[Hal.23] [Ch.4] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Online Novel Dewasa Romantis

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Esok hari, di latihan drama kita ketemu lagi setelah seharian di kelas Rexi terlalu serius sama setiap mata pelajaran. Aku mengambil buku dan pena, menulis apa yang ada di kepalaku saat ini. Siang yang terik, dan suara serangga yang bercokol di pepohonan, terdengar seperti musik yang punya ciri khas masing-masing –seperti piano yang klasik, biola yang mendayu-dayu, dan gitar yang dinamis. Begitulah aku menggambarkan sesuatu di sekitarku. Begitu juga dengan orang-orang yang kukenal, mereka mempunyai warna. Andin adalah biru, seperti laut dan langit karena dia periang. Genta adalah orange, seperti jeruk, karena dia brilian dan cerdas. Sedangkan Monalisa adalah ungu, karena dia punya pengaruh. Dan..Rexi adalah hijau, seperti hutan karena dia…


“Kamu nulis apa?” Rexi sudah duduk di sampingku.

Ternyata sudah istirahat dan sekarang giliran ‘Swanilda’ dan ‘Franz’ yang berada di panggung. Aku segera menutup buku karena nggak ingin dia melihat tulisanku yang jelek.

Dia hanya tersenyum melihat reaksiku yang malu tulisanku dibaca.

“Jadi ini yang kamu kerjain kalau belum kebagian peran?” tanya dia, kelihatan mau tau sekali.

“Hm…,” aku mulai berpikir untuk mengatakan sesuatu yang menyenangkan. “Coba deh kamu bayangin, berapa lama kita buang-buang waktu dalam sehari cuma untuk nunggu?”

Rexi diam dan hanya memandangku.

“Entah itu nungguin bus, nungguin guru masuk kelas, menit-menit itu apa nggak bakal jadi sia-sia kalau kita nggak ngelakuin sesuatu?” kataku.

Rexi mengangguk. “Karena itu saya suka baca,”  kata dia dan aku tersenyum. Ini untuk pertama kalinya kita sependapat setelah sebelumnya dia selalu bilang aku ini harus begini atau begitu –contohnya, aku harus rajin belajar, nggak boleh kebanyakan main dan nongkrong, dan… pakai seragam dengan rapi.

“Yah, tapi bacaan kamu ngebosenin…,” kataku, memutar mata ke langit-langit lalu meliriknya untuk sekedar mempermainkannya. Tapi, cowok itu cuma tersenyum padaku dan bikin aku ge –er.

Oh-My-God, lampu merah di dalam kepalaku mulai berkedip-kedip dan entah sejak kapan aku mulai merasa aneh setiap dia memandangku begitu. Tatapan yang seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi dia malah memalingkannya dan bikin aku jadi penasaran. Apa kira-kira yang tersirat di sana?

“Habis kerja sambilan kamu ngapain?” tanya dia dan Oh-My-God lagi –kenapa Rexi jadi perhatian gini sih?

“Ngerjain PR kalau ingat,”  jawabku sedikit nyengir dan betapa konyolnya itu dengan wajah yang tersenyum lebar.

“Kalau ingat?” dia mengernyit.

“Aku nggak suka belajar…,” aku mengaku. “Tapi… bukan berarti aku bego ya….”

“Saya nggak bilang kamu bego.” kata dia, tapi dengan nada ngejek, lalu terpingkal-pingkal.

Aku mendengus lagi. “Kamu mana ngerti? Aku beda sama kamu,”  kataku sok keren. “Kalau kamu kan pintar, juara kelas dan disayang sama guru. Kalau aku ajaib,”

Rexi masih terpingkal-pingkal. “Ajaib? Apanya yang ajaib?” pertanyaannya itu cukup melecehkan.

“Aku ini bisa mikirin banyak hal sekaligus. Mau ini mau itu, semuanya bisa aku lakuin!” kataku penuh semangat sambil merentangkan tangan dan Rexi kelihatan kaget –kepalanya hampir kena. Lalu aku tersenyum lagi, karena hanya itu yang aku punya untuk nunjukin bahwa aku bahagia. “Aku ingin membuat sesuatu yang baru, bukannya nerusin yang udah ada….”

“Contohnya…,” dia kelihatan serius lagi.

“Hm…,” aku berpikir sebentar. “Seniman itu selalu berpikir untuk berkarya. Seniman adalah sebuah dunia yang ada dalam diri seseorang,”  kataku, menatapnya, dan dia membalasku. “Karena kenyataan kadang nggak bisa dirubah,”

“Kamu mau jadi Doraemon? Ingin begini, ingin begitu…,” Rexi masih saja meledek. Yah, kalau hanya itu hal yang bisa bikin seakrab –sedekat ini dengannya, aku pun hanya tersenyum. Kita baru bisa melihat kebaikan dalam diri seseorang itu kalau kita yakin bahwa itu benar-benar ada di sana.

“Emangnya kamu…,” kataku, cemberut. Memandang wajahnya yang tertawa itu baik-baik, mencari kata-kata yang pas untuk membalas ledekannya. “Aku bisa lihat beberapa tahun dari sekarang kalau kamu bakal lulus dari sekolah ini jadi juara umum, kuliah di luar negeri, dapat gelar cum laude, dan paling banter jadi eksekutif muda,”  kataku, lalu terkekeh. “Menikah di usia 28 tahun dan cukup mapan dijodohin sama orang tua dari kalangan sesama,”

“Sesama?” Rexi mengernyit.

“Yah, orang kaya biasanya dapat orang kaya juga. Menikah di Bali terus bulan madu ke luar negri. Punya anak dua, yang disekolahin di sekolah internasional…,” sambungku. “Bener-bener… ending yang happily ever after banget,”

Rexi terpingkal-pingkal lagi. “Siapa kamu yang bisa nebak jalan hidup saya?” cetusnya, sambil menolak kepalaku dengan ujung jari. “Kamu pikir sinetron? Atau kamu mau sok-sok ngeramal?”

“Ya ampun, Rexi! Aku bukan dukun ramal, kali!” gerutuku menyingkirkan tangannya dari kepalaku. “Itu paradigma umum yang biasanya dipakai sama orang kaya! Coba deh mikir, kamu disekolahin mahal-mahal dan dikasih fasilitas enak, emang orang tua kamu terima kalau cuma kerja sama orang atau mungkin menikah sama cewek nggak berpendidikan?”

Rexi menggeleng-geleng. “Kamu nyeremin deh,”  kata dia.

“Oke!” kataku sambil berdiri di depannya dan menunjuk tepat ke wajahnya yang bengong. “Kita lihat aja nanti,”

Dia masih ketawa nggak jelas. “Oke,”  menjawab tantanganku. “Kalau misalnya hidup saya nggak seperti itu gimana?”

Aku menggeleng-geleng. “Udah deh, Rexi…,” kataku, menepuk-nepuk pundaknya, memberi pukulan  telak supaya dia nggak meragukan tebakanku. “Terima aja takdir kamu,”

Tapi, kelihatannya dia nggak setuju. Di luar semua teori yang aku tau selama ini aku yakini dengan melihat gimana cara seseorang itu hidup di lingkungannya. Dan aku melewatkan teori bahwa manusia itu makhluk sosial, dan manusia dapat memberi pengaruh serta membuat perubahan.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments