๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Lembar 6
Padang, 08 Agustus 2007…
Kenapa semua orang selalu mengatakan bahwa adat Minang itu aneh? Mungkin mereka hanya tidak mengerti di saat sebagian lagi mengatakan bahwa budaya kami unik. Termasuk Liong. Dia tidak menyukai adat Minang yang menurutnya sangat berbelit-belit. Garis keturunan ibu, ninik mamak, bako[1] dan sebagainya. Mengapa harus ada uang jemput? Di mana-mana juga jika seorang lelaki sudah menikahi seorang wanita, tentu lelaki lah yang akan menanggung hidupnya setelah menikah. Bahkan saat masih pacaran saja, sudah wajar seorang lelaki membiayai hidup wanitanya meskipun harus dinamakan hutang budi. Lagipula di mana harga diri seorang lelaki yang katakanlah meminta kepada si perempuan? Entah.
Entahlah. Liong mempermasalahkan hal-hal yang sepertinya mungkin tidak akan pernah ada hubungan dengan dirinya.
“Kamu tahu, Zuri…,” Liong kembali memulai di satu hari kelabu di mana kami duduk di depan tetesan hujan dari atap kampus yang lengang. Kami belum bisa pulang karena hujannya deras sekali. “Tabiat orang Minang itu juga lain daripada yang lain?”
“Oh ya?” aku menoleh dan menyimak kata-katanya dengan baik.
“Di kampus tempat aku kuliah dulu, ada beberapa orang peneliti dari fakultas lain yang sedang membuat penelitian tentang mengapa pada saat krisis ekonomi, Sumatera Barat menjadi provinsi dengan inflasi yang sangat tinggi di Indonesia. Mereka mulai menyimpulkan bahwa itu karena psikologis masyarakatnya sendiri. Bukan karena harga beras atau cabe mahal”
Aku tertawa tiba-tiba. “Apa hubungannya dengan cabe atau beras?”
Dahinya berkerut. Wajahnya tampak menolak bahwa yang dia katakan itu cukup lucu untuk ditertawakan. Liong menghela nafas. “Ya, orang Minang yang jago berdagang, selalu beralasan kalau sedang krisis ekonomi, rupiah melemah, artinya harga barang-barang naik. Apalagi harga cabe. Anehnya, di rumah makan Padang, kalau kita minta sambalnya ditambah, orang restorannya bilang cabenya gratis, atau kalau beli nasi bungkus diberi sambal cabe juga pasti lebih banyak yang terbuang daripada yang dimakan. Miris bukan? Padahal cabe itu belinya mahal. Kalau cabe mahal, artinya barang dagangan yang lain juga bisa naik. Kalau semua bahan naik, harga makanan juga pasti mahal. Tapi, coba kamu lihat, saat malam tiba semua pedagang makanan dadakan bermunculan, dan tempat-tempat itu selalu ramai didatangi. Coba kamu pikir, apa alasan orang-orang Minang bilang daya beli mereka sangat rendah?”
Tanpa jawaban, aku tercengang. Sungguh, aku benar-benar tidak tahu, dia bisa menyimpulkan sedetil itu tentang kampung halamanku.
“Aku pernah dengar, di pasar, kalau terdengar kabar ada mobil pemasok cabe terguling di jalan, harga cabenya pasti melambung…,” sambung dia sambil tertawa, mungkin karena melihat ekspresi bingungku. Memang, aku tidak tahu apa-apa –tidak mau tahu malah. Tapi, cukup menohok saat aku merasa bahwa yang dikatakan Liong itu benar. “Di luar negeri, orang Minang adalah saingannya orang Cina dalam berdagang. Saat orang-orang daerah lain lebih suka menjadi tenaga kerja di luar negeri, orang Minang lebih suka berdagang. Gengsinya tinggi sekali. Di kampung sendiri, daripada membuat sebuah toko untuk bisa berdagang, mereka lebih suka jadi pedagang kaki lima. Keuntungannya lebih banyak tanpa harus mengurus izin atau membayar pajak”
Aku baru tertawa. Kurasa itu adalah alasan kenapa mulai dari jam enam sore, emperan-emperan yang kosong setelah toko-toko tutup, pedagang dadakan menjamur.
“Tapi, Padang ini punya kelebihan yang mungkin nggak dimiliki tempat lain,” sambung dia.
“Apa?”
“Kalau mau makan, pilihannya hanya antara tempat bagus atau rasa enak. Tidak semua tempat yang bagus itu enak, tapi di pinggir jalan pasti banyak yang enak…,” jawabnya. “Tidak heran, kalau malam, di sekitar rumah Encim banyak gerobak jualan. Aku pikir, itulah yang membuat aku ingin pulang ke Padang. Seberapapun gengsinya orang Minang terlihat hidup susah di kampung sendiri, mereka terkenal sebagai orang yang gigih dan mau kerja apa saja di negeri orang. Tapi, tetap saja… sedikit menyebalkan….”
“Maksudnya? Kamu lupa saya juga orang Minang?”
Liong tertawa lagi. Makin keras. “Semua terkecuali kamu,” balasnya. Menatapku dan aku seketika menghindar. Ada yang aneh dengan cara ia menatapku. “Kamu orang Minang pertama yang pernah kukenal yang tidak terlihat berambisi menjadi pegawai pemerintah begitu lulus kuliah.” Liong masih tertawa di ujung kalimatnya seakan itu ada hubungannya dengan apa yang sedang kami bicarakan. Tadi, dia mengomentari krisis ekonomi sampai psikologis orang Minang, dan sekarang semua itu meruncing tepat mengacung ke wajahku. “Aku bisa melihat bahwa kamu punya keinginan yang lebih dari sekedar ingin hidup dibiayai uang rakyat dan mengandalkan pensiunan di hari tua. Apa hebatnya menjadi mereka yang sekolah tinggi, lalu bekerja mengatasnamakan pelayanan kepada masyarakat tapi mereka malah mencuri?”
“Ayah saya pegawai negeri, Liong. Tapi, dia tidak mencuri,” tegasku sedikit tersinggung. “Sampai pensiun ayah tidak pernah korupsi”
Liong hanya tersenyum santai. “Pantas. Dia punya seorang putri yang seperti kamu,” kata dia, lalu berdiri dari tempat duduknya untuk menampung gerimis dengan sebelah tangannya. “Sepertinya hujan sudah mau berhenti….”
Aku pun ikut berdiri dari kursiku dan menatap ke langit. Mendung hampir berlalu. Kami sudah berdiri di pinggir teras, menunggu sisa-sisa hujan berhenti. Aku bisa melihat cahaya terang mulai menyusup di celah awan yang menyingsing perlahan. Manusia dari segala penjuru berbondong-bondong mengambil ancang-ancang keluar dari kampus. Sebagian dari mereka mungkin beranggapan bahwa kampus ini tidak lebih menyenankan dari acara kumpul-kumpul dan membolosnya. Tapi, aku begitu menyukai tempat ini karena kampus membebaskanku dari keseharian di rumah.
“Sangat disayangkan gadis sepintar kamu, hanya jadi seorang pegawai pemerintah,” Liong mengulangnya lagi seakan dia tahu benar bahwa sebenarnya ayah memang lebih ingin aku megikuti jejaknya. “Kamu cuma akan duduk di depan komputer, mengurus surat-surat perjalanan dinas… yah begitulah… banyak atau sedikit bekerja, gaji sama saja, yang penting harus mengikut atasan. Mereka yang mencuri, kadang kita pula yang kena. Kamu mau masa depan yang seperti itu?”
“Entah masa depan itu ada, Liong…,” kataku mulai kembali menerawang, menembus rintik hujan yang tinggal sedikit. Liong sudah tampak bersiap-siap dengan menyandang ranselnya. “Aku… merasa bahwa semuanya gelap….”
“Begitu juga aku…,” balasnya. Samar-samar kudengar kegetiran dalam nada suaranya.
Aku hanya menghela nafas.
Tiba-tiba Liong menoleh padaku. “Kamu tahu kalau kita sangat mirip?” tanya dia tiba-tiba dan aku hanya menatapnya bingung.
“Mirip?”
“Aku punya saudara yang wajahnya sama persis denganku tapi semakin kita dewasa semakin aku merasa bahwa kemiripan kami bukan sesuatu yang mengikat. Ikatan batin seakan terputus tidak tahu sebab, seperti sama-sama hilang ingatan dan kita lupa dengan tempat di mana kita pernah berada lalu tersesat,” jelas dia lagi. “Terkadang saudara sendiri bisa menjadi orang lain….” Dia masih menatapku lekat-lekat. “Sebagaimana orang lain bisa menjadi seperti saudara sendiri….”
Hujan telah sepenuhnya berhenti. Suara gemuruh orang-orang mulai terdengar dan beberapa saat kami terdiam satu sama lain sebelum aku berkata padanya, “Mungkin karena kehilangan kita sama, Liong.” Hanya itu yang kukatakan. Karena aku tidak punya banyak waktu. Hampir jam tiga sore, aku seharusnya sudah berada di rumah.
“Kenapa kamu tidak mencarinya?” tanya Liong.
“Mau dicari ke mana? Dia benar-benar menghilang seperti ditelan bumi.”
“Mungkin dia perlu bersembunyi.”
“Apa seseorang bisa bersembunyi seumur hidupnya?”
“Kalau diperlukan, Zuri”
“Apa Han juga seperti itu?
Liong menggedikan bahunya. “Orang yang hilang bisa dicari, walau bertemu hanya tinggal nama. Tapi, kalau hatinya yang sudah hilang, bertemu pun dia tak akan kembali.”
“Kenapa kalian bersebrangan?”
“Dia bermasa depan, sedangkan aku tidak. Hanya itu. Dia tidak akan berdiam di satu tempat menunggu mati, karena ada banyak hal yang bisa dia lakukan. Sedangkan aku? Entahlah, kalau sudah saatnya… apa yang mau diperbuat?”
“Tidak boleh putus asa begitu, Liong. Hidup dan mati sudah ada yang mengatur”
“Tuhanmu,” potongnya tiba-tiba, menatapku sekali lagi. “Aku ini tidak mempercayai apapun. Entah Dia ada di atas sana atau tidak… jika Dia maha adil, Dia tidak akan melupakanku Zuri….”
Aku terdiam dan menyaksikannya mengambil langkah, untuk meninggalkanku.
“Sampai besok!” seru Liong, melambaikan tangannya dan ia segera berlalu.
Aku masih tertegun di tempatku bahkan setelah sosok Liong tidak terlihat lagi. Gedung kampus beringsut sepi pada saat aku akhirnya memutuskan untuk pulang.
***
Agaknya Liong kelihatan pucat hari ini. Memang dia selalu pucat, aku tahu, tapi kali ini dia kelihatan sangat sakit. Semakin lama, semakin ia tak bisa sembunyi bahwa dia menderita penyakit yang benar-benar parah. Namun begitu, wajahnya selalu dihiasi senyum yang selalu mengatakan dia baik-baik saja. Sambil memeluk dirinya di dalam balutan jaket denim hitamnya, dia tampak berusaha menahan sakit itu.
Aku duduk di sampingnya. Sementara meninggalkan buku-buku dan pulpen, hanya untuk mengamati betapa dia kelihatan amat tersiksa. Pernah melihat seseorang yang kecanduan narkotika dan kacau? Mungkin seperti itulah saat ini. Ia menggigil, bahkan di cuaca yang hangat. Ia seolah masih dapat merasakan dinginnya udara ketika hujan tadi pagi sedang sekarang matahari kembali menunjukan kuasanya dengan bersinar terik.
“Apa kamu baik-baik saja?” kiranya itulah pertanyaan yang selalu kuucapkan padanya, setiap hari atau setiap bertemu.
Dia selalu tersenyum seakan itu adalah jawaban untuk semua jenis pertanyaanku yang mengkhawatirkannya. Tapi, kemudian, dia mengambil buku Kiran Desai-ku, ia melihatnya sekilas sebelum bertanya. “Kenapa perempuan suka sekali dengan kisah percintaan?”
“Akan sama jawabannya kenapa lelaki suka sekali dengan mobil-mobilan atau layangan. Seperti itulah sifat dapat mendefinisikan seseorang,” jawabku. “Seperti menjawab pertanyaan tentang mengapa matahari ada di siang hari karena kalau matahari tidak ada bukan siang namanya dan mengapa turun hujan saat mendung karena kalau tidak mendung tidak akan turun hujan.”
Liong terdengar terkekeh. “Puitis!” dia kembali menaruh bukuku di tempatnya. “Pernahkah kamu membuat satu?”
“Aku tidak pernah berpacaran,” jawabku singkat.
“Suka seseorang pasti pernah.”
“Ya, itu berbeda. Suka pada seseorang atau menjalin hubungan dengan seseorang adalah dua hal yang berbeda. Roman ada karena dua orang yang memiliki perasaan yang sama tapi mereka dipermainkan oleh nasib. Sedangkan aku… selama ini hanya terjebak dengan perasaan sendiri. Bagaimana pula itu bisa disamakan?”
“Kamu bisa menghayal. Misalkan, kamu ingin punya kekasih atau ingin menjadi siapa. Atau kamu bisa mengambil karakter dari orang yang pernah kamu kenal dan menjadikannya sebagai tokoh dalam cerita.”
Aku tertawa. “Seperti kamu misalnya?” balasku.
Liong tiba-tiba menjadi bersemangat. Walau wajahnya tetap pucat. “Kenapa tidak? Katakanlah, aku seorang pangeran dari negeri antah berantah yang jauh sekali. Kurus, pucat, berambut pirang, dengan mata sipit serta sakit-sakitan,” katanya, aku mulai terpingkal.
“Itu menyedihkan!”
“Tidak! Tambahkan orang lain yang membuatnya tidak bisas berdiri sendiri dalam cerita.” Liong tampak berpikir.
“Misalnya, dia punya kembaran yang suka berkelana ke dalam hutan?” celetukku dan tiba-tiba dia menatapku terkejut. Tersadar, dia menjadi murung, aku pun menepuk bahunya. “Sudahlah, itu hanya misal,” ujarku.
Liong kembali tersenyum, mengangguk-angguk, dia berkata. “Ya, berkelana ke dalam hutan,” dia menganggapnya menjadi penting. “Mencari penawar obat untuk abangnya yang sakit…”
Giliranku terdiam. Dan tiba-tiba jadi ingin bertanya, “Memang apa yang dilakukan Han di luar sana?”
Liong balas menatapku. “Dia sekolah kedokteran,” jawabnya sungguh-sungguh.
Aku tahu ke mana muara dari jawabannya itu : Han ingin menjadi dokter karena ingin menyembuhkan Liong. Tapi, kenapa Liong bercerita seolah hubungan mereka sangat buruk?
Tiba-tiba dia berdiri, kembali terlihat misterius dengan sikapnya yang berubah pendiam secara mendadak. Dia seringkali kehilangan ekspresi senang ketika nama Han disebut dan tiba-tiba wajahnya menjadi muram. Aku berdiri di sampingnya saat ia menatap ke ujung laut yang berkilau di bawah cahaya matahari. Aku bisa merasakan kesedihannya, walaupun ia tak pernah menceritakannya. Dan saat itu aku bertanya, kenapa aku bisa merasakan lebih banyak ketika aku menatapnya daripada berbicara tapi tidak semua yang bisa ia ungkapkan. Kami memang asing sekaligus akrab.
Aku tidak mengerti perasaan setiap berdiri di dekatnya. Ini bukan cinta. Bukan pula rasa kasihan. Entah. Setiap berdiri berhadapan dengannya, aku seperti sedang bercermin. Hingga suatu kali, aku pernah bermimpi, bahwa kami melompat bersama ke dalam jurang.
Pertemuan kami pasti memiliki sebuah arti. Bukan hanya sekedar berteman untuk saling bercerita, lalu begitu kami lulus dari sini, kami akan menjadi benar-benar asing suatu hari nanti. Seperti yang pernah dia katakan sebelum ini, kami akan membutuhkan bagian lain dengan melepaskan bagian yang ada selama ini. Barangkali, berpapasan di jalan pun, kami bahkan tak akan pernah menoleh. Tapi, bukan itu. Dia seperti seorang pembawa pesan. Namun, aku tidak pernah menyangka, bahwa aku bertemu dengannya hanya untuk menyaksikannya melompat dari atap itu di kemudian hari…
[1] Saudara perempuan dari pihak ayah.
Komentar
0 comments