus makan. Melihat caranya makannya yang lahap, dia pasti sangat lapar. Apa yang kulihat darinya semakin membuatku penasaran. Apakah yang dia lakukan di Australia? Kenapa penampilannya begitu lusuh dan kotor? Dengan siapa dia tinggal? Aku ingin menanyakan itu segera, tapi aku tidak mau hujan pertanyaan malah membuatnya menghindar. Bukankah Saira selalu tertutup? Susah payah menahannya pergi, aku tidak bisa membiarkannya masih menyisakan banyak misteri, walau kenyataannya segala sesuatu tentang Saira di dalam hidupku adalah misteri.
Dia selalu datang dan pergi sesuka hatinya; meninggalkan banyak pertanyaan yang tak bisa terjawab.
“Aku mau pulang ke Indonesia,” kata dia tiba-tiba. “Aku ingin segera pergi dari sini….”
Aku mendengarkannya dengan seksama, sebelum memikirkan satu pertanyaan dengan hati-hati. Mungkin aku harus memahami polanya lebih dulu sebelum melemparkan banyak pertanyaan. “Lalu?” tanyaku, berusaha mengikuti alur pembicaraan Saira selanjutnya.
“Aku menunggu seseorang menjemput, tapi dia belum datang….,” jawab dia.
“Siapa? Pacar kamu?” balasku, dan Saira sedikit tercengang, sebelum tertunduk sejenak. Dan ia mengalihkan ekspresi sedihnya dengan meminum soda dari gelasnya. Tiba-tiba dia tertawa pelan.
“Pacar?” balas dia, mulai terkekeh seperti penghinaan terhadapku. “Aku nggak ingat kapan terakhir kali aku masih selera sama laki-laki….”
“Oh, jadi sekarang kamu seorang lesbian?” balasku.
Saira tertawa makin keras. “Kamu pikir begitu?” balas dia.
Sudah lama sekali aku tidak mendengar dia memanggilku dengan nama itu. Ternyata dia belum lupa walaupun mungkin orientasi seksualnya mungkin sudah berubah.
“Aku nggak percaya siapa-siapa,” dia menegaskan padaku.
“Aku minta maaf soal itu,” kataku, rasanya dia pernah bicara tentang kepercayaan terhadap seseorang dulu.
“Soal apa?” balas dia, cepat. “Soal cewek di apartemen?”
Aku mengalihkan pandanganku sejenak, karena kejadian itu masih saja membuatku sesak setiap mengingatnya. Entah mengapa Saira bisa tertawa seakan itu lucu. Dia seolah menikmati kebingunganku. Atau mungkin saja dia sudah tidak peduli.
“Itu sudah lama,” dia mengingatkan. “Semuanya sudah berubah. Apa lagi sekarang?”
Aku diam.
Saira kembali berdiri. “Aku harus pergi,” kata dia. “Makasih makan siangnya. Kebetulan aku juga nggak punya uang.”
“Bukan kebetulan. Sepertinya kamu memang nggak pernah punya uang,” balasku.
Saira menarik nafas. “Ya, kenapa kalau aku nggak punya uang?” celetuknya sambil beranjak dari kursi, tampak serius ingin pergi.
Aku mengambil dompet, dan mencabut semua uang tunai yang kusimpan di dalamnya dan menaruhnya di atas meja. “Ambillah,” kataku, “Kamu mungkin membutuhkannya.”
“Aku nggak butuh uang sebanyak itu. Sebentar lagi aku juga pulang,” dia masih berusaha menolak.
“Lalu ibu kamu?”
“Seperti biasa. Dia nggak terlalu peduli.”
Aku pun ikut berdiri. “Kamu sudah menelepon ayah kamu? Di mana dia sekarang?”
“Itulah masalahnya. Aku sama sekali nggak punya handphone untuk ngasih tahu Papa kalau aku sudah keluar…,” kata dia, masih terkekeh. “Aku juga nggak tahu dia di mana sekarang?”
“Keluar dari mana?” tanyaku heran dan seketika Saira tersentak.
Dia tidak langsung menjawab. Sekilas aku merasa dia terdiam karena sedang menyembunyikan sesuatu lagi.
“Aku nggak ngerti sama kamu. Keluar dengan penampilan seperti itu. Nggak punya uang dan handphone. Kamu maunya apa sih?” tanyaku semakin tidak habis pikir.
“Ya begitulah….” Jawab dia acuh.
Lalu aku mengeluarkan ponselku. “Sekarang telpon ayah kamu supaya dia nggak cemas,” kataku.
Saira sempat termangu. “Panggilan internasional? Mungkin Papaku masih di Indonesia.” Jawab dia.
“Apa?!” aku semakin tidak mengerti dengannya. Sebenarnya apa yang dia lakukan di sini? Kenapa ini mulai berbelit-belit?
“Telpon aja. Nggak apa-apa,” kataku akhirnya.
Dengan ragu-ragu Saira mengambil ponselku dan dia mulai memencet sebuah nomor telpon. Tapi, dia memilih menjauh dariku saat bicara dengan ayahnya. Entah apa yang mereka bicarakan cukup lama. Lalu Saira kembali padaku dengan wajah sedih.
“Makasih banyak…,” ucapnya.
Aku masih bertanya-tanya. Setelah tadi dia tampak lega bisa bicara dengan ayahnya, sekarang dia sedih. Aku pikir dia akan pergi lagi, menghindar saat dia tidak ingin bicara, tapi nyatanya ia kembali duduk di kursi yang sempat ia tinggalkan. Mungkin dia sudah tak tahan karena akhirnya dia menangis. Menangis sampai tersedu-sedu.
Ada apa lagi dengannya?
“Saira?” tegurku, karena sekarang ia tampak putus asa akan sesuatu. Apa ayahnya memberinya sebuah kabar buruk? Kurasa….
“Sial…,” gumam dia pelan, tapi menggerutu. Ia menghembuskan nafas lelah lalu menyeka air matanya.
“Hei…,” tegurku lagi. “Ada apa sih?”
Dia mengangkat kepalanya sambil menghapus air matanya, tapi gagal berhenti terisak. Sungguh, aku belum pernah melihatnya menangis sampai seperti itu sebelumnya. “Papa nggak bisa ke sini…,” katanya. “Dia nggak bisa jemput aku….”
“Kenapa?” tanyaku dan Saira menggeleng-geleng. “Saira?”
Aku diam sambil memperhatikannya menangis tersedu-sedu sampai beberapa orang lain di restoran sampai memandangiku.
“Apa karena nggak punya uang?” tanyaku dan Saira hanya menatapku. Aku menganggapnya sebagai jawaban iya.
Saira kembali tertunduk sedih.
“Oke, aku akan belikan tiket pulang,” kataku. “Sekarang bilang kamu tinggal di mana, aku antar pulang. Aku akan menyelesaikan masalah tiketnya, oke?”
Gadis itu kembali termangu. Dari tadi seringkali ia hanya terdiam menatapku bingung. “Aku nggak punya tempat tinggal.”
“Jangan bilang kamu menggelandang selama di sini!” emosiku terpancing karena dia membuatku semakin tidak mengerti.
Saira menggeleng. “Lebih buruk dari gelandangan….,” katanya. Tapi, tidak cukup meyakinkan.
“Kalau kamu nggak punya tempat tinggal terus kamu tinggal di mana selama ini?”
Lagi-lagi dia diam. Aku mulai membuat drama di pikiranku. Apa Saira tinggal dengan kekasihnya lalu setelah hubungan berakhir dia diusir? Lihat saja dia, dia tidak punya apa-apa selain dari yang dia kenakan di badan. Ya ampun, kenapa dia menjadi menyedihkan begini?
“Sidney…,” dia memanggilku. “Kamu bisa berhenti teriak-teriak?” tanyanya, tampak memohon dan seketika aku diam.
***
Dia berjalan lagi seolah kaki-kakinya yang kurus tidak pernah merasa lelah. Padahal dia juga tidak punya tujuan pasti. Katanya selain tidak punya uang juga tidak punya tempat tinggal. Siapa yang menelantarkannya? Saira tidak pernah menjawab dengan pasti. Dia hanya berkata ingin pulang. Namun, ada yang aneh saat aku memperhatikan langkahnya yang ringan.
Sesekali tampak Saira menghirup udara setiap angin bertiup. Entah. Aku melihatnya seperti seekor burung yang baru saja lepas dari sangkarnya dan terbang bebas. Sejak meninggalkan restoran dengan perut kenyang, dia sedikit lebih ceria walaupun masih menghindari banyak pertanyaan dariku. Selain itu juga dia masih enggan memulai percakapan.
Cahaya matahari semakin berkurang intensitasnya. Aku mungkin melewatkan makan malam di rumah sebagaimana aku mengabaikan telpon dari Mum dan Magisa. Aku mengikuti langkah Saira seakan takut ini akan menjadi terakhir kalinya lagi aku melihatnya. Dia seringkali menghilang seperti hantu lalu muncul secara mendadak.
“Malam ini kamu tidur di mana?” tanyaku akhirnya.
Saira tengah menatap dengan hampa pemandangan jalan di depannya. “Entahlah,” jawab dia. Ada sesuatu yang dia pikirkan saat ini. “Aku nggak pernah jalan-jalan di kota seperti ini….”
“Oh ya?”
“Pertama kali datang ke Sydney, aku seperti gadis kampung yang baru tahu seperti apa rupa kota besar,” sambung dia. “Maksudku kota yang lebih besar dan maju dari Jakarta.”
“Kapan kamu datang?”
“Aku bilang enam tahun yang lalu.”
“Dan nggak pernah pulang?”
Saira menggeleng.
“Jadi… di mana kamu selama enam tahun?”
“Kamu nggak bakal ingin dengar.”
“Siapa bilang? Kamu malu mengakui kalau kamu jadi TKW dan selama bertahun-tahun disiksa oleh majikan, terus baru berhasil kabur sekarang?”
Saira malah tertawa terbahak-bahak. “Kamu itu… selalu membuat drama sendiri tentang orang lain,” katanya seperti mengejek. Lalu mendahului langkahku. Tapi tiba-tiba dia kembali. “Oh ya Sidney, kamu punya rokok?”
“Aku berhenti merokok,”
“Banci!” teriaknya.
Aku tidak bisa bilang bahwa aku berhenti merokok karena Magisa tidak menyukai bau asap rokok. Dia sering memarahiku kalau ketahuan merokok diam-diam. Aku pun kembali mengambil dompet untuk mengambil uang. “Kamu mau beli rokok?”
“Wah! Wah! Benar-benar konglomerat, apa-apa tinggal ‘sret’!” dia mengejekku lagi sambil tertawa.
“Ambil,” kataku, hampir putus asa karena Saira tidak mau menerima uangku.
Saira masih menolak dengan tetap berjalan. Keanehan sifatnya tidak pernah berubah.
“Daritadi kamu terlalu banyak tanya soal aku tapi aku belum tanya apa-apa soal kamu.” Dia mulai bicara lagi.
“Tanya apa?” balasku.
“Kamu sudah menikah?” akhirnya dia menanyakannya.
Aku tidak langsung menjawab.
“Kasihan sekali kamu, semakin tua tapi nggak menikah,” kata Saira, membuatku sedikit gusar.
“Ya, aku menikah,” jawabku dan dia malah cekikikan sementara aku merasa dia mungkin akan cemburu. “Dan aku memang sudah tua. Tiga puluh dua tahun.”
Dia mengangguk-angguk. “Semuanya memang sudah berubah ya?”
Kami mulai berjalan tanpa tujuan. Aku sudah hafal dengan gaya Saira yang lebih suka berjalan kaki; apalagi di tempat yang belum pernah ia datangi. Ya, dia layaknya magnet dan aku adalah paku kecil yang terus mengekor ke mana pun dia pergi.
Mungkin, cemburu adalah hal yang berlebihan baginya. Setelah semua yang terjadi, semua yang telah kulakukan dan bagaimana waktu menghapus luka. Aku bertemu Saira dalam sebuah kebetulan yang dicampuri oleh semesta. Meski masih berselubung misteri yang tak kunjung terpecahkan bahkan di saat dia sudah kembali hadir di hadapanku.
Tapi, benar katanya. Semua sudah berubah. Tidak ada lagi cinta gila yang membabi buta, yang memupus akal sehat; yang menguras air mata dan emosi. Misteri tentang Saira bukan hal penting lagi dan harus kupecahkan. Biar saja dia menjadi apa adanya dan tertinggal dalam ingatanku sebagai gadis misterius dengan teka-teki. Saira memang demikian adanya. Tapi, kerinduan terpendam selama ini padanya telah terjawab, meski pun tak pantas lagi disebut kerinduan. Aku sudah mencintai orang lain.
***
“Hei,” Saira mengalihkan pandangannya dari taman kecil di seberang jalan raya ke arahku. “Kamu tahu gedung di Sydney yang bentuknya seperti keong itu?”
“Maksud kamu Sydney Opera House?” balasku.
Dia hanya mengangkat bahunya. “Aku bilang aku lupa namanya,” kata dia, sedikit gusar.
“Ya, itu tempatnya, yang bentuknya seperti keong dan berdiri di pinggir laut,” aku menjelaskan. “Jangan bilang kamu belum pernah ke sana.”
“Memang,” celetuk dia. “Aku hanya pernah lihat di gambar atau di TV.”
Aku tertawa lagi. “Apa saja yang kamu lakukan selama enam tahun?” aku kembali mengulangnya dan seketika ia berubah muram.
“Kita bisa pergi ke sana?” tanya dia, menatapku serius dan mengabaikan pertanyaanku. Dia selalu menghindar dari pertanyaan tentang enam tahun. “Aku nggak tahu setelah pulang akan kembali ke sini.”
“Kenapa kamu ingin sekali ke sana?”
Saira diam beberapa saat. “Hanya ingin tahu….” Jawabnya, tiba-tiba murung. “Mungkin karena tempat itu kelihatan sangat menyenangkan dan terkenal.”
“Harusnya kamu ke sana di hari pertama kamu datang ke Australia.”
Gadis itu menggeleng, masih belum membuang muram di wajahnya. Kemudian ia menatapku, cukup lama; itu adalah tatapan terlamanya padaku sejak pertemuan hari ini. “Aku harap juga begitu,” ia menjelaskan dan kembali memandang ke seberang jalan. Kali ini tatapannya kosong. “Terlalu banyak kejadian buruk di sini….”
“Kejadian apa?” aku mengunci mataku pada sosoknya yang sedang menyelipkan rahasia lagi. Saat Saira tidak mau menjawab dengan jujur dia pasti memalingkan wajahnya.
“Satu hal yang aku ingat dari gedung keong itu adalah nama kamu ada di dalamnya,” kata Saira tiba-tiba. Kemudian sepasang mata yang indahnya telah tersamarkan itu, menatapku. “Aku pikir… nama itu juga bersejarah seperti gedung keong.”
“Gimana kamu tahu?” balasku.
“Tebakan…,” jawab dia sambil menghembuskan nafas.
Dingin mulai menyusup pada udara malam. Angin sesekali bertiup. Aku menatap seksama ke arahnya dan dia juga. Aku tidak menyangka dia menunjukan bahwa dia masih memikirkanku. Ah ya, kami pernah saling jatuh cinta.
“Ibuku seorang pemain biola dan bergabung dengan grup orchestra yang bermarkas di Opera House. Di salah satu pertunjukan balet yang digelar di sana, tim orkestranya mengiringi music pertunjukan itu. Kebetulan ayahku menontonnya dan mereka bertemu. Itulah kenapa anak pertama mereka diberi nama Sydney. Karena kesalahan dari orang bodoh di pencatatan sipil dia mengganti huruf y dengan huruf i. Ya, itu sangat merusak momentum,” jelasku tanpa berpaling darinya sedikitpun.
Saira tertawa pelan. “Aku cuma nggak suka…,” kedengarannya akan sedikit mengklarifikasi. “Si kawat gigi memanggil kamu pakai nama itu dengan gaya yang sama sekali nggak aku suka….”
Aku terdiam lagi.
“Semua orang selalu salah menilaiku sejak dia menghancurkan semuanya. Apa pun yang aku lakukan akan selalu salah di mata orang,”
“Kamu mem-bully dia dulu,”
“Oh, dia cerita?”
“Semuanya.”
Saira diam. “Ya, aku nggak akan membantahnya,” katanya, dan mulai berjalan lagi. “Aku nggak menyukainya karena dia anak cupu yang suka menguntit. Aku cuma nggak suka dibuntuti dan ditanyai banyak hal.”
“Terus kamu mengajak teman-teman kamu yang lain mem-bully?”
“Apa?” dia kedengaran emosi. “Aku nggak perlu orang lain kalau cuma untuk bikin dia kapok. Memang sudah nasibnya sial sejak kelas satu dan itu juga bukan salahku.”
Satu pertanyaan besar sudah terjawab; meski bukan jawaban yang penting untuk diketahui saat ini. Namun, setidaknya, Saira sudah mulai ingin berterus terang.
“Udahlah, itu nggak pantas lagi diingat,” kata Saira. “Cuma bikin sakit hati. Lagipula mungkin dia sudah jadi wartawan acara gossip sekarang.”
“Dia seorang arsitek,” celetukku, tanpa ragu-ragu.
“Oh ya?” Saira mengernyit, seakan tidak percaya. “Dari mana kamu tahu?”
“Aku tahu semua tentang dia…” jawabku tertunduk sejenak, sebelum menatapnya lagi dan kusaksikan air muka Saira berubah. Tapi, harus kukatakan padanya. “Dia istriku, Saira….”
Seperti dugaanku, Saira tercengang, sampai kedua matanya melotot, tanpa berkedip. Dan itu bukan ekspresi yang dibuat-buat. Ya, dia tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya dariku. Bibirnya tampak ingin mengatakan sesuatu tapi dia selalu kehilangannya. Mengambil beberapa langkah mundur dariku, dia langsung berbalik. Kulihat dia menyeka wajahnya dengan tangan. Entah, bagaimana ekspresi wajah yang dia sembunyikan.
Namun, tentu aku merasa sangat bersalah. Aku tidak pernah tahu bahwa kami akan bertemu lagi seperti ini.
***
Komentar
0 comments