๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Entah sejak kapan aku mulai dibuntuti dan Rexi seperti seekor anak ayam yang kehilangan induknya di kelas drama –dia belum bisa menyesuaikan diri sama yang lain. Aku masih duduk di deretan pemain figuran dan dia sudah bergabung sama ‘Swanilda’ dan ‘Franz’di depan sana. Harusnya aku juga ada di sana, tapi di hari yang sama saat Monalisa mengundurkan diri, Bu Mita seolah nggak punya pilihan lain memberikan mahkota terhormat itu padaku, dengan yakin, aku menolaknya.
Rexi protes, selalu saja ia mengeluh tentang segala sesuatu yang harus jadi sempurna di matanya. “Kamu kerja keras untuk semua itu kan?” tanya dia begitu hari pertamanya selesai. “Atau kamu mau mundur begitu tanggung jawab kamu selesai? Kok jadi nggak prinsipil gitu sih?”
Aku berlalu dan dia seolah-olah ingin menjadikanku ‘Coppelia’-nya –berada satu panggung dengannya melakoni seorang boneka dan dokter gila yang menciptakannya. Tapi, kenapa?. Apa Rexi nggak punya orang lain yang bisa dia atur dengan sistematis seperti hidupnya?.
“Aku…,” aku mulai bingung harus jelasinnya dari mana. “Selama ini yang orang tau, aku iri sama Monalisa. Aku cuma nggak mau bikin orang-orang berpikir kalau aku sengaja masukin kamu supaya dia keluar...yah,…kamu kan tahu penolakan itu bikin dia benci banget sama kamu….”
“Cuma itu aja?” tanya Rexi. “Kamu takut sama anggapan orang?”
“Rexi…,” kataku, membalas tatapannya itu. “Coppelia itu nggak sama kayak Putri Salju atau Cinderella. Coppelia itu boneka yang pandai menari, yang bikin Franz jatuh cinta karena mengira dia manusia…dan yang jadi Coppelia itu harus bisa nari juga,”
“Emang kamu nggak bisa?” tanya Rexi.
“Bisa,” jawabku, tergelak. “Jingkrak-jingkrak nggak jelas pakai lagu disko.”
“Saya serius, Ellody,” kata Rexi, masih dengan tatapan yang bikin aku terpana ke wajahnya.
Aku masih ketawa saat Rexi mulai gerah sama candaanku. “Aku tahu siapa yang bisa jadi partner kamu,” kataku, tersenyum untuk mengakhiri kekakuannya yang lama-lama bisa bikin aku gerah kalau bicara dengannya. Aku menarik lengannya untuk mengikuti langkahku, menunjukan padanya bahwa ada orang yang lebih layak dari aku untuk kesempatan itu.
Diana –seorang pemeran pembantu lain yang sama-sama nggak masuk hitungan seperti aku. Dia nggak terpilih hanya karena berkaca mata dan berkulit putih pucat, selain itu juga introvert. Tapi, nggak banyak yang tahu kalau dia seorang ballerina. Dia berbakat, tapi ia nggak pernah menunjukannya di hadapan orang lain. Dan Diana nggak pernah tahu kalau aku pernah melihatnya menari sekali di panggung saat kelas drama selesai.
“Kamu serius?” Rexi terlalu banyak bertanya seperti orang bego yang nggak tahu apa-apa.
Aku tersenyum lebar. “Iya,” jawabku. “Aku udah bilang Bu Mita kok. Nanti Diana pasti dipanggil untuk audisi khusus,”
Rexi berusaha untuk tersenyum, tapi geleng-geleng kepala. “Saya nggak ngerti deh sama kamu…,” kata dia. “Harusnya kamu nggak nyia-nyiain apa yang kamu dapat dengan usaha keras,”
Aku masih tersenyum lebar padanya, lalu menghela nafas. Aku punya banyak alasan menolak peran Coppelia itu. “Aku nggak mau latihan lebih lama dari yang lain,” jelasku. “Pulang dari sini, aku kan harus kerja sambilan. Kalau latihannya lama, bisa-bisa aku dipecat. Anak SMA kan susah cari keja sambilan….”
Tiba-tiba dia ketawa sendiri. “Katanya kamu penggila seni, pemimpi yang nggak pernah kapok…,” itu terdengar seperti ejekan.
Aku mendengus. “Yah, pemimpi pun kadang-kadang juga harus realistis dong,” kataku. “Hidup itu butuh uang. Kalau nggak punya uang, gimana bisa hidup? Sekolahku siapa yang bayarin?”
“Orang tua kamu nggak ada?”
Aku menggeleng-geleng, tanpa jawaban lisan. Dan dia kelihatannya mengerti agar jangan bicara soal keluarga. Habisnya, apa yang bisa aku jelasin soal itu?. “Ada Genta sama Andin kok,” kataku.
Dia mengangguk-angguk dan kami nggak lagi membahas Coppelia. Rexi juga nggak lagi bertanya soal keluargaku, sesuai harapan, dia sedikit lebih ramah sekarang. Walaupun, makin akrab, makin ketahuan dia suka mengatur. Yah, orang perfeksionis itu memang menuntut sesuatu agar sesuai sama keinginannya. Tapi, dia baik juga. Aku ditawari lagi naik mobilnya dan diantar pulang, tapi… mobil mewah itu nggak cocok denganku. Kali ini aku menolak dengan sopan, dan ia nggak memaksaku lagi seperti kemarin –mana tau cuma basa-basi. Yah…bisa jadi.Tapi, karena ia tersenyum padaku sebelum mobilnya melaju, aku berubah pikiran.
***
Komentar
0 comments