[Hal.18] [Ch.3] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Online Novel Dewasa Romantis

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Tanpa terasa kita sampai juga di SMA Bhakti Nusa, tempat adeknya Gladys sekolah. Menurut informasi, Starla masih kelas dua dan dia tertarik banget sama yang namanya seni. Dan mereka sama cakepnya –hampir mirip, walaupun menurut gue tetap kakaknya jauh lebih cantik dan… seksi.

Tapi, kita nggak langsung berangkat karena Starla masih ada urusan. Sialnya dia ngajakin kakaknya untuk nunjukin sesuatu yang kayaknya penting banget. Dan gue disuruh nunggu. Gue menarik nafas panjang –gue nggak tahu bakalan lama atau nggaknya mereka pergi. Lima menit rasanya kayak satu jam dan gue mulai bosan mandangin gedung sekolah yang sepi itu dari tempat parkir dan perasaan gue jadi nggak enak tiba-tiba

Ini sekolah atau gedung hantu sih?, gue mulai menggumam sambil lirik kiri kanan. Dan sekali lagi, gue menoleh ke depan kalau-kalau kedua orang itu balik dan kita bisa ninggalin tempat ini segera. Tapi, yang gue lihat adalah anak-anak berseragam putih abu-abu bersliweran di halaman depan. Gue kaget setengah mati! Kok…

Dalam satu kedipan mata refleks, mereka raib dari penglihatan gue. Apa-apaan nih?!Gue mulai ngeri sendiri. Sambil ngucek-ngucek mata, gue kembali memandang ke depan. Beneran, nggak ada siapa-siapa di halaman yang kosong! Lagi-lagi gue berhalusinasi dan ini bukan pertama kalinya gue merasa melihat sesuatu yang ganjil –sesuatu yang sebenarnya nggak ada, namun terasa nyata. Sama kayak sosok cewek yang kadang-kadang muncul begitu aja, terus hilang, sampai gue terbiasa. Tapi…tempat ini, rasanya akrab banget sama mata gue. Padahal, gue nggak pernah sekolah di sini dan bahkan juga belum pernah ke sini.

Rasanya gue tahu di mana gedung olahraga, kelas-kelas, ruang guru dan aula. Dengan mengikuti kilasan-kilasan yang muncul seperti gambaran yang hilang timbul, gue seolah menelusuri sesuatu yang ingin gue temukan. Ngelepasin rasa ingin tahu, kenapa gue ingin pergi ke suatu tempat yang gue nggak ngerti kenapa gue ingin ke sana. Sekolah itu sepi, gue berjalan sendirian di lorong-lorong yang panjang. Gue lihat bangku-bangku kantin yang disusun di atas meja dengan posisi kebalik. Gue melihat mading anak-anak di satu sudut yang ditempeli artikel, gambar, poster dan pengumuman penting. Seperti bukan pertama kali gue ngelihatnya. Akrab banget…

Dan gue kembali menelusuri lorong, karena gue lihat ada seseorang –cewek berseragam putih abu-abu, yang  berlari dengan gembira di depan gue sambil sesekali menoleh ke belakang –ke arah gue. Tapi, kedipan mata refleks gue kembali bikin dia raib.

Akhirnya gue sampai di luar, tapi bukan di halaman depan. Di depan gue berdiri sebuah gedung besar yang diberi nama Aula SMK Bhakti Nusa. Yang gue tahu itu ruang serbaguna yang bisa dipakai buat apa aja. Begitu gue mengintip ke dalam, gue baru tau kalau mungkin latihan dramanya Starla dilakukan di sini. Terlihat sebuah panggung, dan tribun yang melengkung mengitarinya. Dan bisa gue temukan kalau ternyata anak-anak itu masih latihan.

Tapi, gue nggak lihat Starla dan Gladys ada di sana. Hanya ada sekelompok anak cewek berkumpul di tengah-tengah dan mereka mengerubungi sesuatu. Kayaknya mereka nggak sedang latihan. Gue terus merhatiin apa yang mereka lakuin, sampai gue ngerasa ada yang aneh sama mereka. Mereka sedang nge-bully seorang anak yang mereka kepung! Gue agak syok dan tiba-tiba aja gue berlari ke sana, memecah kerumunan itu dan…

Seorang anak cewek terduduk di lantai dengan seragamnya yang udah basah banget. Dia termangu, memandangi tetesan air dari rambutnya yang panjang dan kedua tangannya yang gemeteran.

“Hei…,” gue menegur anak itu, dan dia masih termangu. Gue pandangi sekelilingnya, cewek-cewek itu kaget ngelihat gue tiba-tiba muncul. Rasanya gue pingin marah tapi…

“Fer?” seseorang menyentuh bahu gue. “Lo ngapain di sini?”

Gue tengok ke belakang rupanya Gladys. Busyet! Gue kaget banget. Tapi, senang ngelihat dia lagi. “Nggak gue cuma…,” gue mau ngejelasin kalau gue mau nolong seseorang yang lagi di-bully, tapi gitu gue nengok kembali ke depan, keramaian itu udah nggak ada. Bingung, gue perhatiin sekitar gue. Ternyata selain gue, Gladys dan Nela, nggak ada siapa-siapa lagi di aula seluas itu.

Gladys mandangin gue heran. “Lo kenapa?” tanya dia.

Gue menghembuskan nafas lelah. Syok! Bener-bener syok! Tapi, gue nggak bisa jelasin apa yang barusan gue lihat ke Gladys atau Nela, bisa-bisa mereka berpikiran kalau gue ini freak. Gue coba untuk tenang lagi, ngatur nafas dan tersenyum.

“Nggak, gue nggak kenapa-napa…,” jawab gue, mudah-mudahan raut muka gue udah kembali normal.

“Pergi yuk,”  ajaknya. “Urusan Starla udah kelar kok,”

Syukur deh! Gue tersenyum lega dalam hati. Kita segera ninggalin tempat itu dengan banyak pertanyaan di kepala gue. Kenapa halusinasi gue makin menjadi-jadi? Sebelum kita ninggalin aula yang kayaknya angker itu, gue sempat noleh ke belakang sekali. Nggak ada apa-apa. Gue semakin nggak ngerti, kenapa sejak kejadian itu gue ngerasa sering ngelihat sesuatu yang harusnya nggak gue lihat…

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments