[Hal.21] [Ch.4] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Online Novel Dewasa Romantis

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Aku sama sekali nggak mengerti. Segala hal yang awalnya terlalu sulit untuk dilakukan ternyata memiliki penyelesaian yang mudah. Aku menyebutnya keajaiban dari seorang Rexi yang aku pikir hanya akan bikin aku patah semangat dengan bahasanya yang kaku dan arogansinya sebagai murid teladan. Sayang, di saat aku pikir masalah selesai, satu lagi datang menyulut persoalan yang lain.

Esok hari saatnya latihan dimulai dan anggota klub seni baru saja merasa lega, ada satu lagi yang bikin ulah. Siapa lagi kalau bukan Monalisa, sang Coppelia yang dielu-elukan.

“Monalisa sekarang juga mundur?” Genta saja nggak percaya, apa lagi aku.

Aku diam dan murung. Apa mereka lagi-lagi bakal menyalahkan aku?

“Kok gitu sih?” tanya Genta lagi.

Aku melirik ke kanan, di mana Rexi duduk dengan santainya sambil baca buku, seolah nggak terjadi apa-apa. “Gara-gara dia…,” jawabku pelan, walaupun aku juga nggak yakin Rexi adalah alasan paling masuk akal bagi Monalisa buat mundur dari peran yang selama ini dia banggakan.

Rexi menoleh ke arahku dengan wajah merengut. Mungkin dia dengar kalau sekarang aku malah menyalahkannya.

Gimana enggak?, aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba untuk positif thinking bahwa aku nggak akan disalahkan lagi karena memilih Rexi. Sementara Genta masih menunggu jawaban jelas dariku. “Monalisa nggak mau sepanggung sama cowok yang pernah nolak cintanya mentah-mentah,”  jawabku, semakin lemas dan duduk kembali di kursiku. Lalu melirik Rexi lagi –benar-benar cowok yang nggak bisa disentuh.

Andin malah ketawa. “Beneran, Rex?” tanya dia langsung ke yang bersangkutan.

Rexi hanya angkat bahu dengan cuek dan melanjutkan membacanya.

“Terus sekarang?” tanya Andin.

Aku hanya menggeleng. Aku sendiri juga bingung. Yah, walaupun, aku punya kesempatan untuk maju jadi Coppelia –yang mana itu impian terbesarku sejak masuk ke sekolah ini, jadi pemeran utama. Tapi, entah kenapa rasanya kurang sreg. Bingung lagi, aku kembali ke aula, tempat latihan drama yang seharusnya sudah dimulai –sama Rexi yang kelihatan nggak yakin bakal menunjukan sisi lain dari dirinya yang nggak banyak diketahui orang (…dan masa bodoh soal itu). Tapi, kalau seandainya si heart breaker ini nggak menolak cewek se-kece Monalisa dengan cara yang menyakitkan, posisiku nggak akan lagi-lagi ada di ujung tanduk.

Bu Mita berada di antara pemain lain dan sedang memberi pengarahan walaupun kami belum punya Coppelia yang baru. Sepertinya ada perubahan semenjak ancaman kepala sekolah yang akan mengganti pertunjukan kami dengan yang lain di pensi nanti –akibatnya usaha keras kami yang sudah jalan selama dua bulan ini bakal sia-sia.

“Kenapa harus Coppelia? Kenapa nggak dongeng klasik Cinderella, Putri Tidur yang kayaknya nggak terlalu rumit?” Rexi bertanya bisik-bisik saat yang lain serius mendengarkan Bu Mita.

“Coppelia itu bukan dongeng,”  kataku, juga dengan suara pelan sambil sesekali melihat ke depan dan memastikan Bu Mira nggak sedang melihat kemari. Bisa-bisa dia akan menegur namaku lagi dengan raut gusar. “Awalnya itu cerita dalam pertunjukan ballet. Tapi, terus berkembang di pertunjukan sendratari,”

“Kenapa harus Coppelia?” tanya dia lagi, kedengaran nggak sabaran.

“Coppelia itu cerita yang rumit, lucu juga,”  jelasku. “Udah deh, nanti kamu bakal dikasih naskah dan tahu alurnya,”

“Terus? Coppelia-nya?” Rexi tiba-tiba kelihatan dungu. “Apa kamu bakal menggeledah sekolah lagi?”

Aku diam.

“Atau…kamu yang bakal jadi Coppelia-nya?” tanya dia, serius dan menatapku lekat-lekat.

Aku bingung. Membayangkan poster pertunjukannya nanti. Coppelia dan Dr. Coppelius; Ellody dan Rexi Adam Prawira. Aku seolah mendapatkan chemistry dengannya, walaupun baru akrab beberapa hari ini. Tapi, yang pantas jadi Coppelia itu…sepertinya bukan aku.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments