๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Dewa yang Ingin jadi Manusia
Ellody
Ada yang aneh pagi ini. Entah perasaanku saja atau semua orang memang memandangi aku seolah aku ini artis atau… pecundang yang baru kalah. Padahal aku cuma libur sekolah tiga hari karena sakit. Sampai sekarang pun sebenarnya aku masih flu, tapi nggak mungkin libur kelamaan karena masalah di klub kesenian itu benar-benar nggak bisa bikin pikiran aku istirahat total.
Aku sadar, masalah inilah yang bikin aku nggak sembuh-sembuh juga. Dan… hatsyiiii!, hidungku geli dan makin mampet. Aku menarik tisu dari dalam tas dan langsung menyeka lendir menjijikan yang nempel di tanganku.
Lalu datanglah orang-orang itu. Monalisa, Tia dan beberapa anak dari klub kesenian. Seperti penagih utang.
“Lo udah tau apa kata kepala sekolah?” tanya Monalisa, wajahnya geram seolah dia mau menjambak rambutku.
Aku duduk melongo karena sama sekali nggak tahu apa yang terjadi tiga hari belakangan. Salah mereka, pikirku kembali teringat mereka yang bikin aku sakit. Diguyur pakai air minum, kedinginan di mobil mewahnya Rexi dan aku sama sekali nggak istirahat karena harus kerja sambilan –sialnya, waktu pulang tiba-tiba hujan deras. Kurang sial apa lagi coba? Sekarang mereka ingin melakukan sesuatu yang lebih jahat lagi.
“Pensi kita terancam gagal, tau nggak?” kata Tia memperjelas maksud Monalisa dan aku cukup terkejut. “Waktu udah mepet tapi kita nggak bisa latihan sampai sekarang. Kalau dramanya nggak jadi kita bakal digantiin sama pertunjukan yang lain!”
“Gue tuh udah bertanggungjawab nyariin penggantinya Harris ke mana-mana. Bukan berarti gue nggak usaha,” kataku, membela diri. “Tapi, memang nggak ada yang mau. Gue nggak mungkin dong maksa mereka,”
“Kita nggak mau tau!” teriak Monalisa. “Lo bujuk Harris lagi deh sana supaya dia balik, kita udah setengah jalan. Bisa ribet kalau ngambil pemain baru,”
“Apa?” gue nggak setuju sama ide itu, lebih-lebih kenapa harus aku lagi yang melakukan semuanya. “Denger ya, Mon, semua boleh nyalahin gue seolah-olah gue yang bikin masalah sampai kejadiannya kayak gini. Tapi, lo sadar diri kan, kalau bukan gara-gara lo ngeresehin gue, ini nggak bakal terjadi. Harris juga tahu kalau sebenarnya lo yang mulai, makanya dia keluar!”
Monalisa menunjuk dengan kasar ke wajahku. “Lo jangan asal ngomong ya, looser!” teriaknya mulai kelihatan panik. “Lo ngelempar gue pake sapu pel! Sakit tau!”
“Ah, lo-nya aja yang lebay! Gue nggak sengaja, gue ngelempar sapu itu supaya lo ngepel air yang lo buang sembarangan! Mana gue tau tiba-tiba lo balik badan!” aku masih membela diri.
“Lo itu ya…,” Monalisa semakin geram dan ia mendekat selangkah seakan ingin menerkamku.
Aku nyaris ketakutan.
“Apa-apaan lagi sih ini?!” suara Rexi menyambar kami semua. Dia muncul lagi di saat-saat yang nggak terduga. “Kalau mau berantem jangan di kelas saya!”
Ampun deh cowok yang satu ini. Kirain mau ngebelain…, aku ngedumel sambil memutar mata. Sedangkan Monalisa membelalak melihat Rexi kesal.
“Gara-gara dia tuh!” Monalisa masih menunjuk-nunjuk aku dengan kasar. “Biang masalah! Harusnya lo tuh dideportasi ya ke kampung halaman lo yang kumuh itu! Dasar orang miskin nggak tau diri!”
“Apa lo bilang?” aku benar-benar nggak bisa menahan emosiku lagi. Secepatnya, aku meraih rambutnya dan menariknya sebelum dia yang melakukan itu ke aku.
Monalisa menjerit.
“Ellody!” Rexi ikutan menjerit dan ia menarikku karena Monalisa kesakitan. Sementara Tia dan yang lain hanya melotot saking terkejutnya.
“Lo boleh bilang gue miskin atau apapun yang lo suka! Tapi, jangan pikir karena gue miskin gue harus takut sama lo!” kataku, berteriak dan Monalisa terus-terusan menjerit.
Rexi tetap menarikku agar aku melepaskan rambut panjang Monalisa karena cewek itu histeris minta dilepaskan. Kalau bukan karena Rexi, Monalisa sudah pasti mendapatkan lebih dari itu.
“Dasar, barbar!” teriak Monalisa begitu rambutnya kulepaskan dan aku jadi ingin menjambaknya lagi tapi Rexi berhasil menghentikanku.
“Vdah!” bentak Rexi, menyudahi perang umpatan itu. Suaranya keras, bikin semua orang terkejut –bahkan yang ada di luar kelas sampai ikut-ikutan melihat. Ini pertama kalinya aku lihat Rexi emosi. Sampai-sampai mengatur nafasnya sendiri saja kelihatan susah. “Saya nggak ngerti sama kalian, tapi apa kalian bisa berhenti ngeributin masalah yang itu-itu aja kalau saya mau jadi Coppelius?”
What?, aku membelalak. Menatap Rexi yang mendadak jadi linglung. Seolah-olah dia mengucapkannya tanpa sadar.
“Hah?” reaksi Monalisa terlalu terlambat dan tatapan bengisnya melunak saat memandangi Rexi.
***
Komentar
0 comments