[Hal. 6] [Ch. 2] NAME OF YESTERDAY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 lembar 4

Padang, 04 Mei 2007…

Cuaca panas membuatku berkeringat. Koridor kampus begitu sepinya sampai aku ingin berlari bolak-balik hanya untuk membuat suara. Tapi, demi kelas berikutnya yang menunggu, tak apalah. Jam dua belas siang. Langit tak berawan terlihat di celah antara pepohonan dan atap –begitu teriknya sampai aku harus menghalangi cahaya silau itu dengan tangan.

Kota ini panas sekali. Kota di pinggir laut di mana pantai menjadi pesonanya, tapi tidak ada apa-apa di sini. Aku bahkan tak bisa berenang untuk mengarungi keindahan lautnya. Hanya duduk di bebatuan memandang jauh entah ke mana, berharap bisa pergi ke mana, tapi apa pun yang dipikirkan untuk dituju hanya menjadi impian, ketika raga terkurung seperti ini. Sama saja, menunggu. Menunggu sambil membaca buku, atau melambungkan angan ke mana nasib membawa. Aku kembali menjadi gelisah dan takut, bilamana masa depan itu tak ada.

Entah sejak kapan aku merasa hampa seperti ini. Kekasih, teman, benda atau kesenangan yang dipuja tidak bisa mengisi kekosongan itu. Sebab sejak mengenal dia,  seolah ada lubang di hati. Hingga tanpa sadar, aku bersedih dan menangis untuk sesuatu yang tak pernah ada. Cintanya.

Tapi, tahu apa aku tentang cinta?

***

Angin meniup daun-daun kecil berwarna kuning terlepas dari dahannya. Angin pantai yang biasa bertiup di musim kering. Tidak jauh dari sini –sekitar dua kilometer ke depan adalah pesisir pantai.

Kota Padang yang berada di pesisir pantai barat Sumatera adalah sebuah kota kecil yang menjadi ibu kota provinsi dengan nama Ranah Minang dan mendapat ‘teror’ tidak lama setelah tsunami menerjang Tanah Rencong dua tahun lalu. Pantai Barat Sumatera mulai diprediksi akan mengalami pergeseran lempeng bawah laut yang menyebabkan gempa tektonik berskala besar hingga tsunami. Daerah pinggiran pantai mulai ditinggalkan.

Tapi, adanya isu tsunami atau tidak, orang Minang sudah terkenal sebagai perantau ulung dan pandai berdagang. Di sini, belum menjulang gedung-gedung megah dan tinggi perkotaan. Masyarakat masih memegang teguh adat Minang-nya yang mengambil garis keturunan ibu , serta para ninik mamak [1]yang punya peranan penting dalam satu kaum.. Bagi orang Minang, penerus dalam keluarga adalah kaum perempuan. Hanya anak perempuan dalam keluarga yang mendapatkan warisan turun temurun yang disebut pusaka tinggi. Adat Minang sangat terikat dengan agama Islam dan di daerah tertentu mereka tidak menyukai perbedaan. Katanya jika seorang perempuan Minang menikah dengan laki-laki yang berasal di luar Sumatera Barat, anak-anaknya tidak bersuku.

Aku lahir dan tumbuh dalam lingkaran itu, di mana aturan akan mencegah seseorang terutama perempuan dari predikat buruk di mata agama dan adat. Kelakuan yang harus dijaga, demikian pula cara berpakaian. Di sini, pendatang akan sangat jarang melihat orang-orang yang berpakaian tidak senonoh. Ucapan orang adalah sangsi sosial yang sangat berat melebihi hukuman penjara. Karena malu dengan tingkah lakunya sendiri, seseorang bisa saja menghilang sangat jauh dari kampung halamannya. Tapi, kebanyakan orang Minang memang lebih suka merantau –begitu juga denganku, meskipun aku belum bisa ke mana-mana. Suatu hari aku juga ingin pergi dari sini dan memulai sebuah kehidupan yang baru dan jauh lebih baik dari ini.

Sekarang, aku satu-satunya di keluargaku. Bukan berarti ini menyenangkan karena semua perhatian dan kasih sayang orang tua sudah pasti berlimpah bagi satu orang anak saja. Bagiku, aku lebih seperti menggantikan posisi seseorang yang mundur dari ‘jabatan’ karena menjadi seorang anak bungsu –harapan terakhir, aku tidak bisa memutuskan apa yang ingin aku lakukan sendiri.

Jam dua siang, semua kelasku selesai untuk hari ini. Lalu satu-satunya tempat yang ingin kutuju adalah rumah. Tidak seperti teman-temaku yang lain, mereka mungkin lebih suka duduk-duduk dulu di restoran cepat saji, mengobrol dan tertawa seakan selalu ada hal menyenangkan dari dunia perkuliahan kami. Tapi, barangkali mereka tidak selalu membicarakan tugas dan mata kuliah. Bisa jadi kenalan baru atau kekasih. Apa enaknya membicarakan orang lain? Seberapa menyenangkan mengagumi seseorang yang mungkin saja tidak tertarik pada kita? Kalau aku… mungkin lebih suka memendamnya sendiri walaupun terkadang menyakitkan juga.

Aku tidak punya banyak pilihan. Ayah tidak akan suka aku menjalin hubungan lebih dari sekedar teman dengan anak lelaki. Katanya, itu tidak mencerminkan perilaku seorang muslim yang baik. Berpacaran itu adalah dosa. Seringkali aku mendengar komentarnya atas tayangan di TV yang menurutnya sudah di luar batas. Menurutnya, anak muda itu harusnya malu dengan perbuatan mereka. Sudah tahu berpacaran itu dilarang, ketika merasa disakiti baru mengeluh.

Setiap ayah mengelus dada ia selalu mengingatkan aku untuk menyimpan kata-katanya. “Kamu jangan seperti itu,” kata dia. “Kalau sudah saatnya pasti bahagia juga. Jangan sampai tidak bisa membedakan yang mana cinta, yang mana hawa nafsu”

Aku mengangguk. Seperti cap permanen yang menempel di dahiku, ucapan ayah tertanam di dalam pikiranku. Sampai-sampai aku merasa, bahwa yang aku takuti sebenarnya bukan dosa melainkan ayahku sendiri.

“Kamu kenapa?” tegur Ibu yang menaruh piring di atas meja dan ia memandangku heran.

Aku menggeleng, sambil menyingkirkan tangan yang menopang dagu sejak duduk di sini dan menunggu Ibu selesai masak.

 Ayah datang dari ruang tengah, dan ia pun ikut duduk di meja makan bersama setelah meninggalkan permainan caturnya dengan Pak Datuk tetangga sebelah. Wangi gulai ikan dan tumis kangkung pedas buatan ibu memang selalu mampu membangkitkan selera makan.

“Tidak…," jawabku sambil mengambil piring dari tumpukannya yang baru ditaruh ibu di sisi yang berseberangan. Aku mulai menyendok nasi, menyiramnya dengan kuah kuning dan sambal. Aku bersyukur bisa makan enak tiap hari berkat ibu.

“Kamu sudah shalat Dzuhur, Nak?” tanya ayah sesaat ia akan duduk di sampingku.

Aku tersenyum sambil mengangguk. “Sudah, Yah,” jawabku.

Tidak ada hal yang begitu menyenangkan. Saat makan, ayah lebih suka diam. Ia tidak pernah bertanya lebih dari satu kalimat. Memang ayah tidak banyak bicara dan cenderung kaku, tapi begitulah ia. Sedangkan Ibu selalu penuh dengan senyum dan pertanyaan tentang kuliah atau hal-hal lain; bisa juga membahas sesuatu yang ia dengar dari tetangga ketika belanja di warung.

“Memang apa pentingnya kita tahu urusan orang?” ayah menyela saat Ibu membicarakan tentang Annisa, anak tetangga yang rumahnya di ujung gang.

Aku dan ibu sama-sama terdiam. Padahal kami hanya membicarakan tentang sebuah pernikahan yang akan digelar minggu depan dan karena sempitnya gang menuju rumah kami, terpaksa mereka meminta izin RT untuk menutup jalan selama pesta. Memang kalau gang ditutup, kami akan berputar sangat jauh dan ibu sedikit mengeluh bersama beberapa warga lain.

“Apa mau dikata? Kita tinggal di kampung. Harus punya tenggang rasa,” kata Ayah. “Nanti juga kalau Zuri yang beralat, gang juga ditutup sementara…”

Begitulah ayah. Dengan nada bicaranya yang tegas, sudah pasti tak akan ada yang berani bersahut kata dengannya. Dan inilah, keluargaku. Sederhana, pemeluk Islam yang taat dan menjunjung tinggi adat Minang.

***

Setiap Rabu malam, kami akan datang ke pengajian keluarga dan itu merupakan rutinitas yang mendekatkan kami dengan keluarga ayah yang siak[2].

 “Coba kamu pakai kerudung itu ke mana-mana…” kata ayah saat melihatku keluar kamar dengan sehelai selendang di kepala. “Ayah selalu berharap anak perempuan ayah bisa menutup auratnya”

Aku tersenyum. “Berkerudung itu harus dari hati, Yah. Saat ini Zuri belum siap,” kataku. “Takut nanti tidak kuat iman dilepas. Kata Ayah itu sama dengan mempermainkan agama, dan mempermainkan agama sama seperti mempermainkan Allah…”

Ayah balas tersenyum. “Yang menguatkan seorang Muslim itu adalah Shalat-nya. Sempurnakanlah Shalat itu, Insya Allah akan dikuatkan…”

Aku tidak menjawabnya lagi. Bersyukur Ibu juga telah siap dan kami pun bisa segera pergi sebelum ceramah singkat Ayah semakin panjang.

Aku terlahir dari sepasang orang tua pribumi. Ayah seorang pensiunan PNS dan ibu yang hanya ibu rumah tangga biasa. Sebenarnya aku mempunyai seorang kakak perempuan bernama Nazia –aku memanggilnya Uni. Tapi, sudah lama Uni tidak duduk di sini untuk makan bersama. Ibarat seseorang yang telah meninggal, ceritanya sudah tak terdengar lagi setelah kepergiannya. Nama Uni tak pernah disebut lagi karena setiap salah seorang entah itu aku atau Ibu tanpa sadar membicarakannya, ayah akan marah.

Ya, ayah dan Uni sama kerasnya. Sama batunya. Tidak ada yang mau menerima. Tidak ada yang mau menyadari bahwa tidak ada yang menang jika semuanya kalah. Istilah menang jadi arang, kalah jadi abu, memang terbukti. Ibarat gelas kaca yang pada awalnya utuh, sekarang sumbing sedikit karena ketiadaan Uni dan sekarang menunggu retak lalu pecah. Yang lebih sedih adalah ibu. Ibu yang melahirkan Uni, Ibu yang mengasuhnya sampai ia besar dan bisa mencari uang sendiri. Dan Ibu yang selalu melindunginya dari kemarahan ayah hanya bisa menangis menyaksikannya pergi dari rumah karena tak ada juga perdamaian.

Akhirnya kami kehilangan. Ibarat melempar batu ke lautan, batu itu tidak pernah ditemukan lagi. Ia menghilang selamanya. Setiap mengenangnya, aku merindukannya. Tapi, aku bahkan tidak tahu di mana dia berada. Yang tertinggal darinya hanyalah kenangan saat kami bermain salon-salonan di dalam kamar yang dulu dihuni bersama. Aku akan menjadi satu-satunya pelanggan yang minta dikeramasi rambutnya, dia pakaikan kerudung, didandani pula dengan semua peralatan berhiasnya. Begitu Uni sudah tumbuh jadi gadis belia, aku mulai ikut-ikutan memoles sendiri lipstick di bibir saat sang kakak berdandan. Lalu minta dipakaikan cat kuku juga sampai ayah melihatnya dan marah.

“Zuri masih kecil. Kenapa diajari yang bukan-bukan?" tuntutnya pada Uni yang terpaksa harus menghapus dandanan di wajah adiknya yang sudah seperti boneka.

Aku tidak terima. Begitu dandanannya dihapus, aku sedikit merengek.

“Nanti kalau sudah besar, Uni dandani lagi ya?" ujarnya, sambil membelai-belai rambut lurusku sambil tertawa lucu.

Aku pun mengangguk. Berharap satu hari nanti Uni akan membelikan peralatan berhias untukku. Tapi, Uni sudah lebih dulu meninggalkan rumah saat aku masih sembilan tahun. Jangankan membelikan peralatan berhias pertama, jauh setelah itu, aku mulai berandai-andai, jika saja Uni masih ada saat ini, pastilah dia yang akan membelikan pembalut dan berbagi pengalaman tentang sakitnya ketika datang bulan. Menyedihkan pula saat aku melihat teman-teman sebaya yang memiliki kakak perempuan. Katanya, kalau bertanya pada lelaki apa yang dipakai, lelaki akan menjawab ‘bagus’ padahal ia tidak tahu apa-apa tentang gaya dan mode. Lelaki akan menganggap hal itu merepotkan karena mereka memang tidak mengerti.

Tapi, seorang kakak perempuan akan mengatakan yang sejujurnya dan membantu layaknya seorang ibu. Kakak perempuan memberikan luka seperti layaknya seorang kakak. Dibandingkan dengan teman-teman tempat ia biasa bermain di luar sana, ia tentu lebih sayang kepada adiknya. Jika saja Uni masih ada, tentunya aku akan bisa berdandan, memakai baju yang cocok, mungkin pula bisa seperti Asha.

Tapi, nyatanya, mengoles lipstik saja tidak bisa. Bukannya tak mau, tapi aku terlanjur kecewa karena Uni tidak pernah membelikan lipstick, bahkan kembali saja juga tidak. Apa Uni masih ingat mempunyai seorang adik yang menanti kepulangannya?

Aku ingat Uni paling malas belajar dan dia lebih suka bermain. Entah itu bertandang ke rumah temannya atau duduk-duduk di warung depan dengan anak-anak perempuan sebayanya. Hidupnya terlihat lebih normal dibandingkan hidupku –pada zaman SMP-ku yang suram. Aku tidak punya teman. Kalaupun ada, mungkin guru penjaga perpustakaan atau petugas kebersihan yang sering mondar-mandir di depanku mengepel dan menyapu. Sungguh, hanya orang-orang dewasa yang peduli padaku karena mereka berpikir aku adalah anak yang patuh dan rajin.

Sekarang, di bangku kuliah, aku tidak jauh berbeda dengan sosok yang selalu suka berjalan di pinggir dan memberi ruang bagi orang yang langkahnya cepat lebih dulu. Saat orang bahkan terang-terangan mengejekku, aku terbiasa diam dan mengabaikan mereka. Aku selalu merasa tidak butuh siapapun karena hampir tidak pernah mendapatkan kesulitan, baik dengan guru ataupun orang tua di rumah.

Dunia itu kejam. Aku melihatnya dari beberapa orang teman yang berselisih dan bagaimana mereka saling menghancurkan lewat perkumpulan dan kata-kata sarkastis. Jaman sekarang ini, sudah sangat sulit untuk percaya pada orang –walau teman baik sekalipun. Ayah selalu melindungiku dari orang-orang jahat lewat watak keras dan aturan bakunya. Aku sudah sangat terbiasa dengan semua anjurannya dan hampir tidak pernah punya masalah walaupun kenyataannya aku menjadi amat tertutup dan penyendiri.

Hanya ketika aku menulis, aku dapat menjadi orang lain –seseorang yang bukan diriku dalam sebuah cerita.. Seolah dengan menulis , aku bisa disebut dengan ‘hidup’.  Tapi, saat aku terlalu banyak menghabiskan waktu di kamar untuk menulis, ayah akan menegur supaya aku membantu ibu menyelesaikan pekerjaan rumah. Seperti mencuci baju sendiri, mengangkat jemuran, menyetrika, mencuci piring atau membereskan rumah. Suatu kali aku pernah dengan polosnya berkata padanya ingin menjadi penulis cerita anak-anak. Tapi ayah hanya terkekeh. Katanya, hidup dengan bermimpi saja, makan pun kita tidak bisa. Hidup harus dalam kenyataan, tak bisa di dalam mimpi. Ada banyak hal yang dipikirkan, karena hidup ini keras. Memangnya untuk apa aku belajar? Untuk apa orang tua meyekolahkan anak-anaknya? Cita-cita.

Bagi ayah, cita-cita bukan sebuah karangan yang biasa kutulis, jika penulis bagiku adalah sebuah cita-cita besar. Tidak semua penulis berhasil menjadikan tulisannya sebuah karya besar. Ayah selalu memintaku untuk tidak banyak bermimpi dan semakin aku tumbuh semakin ia memaksaku untuk menghadapi kenyataan. Ada banyak hal yang ayah inginkan dariku. Nilai A, gelar cum laude, berdiri di podium sebagai lulusan terbaik, dan menjadi PNS seperti dirinya karena di sanalah masa depanku berada. Ketika aku memiliki semua itu, aku baru pantas memilih cita-cita yang besar.

Entah.

Mengapa aku harus mengikuti pola berpikir ayah sementara aku tahu bahwa itu bukan keinginan dari hatiku sendiri? Tapi, aku hidup dalam lingkaran paradigma orang-orang yang hidup hanya untuk memamerkan apa yang kita punya kepada orang lain. Itu bukan kehidupan yang aku inginkan. Namun, mengikuti paradigma itu adalah jalan aman untuk bisa hidup dalam jalurnya. Hanya saja, ada satu kehilangan yang tak bisa tergantikan. Tapi itu juga tidak bisa disebut sebagai kehilangan, bukan? Aku tidak pernah memilikinya. Mungkin itu sebuah kekosongan.Ya, kekosongan yang tak bisa diisi.

***

Biasanya kami akan berpapasan di lorong. Seharusnya pagi ini aku bisa melihatnya di kelas. Mungkin saja dia datang terlambat atau…membolos. Attar lumayan sering membolos karena dia ketiduran gara-gara kelelahan oleh segudang kegiatan yang dia lakukan di luar kampus. Terkadang aku yang membuatkan tugas-tugasnya atau menandatangi daftar hadirnya.

Rupanya dia memang tidak datang. Setelah kelasnya selesai, aku ingin menemui Ibu Julia, dosen Penasehat Akademis mengenai beasiswaku.

“Kamu tunggu di luar dulu ya?" kata Ibu Dina, staf tata usaha yang mejanya berada di depan kantor Ibu Julia. Usianya masih muda –mungkin baru masuk 30 tahunan. Rambutnya di potong pendek memperlihakan pipinya yang berisi. Tidak ada riasan di wajahnya.

Ada seseorang di dalam ruangan Ibu Julia dan kedengarannya ia sedang bicara. Mungkin mahasiswa lain yang sedang berkonsultasi. Sementara Ibu Dina kembali mengerjakan tugasnya di depan komputer sementara, aku duduk dan mulai menunggu.

Dari semua dosen yang ada di kampus ini, tidak ada yang tidak mengenalku. Mereka bilang aku pintar dan berbakat. Tapi, aku tidak merasa bangga. Aku hanya gadis yang membosankan. Lihat saja, aku hanya tahu cara mengikuti aturan dan tidak pernah berdebat dengan orang lain akan hal apapun. Seumur hidup yang aku tahu dari ayah, aku hidup dengan menghindari perdebatan tentang apa yang ia inginkan dan harus dilakukan. Dua hal itu sangat bertolak belakang. Yang kita inginkan tidak pernah sama dengan yang harus dilakukan.

Aku memandangi sekitarku. Ruangan besar yang bersih dan rapi dengan  sebuah salib yang menghias dinding yang membingkainya dengan sangat jelas. Salib dengan Kristus yang dipaku kedua tangannya. Mayoritas mahasiswa beragama Katolik. Mereka berasal dari suku yang berbeda dan yang paling dominan adalah keturunan Tionghwa.  Sedangkan sisanya adalah orang pribumi –orang Minang dan sedikit orang dari luar Sumatera Barat; orang Mentawai dan orang Nias yang memiliki paras sama –antara mata sipit dan kulit putih pucat. Di sini, perbedaan warna kulit dan agama tidak terasa –ketika di satu tempat orang pribumi yang jumlahnya lebih sedikit berjuang dengan cara yang sama untuk meraih masa depan. Ya masa depan. Entah itu di Kementrian Luar Negeri, bank internasional, atau perusahaan asing di ibu kota.

BRAK!, suara pintu yang dibanting membuatnya tersentak. Seseorang baru keluar dari ruangan Ibu Julia dengan langkah tegesa-gesa –anak lelaki tempo hari! Wajahnya kesal sekali.

Aku terkesiap, seketika berdiri dari kursiku, menyaksikan orang itu berlalu di hadapanya dengan langkah yang cepat.

Ibu Dina tampak berdiri dari kursinya memperhatikan langkah orang itu keluar dari kantornya.

 “Zuri?" Ibu Julia menemukanku belum lepas dari terkejutku sendiri. Wajahnya yang terbingkai kerudung biru laut yang tadi tegang tiba-tiba melunak saat menatapku. “Ada apa?" tanya dia sambil berisyarat mengajak masuk ke kantornya.

Aku tidak tahu apa yang terjadi barusan di sini. Tapi, melihat ekspresi kesal  yang seperti itu, aku ingin bertanya. Ada apa denganya?

***

“Kamu ketiduran ya?" aku bertanya sambil menutup buku catatannya dan Attar dengan wajah kusut baru saja duduk di kursi yang ada di depannya.

“Tidak," jawabnya lesu. "Ada sedikit masalah yang buat aku terlambat. Karena pasti akan diusir juga, jadi aku bolos sekalian ”

Aku tertawa. "Tadi ada kuis," ia mengingatkan.

Attar  mendengus sambil menyandar lelah. Harinya yang buruk terpapar jelas di rautnya.

“Ada masalah apa?" tanyaku, penuh perhatian.

Attar  hanya menggeleng. Tampaknya begitu putus asa dengan masalah yang ada di pikirannya saat ini. Aku pun diam. Memandangnya sambil menunggu. Apakah dia akan menceritakannya seperti biasa?

“Bertengkar dengan Asha?" tanyaku lagi karena menunggu terlalu lama. Dan ia pun menatapku seakan membenarkannya. Meski tanpa jawaban, ekspresi lelahnya itu adalah jawaban iya.

Setiap gadis itu membuat suasana hatinya buruk, dia selalu terlihat gelisah. Bukannya terlalu mudah untuk mengatakan padanya dengan santai, harusnya Attar mencari seseorang yang tidak membuat batinnya tersiksa? Yang  selalu ada untuknya selalu di saat ia susah dan senang? Tapi, apabila mereka terlihat baik-baik saja, aku akan jarang melihatnya tertawa padaku apalagi kesedihanya sebagai satu-satunya hal yang bisa mendekatkan aku dengannya.

“Attar …," tegurku, menatapnya serius kali ini. Aku telah siap untuk pengakuan itu.

Ia membalas tatapannya dan menunggunya mengatakan sesuatu.

“Attar!” suara itu terdengar melengking.

Kami seketika menoleh ke belakang.

Asha. Wajahnya juga kusut seperti Attar. Mereka memang bertengkar hebat pagi ini.

Attar  segera berdiri dari kursinya. Menghampiri kekasihnya itu –melenyapkan satu-satunya kesempatan dan keberanianku untuk mengungkapkan perasaan. Tiba-tiba aku menjadi begitu tolol. Sia-sia sudahlah latihan di depan kaca –rupanya itu hanya semakin menunjukan betapa bodoh diriku sendiri.

Aku tertegun, memandangi mereka bicara. Ia juga tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Jaraknya cukup jauh. Tetapi, Asha tampak memohon. Matanya berlinang. Sementara Attar juga mengatakan sesuatu padanya dengan wajah kesal. Mereka mulai berdebat, seketika dalam kepalaku hening. Seperti sedang menonton drama remaja yang sedang konflik, perhatian kita tersedot ke dalamnya dan bisa saja kita meneteskan air mata karenanya. Ya, aku selalu jadi penonton yang setia selama ini. Baru kali ini aku merasa sangat lelah. Tidak punya harapan. Sehingga aku putuskan untuk menghentikan semuanya. Dari sini dan sekarang juga.

*** 

[1] Saudara laki-laki dari pihak ibu

[2] Taat beragama

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments