[Hal. 7] [Ch. 2] NAME OF YESTERDAY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 lembar 5

Padang, 11 Mei 2007…

Aku harus melupakannya.harus menjauhinya…

Tapi, apa yang aku takutkan sebenarnya?

Ditolak?

Dijauhi?

Atau…cinta itu sendiri?

Tapi, inilah aku yang akan memilih lari jika bertemu dengan kesulitan. Lebih-lebih urusan cinta itu tidak sama dengan mata kuliah. Jika aku tidak mengerti dengan apa yang aku baca, masih ada buku lain yang menjelaskannya. Tapi, jika tidak mengerti cinta, kepada siapa harus bertanya? Orang lain bahkan tidak tahu aku tengah jatuh cinta.

*** 

Jika Attar mencariku lagi, aku pastikan ia tidak akan melihatku. Aku tak ingin bertemu hanya untuk mendengarkan masalah cintanya yang tidak pernah beranjak dari urusan tak sepaham antara ia dan Asha atau saat Asha seringkali merajuk dan ia benar-benar kehilangan cara. Lama-lama aku akan termakan keluhannya lalu akan semakin jelas pula bahwa perasaan ini sudah tidak tertahankan. Aku tahu Attar akan menolakku. Aku tahu aku akan patah hati. Dan aku tidak ingin memusingkan bagaimana nanti setelahnya. Apakah kami masih bisa bersahabat?

Angin bertiup sejuk di atap gedung kampus. Di tempat ini Attar tidak akan menemukanku. Lucu bukan? Aku bersembunyi seolah dia akan mencariku saja. Padahal aku tahu bahwa aku tidak sepenting itu untuk ditemui setiap hari. Lagipula berhadapan dengannya pun, aku lebih banyak diam bahkan di saat dia menceritakan hal yang menyenangkan tentang kegiatan Mapala atau Korps Palang Merah yang ia ikuti. Tapi, pada saat itu juga, aku merasa sedikit senang karena dia mau berbagi tentang dunia luar yang tak pernah kutahu. Perasaan ini membuatku serba salah.

Awan bergerak mengikuti angin dan birunya langit kian jelas. Aku duduk  menyandar ke dinding yang terlindung di bawah bayangan atap demi menghindari terik yang memanaskan semua yang terpapar di muka bumi. Aku melihat buku catatanku yang ingin ditulisi lagi, tapi aku tidak tahu cara memulai. Karena sebelum ini, Attar adalah segala hal yang aku tulis. Tapi, aku sudah berjanji pada diriku tidak boleh lagi menulis tentangnya. Jika suatu hari semua akan dibaca lagi, saat itu pasti aku sudah tidak mengingatnya dan ujung-ujungnya hanya membawa kenangan yang buruk karena saat ini… setiap memikirkannya dadaku terasa begitu sesak.

Sesak itu masih mengganjal setiap aku menarik nafas terlebih karena aku mulai merasa bahwa menghindar seperti lebih seperti menyiksa diri sendiri alih-alih merasa lebih baik. Tapi, apa yang bisa kulakukan? Sebuah pengakuan akan mengubah segalanya. Ah, barangkali aku hanya takut dengan raut wajahnya ketika kukatakan semuanya, dia mungkin akan tekejut, bingung lalu mengatakan ‘tidak’.

Menakutkan. Kembali menengadah pada langit biru di atas kepala –siang sudah menjelang. Mataku silau oleh cahayanya yang tajam. Saat aku mengusap-usap mataku yang lelah, kunang-kunang kecil keemasan seakan berterbangan di pelupuk mataku, tapi masih dapat  kulihat ada seseorang tengah yang berdiri di pinggir atap.

Mengapa aku yang tidak menyadarinya sejak tadi? Apa lantaran terlalu lama melamun?

Ia berdiri di sana seakan menantang matahari. Seakan tak peduli terik terasa amat kejam menusuk kulit. Aku saja tidak ingin beranjak dari sini kalau tidak benar-benar terpaksa. Tapi, kalau saja dia tidak berdiri kurang dari lima senti dari bibir atap, aku tidak akan menghampiri dengan berlari. Aku tahu dia akan melompat.

 “Hei!" teriakku dan ia seketika menoleh.

Terkejut, ia menatapku dengan tajam. Wajahnya terlihat gusar bagaikan seseorang yang baru saja disindir dan ia tampak tidak suka disapa sambil berteriak.

Angin masih bertiup,  menghembus helaian rambutnya yang dicat pirang terang. Untung saja dia berkulit putih, sehingga warna yang tak sesuai dengan kulit orang Asia itu tidak terlihat jelek.

Dia lagi? Seorang lelaki dengan gelang salib giok di tangan kanannya. Setelah ia terlihat begitu kesal di ruang dosen kemarin, dia berdiri di sana seakan ingin melompat. Apakah jika dia tidak mendengar suaraku, dia benar-benar akan melompat?

Lalu ia menoleh padaku, menatapku, dengan raut tak terbaca. Sedih tidak, marah tidak, kecewa juga tidak. Hanya tatapan yang mengatakan bahwa dia sebenarnya kebingungan. Sehingga, aku mengulurkan tanganku dengan berani seakan aku bisa melihat ada iblis yang bertengger di pundaknya dan terus menyuruhnya melompat.

“Mengapa?" tanya dia, raut itu belum juga berubah. “Mengapa kamu peduli?" tanya dia.

“Kalau kamu mati, setelah itu apa?" balasku. "Apa yang kamu harapkan kalau kamu mati?”

Yang aku tahu, agama mana pun akan melarang umatnya untuk bunuh diri. Karena di alam sana, sudah ada satu tempat khusus bagi orang-orang yang melalukan dosa besar. Neraka.

Tiba-tiba saja dia tertawa, lalu menjauh dari pinggir atap. Ia tampak puas mempermainkan seseorang yang mengira bahwa ia benar-benar akan melompat, seakan yang dilakukannya adalah lelucon paling menyenangkan.

Aku hanya menatapnya heran. Memperhatikan gerak-geriknya. Benarkah dia hanya bercanda?

***

Liong, seorang mahasiswa senior yang baru pindah kurang sebulan lalu dari Jakarta. Keturunan Tionghwa sejati dari ayah dan ibunya. Aku tidak tahu apa yang menarik dari sosok kurus, tinggi, dan putih –cenderung pucat, itu selain dari caranya tersenyum. Dia selalu datang ke atap setiap siang bahkan mungkin sehabis membolos dua mata kuliah sekaligus.

Aku mengambil tempatku yang biasa tidak jauh dari tempat Liong mengepulkan asap putih dari mulutnya. Dia senang menghisap berbatang-batang rokok sendirian seperti itu. Seperti halnya aku yang senang menyendiri, Liong memilih merokok untuk menghilangkan kegelisahannya. Aku bisa mengabaikannya dengan menulis sebagaimana Liong tidak menyadari kehadiran siapa pun di sekitarnya. Tapi, melihat ada banyak puntung rokok di kakinya Liong, sepertinya orang itu sudah lama di sini dan pastilah ia melewatkan semua pelajarannya.

“Kenapa kamu tidak banyak bicara seperti kemarin?" tanya dia tiba-tiba.

Aku menoleh padanya. "Kamu tidak mau bukan orang yang dianggap tidak mengerti berkomentar soal apa yang kamu lakukan?" balasku. Kembali melihat ke lembaran buku yang sedang kutulis. “Apapun yang kamu pikirkan saat itu… percayalah itu bukan urusanku”

“Aku kira kamu mengerti," katanya.

“Aku tidak berhak mengomentari hidup orang lain," jelasku, melunak.

Liong  tertegun menatapnya. "Kamu benar…," ia pun tertunduk, lalu membuang puntung rokok terakhirnya yang masih menyala. Dengan cepat ia menginjak-nginjak puntung rokok itu sampai sisa asap mengepul keluar dari bawah sol sepatu kets-nya. Dia tidak merokok lagi karena satu bungkus yang ia bawa sudah kosong.

Aku kembali mengabaikannya sebelum orang ini bicara lagi. Kali ini serius.

“Kalau kamu tidak ke sana mungkin aku sudah lompat," kata dia tiba-tiba. "Aku tidak mau mati pun nanti malah menyusahkan orang lain”

Seketika aku mengalihkan perhatian dan kemudian terpusat pada wajah Liong yang kembali bersedih. Tentu aku tidak menduganya. Sama sekali. Dia benar-benar akan melompat jika aku tidak ada?

“Lain kali jangan lakukan di depan orang” kataku, “Menambah dosa orang yang melihat kalau tak bisa diselamatkan”

Liong terkekeh tiba-tiba. “Dosa? Seberapa takut kamu dengan dosa?” balas dia, terdengar mengejekku.

Aku tidak menjawab. Ini bukan masalah seberapa takut berdosa? Pertanyaan seperti apa itu?

“Setiap orang itu berdosa…” kata dia, terlihat bingung, mungkin karena dia tidak tahu namaku dan tampak berpikir akan memanggilku. “Mana ada manusia yang tidak berdosa?”

Aku tersenyum simpul. “Maaf, mungkin penafsiran kita tentang dosa berbeda,” balasku.

“Berbeda?” dia masih membalasku dengan tawa melecehkan.

Aku menutup buku catatan dan bersiap pergi. Rasanya tidak berguna bicara dengan orang sinting ini. “Ya, kita bahkan menyebut Tuhan dengan nama yang berbeda,” balasku sebelum berlalu.

“Aku tidak pernah menyebut Tuhan,” kata dia saat aku mulai melangkah. “Aku bahkan tidak benar-benar percaya bahwa Dia ada di atas sana”

“Oh ya? Itu juga bukan urusanku,” balasku dan benar-benar pergi. Apa gunanya membicarakan Tuhan dengan orang yang tak percaya?

Dia mengaku tidak percaya pada Tuhan. Tapi kenapa memakai gelang Kristus? Orang yang aneh…

Tapi, dia selalu berada di sana. Esok dan esoknya lagi saat aku pikir dia tidak akan suka melihat atau bicara dengan gadis ketus sepertiku.

“Apa yang kamu tulis?" komentar dia tiba-tiba, melirik kemari, lalu menghampiri. "Apa dengan menulis semua maksud kamu bisa tersampaikan kepada orang yang namanya selalu kamu tulis?”

Oh, aku lupa dia pernah membaca tulisanku! Mengesalkan saat ia kembali membicarakannya. Aku hanya diam, menutup catatanku.

“Atau itu ditulis karena kamu akan terus menyimpannya sampai mati?" tanya dia lagi. Sekarang sudah berdiri di depanku. "Bodoh sekali…”

“Terserah apapun yang mau kamu katakan. Itu urusanku…," kataku, segera mengemasi semua barang-barangku dan melempar bukuku ke dalam tas. Aku jadi tidak sabar ingin segera pergi, menyendiri di sini sepanjang siang tidak lagi menjadi menyenangkan setiap dia ada.

“Daripada menulis yang seperti itu, ada baiknya kamu menulis yang lain. Dongeng misalnya. Roman misalnya. Masih banyak," orang itu masih berkomentar, tampaknya tak peduli sekalipun aku sudah mau pergi. "Karena…suatu hari nanti, ketika kamu membacanya lagi, hanya akan membuat sedih. Teringat lagi pada apa yang ingin dilupakan”

Aku masih diam saat menyeret langkahku meninggalkannya. Tahu apa dia tentang apa yang harus aku lakukan?

Tapi, dia masih memandangiku –mungkin ia juga meghitung setiap langkah yang kuambil setiap menghindarinya. Tapi, aku tidak bisa mengingkari kalimatnya yang terakhir adalah benar. Jadi aku menoleh sekali dengan penuh kehati-hatian. Aku mengamati sosoknya sekali lagi. Bagiku dia asing, tapi kata-katanya seakan telah mengenalku sekian lama sehingga ia tahu bahwa yang kutakutkan akan benar-benar terjadi.

Dia tidak mengatakan sesuatu lagi. Dia membiarkanku pergi dengan kembali duduk di pinggir atap dan entah kenapa aku menjadi khawatir kalau dia benar-benar melompat. Jadi, aku menghampirinya untuk mengajukan sebuah pertanyaan.

Aku tahu itu pertanyaan yang bodoh dan dia terkekeh sambil menoleh padaku. “Kamu benar mau mati?" tanyaku.

Dia menggoyang-goyangkan kakinya yang menjuntai dengan santai. “Untuk apa aku hidup?" balas dia acuh.

Aku terkesiap. "Untuk apa hidup?" aku mengernyit. "Ayam potong saja tahu dia hidup untuk apa”

Liong kembali tertawa. “Kenapa disamakan dengan ayam?” balasnya.

“Bukan menyamakan. Tapi, membedakan. Ayam potong hidup untuk jadi makanan manusia. Itu ayam. Ingat, itu ayam. Kenapa kamu yang manusia saja tidak tahu tujuan hidup? Atau… paling tidak, adakah keluarga yang kamu pikirkan perasaannya?”

Liong menggeleng. "Tidak," jawabnya santai. "Aku tidak punya keluarga”

“Benar itu? Bagaimana dengan ayah? Ibu? Ke mana mereka?”

Liong menggedikan bahunya. "Dulu ada," jawabnya. "Ketika masih kecil sekali. Baru saja bisa panggil Mama atau Papa, tiba-tiba mereka hilang. Tidak tahu perginya ke mana”

“Saudara?”

“Ada satu. Tapi tidak di sini”

Aku kembali terdiam. Memandangnya dengan penuh tanda tanya. “Lalu kenapa kamu tidak percaya Tuhan?” tanyaku kemudian.

Liong tidak menjawabku beberapa saat. Matanya jauh menerawang ke ujung laut yang bisa terlihat dari sini. Aku masih menunggu sambil memandangi gelang salibnya. Dia benar-benar sangat aneh. Untuk sementara ia tidak pernah menjawabku.

“Kamu?" tanya Liong tiba-tiba. "Setahuku, jika kehidupan seseorang itu begitu sempurnanya, ia pasti tidak akan menyendiri, menuliskan kekurangannya di dalam buku. Karena ia tahu, membicarakannya pun, orang akan berkata ‘banyak-banyaklah bersyukur’. Tapi, sebenarnya bukan itu. Ada sesuatu yang lain yang tidak bisa diungkapkan…”

Kenapa dia bisa mengetahuinya dengan sangat jelas? Seolah ia telah merasakan lebih banyak dari yang aku tahu selama ini tentang ‘kehilangan’.

 “Aku punya kakak perempuan," kataku. "Tapi, sudah lama pergi, tidak tahu dia berada di mana. Kalau aku tahu, aku sudah pasti menemuinya…”

“Kenapa dia pergi?”

Aku tertunduk. “Dia keras hati,” jawabku singkat. “Aku selalu berharap dia bisa kembali….”

“Seseorang pergi dari kehidupan kita karena ia ingin menjadi bagian dari sesuatu yang lain yang tidak bisa dia dapatkan dari kita," kata Liong. "Dalam hidup, itu sebuah keharusan bagi setiap orang. Kita pun juga seperti itu nanti…”

“Seperti menikah? Lalu melepaskan bagian yang bersamanya selama ini?" tanyaku.

“Terkadang itu harus…" tegas Liong. "Bukan hanya kamu yang memiliki saudara yang hilang. Aku juga, bahkan lebih menyakitkan. Adik yang lahir hanya beberapa menit setelah aku, dia sudah menemukan bagian lain dalam hidupnya sehingga dia tidak membutuhkan bagian di mana kami tumbuh bersama di negeri orang, yang bukan dengan ayah dan ibu kandung. Menghadapi sepi bersama sejak kecil, tiba-tiba saja dia memutuskan untuk pergi jauh, mengejar cita-cita yang artinya meninggalkanku”

“Kamu bukannya punya cita-cita juga?”

Liong tersenyum. "Aku pernah ingin menjadi seorang dokter. Dulu. Tapi, tidak bisa”

“Kenapa?”

“Bisakah seorang dokter adalah orang yang sakit-sakitan sepertiku? Yang dari kecilnya bergantung kepada orang lain?" jelasnya.

“Sakit? Parahkah?” aku mengernyit, tapi tidak banyak yang bisa Liong jelaskan padaku. “Kamu putus asa karena itu ingin mati?”

Liong tidak menjawabku. Tapi, aku mengerti hanya dengan memandangnya saja. Dia kurus, pucat, dan sesekali terlihat sedang menahan sakit. Aku tidak pernah bertanya sakit seperti apa yang menyiksanya setiap ia diam dan tertegun. Tampaknya ia juga tidak suka ditanyai karena setiap aku mengamati perubahan air mukanya, ia menghindar.  Liong sangat tertutup dan aku nyaris tidak pernah ingin tahu.

Tapi, kami selalu bertemu di sana. Dia menyapaku sambil tersenyum lalu aku duduk dengan semua buku-bukuku. Kami berbicara hanya pada saat dia punya pertanyaan kenapa adat orang Minang berbeda dan itu bisa menjadi pembicaraan yang panjang. Dia mendengarkanku dengan baik dan sesekali tertawa. Khususnya tentang adat pernikahan orang Minang. Mungkin ini menjadi menarik baginya karena rumor yang terdengar di kalangan orang luar bahwa pengantin wanita harus membayar uang jemput ke pihak keluarga pengantin laki-laki. Tapi, sebenarnya tidak semua adat Minang seperti itu. Seperti kata pepatah, lain lubuk lain ikannya, setiap daerah memiliki adat yang berbeda. Meskipun telah identik dengan sebutan ‘membeli’, tapi di keluargaku sendiri yang lebih mengarah kepada syariat Islam, tidak ada istilah uang jemput. Aku sudah melihat pengalaman itu pada sepupu-sepupuku yang telah menikah.

Ini pertama kalinya aku berbicara akrab dengan orang lain selain Attar. Agak canggung, tapi terasa menyenangkan terlebih ketika Liong menceritakan tentang kota asalnya yang selama ini kusebut Neverland –Jakarta. Betapa banyaknya orang yang ingin datang ke sana untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, demikian juga aku. Tapi,…

“Jakarta itu membosankan,” kata Liong. “Tidak ada yang menyenangkan di sana.”

“Kenapa?”

“Ya, begitulah. Sebagian besar orang menghabiskan hidupnya di jalan karena Jakarta itu macet. Padat dan udaranya kotor.”

Aku tertegun. Aku masih ingin pergi ke sana, setidaknya untuk melihat gedung-gedung tinggi –ya, aku memang sedikit kampungan.

“Aku juga terpaksa tinggal di sana,” keluhnya. “Kalau seandainya Papi tidak meninggal, aku akan tetap tinggal di sini”

Oh, jadi ayahnya sudah meninggal dunia? Lalu ibunya?

“Ibumu?” tanyaku, dengan hati-hati. Takut-takut kalau ia tersinggung.

“Ada,” jawab dia, lalu menatapku. “Aku tinggal dengan Encim”

Encim adalah bibi dari pihak ayahnya. Mereka tinggal di alun-alun pecinan –Kampung  Pondok, kota tertua yang kami punya di Padang di mana ada banyak sekali bangunan lama yang masih berdiri kokoh. Mayoritas masyarakat Kampung Pondok adalah orang Tionghwa. tempat itu berada tidak jauh dari Jembatan Siti Nurbaya dan Gunung Padang di mana konon katanya Siti Nurbaya yang melegenda dengan kawin paksanya dikuburkan di samping kekasihnya, Samsul Bahri. Dan dekat pula dengan muara Pantai Padang.

Menyusuri Kampung Pondok sama seperti menyusuri Kota Padang di era 70 – 80 an. Bangunan tua bekas jajahan Belanda tempo dulu menjadi hiasan hampir di setiap sudut. Sayangnya, tidak ada yang menarik dari kota tua karena pemerintah tidak benar-benar menjadikannya sebagai objek wisata seperti yang ada di Jakarta atau kota-kota lain. Kampung Pondok, hanya menjadi pemukiman biasa bagi penduduk setempat. Berjalan malam-malam di sana lebih seperti uji nyali ketimbang berwisata, karena bangunan bersejarah itu tak terurus. Hanya pada saat perayaan Cap Go Meh, Kampung Pondok menjadi lebih hidup. Pada hari ini, orang-orang akan berdatangan untuk melihat barongsai termasuk dari kaum pribumi. Tidak lama setelah itu pawai telong-telong akan digelar dan ribuan orang memadati jalan-jalan utama di Kampung Pondok.

“Encim tidak punya anak. Aku dan Han pernah tinggal dengannya sebelum kami dijemput dan dibawa ke Jakarta,” sambung Liong.

Sedangkan Han adalah adiknya. Tidak jelas bagaimana hubungan ia dengan Han, tapi sama seperti ayah dan ibunya, Liong juga tak bercerita banyak. Untuk pertama kali, aku merasa begitu ingin tahu. Mungkin karena ini pertama kalinya juga, aku mulai bisa mengabaikan semua tentang Attar. Dan bercerita dengan Liong membuatku merasa senang.

“Jadi…buku apa yang kamu baca?” dia mengalihkan pandangannya ke sebuah buku novel di pangkuanku.

Aku membeli buku ini bulan lalu di toko buku yang tidak jauh dari kampus. Senja di Himalaya karya Kiran Desai.

“Cerita tentang apa?” tanya dia lagi.

Aku menilik bagian belakang buku di mana synopsis singkatnya tertulis. “Roman antara seorang perempuan berbudaya barat dengan seorang lelaki tradisional. Buku ini memenangkan penghargaan”

“Kamu tidak suka buku lokal?” tanya dia.

“Belum ada yang suka,” jawabku singkat. “Kalau cuma sekedar percintaan dengan bahasa gaul, aku sudah punya banyak. Tapi, aku menyukai sastra. Ingin belajar bagaimana bisa menulis dengan cara seindah ini…”

“Apa kamu sudah pernah menulis cerita sendiri?”

Aku menggeleng. “Dulu,” jawabku teringat pada coretan-coretan di buku tulis yang pada akhirnya kubakar karena tak ingin ada yang membacanya. Lagipula saat itu, aku mulai sibuk dengan kuliah dan sedikit putus asa karena ayah tidak suka oleh sebab menjadi penulis bukan profesi yang menjanjikan.

“Kamu pernah menulis tentang apa?”

“Puisi.”

Liong memusatkan perhatiannya padaku. “Puisi cinta seperti untuk seseorang yang bernama Attar itu?” tanya dia dan itu seakan menamparku, membuatku panas. Tapi, aku hanya tertunduk. Baru teringat kalau tulisan-tulisan bodoh itu pernah terbaca olehnya. Aku menghela nafas, sudah lebih seminggu aku mati-matian menghindari Attar dan ini terlihat menggelikan –saat aku berlari sekencang yang aku bisa sesaat sebelum kami berpapasan di lorong. Dia mulai tertawa mempermainkanku dan aku hanya cemberut. Tapi, aku sudah tidak marah lagi. Aku hanya merasa bodoh, seperti puisi-puisiku tentang Attar.

“Menulis cerita lebih menyenangkan,” komentar dia. “Bisa menghibur daripada membaca tulisan sendiri tapi malah membuat sedih”

“Aku…” sedikit termenung, aku membuang pandang ke hamparan laut di depan kami, “tidak tahu harus menulis apa”

“Mulailah menulis,” kata dia, “Kekuatan seorang penulis hanya menulis, bukan?”

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments