[Ch. 7] PRETTY LITTLE BASTARD

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Rumah Baru

Enam tahun kemudian….

Warna kota telah berubah. aku kira mungkin aku tidak akan kembali tinggal di Jakarta karena seluruh kehidupanku berada di Sydney setelah kembali ke ayahku dan terjebak dalam dunianya. Dulu, aku pikir Magisa akan setuju untuk tinggal di Australia selamanya mendampingiku.

Awalnya, Magisa telah merencanakan semuanya. Dimulai dari pernikahan, di mana kami akan tinggal, bagaimana kami membagi waktu untuk bertemu karena saat itu ia masih berjuang demi gelar sarjana di jurusan arsitektur dan kesibukanku di kantor, lalu turunan dari semua itu adalah anak-anak. Kami membutuhkan rumah yang besar untuk membesarkan beberapa orang anak nantinya.

Tapi, tahun berlalu, di rumah sebesar itu selalu hanya kami yang tinggal berdua. Anak-anak yang selalu kami impikan untuk meramaikan suasana tidak pernah datang. Mereka tidak akan pernah datang dalam kehidupan kami. Sehingga kemudian Magisa memutuskan untuk melakukan sesuatu ketimbang duduk termenung di depan jendela sembari menungguku pulang; seakan anak-anak dalam impian kami dapat terlihat datang ke rumah itu. Itu selalu membuatnya sedih.

Jadi, saat sebuah perusahaan kontraktor berniat merekrutnya sebagai salah satu arsitek  gedung yang akan mereka bangun di Jakarta, ia pun tidak sabar ingin pulang ke kota kelahirannya. Aku tidak bisa melarang. Sampai akhirnya aku pun memutuskan pindah ke Jakarta meskipun harus kembali setiap saat untuk bekerja di Sydney –mengurus perusahaan ayahku.

Dan di sinilah kami, sebuah apartemen yang tidak terlalu besar tapi berada di jantung kota Jakarta –kota yang memiliki banyak kenangan tentangnya.

“Barang-barang pesanan kita baru diantar besok katanya...,” Magisa terdengar mendengus setelah ia baru menutup teleponnya –sepertinya ia baru bicara dengan toko furniture yang kami datangi kemarin. “Aku pikir paling nggak di sini udah ada tempat tidurnya. Masuk langsung tinggal.”

“Aku pikir kamu tertarik untuk mendesign sendiri interiornya...,” kataku, sedikit merasa bersalah karena aku membeli tempat ini tanpa banyak pertimbangan sebelumnya. Lagipula ini tempat yang dekat dari kantor tempat Magisa bekerja sehingga dia tidak perlu lewat jalan toll yang macetnya bisa berjam-jam.

Dia menatapku sangsi. “Tumben kamu nggak well-prepared soal ini...,” dia tampak menatapku curiga, seakan mampu membaca bahwa aku sebenarnya tidak mau kembali ke tempat ini.

Aku hanya tersenyum sambil berjalan ke arah jendela untuk sedikit melihat pemandangannya. Gedung-gedung lain yang tak kalah tingginya dengan jalan raya di bawahnya; pemandangan yang membosankan.

Tiba-tiba Magisa memelukku dari belakang. Ia menyandarkan tubuhnya ke punggungku sehingga aku bisa merasakan detak jantungnya. Kami selalu bersama dalam keadaan apapun. “Aku tahu kamu nggak suka tinggal di sini...,” kata dia pelan. “Aku juga nggak mau kamu maksain diri untuk bisa sama aku, sementara di sana masih banyak yang nggak bisa kamu tinggalin....”

“Lalu aku harus gimana juga?” balasku. “Kita hanya berdua kan?”

Aku mendengarnya tertawa pelan. “Terima kasih, kamu selalu ada...,” ucapnya.

***

Apartemen itu kosong. Keramik lantainya pun seperti kelihatan baru. Setiap jengkal dindingnya dicat warna putih. Ruangan ini polos sekali. Mungkin itulah yang membuatku sangat bosan berada di dalamnya. Toko furnitur tidak menepati janji mengantar perabotan kami hari ini.

“Kita udah bawa semua koper ke sini, Sid...,” kata dia setengah merajuk. “Lagian cuma malam ini aja kok. Besok barangnya juga datang.”

“Iya tapi di sini nggak ada apa-apa,” kataku yang ingin kami menyebrang jalan karena ada hotel di sana.

“Udah deh! Jangan manja!” kata dia menatapku sedikit tajam. Lalu ia melihat ke sekitarnya. “Kenapa kita harus tidur di hotel kalau kita udah punya tempat tinggal? Ini rumah kita sekarang, Sid....”

Jadi, ketika seorang ibu negara berbicara, aku terpaksa diam.

Magisa mulai menjelajah ke penjuru ruangan. Ia tampak senang. Syukurlah, belakangan aku sering melihatnya sedih. Tapi, selain karena dia sudah berada di rumahnya, ia juga bisa menemui keluarganya setiap saat.

Aku bahagia melihat ia tertawa kecil saat memutar keran air di wastafel dapur. “Bagus!” komentarnya lalu berpindah kepada lemari di atas kepalanya. Magisa mulai membuka pintunya satu persatu.

“Di sini kita bakal simpan cangkir-cangkir,” kata dia, lalu membuka yang satunya lagi. “Ini tempat sereal dan roti gandum kesukaan kamu.”

“Jangan bikin aku kayak anak kecil, Gi...,”

Magisa tertawa. “Kita harus belanja pecah belah dan isi kulkas hari ini.”

Aku menghela nafasnya. “Kita belum punya kulkasnya,” kataku.

“Ah ya, kita ke toko elektronik juga ya?”

“Mesin cuci? Memang kamu punya waktu mencuci?” tanyaku saat berdiri di sampingnya.

“Iiih!” Magisa terdengar kesal. Ia menyikutku. “Kita udah nggak di Sydney lagi, Sidney!” celetuknya. “Kita nggak tinggal di rumah besar yang butuh seorang pengurus rumah tangga. Apartemen ini nggak terlalu besar, apa sih repotnya masukin cucian ke mesin cuci?”

“Oh ya? Aku nggak pernah lihat kamu usaha sendiri kalau Bella sedang nggak bisa kerja,” ledekku. Bella adalah pengurus rumah tangga yang dia maksud.

“Jangan mulai deh! Aku lagi bahagia, tau?!” cetusnya memasang tampang cemberut hingga aku merangkul bahunya.

“Aku benar kan beli apartemen yang kosong supaya kamu bisa nyusun sendiri semuanya?” tanyaku.

Magisa mengangguk dengan cepat sekali. Dia menatapku dengan tatapan anak kecilnya. “Oke, Bigboss! Tapi kamu harus bantuin aku menggeser barang-barangnya besok.”

“Anything for you, my dear...,” jawabku sambil memeluknya erat.

Aku tidak butuh apa-apa lagi saat ini. Sebuah rumah dan cinta yang tidak pernah berkurang. Meski ini tidaklah sempurna dan kami belum bisa membuat sebuah keluarga yang utuh. Impian itu tetap tersimpan di dalam hati tanpa pernah terkabulkan.

Magisa berpindah ke salah satu ruang tidur. Dia mulai menggambar lokasi di mana  kami akan menaruh tempat tidur, meja nakas, dan lemari serta meja riasnya. Dia tampak bersemangat sekali sampai-sampai kehabisan energi untuk bicara. Beberapa kali ia meneguk air dari botol mineralnya, lalu seolah mendapatkan tenaga tambahan dia menyeretku keluar untuk berbelanja.

Apa salahnya kami menyeberang ke depan dan mendapatkan kamar yang layak barang semalam? Aku hampir tidak bisa mengeluh bahkan di saat Magisa memaksaku membawakan barang belanjaan yang banyak sekali dari supermarket yang jaraknya lima ratus meter dari apartemen.

Di Sydney, aku hampir tidak pernah menemani Magisa berbelanja saking sibuknya. Aku sering membiarkannya sendirian dan menunggu sampai larut malam. Magisa hampir tidak pernah mengeluh padaku. Dia adalah sosok istri yang sempurna, meski dia tidak bisa memberiku seorang anak. dia selalu mendampingiku dalam keadaan apa pun dan memberi dukungan di saat aku merasa lelah dan tertekan.

Aku menghabiskan terlalu banyak waktu mengurus sebuah perusahaan e-commerce warisan ayahku yang sebenarnya bukan duniaku. Aku sangat payah dalam hal memutuskan karena terlalu sering berempati pada orang lain.

***

Magisa mengeluarkan isi kopernya lalu  mulai mencari sesuatu; sebuah jaket tebal. “Nggak ada selimut jaket pun jadi,” kata dia, entah mengapa masih terlihat riang di malam selarut ini dan aku sudah menguap berkali-kali sejak tadi. Magisa mulai  menyusun baju-bajunya sebagai alas tidur di sudut ruangan.

Dia melemparku sebuah jaket berbulu miliknya yang berwarna merah maron. Serius dia menyuruhku tidur di lantai hanya dengan selimut beralaskan tumpukan baju-baju di antara koper kami?

Aku menggeleng, menolak memakai jaket itu.

Magisa mendengus. “Lantainya dingin, kalau kamu nggak mau masuk angin lebih baik dipakai,” dia memperingatkan.

Aku membuka lipatan jaket merah marun Magisa yang berbulu-bulu itu. “Ini?” aku meyakinkannya sekali lagi bahwa aku tidak mau memakai jaket perempuan dan warnanya merah pula.

“Memangnya kenapa?” dia bertolak pinggang,”cuma aku yang lihat kamu pakai jaket itu ‘kan? Jaket itu lebih hangat dari jaket kulit yang kamu bawa. Memang kece kalau kamu pakai jaket kulit untuk tidur?”

Aku tertawa. “Seriously?”

“Aku nggak punya waktu berdebat sama kamu, Mr. Adams,” kata dia, kelihatan sedikit jengkel lalu mengambil tempat di atas tumpukan pakaiannya. “Aku ngantuk banget.”

Aku masih tertawa saat ikut duduk di sampingnya saat Magisa mulai berbaring. “Hei,” tegurku.

“Hm...,” sahut Magisa yang mulai meringkuk di bawah jaketnya.

“Aku nggak bisa tidur di lantai,” jawabku.

“Ya udah, nggak usah tidur,” balasnya agak ketus. Dia sudah memejamkan matanya.

Aku memandangi sekitarku. Ruang kosong yang sepi dan remang; hanya cahaya lampu dari luar yang merayap masuk dari jendela yang belum dipasangi gorden. Dinginnya lantai langsung menusuk tulangku walaupun sudah dialasi beberapa helai baju. Entah mengapa Magisa bisa langsung tertidur di tempat yang keras begini. Aku pun memandangi wajahnya yang masih menyisakan sebentuk rasa lelah. Dia bersemangat mungkin karena ini adalah hal yang baru bagi kami. Selama ini aku hanya memberinya hal-hal yang membosankan.

Rumah besar yang terasa kosong melompong walaupun di dalamnya sudah ada semua yang kami butuhkan. Aku tidak pernah membiarkannya kesulitan. Tapi, di tempat ini; yang kecil, yang tidak ada apa-apanya, dengan pemandangan kota yang membosankan pula, ditambah dengan kemacetan sepanjang hari dan klakson-klakson mobil yang terdengar bersahutan setiap saat saat bahkan di malam selarut ini, aku merasa kami memiliki ‘sesuatu’. Kebersamaan dengannya yang tidak pernah kami miliki selama di Australia.

Sambil membelai rambutnya aku memutuskan untuk berbaring di belakang punggungnya. Ketika memeluknya, aku merasa sangat bersyukur. Rasa hangat darinya seakan mengusir dinginnya lantai di bawah kami. Tubuhnya yang bernafas berirama tenang, membuat kerasnya lantai tidak terasa. Aku memeluknya semakin erat, dan dia menarik dirinya ke dalam pelukanku.

“I love you....,” ucapku di telinganya, entah dia mendengarnya atau tidak.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments