๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Rexi yang aku tahu selama ini cuma cowok perfeksionis ternyata bisa main drama, walaupun dia nggak bisa melakukannya dengan benar. Gimana pun juga, seni itu beda jauh sama membaca buku dan menghafal pelajaran. Kalau belajar kan nggak perlu improvisasi karena kita akan keluar dari teori yang malah bikin kita salah dan rapor jadi merah. Tapi, seni, semakin kita mampu untuk improvisasi, semakin indah dilihat dan dirasakan.
“Kenapa? Kamu mau mundur?” aku sangsi melihat Rexi kelihatan lesu begitu selesai latihan dan tampangnya murung sekali.
Dia menggeleng-geleng, berusaha menyembunyikan kalau dia sebenarnya nggak mampu. Seni bukan dunianya, aku mengerti. Tapi, sikapnya membuat aku jadi merasa bersalah.
Aku memang nggak memaksanya jadi Coppelius, dia sendiri yang menginginkannya karena bosan melihat keributan yang selalu hadir di depan matanya dan itu sangat mengganggunya. Aku nggak sengaja menyeret dia untuk melakukan sesuatu yang nggak mampu dia lakukan. Aku memperhatikan setiap kali Rexi berdiri di panggung, menghafal dialog dan gerakan, dia seringkali salah. Anak-anak lain mengeluh karena harus mengulang adegan-adegan yang Rexi nggak melakoninya dengan sempurna.
Semua tau, Rexi hampir nggak pernah salah. Dia pintar. Tapi, panggung itu seolah menunjukan bahwa dia nggak sepintar itu. Dia payah dalam berimprovisasi. Dan kami seperti melihat orang lain dengan wujud Rexi Adam Prawira –tapi itu bukan dirinya.
“Kalau kamu nggak sanggup, kamu boleh mundur,” kataku, cukup menyesal.
Dia menoleh padaku, sambil tersenyum. “Kamu meremehkan saya?” tanya dia, menantangku.
Aku jadi bingung. “Enggak sih…tapi…,”
Rexi terdengar tertawa. “Kalau saya mundur siapa lagi yang mau memerankan Dr. Coppelius yang gila itu?” tanya dia. “Bu Mita sendiri bilang, kalau saya cocok sama peran itu. Karakternya yang terobsesi jadiin boneka ciptaannya hidup, sama seperti saya yang selalu ingin sesuatu sesuai keinginan. Berpikir sistematis sama segala hal di sekitarnya. Seolah-olah saya Dr. Coppelius di dunia nyata…tapi bedanya saya nggak bisa nari….”
Aku ikut tertawa, sedikit senang, kalau ternyata dia nggak menyerah. Tapi,…
“Kamu nggak nyaman karena saya diketawain sama yang lain?” tanya dia, menatapku serius dan aku cuma bisa prihatin.
“Beda, tau…,” kataku pelan, sambil menghela nafas. “Kamu Rexi Adam Prawira, tempat kamu bukan di sana. Tapi, di perpus dan… podium juara umum,”
“Memang kenapa kalau saya Rexi Adam Prawira? Apa saya ini bukan manusia? Apa saya nggak boleh salah?” dia masih menatapku serius dan aku terhenyak. Dia menarik nafas lalu tersenyum, memastikan bahwa dia nggak keberatan dengan perubahan ini. “Saya bukan dewa, Ellody….”
Aku tertegun, memandang ekspresinya yang sekarang sudah lebih tenang.
Rexi menatap ke panggung pementasan, dan tersenyum lagi. “Di sana…saya bisa jadi manusia,” kata dia. “Bukan dewa,”
Aku mengerti bahwa selama ini orang-orang –bahkan termasuk aku sendiri, memandang dia sebagai seseorang yang luput dari kesalahan. Seolah-olah lupa bahwa nggak ada manusia yang sempurna. Dan di panggung itu ia seolah ingin menunjukan bahwa dia nggak jauh beda dari yang lain. Dia juga punya ketidakmampuan –bahkan itu sesuatu yang sangat mudah aku lakukan. Setiap orang itu memang berbeda satu sama lain.
“Kamu mau pergi kerja sambilan kan?” tanya dia, mengingatkanku.
Aku langsung kelabakan. “Oh iya!” aku tertawa, nyaris lupa.
Rexi masih tersenyum padaku. “Kamu super sibuk ya?” komentar dia. “Gimana mungkin kamu bisa ngelakuin hal sebanyak itu dalam sehari?”
“Satu detik itu berharga,” kataku. “Aku juga ngelakuin hal-hal yang sebetulnya juga nggak perlu penghargaan dari orang lain, jadi kalau aku nggak ingin aku nggak akan ngelakuinnya. Nggak punya deadline. Hanya ngeluarin semua hal yang ada di kepala, karena pikiran nggak bisa menampung semuanya dan rugi kalau aku lupa. Makanya selagi ingat, aku tulis di buku,”
“Masa sih kamu bisa ngelakuin semuanya sendiri?” dia masih nggak percaya dan aku hanya menghela nafas, Rexi nggak akan mengerti. “Tapi, di antara semua hobi yang kamu kerjain, pasti ada satu yang paling kamu suka kan?”
Aku mengangguk. “Aku paling suka melukis,” jawabku.
“Kamu juga melukis?” dia heran.
“Di rumah,” jelasku lalu melirik jam tanganku, hampir jam tiga sore dan aku harus segera pergi. “Aku punya banyak lukisan di rumah,”
“Apa saya boleh lihat lukisan kamu?” tanya dia.
“Hm…,” aku berpikir. “Boleh. Tapi, jangan hari ini, aku harus kerja,”
Rexi mengangguk-angguk dan membiarkanku pergi.
Hari-hariku masih akan sangat panjang!
ooOoo
Komentar
0 comments