[Hal. 2] [Ch. 1] NAME OF YESTERDAY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 

 

Ada satu berkas di atas meja. Dibandingkan dengan berkas-berkas bersampul biru dan merah yang lainnya, berkas itu tampak  istimewa. Ia terpisah dari tumpukan itu dalam keadaan terbuka. Ada banyak lembaran hasil diagnosa yang dikumpulkan di dalamnya. Sampul depan berkas berwarna kuning itu, bertuliskan satu nama, aku. Gadis itu tidak punya nama panjang. Hanya nama sang ayah tertera di belakang namanya, Sharif.

Berdasarkan berkas itu, bisa diketahui bahwa Zuri sudah dirawat sejak empat bulan yang lalu dengan diagnosa brain symptomps. Dia datang ke rumah sakit dalam keadaan pingsan setelah muntah-muntah dan sempat tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Sekarang, ia berada di ruang khusus perawatan penyakit dalam dan tidak sembarangan orang yang bisa membesuk.

Dari beberapa data yang ada di berkas itu juga, tercatat ada sanak keluarga yang mengurusnya. Seorang kakak perempuan bernama Nazia. Tidak ada ayah atau ibu, yang menurut kabarnya meninggal beberapa waktu yang lalu dalam kejadian naas 30 September 2009. Zuri tercatat sebagai lulusan cum laude perguruan tinggi negeri jurusan Sastra Bahasa Inggris. Namun begitu, ia belum pernah mempunyai pekerjaan. Dan sekarang entah bagaimana pula ia akan memiliki sebuah pekerjaan sementara mungkin sisa hidupnya akan ia habiskan di tempat pesakitan ini?

Gadis yang malang…

***

 “Menulis terus," tegur Nazia ketika malam hampir larut sementara Zuri masih bergelut dengan pulpen dan buku catatannya. "Waktunya istirahat”

Zuri mengalihkan sepasang mata yang sebenarnya telah mengantuk itu dari lembaran buku, kepada wajah kakak perempuannya. “Iya, Uni. Sedikit lagi," katanya.

“Kamu tidak boleh tidur larut malam. Ingat kata dr. Nira," Nazia kembali mengingatkan. Dipandangnya wajah adik kesayangannya itu dengan seksama, ia merasa tidak tega jika malam ini harus pulang ke rumah.

Zuri pun menutup buku catatannya dengan patuh. Ia pun menaruhnya di atas meja lalu bersiap untuk berbaring dan tertidur untuk meredakan kecemasan sang kakak. “Uni pulang saja," ujarnya. "Masih ada perawat yang jaga. Lagipula Uni sudah menemani Zuri selama tiga malam. Kasihan Bli yang harus mengurus Safira dan Alisa sendirian”

Nazia mengangguk, berusaha tersenyum. "Ya, maafkan Uni tidak bisa tinggal," katanya. "Besok pagi, Uni datang lagi, ya?”

Zuri mengangguk-angguk mengerti. Lalu ia melepas kepergian sang kakak dengan sudut matanya sebelum itu terpejam dengan lelah. Tak ada lagi kamar sepi dengan bau obat yang begitu kuat, semua itu perlahan lenyap, namun  sebenarnya Nazia masih berdiri di depan pintu.

Tidak jelas apa yang ia tunggu di sana, di saat seharusnya ia pulang ke ruma di mana suami dan anak-anaknya menunggunya. Tetapi, ia tidak menunggu siapapun. Ia hanya terlalu sedih untuk melangkah pulang. Ia hanya terlalu takut bilamana esok pagi, aku tidak pernah terbangun lagi.

Ah, adiknya itu sangat ia cintai. Terkenang masa kecil mereka di rumah yang telah hancur itu. Terkenang, bagaimana ia begitu menyayanginya sampai Nazia merengek-rengek di depan Zuri sambi mengatakan bahwa ia tidak ingin adiknya tumbuh besar. Usianya sepuluh tahun, ketika Zuri lahir. Saat itu, ia ingin Zuri tetap menjadi bayi yang lucu karena ia sangat menyayanginya. Tapi, sekarang mereka sama-sama telah dewasa. Namun rasanya masih sama dengan saat-saat itu, ia tidak ingin kehilangan adiknya walau ia tahu bahwa Zuri sudah tak punya banyak waktu. Maka, ia pun menyesal karena suatu hari pergi meninggalkannya…

Setetes demi setetes air mata jatuh di pipinya yang memucat. Ia memeluk dirinya sendiri dengan penuh penyesalan. Ia tidak bisa menangis di depan Zuri. Ia tidak bisa menunjukan bahwa ia sangat takut. Karena jika akhirnya Zuri pergi, dia akan sendirian. Karena ibu dan ayah juga telah mendahului. Bahkan di saat Nazia belum sempat meminta maaf karena telah mengecewakan mereka. Terbayang sudah hari itu di pelupuk matanya, hari ketika ia meninggalkan rumah selepas perdebatan panjang yang tak pernah usai antara ia dan ayahnya.

Semua itu karena cinta.

Tidak ada yang salah dengan cinta. Ia hanya tak piih-pilih akan lekat pada siapa. Termasuk pada Nazia muda saat itu. Pada umur di penghujung belia, sembilan belas tahun, Nazia telah jatuh cinta kepada seseorang. Seseorang itu tak lain adalah lelaki beragama Hindu yang berasal dari Bali. Nazia yang saat itu bekerja di sebuah agen perjalanan wisata bertemu dengan Made lalu jatuh cinta sedang ia sendiri tumbuh dalam budaya muslim yang taat dari keluarga Bapaknya yang berasal dari Padang Panjang –negeri dengan julukan serambi Mekkah. Ayah Nazia dan Zuri adalah anak lelaki yang dibesarkan dalam lingkungan pesantren. Hubungan berbeda etnis, masih dapat diterima bilamana keduanya masih beragama Islam. Namun, perbedaan agama adalah harga mati yang tidak bisa ditoleransi.

Nazia memang keras hati. Dia sudah memohon, meminta agar langkahnya di-ridhai. Tapi, yang ia dapatkan adalah penolakan yang berulangkali disampaikan ayah. Made sudah datang beberapa kali ke rumah memohon restu tapi ia malah diusir. Made tak pantas dengan putri sulung kebanggaannya. Maka ia memberi Nazia pilihan, melupakan lelaki itu atau terbuang dari keluarganya.

Yakin dengan cintanya, Nazia meninggalkan rumah karena tak ada juga pengertian dari sang ayah. Ibu dengan tangisnya yang tiada henti pernah memohon pada Nazia untuk memikirkannya sekali lagi. Menikah beda agama adalah dosa besar. Jangankan manusia, Tuhan pun tak akan merestuinya. Tapi, Nazia sudah bulat dengan keputusan itu walaupun dengan jujur ia mengakui sangat berat untuk pergi. Namun, ini takdirnya. Meskipun ia harus meninggalkan adik yang begitu disayanginya.

“Uni mau pergi ke mana?" Zuri merengek di depan pintu saat Nazia tengah mengemasi semua baju-bajunya ke dalam tas. "Jangan pergi…”

Betapa terakut hatinya melihat Zuri menangis. Adik lucunya yang terpaksa harus ia tinggalkan juga. Usianya masihlah kecil saat itu. Sembilan tahun. Ia masih belum mengerti apa-apa. Ia masih belum mengerti bahwa ayah terlalu keras padanya dan jika di usia seperti ini ayah masih saja memaksakan kehendaknya, satu persatu orang di rumah ini akan pergi.

“Uni hanya pergi sebentar, Dik…," ujarnya, sambil membelai rambut lurus Zuri yang berponi.

Mata anak itu sudah merah sekali. Suaranya pun parau karena tak bisa diam.

Nazia mulai menyeret kopernya keluar kamar melewati Zuri yang masih menangis di ambang pintu. Terngiang rengekannya saat ia berlari mengejar Nazia hingga ke pintu namun ibu menariknya menjauh agar membiarkan Nazia pergi. Hari itu, Nazia tak bisa melupakannya. Malahan sekarang malah bangkit menjadi rasa bersalah tak terbayar terlebih ketika ia tahu bahwa selepas kepergiannya dari rumah, adiknya adalah pengemban misi sang ayah yang telah ia gagalkan.

Zuri telah tumbuh menjadi gadis yang pendiam. Yang menjadikan belajar adalah nafasnya untuk bisa hidup dalam impian ayah. Harapan ayah yang terlalu besar terhadapnya menjadikannya tidak berpendirian sendiri. Sesungguhnya, Nazia sangat kasihan padanya, namun apa boleh buat. Zuri adalah boneka kesayangan ayah, bukan seorang putri baginya. Ayah terlalu keras. Tidak ada seorang pun yang boleh berhubungan dengan Nazia, bahkan menyebut namanya saja begitu diharamkan. Maka, dengan sekuat tenaga ia bertahan hanya agar tidak perlu pulang menemui keluarganya karena sudah pasti ia tak diakui. Bertahun-tahun setelah itu pun, masih enggan bagi Nazia untuk pulang bahkan untuk sekedar memberi kabar.

Dan sekarang, Zuri sudah sangat terlambat untuk bermimpi –mengejar  mimpinya di dunia nyata. Ia sudah tak punya banyak waktu.

Tuhan, apakah doa seorang yang seperti hamba ini masih dapat Engkau kabulkan? Bukanlah keinginanku untuk melepaskan pertalian darah yang abadi itu. Bukan pula keinginanku, menjadi sebatang kara bilamana kau renggut ia dariku… Maafkan hamba-Mu yang telah begitu salah dan gegabah dalam hidup. Jika keajaiban-Mu itu ada, selamatkanlah dia…

“Uni?" dr. Nira terlihat dari kejauhan dan tentu tengah menuju kemari. Mungkin saja ia ingin memastikan apakah Zuri kembali melanggar aturannya dengan tetap menulis di malam hari.

Nazia segera menyeka air mata sedihnya. Namun, betapapun ia tersenyum, dr. Nira tentu sadar bahwa untuk ke sekian kalinya, wanita ini menangisi adik kesayangannya.

“Zuri sudah tidur?" tanya dr. Nira, sesaat mengabaikan gurat merah di mata Nazia yang berlinang.

Nazia mengangguk dengan cepat, sambil menjauh dari pintu.

“Aku tahu berat rasanya menghadapi saat-saat yang seperti ini," kata sang dokter. "Namun begitu, tidak ada salahnya bagi kita untuk memberi Zuri semangat. Itu akan menjadi lebih dari obat-obatan mana pun, Uni”

“Aku tahu… karena itu aku tidak ingin Zuri melihat saya menangis,"  jelasnya.

“Oh ya, Uni, kebetulan kita bertemu…ingin memberitahu sesuatu," kata dr. Nira, sekarang ada kesedihan di wajahnya. "Saya sudah merekomendasikan Zuri untuk dipindahkan ke rumah sakit di Jakarta. Di sana ia akan mendapatkan perawatan yang jauh lebih baik. Peralatan dan fasilitasnya lebih lengkap. Zuri juga sudah menghubungi rekan saya di sana. Dia akan membantu…”

Nazia tampak kaget. Terbayang olehnya, tidak aka nada dokter yang baik seperti dr. Nira yang sangat memperhatikan Zuri seperti adiknya sendiri. Bahkan Nazia sendiri sebagai kakak tidak sebegitu perhatiannya pada Zuri.  “Jakarta?”

“Uni jangan khawatir.," jelas dr. Nira. "Rekan saya itu punya reputasi yang bagus di Jakarta dan aku rasa akan lebih baik bagi Zuri ditangani olehnya”

Tapi, belum tentu ia bisa seperti dr. Nira. Apalagi jika dokter itu seorang lelaki.

“Baiklah," Nazia mengangguk. "Tapi, apa Zuri mau dipindahkan? Dia saja pulang dari Jakarta karena tidak mau mati di negeri orang, kalau kembali ke sana… apa dia akan setuju?”

Dr. Nira pun terdiam. “Aku juga bingung, Uni…," katanya. "Dua tahun, Zuri bertahan itu saja sudah keajaiban. Dia tak mau diperlakukan seperti orang sakit…”

Nazia ikut diam, lalu menarik nafas. "Mungkin kita bisa membicarakanya esok hari, dr. Nira. Saya harus segera pulang," jelasnya. "Lusa, suami dan anak-anak saya akan kembali ke Ubud. Liburannya sudah selesai jadi mereka harus ke sekolah…”

Dr. Nira melirik jam tangannya, sudah jam sembilan malam. Ia pun mengangguk, melepas Nazia yang sedih pergi dari hadapannya. Lalu, seperti biasanya ia harus memastikan bahwa Zuri tidak mencuri-curi waktu untuk melanjutkan tulisannya di saat ia harus beristirahat di malam hari.

Dengan pelan, ia membuka pintunya. Begitu menemukan Zuri memang sudah terlelap di bawah selimut, ia baru merasa lega. Pasien yang satu ini kadang memang lain. Menulis begitu membuatnya kecanduan. Mengarang cerita adalah bakat alaminya sampai-sampai ia merasa bahwa setelah mati ia akan hidup di salah satu cerita yang pernah ia tulis. Entah dari mana ia mendapatkan inspirasi untuk menulis fiksi yang imajinatif. Cerita pangeran kembar itu misalnya.

Namun, satu kali, Zuri pernah bercerita bahwa ia pernah bertemu dengan sepasang lelaki kembar berwajah rupawan. Itu pertama kalinya Zuri mengenal orang kembar namun semua menjadi sangat traumatis, terlebih, ketika salah satu dari mereka akhirnya meninggal dunia. Itu adalah kematian pertama yang pernah Zuri saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Ia melihat banyak darah menggenang, wajah yang menegang dan tubuh yang remuk redam. Hal itu tidak bisa ia lupakan hingga saat ini. Ada banyak hal yang terjadi setelahnya.

Aneh sekali, pikir dr. Nira, saat menemukan sebuah buku dalam pelukan Zuri yang ia bawa dalam tidurnya, seperti seorang anak kecil yang biasa memeluk boneka beruang kesayangan. Buku itu bukan sembarang buku. Bukan buku dengan penokohan lelaki sempurna pemilik perusahaan besar yang jatuh cinta pada gadis biasa. Sebuah  karya klasik yang dikenal banyak orang, tapi tak semua orang pembaca yang suka membacanya berulang-ulang. Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, karya Buya Hamka yang begitu terkenal pada zaman-zaman di mana Zuri bahkan belum lahir. Dari sekian banyak buku yang telah Zuri baca, mengapa hanya buku itu yang ia peluk? Beberapa kali dr. Nira bahkan melihatnya membaca buku itu.

Ya, pastilah buku itu sangat istimewa baginya.

Namun, dr. Nira lebih penasaran dengan buku catatan yang Zuri taruh di atas meja. Tertutup rapi, dengan pulpen di atasnya. Inilah buku yang selalu ia tulisi dengan berbagai macam gaya bahasa, namun semua hanya mengungkapkan kesedihan. Buku agenda terakhir yang dr. Nira hadiahkan kepadanya telah habis ditulisi dengan cerita Batu Bertuah. Seingatnya buku itu bersampul merah dan tempelan bunga edelweiss kering di bagian depan sebagai hiasan. Tapi, yang ada di meja itu adalah sebuah buku agenda tebal bersampul motif batik yang sebagian besar lembarannya telah ditulisi. Mungkin Nazia yang membelikannya.

Sejak kapankah Zuri mulai menulis ini?

Dr. Nira mengambil buku itu, membaca halaman pertama yang tampak seperti sebuah judul. KE MANA AKU PERGI?

Mengapa ia bertanya seperti itu? dr. Nira pun membalik halama berikutnya. Di bagian paling atas paragraph pertama, tertulis nama tempat dan tanggal –bukan tanggal sekarang. PADANG, 3 APRIL 2006…

Hari ini aku harus ke kampus. Ada dua jadwal mata kuliah yang tidak bisa dilewatkan –Grammar dan English Proficiency. Grammar dimulai jam 09.45 dan English Proficency jam 13.00. Aku punya rentang waktu istirahat yang panjang sampai kelas yang terakhir. Dan hari ini, aku tidak akan bertemu Attar di kelas karena dia sudah mengambil dua mata kuliah itu kemarin. Saat aku masuk kelas Grammar,  Attar sudah selesai dengan mata kuliah Writing-nya dan biasanya akan menghabiskan waktu bersama sang kekasih sampai kelas berikutnya.  Jadi, setelah kelas Grammar selesai aku berencana masuk ke  perpustakan.

Tulisan ini tampak seperti sebuah buku harian yang ditulis ulang. Tapi… melihat tulisan itu telah menguning di atas kertas putih, dr. Nira merasa bahwa ini adalah sebuah buku harian lama. Dengan kejadian dan keadaan yang sangat aktual pada masa itu. Tentunya buku ini akan banyak menjelaskan tentang apa yang sebenarnya telah terjadi kepadanya…

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments