๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Part II
Buku Harian
Lembar 1
Padang, 04 April 2007…
Seseorang menyenggolku hari ini. Aku mengenalnya, dari setelan kemeja lusuh dan jeans robek yang dia kenakan, rambutnya yang acak-acakan tidak jelas dan juga pirang itu. Masalahnya aku juga tahu bahwa dia juga biang masalah yang sering membuat onar di kampus apalagi di luar. Tidak heran, dia melesat pergi dengan wajah cemberut bagai angin tornado yang menerbangkan buku-bukuku ke segala penjuru!
Tapi, ada seorang lagi. Tidak seperti orang aneh itu, hal pertama yang aku lihat saat menyadari uluran tangan yang ikut memunguti bukuku adalah sebuah liontin gelang berbentuk salib yang terbuat dari batu giok. Gelang itu melingkar di pergelangan tangan seorang lelaki yang memberikan sebuah buku milikku dan seketika aku terpana. Lelaki yang sangat asing. Dengan mata sipit dan bola mata yang hitam pekat. Hidung mancung dan tulang pipi tirus dengan cekungan lesung pipi yang dalam bahkan di saat ia tidak tersenyum.
Tapi, siapa dia? Aku belum pernah melihatnya. Mahasiswa baru kah?
Oh iya, tugas Vocabulary untuk besok: carilah sebuah kata unik yang tidak banyak diketahui orang dan jelaskan maknanya. Kira-kira apa?
Setengah berlari, aku melewati koridor yang hampir sepi menuju tangga ke lantai dua –kelasku berada di sana.
“Zuri!” panggil seseorang yang tiba-tiba menghentikan langkahku yang tergesa-gesa.
Ibu Teresia, dosen Vocabulary yang umurnya sudah lebih dari enam puluh tahun. “Kamu bisa tolong saya sebentar?" tanya dia saat aku menghampirinya.
Aku mengangguk. Jika ia memastikan Ibu Teresia belum masuk kelas, aku tidak perlu harus ke sana lebih dulu terburu-buru.
Satu tumpuk buku latihan yang dikumpulkan minggu lalu tersusun rapi di atas mejanya. Ibu Teresia ingin mengembalikannya hari ini. Aku pun mengambil semuanya tanpa meninggalkan satu pun di atas meja. Walaupun aku tidak yakin bisa karena harus menenteng tas dan barang-barangnya bersamaan. Ibu Teresia sudah mendahului dan aku baru sampai di ambang pintu, ketika semua yang kupeluk dengan kedua lenganku terlepas.
“Oh!” aku terkejut.
Aku langsung meraihnya. Buku itu tidak sama dengan buku-buku yang lain. Buku-buku itu adalah rahasiaku.
“Kamu selalu bermasalah dengan buku rupanya?" seseorang menegur dan membantu memunguti semua yang kujatuhkan dengan ceroboh.
Sebuah gelang giok berbentuk salib yang familiar itu kembali hadir di depanku. Seketika aku mengangkat kepalanya untuk bisa melihat dengan jelas.
Benar, ternyata orang itu kembali!
Aku mulai gelagapan. Tidak tahu mana yang harus aku raih lebih dulu karena tanganku kini tiba-tiba berkeringat dingin dan gemetaran. Lelaki itu sibuk mengumpulkan semua buku-bukuku saat aku malah hanya memandang tanpa satu patah kata.
“Ada apa?" Ibu Teresia tiba-tiba kembali, mungkin karena aku tidak kunjung menyusul ke kelas dan untungnya, dia sudah tidak menemukan buku-buku itu di lantai.
Aku menggeleng-geleng dengan canggung. "Tidak ada, Bu!” jawabku cepat, lalu membawa semua buku itu dan mengikuti Ibu Teresia.
Saat menaiki tangga, aku sadar bahwa ia meninggalkan buku catatan yang berharga itu! Oh Tuhan, kenapa bisa aku terlihat begitu bodoh?
Aku mempercepat langkah, mendahului ibu dosen tua itu agar bisa menaruh buku-bukunya di atas meja, lalu kembali ke bawah mengambil buku catatanku yang tertinggal. Aku berlari lagi dengan sangat cepat keluar kelas, menuruni tangga, sampai-sampai tidak melihat Attar baru saja lewat.
“Zuri?" Attar terlihat ingin naik ke lantai dua.
Tapi, aku mengabaikannya. Aku kembali ke ruang Ibu Teresia yang suda kosong tapi orang Tionghwa itu masih di sana. Dia sedang membuka buku catatanku!
Astaga! Orang itu membacanya!
Aku menarik nafas.“Ehm…bisa dikembsalikan?”
“Zuri?" Attar tiba-tiba datang, dia tampak heran. Memandangku, lalu orang tak dikenal di sebelah sahabatnya itu. “Kelasnya sudah dimulai. Kenapa kamu masih di sini?”
Aku segera meraih buku catatannya, menunjukan bahwa inilah satu-satunya alasanku kembali ke sini dengan tergesa-gesa. “Ketinggalan…” jawabku singkat. Dengan buru-buru, aku meninggalkan ruang itu, melewati Attar yang berdiri di pintu. “Sampai nanti!”
Kalau bodoh itu penyakit menular, kira-kira siapa yang menularkan ini padaku?
***
Komentar
0 comments