[Hal.17] [Ch.3] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Online Novel Dewasa Romantis

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Semenit kemudian, dia menutup teleponnya dan gue masih mandangin dia seolah nggak pernah puas. Gue sadar, dia juga sadar kalau gue terkesima lalu tersipu. Makin greget udah. Gue heran juga, dia jadi malu-malu, seolah merespon tatapan gue yang penuh rasa suka yang menggebu-gebu. Tapi, terlalu cepat buat gue mengakui itu. Orang bilang sesuatu yang mudah didapat, perginya juga mudah. Sungguh, walaupun mungkin gue nggak kesulitan cari cewek yang lebih cantik, tetap gue nggak mau kehilangan yang satu ini. Seolah kalau kehilangan Gladys, gue kehilangan keseimbangan hidup.

“Ng…,” Gladys memulai lagi, sambil mandangin gue lagi. “Kayaknya gue nggak bisa lama-lama nih. Gue harus jemput Nela, adek gue,”

“Oh, ya deh…,” gue langsung setuju sekalipun gue nggak rela! Lima belas menit aja belum cukup kita duduk di sini dan dia udah harus pergi?

Gladys langsung berdiri, menyandang tasnya di bahu. Lalu ngasih gue senyum perpisahan lagi. Gue jadi berkecil hati dan seketika jadi capek. Seolah baru di angkat tinggi ke langit terus dijatuhin ke bumi. Bukan tulang gue yang remuk, tapi perasaan gue hancur banget (jangan bilang gue lebay) kalau berpisah lagi dengan cara yang sama.

“Gladys!” gue manggil dia tanpa gue sadari sebelum dia ninggalin meja yang baru kita tongkrongin. “Lo mau jemput adek lo naik apa?”

Dia tersenyum lagi seolah tahu gue paling lemah sama senyumnya itu. “Taksi,”  jawab dia santai.

Gue pun berdiri dari kursi gue, kembali dengan tawaran yang pernah dia tolak sebelumnya. “Gue anter gimana? Kebetulan gue bawa mobil,”  kata gue, dengan lancar dan penuh percaya diri kalau kali ini dia nggak bakal nolak.

Gladys tersenyum lagi, sebelum mengangguk pelan. Dia kurang tegas menyatakan kalau dia mau-mau aja diantar sama cowok yang baru dikenal. Tapi, di situlah gue sadar kalau ternyata gayung bersambut. Seolah sekarang si cupid ngasih gue sepasang sayap setelah gue jatuh dari ketinggian supaya bisa terbang, ngantarin sang bidadari ke mana pun yang dia mau. Kalau yang dibilang si Tari bener, gue juga harus deketin adeknya –kalau nggak salah namanya Starla itu, ini mungkin kesempatan.

Syukur banget, sepanjang perjalanan suasana udah normal. Nggak ada lagi curi-curi pandang atau senyum malu-malu yang bikin gue jadi kayak anak ABG jatuh cinta.

“Ini udah jam empat sore, adek lo masih di sekolah?” gue basa-basi, sedikit mencari informasi. Paling nggak segala sesuatu yang berhubungan sama Starla pasti berhubungan sama kakaknya.

“Harusnya jam dua udah nyampai di rumah. Tapi, dia mau ada pensi dua bulan lagi,”  jelas Gladys tenang. “Lo tau sendirilah kalau ada pensi, banyak kegiatan habis sekolah,”

“Dia ikut paduan suara?” tanya gue penuh perhatian.

“Main drama,”

“Drama?”

“Starla kebagian jadi peran utama. Makanya dia latihan lebih ekstra dari teman-temannya,”

“Drama apa? Cinderella? Atau pangeran katak?”

Gladys terkekeh. “Kalau nggak salah Coppelia,”  jawabnya sambil ngelirik gue yang serius nyetir.

“Coppelia?” baru sekali ini gue dengar ada dongeng yang judulnya itu. “Dongeng apaan tuh?”

“Bukan dongeng sih,”  kayaknya Gladys tau banyak. “Itu pertunjukan ballet yang udah terkenal di luar negri. Klub drama sekolahnya selalu bikin sendratari modern juga kalau pensi,”

“Lo tau banyak juga ya soal adek lo.” gue memuji. “Perhatian banget… coba gue juga diperhatiin kayak gitu….”

Gladys cuma ketawa lagi dan gue juga.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments