๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Part I
Daun yang Gugur
Padang, Juli 2011…
Suatu hari di sebuah kerajaan yang jauh sekali, hiduplah dua orang pangeran kembar bernama Sati, si sulung dan Kayo, si bungsu. Salah seorang dari mereka akan menjadi raja menggantikan ayah mereka. Dewan kerajaan sepakat akan memilih Sati untuk menjadi penerus karena ia cerdas tapi sayangnya si sulung sudah sakit-sakitan semenjak kecil. Sehingga, Kayo harus menggantikan kakaknya menjadi raja. Sayangnya, Kayo yang seorang petualang menolak untuk menjadi raja sampai ia menemukan cara untuk menyembuhkan sang kakak dari penyakitnya.
Tersebutlah di hutan belantara yang luas dan menakutkan, terdapat legenda Batu Bertuah yang konon bisa menyembuhkan penyakit apa saja. Berbekal pengetahuan itu Kayo masuk ke hutan bersama pengawalnya untuk mencari Batu Bertuah. Hutan itu sangat berbahaya. Dari dua puluh pengawal yang dibawa Kayo hanya tinggal beberapa orang yang dapat masuk ke hutan dalam karena serangan hewan buas dan beracun. Kayo menyerah melihat keadaan pengawalnya sehingga memutuskan untuk keluar dari hutan namun kemudian mereka tersesat. Satu persatu pengawalnya tewas diserang harimau sehingga Kayo sangat putus asa.
Saat ia mengira ajalnya sudah dekat, ia meminta maaf kepada sang kakak di dalam hatinya karena tidak dapat menemukan Batu Bertuah untuk menyelamatkannya. Ia juga menyesal sekarang kerajaan mereka benar-benar tidak punya penerus. Tapi, Kayo diselamatkan oleh seseorang di dalam hutan. Yaitu seorang perempuan tidak bernama yang selalu dikelilingi kupu-kupu. Legenda Batu Bertuah mengatakan bahwa hutan dijaga oleh sesosok roh pohon yang berwujud seorang gadis. Tapi, ternyata kekuatan penyembuh itu ada di dalam diri sang gadis yang telah menyembuhkan luka-luka Kayo hanya dengan sentuhan tangannya.
Kayo pun memohon pada sang gadis untuk bisa membawanya ke istana dan menyembuhkan Sati. Karena kesungguhan Kayo, sang gadis bersedia dibawa ke istana. Setelah Sati disembuhkan, Kayo dan sang gadis mulai jatuh cinta. Kayo memberinya nama Ramo Ramo karena ia berwujud cantik seperti kupu-kupu. Tapi, mereka tidak tahu bahwa Sati yang telah menjadi raja merasa sangat cemburu. Ia memaksa Ramo Ramo menikah dengannya dan jika ia menolak seluruh hutan tempat tinggalnya akan dihancurkan. Ramo Ramo pun menolak Kayo yang kemudian patah hati dan memutuskan meninggalkan istana untuk berpetualang.
Selama kepergian Kayo, Sati mulai memaksa Ramo Ramo untuk menunjukan di mana Batu Bertuah berada karena penyakit itu kembali menjadi-jadi ketika Ramo Ramo berada jauh darinya. Ramo Ramo menolak dan ingin kembali ke hutan, lalu Sati menebangi hutan untuk mencarinya tapi tak pernah menemukannya. Sati mulai mengancam, jika ia tidak mendapatkan Batu Bertuah, Kayo akan dibunuh. Tidak punya pilihan, Ramo Ramo pun mencabut Batu Bertuah dari perutnya, di mana ternyata Batu Bertuah tersimpan selama ini. Sang gadis pun berubah menjadi batu dengan lubang menganga di perut di depan Kayo yang tiba-tiba baru kembali dari petualangan.
Perkelahian pun terjadi antara Sati dan Kayo memperebutkan Batu Bertuah. Kayo berhasil mengalahkan sang kakak dan merampas Batu Bertuah walaupun harus melukainya. Ia mengembalikan Batu Bertuah ke lubang di mana batu itu dicabut Ramo Ramo dari perutnya. Ramo Ramo hidup kembali dan Sati yang terluka memerintahkan semua pengawal menangkap Kayo dan Ramo Ramo yang berusaha kabur dari istana.
Mereka lari ke hutan. Tapi, hutan telah dibinasakan oleh Sati. Tak ada tempat untuk bersembunyi, hingga mereka menemukan jalan buntu –sebuah pinggir jurang yang dalam dan terjal. Ramo Ramo pun mengatakan sesuatu pada Kayo, ia bisa mengembalikan hutan seperti semula dengan kekuatannya tapi sebagai gantinya ia harus kehilangan nyawanya. Tapi, Kayo tidak ingin berpisah lagi darinya untuk beberapa masa yang akan datang sampai mereka bisa betemu lagi –mereka akan bereinkarnasi bersama. Jadi mereka pun melompat kedalam jurang lalu berubah menjadi batu. Lalu pecah menghempas bebatuan lain di daratan.
Seketika hutan yang gersang karena dibakar kembali bertumbuh dengan hijaunya. Pengawal Sati yang mengejar mereka pun tersesat dan diserang oleh hewan buas yang marah.
“Apa yang terjadi pada Sati?" seorang anak bertanya padanya dan Zuri tersenyum.
“Kehilangan semua kuasanya sampai mati oleh penderitaan dan kesepian…," jawabnya.
“Lalu bagaimaa dengan kerajaannya?" tanya anak lain yang kepalanya botak dan mengenakan piyama hijau muda.
“Kerajaan itu tidak ada lagi karena tidak punya pewaris tahta. Orang-orang mulai meninggalkannya dan negeri itu mulai diabaikan. Hutan tumbuh dengan liar dan kerajaan pun menghilang sama seperti Batu Bertuah yang tersimpan dengan aman di dalamnya…," jelas Zuri lagi, menatapi satu persatu anak yang mendengarkan dengan penuh perhatian. Seakan mereka terbawa lalu tampak tak puas karena… “Ceritanya selesai”
"Yah….," beberapa kedengaran serentak mengeluh. Tampaknya mereka tidak suka dengan akhir yang seperti itu, namun melanjutkan cerita hanya membuat ia lupa bahwa anak-anak sudah harus beristirahat begitu juga dirinya.
"Ceritanya kita lanjutkan besok ya?" ujar dr. Nira yang ikut mendengarkan dongeng itu sambil membantu seorang anak naik ke ranjangnya.
"Janji?" tanya seorang bocah perempuan lain penuh harap dari balik selimutnya.
Zuri mengangguk, sambil bersiap meninggalkan bangsal itu, kembali ke tempatnya. Yaitu sebuah ruang kecil yang hanya punya satu tempat tidur di mana hanya ada dirinya seorang.
“Jadi kamu sama sekali tidak pernah memikirkan kelanjutannya?" dr. Nira yang mengantar masih bertanya juga.
Ia menggeleng. Zuri hanya tersenyum dari tempat tidurnya. Baginya cerita itu hanya sebuah cerita. Segala hal di dunia ini memiliki akhir, begitu juga dengan sebuah kehidupan yang menopang keseluruhan cerita.
“Menurut saya bagaimana kalau mereka bereinkarnasi kembali?" dokter wanita itu bertanya lagi.
Zuri terkekeh, sambil menggeleng. "Reinkarnasi itu tidak ada," katanya, tapi… setahunya hanya orang Tionghwa mempercayai adanya kehidupan kembali setelah mati.
Dokter itu pun tersenyum. "Paling tidak reinkarnasi itu ada di dalam dongeng bukan?" katanya, terlihat agar Zuri melanjutkan dongengnya. "Seperti keajaiban yang kamu baca di dalam buku dan dalam cerita yang pernah kamu buat”
Zuri kembali tertawa, tapi terdengar getir. Ia memandang dokter itu dengan sedih. "Tapi, betapapun itu nyata bagi saya, itu hanya sebuah tulisan di atas kertas," jelasnya.
Dokter itu hanya menatap, sebelum ia menghembuskan nafas lalu mengangguk. “Tapi, bicara tentang reinkarnasi…kalau seandainya itu ada…kamu ingin dilahirkan kembali menjadi apa?" dia bertanya tiba-tiba dan tak khayal membuat Zuri kembali berpikir.
“Kupu-kupu," jawabnya, kemudian.
“Apa?" sang dokter terlihat tidak percaya dengan jawabannya. "Kamu tidak ingin menjadi manusia lagi? Atau disatukan dengan orang yang sangat kamu cintai di kehidupan mendatang?”
Zuri menggeleng. "Kupu-kupu mempunyai siklus kehidupan yang singkat," jelasku. "Dalam satu masa hidup dia mengalami beberapa fase perubahan yang berbeda… seperti manusia bukan? ”
Sang dokter terpana menatapnya. "Ya, saya lupa kamu memang suka sekali dengan kupu-kupu…," katanya dan Zuri pun tersenyum lagi. Lalu dokter itu berdiri, teringat bahwa sudah saatnya bagi pasien untuk beristirahat.
Matahari telah pergi memenuhi kerinduan belahan dunia lain kepadanya untuk kembali esok hari. Ia tak bisa tinggal lebih lama karena tak ditakdirkan untuk pilih kasih. Seperti Tuhan menakdirkan sepasang hati yang harus meninggalkan begitu masanya habis. Tapi, berterima kasihlah kepada matahari yang bisa kembali. Tetapi cinta, ia tidak kembali, ia hanya tertinggal namun dalam bentuk yang lain –kenangan.
Zuri terdiam, menyaksikan langkah dokter itu sambil berharap ia akan kembali membuka pintu itu dan mendengarkan semua ceritanya hingga usai. Setiap hari hanya menulislah penghibur satu-satunya yang ada di tempat bagai penjara ini. Sesekali ada perawat berbaju putih yang tak terlalu ramah menemaninya berkeliling untuk melihat lebih banyak lagi orang-orang tak berdaya melebihi dirinya. Mereka semua menunggu, entah keajaiban atau kematian di mana kematian adalah sebuah kepastian. Akan tetapi, aku tidak ingin menunggu dengan putus asa, memandang keluar jendela, menyaksikan daun-daun pepohononan di halaman rumah sakit tepat di depan jendela kamarnya berguguran tak dapat melawan angin.
Dedaunan itu mengingatkannya kepada kodrat manusia sebenarnya, ia tak dapat menentang, hanya menjalani. Apakah manusia hidup hanya untuk mati seperti dedaunan itu? Yang melewati satu masa kehidupan, lahir, tumbuh, dan mati di dalam tanah?
***
Komentar
0 comments